Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
Zarith merasakan ada gelombang getaran aneh di sekitarnya, ini pertama kalinya selama ia hidup untuk merasakan hal yang sangat menakjubkan sekaligus mengerikan.
"Pak tua, ada apa?". Tanya Aira dengan wajah polosnya.
Zarith menatap mata Aira lekat. "Perseteruan antara Kerajaan Api dan bangsa Vampir telah usai, setelah ratusan tahun lamanya". Ucapnya tanpa ekspresi.
Aira membuka matanya lebar, tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Zarith. "Apa? Bagaimana bisa?"
Zarith masih menatap Aira dengan mata yang lekat. "Nocturna, adik Valerius, telah menikah dengan Ignis, raja Kerajaan Api. Ini adalah akhir dari perseteruan yang telah berlangsung selama ratusan tahun lamanya."
Aira mengerutkan keningnya. "Nocturna adiknya Valerius?". Gumam Aira
"Apa kau belum tahu?". Zarith bertanya untuk memastikan.
Aira menggeleng pelan, ia masih mencoba untuk memahami informasi tersebut. "Tapi... tapi apa artinya ini?"
Zarith tersenyum sedikit. "Artinya, Aira, bahwa dunia akan berubah. Kerajaan Api dan bangsa Vampir akan bersatu, dan tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka."
Gelombang getaran aneh yang dirasakan Zarith semakin kuat, membuatnya merasa tidak nyaman. "Aku harus pergi, Aira. Aku harus memastikan sesuatu, sepertinya dunia juga ikut terkejut.". Ucapnya terkekeh agar Aira tak merasa ketakutan.
Aira masih terlihat bingung, tapi dia tahu bahwa Zarith tidak akan menjelaskan lebih lanjut. "Baiklah, Pak tua. Aku akan menunggu kabar darimu."
Sekepergian Zarith, Aira tertegun mendapat informasi yang sangat mengejutkan. "Tabib Elian ternyata Valerius, raja Vampir yang menyamar. Dan Nocturna ternyata adiknya. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini? Usia mereka ratusan tahun lamanya, sedangkan aku? Pantas saja aku selalu di remehkan". Gumam Aira.
"Lalu, siapa sebenarnya Magnitius? Kenapa dia bisa menjadi raja Vampir, dan kemana dia sekarang? Apa sudah mati? Kenapa menghilang tiba-tiba?"
"Lalu Lyra, bagaimana keadaannya sekarang?". Aira mengingat kejadian dimana tubuh Lyra lenyap terbakar api. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Valerius!".
Aira masih tertegun, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Dia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi, dan dunia yang dia kenal ternyata tidak seperti yang dia pikir.
Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari kebenaran dan membalaskan dendam Lyra. Tak lama kemudian, Zarith kembali dengan raut wajah yang lebih tenang dari sebelumnya.
Aira meringsut turun dari tempat ia tidur, berjalan menghampiri Zarith. "Bagaimana pak tua?". Ucapnya dengan nada gelisah.
Zarith menatap Aira dengan lembut, "Tidak ada harus kamu khawatirkan Aira, semuanya akan baik-baik saja".
Aira terdiam, jawaban Zarith tidak membuat rasa penasarannya terjawab dengan jelas. "Bagaimana keadaan di atas sana pak tua? Apakah peperangan benar-benar telah berhenti?". Tanyanya khawatir.
Zarith mengangguk pelan. "Sebaiknya, kamu melanjutkan masa kultivasimu sampai selesai, nak. Karena damainya bangsa Vampir dan Api bukan berarti kamu akan ikut aman. Sejak hari itu, kamulah yang akan menjadi ancaman mereka". Jelas Zarith
Aira merasa ada yang tidak beres, Zarith tidak menjelaskan apa pun dengan jelas. "Apa maksudmu, pak tua? Kenapa aku menjadi ancaman mereka?"
Zarith menatap Aira dengan serius. "Kamu memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki, Aira. Kamu memiliki darah yang unik, darah yang dapat menghancurkan keseimbangan kekuatan di dunia ini."
