Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Makan Malam Neraka
"Total bersih masuk rekening... satu koma dua miliar rupiah."
Elena menutup aplikasi mobile banking di ponselnya dengan senyum puas. Angka itu terlihat sangat cantik, jauh lebih cantik daripada wajah Kairo yang sedang marah. Dalam waktu dua jam, dia berhasil mengubah tumpukan barang branded tak berguna menjadi modal likuid yang segar.
"Kerja bagus, Mina. Kamu punya bakat jadi admin online shop," puji Elena sambil melempar ponsel Sora ke atas kasur.
Mina, yang masih gemetar memegang ring light, terlihat seperti orang yang baru saja lolos dari medan perang. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi seragam pelayannya.
"Nyonya... Nyonya benar-benar nekat," cicit Mina. "Itu jam tangan kesayangan Tuan Kairo. Tuan bisa..."
"Bisa apa? Marah? Biarkan saja dia marah sampai urat lehernya putus," potong Elena santai. Dia meregangkan otot-otot lengannya yang kaku.
Tubuh Sora ini benar-benar lemah, baru live streaming dua jam saja punggungnya sudah pegal semua. "Yang penting uangnya sudah masuk. Transaksi selesai. Barang sudah dipacking kurir. Tuanmu itu tidak bisa membatalkan hukum jual beli yang sah."
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Bukan ketukan sopan, tapi ketukan tegas yang berirama.
Tok.Tok.Tok.
Mina langsung melonjak kaget. "I... itu pasti Pak Reza, asisten Tuan! Saya kenal ketukannya."
"Masuk," perintah Elena tanpa menoleh. Dia sibuk menggulung lengan kemeja putih kebesaran yang dipakainya—kemeja yang, omong-omong, adalah milik Kairo yang dia curi dari lemari karena baju-baju Sora terlalu ribet dan gatal.
Pintu terbuka. Sosok pria berkacamata dengan setelan jas rapi berdiri di sana. Reza, tangan kanan Kairo yang terkenal setia seperti anjing penjaga. Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan ketidaksetujuan saat melihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah. Kotak-kotak kardus sisa packing berserakan di mana-mana.
"Selamat malam, Nyonya," sapa Reza kaku.
"Malam, Reza. Mau beli tas juga? Maaf, stok habis. Kamu telat," sahut Elena sambil menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari.
Reza berdehem, mencoba mengabaikan sarkasme itu. "Tuan Kairo sudah menunggu di ruang makan. Beliau memerintahkan Nyonya untuk turun makan malam sekarang juga."
Elena mengangkat alis. "Makan malam? Kupikir dia sudah kenyang makan gengsi."
"Tuan Kairo bersikeras, Nyonya. Beliau bilang, jika Nyonya tidak turun dalam lima menit, beliau akan naik ke sini dan menyeret Nyonya turun sendiri," Reza menyampaikan pesan itu dengan nada yang berusaha sopan, meski isi pesannya barbar. "Dan Tuan berpesan, pakai pakaian yang pantas."
Elena mendengus tertawa.
"Ancamannya klise sekali," gumam Elena. Dia berjalan menuju cermin, melihat pantulannya.
Rambut dikuncir asal-asalan. Wajah tanpa makeup sedikitpun. Memakai kemeja putih pria yang kedodoran hingga menutupi paha, dan celana pendek rumahan yang nyaris tak terlihat.
Di ingatan Sora, "pakaian yang pantas" untuk makan malam bersama Kairo berarti gaun malam sutra, riasan lengkap, dan sepatu hak tinggi—bahkan meski cuma makan di rumah sendiri. Sora selalu berusaha terlihat sempurna.
"Baiklah," kata Elena, berbalik menghadap Reza. "Bilang pada bosmu aku turun."
Reza menatap penampilan Elena dari atas ke bawah dengan tatapan horor. "Nyonya mau turun... memakai baju itu?"
