Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Siang itu, hujan gerimis mulai membasahi aspal California, menciptakan lapisan licin yang berbahaya bagi pengendara yang tidak fokus. Luna Storm berada di balik kemudi mobil sedan mewahnya, menyetir sendirian tanpa pengawalan, sebuah kemenangan kecil hasil negosiasinya dengan sang ayah yang sedang sibuk rapat di luar kota. Namun, pikirannya tidak ada di jalan raya. Benaknya penuh dengan bayangan Zayn, tatapan dingin di kantin, dan gosip tentang kekasih London yang masih merobek hatinya.
Saat lampu merah di persimpangan jalan menyala, Luna terlambat menginjak rem. Suara gesekan logam yang memilukan terdengar saat bemper depannya menyerempet bagian belakang sebuah Range Rover hitam yang elegan.
Luna tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia segera keluar dari mobil, tangannya gemetar. Dari mobil di depannya, seorang wanita paruh baya keluar. Wanita itu tampak sangat anggun dengan balutan setelan blazer berwarna krem dan syal sutra yang melingkar di lehernya. Wajahnya memancarkan aura kelas atas, namun matanya terlihat hangat.
"A-aku minta maaf, Nyonya. Aku benar-benar tidak fokus. Aku akan menanggung semua kerusakannya," ucap Luna dengan suara yang hampir hilang.
Wanita itu melirik lecet di mobilnya, lalu menatap Luna yang tampak pucat pasi. Alih-alih marah, ia tersenyum lembut. "It's okay, Nona. Tidak apa-apa. Ini hanya goresan kecil, jangan sampai membuatmu gemetar seperti itu. Kau tampak seperti sedang memikul beban seluruh dunia di bahumu."
Rasa bersalah yang besar membuat Luna bersikeras untuk setidaknya mentraktir wanita itu minum kopi di kafe yang berada tepat di sudut persimpangan. Wanita itu, yang memperkenalkan diri sebagai Isabella, akhirnya setuju setelah melihat raut wajah Luna yang benar-benar memohon.
Di dalam kafe yang beraroma kayu manis, Luna merasa sedikit lebih tenang. Isabella ternyata adalah sosok yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Ia bercerita bahwa ia baru saja kembali dari London untuk menetap kembali di California.
"Anak laki-lakiku sangat keras kepala," Isabella terkekeh, menyesap latte-nya. "Dia bersikeras ingin mandiri di sini, padahal aku ingin dia membantuku mengelola bisnis di London. Tapi ya sudahlah, dia persis ayahnya."
Luna hanya tersenyum tipis. Ia belum menyadari apa pun. Ia merasa nyaman bicara dengan Isabella karena wanita ini tidak menatapnya sebagai "Putri Storm" yang angkuh, melainkan sebagai gadis muda biasa.
Tiba-tiba, lonceng pintu kafe berdenting. Seorang laki-laki dengan jaket kulit hitam masuk dengan langkah terburu-buru. Luna membeku. Napasnya seolah berhenti di tenggorokan saat melihat Zayn Graciano berjalan lurus ke arah meja mereka.
Tanpa menyadari keberadaan Luna yang duduk membelakangi pintu, Zayn langsung membungkuk dan mencium pucuk kepala Isabella dengan sangat sayang.
"Mami, maaf aku telat. Tadi ada urusan mendadak di bengkel," suara berat Zayn yang maskulin memenuhi indra pendengaran Luna.
Dunia Luna serasa berputar. Mami? Isabella adalah ibu Zayn? Luna memang tidak pernah melihat wajah ibu Zayn selama tiga tahun mereka menjalin hubungan. Zayn selalu bilang bahwa perkenalan dengan ibunya akan menjadi kejutan besar untuk masa depan mereka, masa depan yang kini terasa seperti reruntuhan.
Zayn baru menyadari keberadaan Luna saat ia duduk di kursi sebelah ibunya. Matanya yang kelabu bertemu dengan mata Luna yang berair. Ketegangan mendadak memenuhi udara. Namun, Zayn dengan sangat cepat mengubah ekspresinya menjadi dingin kembali, seolah Luna hanyalah orang asing yang kebetulan duduk bersama ibunya.
"Lho, Zayn, kau kenal dengan nona cantik ini?" tanya Isabella, menyadari perubahan atmosfer di meja itu.