Aira merasa bulu kuduknya berdiri, dia tidak tahu apa yang Zarith maksudkan. "Apa yang kamu bicarakan, pak tua? Aku tidak mengerti. Maksudku, karena kristal darah, Umbra dan Es yang ada dalam tubuhku?"
Zarith menarik napas dalam-dalam. "Benar Aira, kamu adalah keturunan dari garis darah yang sangat tua, garis darah yang dapat mengendalikan kekuatan api dan kegelapan. Mereka tidak akan membiarkanmu hidup jika mereka tahu tentang hal ini."
"Mampukah aku memegang kendali ini sendirian, pak tua?". Gumamnya dengan tatapan kosong menatap lurus kedepan.
Zarith terkekeh mendengar gumaman Aira. "Kau yau nak? Kamu masih hidup seperti ini saja sudah membuktikan kalau kamu memang sangat mampu". Jelas Zarith
" Mereka, Valerius dan Ignis. Atau bahkan raja dari kerajaan lain, Roh jahat dan para Iblis yang selalu berebut ingin mendapatkan Umbra, mereka tidak akan pernah bisa mendapatkannya". Sambungnya.
Aira mengerutkan keningnya terus menerus. "Kenapa?".
"Karena mereka tidak memiliki wadah untuk Umbra dalam tubuh mereka. Sudah ku jelaskan sebelumnya tentang energi kuat Umbra, bukan? Bagi orang yang tidak memiliki wadah dalam tubuhnya, bahkan hanya terkena cahaya dari kristal Umbranya saja akan membuat tubuh mereka melepuh bahkan bisa sampai terbakar".
Aira masih mencoba memahami penjelasan Zarith. "Tapi, pak tua, apa artinya aku memiliki wadah untuk Umbra?"
Zarith tersenyum karena Aira butuh penjelasan berkali-kali agar mengerti. "Artinya, Aira, kamu memiliki kemampuan untuk menampung energi Umbra dalam tubuhmu. Kamu dapat mengendalikan kekuatan api dan kegelapan, dan bahkan mungkin lebih dari itu. Dan kamu bahkan bisa sampai membaca pergerakan musuhmu, hanya dengan mendengan suara langkah kakinya saja!"
Aira merasa seperti ada beban besar yang diletakkan di pundaknya. "Tapi, apa aku siap untuk ini? Sudah kubilang ini sangat mengerikan."
Zarith menatap Aira dengan lembut. "Kamu lebih siap dari yang kamu pikir, Aira. Kamu telah melalui banyak hal, dan kamu masih berdiri di sini. Percayalah pada dirimu sendiri, dan aku akan selalu ada di sampingmu."
Aira merasa sedikit lebih tenang, tapi masih ada satu pertanyaan yang mengganggunya. "Pak tua, apa itu Umbra sebenarnya? Kenapa semua orang ingin mendapatkannya?"
Zarith menarik napas dalam-dalam. "Umbra adalah kekuatan yang sangat tua, kekuatan yang dapat mengubah dunia. Tapi, itu juga sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi kamu harus tahu bahwa kamu adalah satu-satunya yang dapat mengendalikan kekuatan ini."
" Umbra menginginkan tubuh yang menjadi wadahnya bersikap adil dan bijaksana, seperti yang dilakukan oleh raja Skypia, ayahmu! Jangan pernah merasa dirimu lebih baik dari orang lain, karena sedikit saja kamu bersikap sombong, maka Umbra akan dengan mudah menghisap jiwamu sepenuhnya". Sambung Zarith.
Penglihatan Aira terganggu karena ada bayangan hitam dan tinggi yang sedang berdiri jauh di belakang Zarith. Kualitas cahaya yang sangat minim membuat matanya tak bisa menangkap jelas siapa di sana.
Menyadari hal itu, Zarith tersenyum. "Ah..karena pertanyaanmu, aku sampai lupa mengenalkanmu pada seseorang".
Zarith melangkah ke samping, membuka pandangan Aira pada sosok yang berdiri di belakangnya. Aira melihat sosok itu dengan mata yang terbelalak, tidak bisa percaya pada apa yang dia lihat.
"Lyra!"...