"Kenapa? Ini kemeja mahal. Merek Armani. Punya bosmu juga," jawab Elena santai sambil melangkah melewati Reza keluar kamar. "Lagipula, aku lapar. Orang lapar tidak butuh gaun malam."
Elena menuruni tangga pualam yang melingkar mewah itu dengan langkah santai. Kakinya telanjang, tanpa alas kaki, menapak dinginnya lantai marmer. Dia tidak peduli.
Dari kejauhan, aroma steak wagyu tercium menggoda. Perut Elena langsung berbunyi. Tubuh Sora ini sepertinya sudah lama tidak diisi makanan bergizi karena diet ketat yang bodoh.
Di ujung ruang makan yang luasnya bisa dipakai main bulu tangkis itu, Kairo duduk di kursi utama.
Pria itu sudah berganti pakaian santai, tapi tetap terlihat mahal. Kaos polo hitam yang mencetak otot bisepnya, rambut yang sedikit basah, dan segelas wine merah di tangan. Di depannya, piring-piring makanan sudah tersaji rapi.
Suasana di ruangan itu dingin, sepi, dan mencekam. Para pelayan berdiri merapat ke dinding, menunduk dalam-dalam, takut bernapas.
Kairo tidak menoleh saat Elena masuk. Dia sedang sibuk memotong daging di piringnya dengan gerakan tenang namun mengintimidasi. Pisau perak beradu dengan piring porselen, menciptakan bunyi ting yang ngilu.
Elena menarik kursi di ujung meja yang berlawanan—posisi terjauh dari Kairo.
Bunyi kaki kursi yang bergesekan dengan lantai memecah kesunyian.
Sreeet.
Kairo berhenti memotong dagingnya. Dia mengangkat wajah perlahan. Tatapan matanya langsung terkunci pada Elena.
Atau lebih tepatnya, pada kemeja yang dipakai Elena.
Mata Kairo menyipit. Dia mengenali kemeja itu. Itsu kemeja favoritnya yang sebelumnya hilang.
"Kau..." Kairo membuka suara, nadanya rendah dan berbahaya. "Kau tidak punya baju lain? Lemarimu penuh dengan gaun seharga mobil, dan kau turun makan malam memakai kemejaku?"
Elena mengambil serbet makan, meletakkannya di pangkuan, lalu menuangkan air putih ke gelasnya sendiri tanpa menunggu pelayan.
"Gaun-gaun itu ribet, Kairo. Susah buat napas," jawab Elena tenang. Dia menatap Kairo lurus. "Dan kemeja ini nyaman. Bahannya bagus. Sayang kalau cuma digantung di lemari. Oh ya, tenang saja, aku tidak menjual kemeja ini di live streaming tadi. Belum, maksudku."
Rahang Kairo mengetat. Urat di pelipisnya berdenyut. Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan sedikit bantingan.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku malam ini, Sora," desis Kairo. "Kau jual jam tanganku. Kau jadikan rumah ini pasar loak. Kau permalukan aku di depan tujuh puluh ribu orang. Dan sekarang kau duduk di sana seolah tidak terjadi apa-apa?"
"Aku tidak mempermalukanmu. Aku branding ulang," koreksi Elena.
Dia mulai memotong daging di piringnya. Potongannya presisi, kotak-kotak kecil yang sempurna. "Tema live-nya 'Istri Mandiri'. Netizen suka narasi wanita bangkit. Citra perusahaanmu justru terbantu karena orang berpikir istri CEO Diwantara ternyata merakyat dan ramah lingkungan karena mendaur ulang barang bekas."
"Merakyat?" Kairo tertawa sinis. "Kau menyebut menjual jam Rolex seharga lima puluh juta itu merakyat?"
"Itu steal deal. Murah banget. Pembelinya pasti orang kaya yang butuh pengakuan status tapi pelit," sindir Elena sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya. "Enak. Medium rare. Kokinya boleh naik gaji."
Kairo menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
Wanita ini... benar-benar berbeda.