"Hanya teman di kampus, Mi," jawab Zayn pendek, suaranya datar dan tidak bersahabat.
Isabella tersenyum pada Luna. "Kebetulan sekali. Luna ini yang menabrak mobil Mami tadi, tapi dia sangat bertanggung jawab."
Zayn hanya mendengus pelan, lalu berpaling kembali pada ibunya. "Mami sudah urus semua barang dari London? Semuanya aman?"
"Aman, Sayang. Oh iya!" Isabella teringat sesuatu. Ia meraih ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Zayn. "Mami baru saja telepon orang rumah di sana. Sella sangat merindukanmu, Zayn. Dia titip salam sama kamu. Dia terus menunggu di depan pintu kamarmu setiap pagi."
Deg. Jantung Luna terasa berhenti berdetak.
"Zella?" tanya Zayn, dan seketika itu juga, Luna melihat pemandangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Mata Zayn yang biasanya keras dan dingin, tiba-tiba berbinar. Sebuah senyum tulus yang sangat lebar, senyum yang dulu hanya milik Luna terukir di wajah tampannya.
"Sella?" ulang Zayn dengan nada yang begitu lembut. "Bagaimana kabarnya? Apa dia masih nakal?"
"Tentu saja. Dia tidak mau makan kalau tidak ditaruh di atas karpet kesukaanmu," Isabella tertawa. "Zella benar-benar mencintaimu, Zayn. Dia sangat sedih saat tahu kau tidak ikut kembali ke London bulan lalu."
Luna merasa mati kutu. Ia hanya bisa menatap kemesraan ibu dan anak itu sambil meremas tisu di bawah meja hingga hancur. Jadi namanya bukan Sella, tapi Zella. Gadis di London itu bernama Zella. Dan Zayn... Zayn terlihat sangat bahagia saat membahas wanita itu. Matanya berbinar penuh cinta, sesuatu yang sudah tidak pernah Luna lihat lagi tertuju padanya.
Luna membayangkan sosok Zella. Pasti dia gadis yang pemberani, gadis yang bisa diterima dengan baik oleh Isabella, gadis yang tidak memiliki ayah kejam seperti Alexander Storm. Zella adalah pemenang di hati Zayn.
"Aku... aku harus pergi," ucap Luna dengan suara yang serak. Ia tidak sanggup lagi berada di sana. Oksigen di kafe itu terasa beracun baginya.
"Oh, kau sudah mau pergi, Luna? Senang sekali mengenalmu," ucap Isabella dengan ramah.
Luna hanya mengangguk tanpa berani menatap Zayn. Ia segera berdiri, meraih tasnya, dan berjalan keluar kafe dengan langkah seribu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah saat ia mencapai mobilnya.
Di dalam kafe, Zayn menatap punggung Luna yang menghilang di balik pintu kaca. Sinar di matanya menghilang seketika, digantikan oleh kepedihan yang mendalam.
"Zayn, ada apa? Kau tampak aneh," tanya Isabella bingung.
Zayn menggeleng, ia mengambil ponsel ibunya dan mengusap layar yang memperlihatkan foto Zella, seekor anak anjing jenis Golden Retriever berbulu lebat yang sedang menjulurkan lidahnya di depan butik ibunya di London.
"Aku merindukan Zella, Mi," bisik Zayn. Namun, hatinya meneriakkan nama lain. Hatinya menjeritkan nama Luna.
Zayn tahu Luna salah paham. Ia melihat hancurnya tatapan mata Luna saat mereka membahas Zella. Ia tahu Luna mengira Zella adalah kekasihnya. Zayn ingin mengejar Luna, ingin menjelaskan bahwa Zella hanyalah anjing peliharaan ibunya yang ia rawat sejak kecil. Namun, ia teringat pada Alexander Storm. Ia teringat bahwa mencintai Luna berarti membahayakan gadis itu.
Maka, Zayn membiarkan kesalahpahaman itu menjadi duri yang semakin dalam. Biarlah Luna membencinya. Biarlah Luna mengira ia telah berpaling. Karena bagi Zayn, lebih baik melihat Luna patah hati daripada melihat Luna dihancurkan oleh kekuasaan ayahnya sendiri.
Malam itu, Luna meringkuk di kamarnya, menangis karena nama "Zella", tanpa pernah tahu bahwa kekasih yang ia cemburui adalah seekor anjing peliharaan yang bahkan tidak bisa bicara.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