Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Gema di Balik Pintu Jati
Keheningan yang merayap di lantai dua kediaman Danola terasa jauh lebih menyesakkan daripada keributan Reina tadi pagi. Dimas berdiri mematung di depan pintu kamar Kathryn. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengetuk pelan permukaan kayu jati yang dingin itu.
"Kathryn... Tolong, buka pintunya sebentar. Izinkan aku menjelaskan semuanya," suara Dimas terdengar serak, kehilangan wibawa sang penguasa yang baru saja ia tunjukkan di bawah sana.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya terdengar isak tangis tertahan yang membuat hati Dimas mencelos. Kemudian, suara Kathryn terdengar, pelan namun penuh dengan ketegasan yang menyakitkan.
"Pergilah, Mas Dimas. Tolong... pergi sekarang," ucap Kathryn dari balik pintu. "Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun. Aku hanya merasa... aku merasa sangat bodoh. Semua uang tabungan itu, semua rasa kasihanku... Mas pasti tertawa di dalam hati saat melihatku begitu naif, kan?"
"Demi Tuhan, Kathryn, tidak sedikit pun aku tertawa!" bantah Dimas dengan nada mendesak. "Itu adalah hal paling tulus yang pernah kuterima. Justru karena ketulusanmu itu, aku takut... aku takut jika kamu tahu siapa aku, kamu akan menjauh karena menganggapku sama dengan orang-orang di duniamu yang penuh kepalsuan."
"Tapi Mas tetap berbohong," balas Kathryn, suaranya kini sedikit meninggi karena emosi. "Kebohongan tetaplah kebohongan, meski dibungkus dengan alasan apa pun. Tolong, jangan ada satu pun orang yang menggangguku hari ini. Aku ingin sendiri."
Dimas menyandarkan dahinya di pintu. Ia bisa merasakan penolakan yang begitu kuat. Ia tahu, jika ia terus memaksa, ia hanya akan semakin melukai hati gadis itu. Paul, yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, mendekat dan menepuk bahu Dimas.
"Berikan dia ruang, Dimas. Kamu tidak bisa memaksakan kejujuran di atas luka yang baru saja terbuka," bisik Paul.
Dimas menghela napas panjang, matanya terpejam rapat. "Aku tahu. Aku memang salah."
Ia menoleh ke arah Paul dengan tatapan yang kembali menajam, namun kali ini bukan untuk mengintimidasi. "Paul, aku ada hal mendesak yang harus kuurus di kantor pusat terkait pengosongan aset Reina dan beberapa urusan hukum lainnya. Aku harus memastikan wanita itu benar-benar tidak punya celah untuk kembali ke sini. Tolong... jaga Kathryn. Jika suhunya naik atau dia mengeluh sakit, telepon aku detik itu juga."
Paul mengangguk mengerti. "Pergilah. Selesaikan urusanmu. Aku akan menjaganya."
Dimas melangkah menuruni tangga dengan langkah berat. Di bawah, Adrian sudah menunggunya dengan wajah yang sudah tidak lagi bercanda. Mereka segera masuk ke mobil yang bannya sudah diganti baru oleh montir.
Sepanjang perjalanan, Dimas hanya menatap keluar jendela. Identitas aslinya kini telah terbongkar, beban rahasia itu memang sudah hilang, namun ia merasa kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan Kathryn.
"Dim, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," ujar Adrian sambil menyetir. "Dia hanya butuh waktu untuk mencerna kalau pria 'miskin' yang dia cintai ternyata adalah naga yang sedang tidur."
"Aku tidak peduli dengan identitasku, Adrian. Aku hanya ingin dia melihatku sebagai Dimas yang sama," sahut Dimas dingin. "Sekarang, hubungi tim legal. Aku ingin semua berkas pengambilalihan aset Reina selesai sore ini. Aku ingin dia pergi dari rumah itu sebelum matahari terbenam."
Sementara itu, di kamar yang gelap, Kathryn meringkuk di atas tempat tidur. Ia menatap celengan kecil dan buku tabungannya yang tergeletak di meja rias. Rasa malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia mengingat bagaimana ia dengan penuh semangat menyemangati Dimas agar tidak menyerah pada kemiskinan, padahal pria itu sedang mengatur strategi bisnis miliaran rupiah.
"Semuanya bohong," bisik Kathryn pada bantalnya yang mulai basah.
Ia merasa dunia Dimas terlalu besar dan terlalu jauh untuknya. Ia hanyalah gadis sederhana yang ingin hidup tenang bersama kakak dan keponakannya. Kehadiran Dimas dengan segala kemewahan dan kekuasaannya justru membuatnya merasa kerdil dan terancam.
Tanpa Kathryn sadari, suhu tubuhnya mulai merangkak naik. Rasa kecewa yang mendalam seringkali bermanifestasi menjadi sakit fisik. Kepalanya mulai berdenyut, dan rasa menggigil mulai menyerang pundaknya. Namun, ia tetap diam, mengunci diri dalam kesedihan, tidak membiarkan siapa pun masuk, bahkan Paul sekalipun.
Sore pun tiba, dan badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Dimas sedang di kantornya, menandatangani dokumen yang akan menghancurkan Reina secara finansial, namun pikirannya tetap tertuju pada satu nama di Dharmawangsa.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