Biasanya, Sora tidak akan menyentuh makanan kalau Kairo sedang marah. Sora akan menangis, kehilangan selera makan, dan memohon maaf. Tapi Elena? Dia makan dengan lahap, mengunyah dengan nikmat, seolah kemarahan Kairo hanyalah siaran radio rusak yang tidak perlu didengar.
"Aku yang beli," kata Kairo tiba-tiba.
Elena berhenti mengunyah. "Apa?"
"Jam tangan itu. Dan tas-tas sampahmu. Semuanya," Kairo menatap Elena tajam, mencari reaksi kaget atau malu di wajah istrinya. "Aku suruh orang memborong semuanya. Jadi uang yang kau banggakan itu? Itu uangku juga. Kau cuma memindahkan uang dari kantong kiriku ke kantong kananmu."
Elena menelan dagingnya, lalu minum air putih perlahan. Dia meletakkan gelasnya kembali, lalu menatap Kairo sambil tersenyum miring.
"Oh, jadi akun 'SultanGabut007' itu kamu?" Elena terkekeh pelan. "Terima kasih, Pak Bos. Kamu pelanggan setia. Senang berbisnis denganmu. Lain kali kalau mau kasih uang jajan, transfer saja langsung. Tidak perlu lewat perantara e-commerce, kena potongan admin, lho. Sayang kan?"
Wajah Kairo memerah padam. Dia berharap Elena akan merasa bodoh, tapi wanita ini justru membalikkannya menjadi lelucon. Dia merasa seperti meninju kapas. Tidak ada efeknya.
Kairo hendak membalas dengan kalimat pedas lainnya, tapi suara dari televisi besar yang menyala di dinding ruang makan mengalihkan perhatiannya.
Biasanya Sora akan meminta TV dimatikan karena "mengganggu suasana romantis". Tapi malam ini, Elena yang meminta pelayan menyalakannya ke saluran berita bisnis.
"...Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sore ini. Koreksi terdalam dialami oleh sektor properti dan konstruksi..." suara pembaca berita wanita terdengar jelas.
Elena melirik ke layar TV sambil terus memakan mashed potato-nya.
"Saham Diwantara Group, kode emiten DWTR, terpantau turun 5,4% hari ini, menyusul rumor kegagalan akuisisi lahan di Kalimantan..."
Suasana di meja makan yang tadinya dingin, kini membeku.
Kairo mengepalkan tangannya di atas meja. Berita itu adalah sumber sakit kepalanya seharian ini. Investor panik, pemegang saham marah, dan sekarang dia harus mendengarnya lagi di meja makan.
Dia melirik Elena, menunggu komentar bodoh seperti "Kok turun? Warnanya merah jelek ya?" seperti yang biasa Sora katakan.
Tapi Elena tidak berkomentar soal warna.
Dia meletakkan garpunya, menatap layar TV dengan mata menyipit tajam, seolah sedang membaca data tak terlihat di sana.
"Lima koma empat persen," gumam Elena pelan, tapi cukup keras untuk didengar Kairo di ujung meja. "Padahal fundamental perusahaanmu bagus. Penurunan ini tidak wajar kalau cuma karena rumor gagal akuisisi."
Kairo mendengus remeh, kembali memotong dagingnya dengan kasar. "Apa yang kau tahu soal saham, Sora? Fokus saja habiskan makananmu dan naik ke kamar."
"Bukan rumornya yang bikin jatuh," lanjut Elena, mengabaikan perintah Kairo. Dia bicara pada dirinya sendiri, tapi suaranya penuh otoritas. "Ini sentimen negatif karena cash flow operasional. Investor melihat laporan kuartal lalu. Rasio utang jangka pendekmu terlalu tinggi."
Gerakan tangan Kairo terhenti total. Pisau di tangannya menggantung di udara.
Dia menatap Elena dengan kening berkerut dalam. "Darimana kau dengar istilah itu? Kau baca di internet?"
Elena menoleh ke arah Kairo. Tatapannya berubah serius. Aura "istri manja" hilang sepenuhnya, digantikan oleh aura "Hiu Betina" yang biasa memimpin rapat direksi.
"Kairo, kamu terlalu agresif ekspansi ke sektor properti residensial tahun ini," kata Elena, nadanya bukan bertanya, tapi menyatakan fakta. "Kamu pakai dana pinjaman jangka pendek untuk membiayai proyek jangka panjang. Itu namanya maturity mismatch. Bahaya. Begitu suku bunga naik sedikit saja—seperti pengumuman Bank Sentral kemarin—beban bungamu membengkak. Profitmu tergerus. Investor kabur."
Kairo terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.
Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena marah, tapi karena kaget.
Apa yang baru saja dikatakan istrinya itu... adalah analisis yang sama persis dengan yang dikatakan Direktur Keuangannya tadi siang di rapat tertutup. Analisis rahasia yang belum dirilis ke publik.
"Sora..." suara Kairo tercekat. "Siapa yang memberitahumu? Reza? Kau menguping teleponku?"
"Menguping?" Elena tertawa kecil, mengambil sepotong brokoli rebus. "Untuk apa menguping? Datanya ada di layar, Kairo. Di pita berjalan (running text) itu. Debt to Equity Ratio Diwantara naik jadi 2,5 kali. Itu lampu kuning."
Elena menunjuk layar TV dengan garpunya.
"Dan satu lagi," tambah Elena santai. "Berhenti memaksakan proyek 'Green Light City' di Cikarang itu. Aku lihat beritanya minggu lalu, pembebasan lahannya macet karena sengketa warga. Kamu buang-buang uang untuk PR stunt seolah-olah proyek itu lancar, padahal di lapangan nol besar. Pasar tahu kamu bohong. Makanya sahammu dihukum."
Kairo mematung di kursinya.
Dia merasa seolah-olah baru saja ditelanjangi. Bukan pakaiannya, tapi otaknya. Strategi bisnisnya. Egonya.
Bagaimana mungkin Sora—wanita yang kemarin menangis karena kukunya patah—tahu tentang Debt to Equity Ratio? Bagaimana dia tahu detail masalah proyek Cikarang yang ditutup-tutupi dengan rapi oleh tim legal perusahaan?
"Kau..." Kairo menelan ludah yang terasa kering. Dia kehilangan nafsu makannya. Dia menatap Elena seolah melihat makhluk asing yang baru mendarat di bumi. "Kau bukan Sora."
Elena tersenyum misterius. Dia menyeka mulutnya dengan serbet, lalu berdiri dari kursi.
"Aku memang bukan Sora yang dulu, Kairo. Sudah kubilang, kan? Sora yang itu sudah mati di bathtub tadi pagi," jawab Elena tenang.
Dia berjalan mendekati Kairo. Langkahnya pelan, mengitari meja panjang itu.
Kairo tidak bergerak. Matanya mengikuti setiap gerakan Elena.
Elena berhenti tepat di samping kursi Kairo. Dia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya. Aroma sampo mawar Sora bercampur dengan feromon dominan Elena menguar, membuat Kairo menahan napas.
"Kalau kamu mau sahammu hijau lagi besok pagi," bisik Elena, suaranya halus tapi tajam seperti silet. "Jual aset non-produktifmu di sektor retail yang merugi itu. Cut loss sekarang sebelum terlambat. Lalu umumkan buyback saham dengan sisa kas yang ada. Itu akan mengembalikan kepercayaan pasar."
Elena menarik wajahnya kembali, menepuk bahu Kairo pelan seolah menepuk bahu anak buah magang yang sedang belajar.
"Selamat makan, Suamiku. Pikirkan saranku. Itu konsultasi gratis. Kalau besok-besok, bayarnya mahal."
Elena berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan dengan langkah ringan, meninggalkan Kairo yang masih duduk mematung dengan garpu menggantung di udara dan mulut terkunci rapat.
Skakmat.