NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Angin laut membawa bau asin dan karat.

Pelabuhan tua itu tampak seperti tempat yang sudah lama dilupakan dunia. Gudang-gudang baja berdiri seperti bayangan raksasa, catnya mengelupas, pintunya setengah berkarat. Lampu-lampu tinggi menyala redup, menciptakan pulau-pulau cahaya di antara kegelapan.

Namun bagi mereka yang tahu apa yang harus dicari — tempat ini tidak pernah benar-benar kosong.

Satu mobil hitam berhenti di sisi jalan yang nyaris tak terpakai. Mesin dimatikan. Lampu padam.

Damian keluar lebih dulu.

Lyra turun di sisi lain, menarik jaketnya lebih rapat. Udara malam terasa dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya merinding.

Keheningan.

Keheningan yang terasa… terlalu rapi.

Kael membuka bagasi, mengambil tas peralatan. Aidan sudah memindai area dengan perangkat kecil di pergelangan tangannya. Lucian menyiapkan tablet portabel, jarinya bergerak cepat di layar.

“Tidak ada sinyal aktif di radius lima puluh meter,” kata Lucian pelan. “Itu sendiri mencurigakan.”

“Area mati buatan,” tambah Aidan. “Mereka memutus komunikasi untuk mengontrol informasi.”

Raven tetap di pusat kendali, suaranya terdengar tenang melalui headset.

“Masuk dari sisi timur. Struktur utama di gudang ketiga. Waktu maksimal dua puluh menit.”

Damian mengangguk meski Raven tak bisa melihat.

Mereka bergerak.

Langkah kaki mereka hampir tidak bersuara di atas aspal retak. Bayangan bergerak di antara kontainer baja. Lyra mengikuti di sisi Damian, fokus meniru ritme langkahnya.

Ia tidak bertanya.

Ia mengamati.

Pintu gudang ketiga setengah terbuka.

Kael memberi isyarat berhenti. Ia mendekat lebih dulu, memeriksa engsel, celah, dan lantai.

“Tidak ada jebakan mekanis,” bisiknya.

Aidan menambahkan, “Sensor panas pasif… tapi tidak aktif.”

Lucian mengerutkan dahi. “Sistem dimatikan dari pusat.”

Damian berkata pelan, “Atau menunggu.”

Mereka masuk.

Interior gudang luas dan kosong, hanya berisi peti-peti kayu besar yang ditumpuk tidak beraturan. Lampu langit-langit berkedip pelan. Di tengah ruangan berdiri meja logam sederhana dengan satu terminal komputer tua.

Terlalu jelas.

Lucian langsung mendekat.

“Ini umpan,” katanya. “Tapi aku tetap ingin melihat datanya.”

Ia menyambungkan perangkatnya. Layar menyala, menampilkan antarmuka sederhana.

“Struktur file terenkripsi… tapi tidak dalam.”

Lyra berkeliling perlahan, memperhatikan bayangan di antara peti-peti. Nalurinya mengatakan satu hal yang sama berulang kali.

Ada yang menonton.

Damian berdiri di dekat pintu, matanya menyapu ruangan tanpa henti.

Aidan memeriksa langit-langit.

Kael berjaga di sisi kanan.

Raven berbicara melalui headset, “Aku menerima fluktuasi energi lokal. Bersiap.”

Lucian tiba-tiba berhenti mengetik.

“Aku menemukan sesuatu.”

Semua menoleh.

Di layar muncul satu file video.

Tidak berlabel.

Tidak bertanggal.

Damian mendekat.

“Putar.”

Video itu menampilkan ruangan putih tanpa jendela. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan, usia mereka mungkin tidak lebih dari dua belas tahun.

Salah satunya adalah Damian muda.

Lyra menegang.

Anak laki-laki lain menatap lurus dengan mata abu-abu dingin.

Orion.

Video menampilkan suara pelatih yang tak terlihat.

“Jika kalian ingin keluar dari ruangan ini, hanya satu yang boleh tetap berdiri.”

Hening berat memenuhi gudang.

Di layar, kedua anak itu tidak bergerak selama beberapa detik.

Lalu Orion melangkah lebih dulu.

Video berhenti mendadak.

Tidak ada akhir.

Tidak ada hasil.

Hanya pesan teks sederhana muncul di layar hitam:

“Apa kau masih ingat pilihanmu?”

Lucian berbisik pelan, “Ini bukan arsip… ini pesan pribadi.”

Damian tidak bergerak.

Tangan Lyra mengepal tanpa sadar.

Kael berkata rendah, “Perimeter berubah.”

Aidan langsung menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki.

Pelan.

Terukur.

Tidak terburu-buru.

Lampu gudang padam satu per satu.

Gelap menelan ruangan.

Hanya cahaya redup dari terminal komputer tersisa.

Raven berkata cepat di headset, “Gerakan masuk dari empat sisi. Mereka menutup jalur keluar.”

Lucian menutup perangkatnya. “Aku sudah ambil semua data.”

Damian berkata singkat, “Formasi.”

Kael dan Aidan bergerak tanpa suara, posisi mereka melindungi pusat.

Lyra berdiri dekat Damian, napasnya terkendali.

Suara klik logam terdengar di seluruh ruangan.

Lampu darurat merah menyala.

Bayangan manusia muncul di antara peti-peti.

Banyak.

Terlalu banyak untuk kebetulan.

Salah satu sosok melangkah ke cahaya.

Wajahnya tertutup masker hitam. Senjatanya terangkat, tapi tidak menembak.

Ia hanya berkata satu kalimat.

“Pesan telah disampaikan.”

Kemudian semua lampu padam total.

Serangan datang tanpa suara.

Aidan menembak pertama — satu kilatan singkat, satu tubuh jatuh.

Kael bergerak seperti dinding hidup, menahan jalur kiri.

Lucian berlindung sambil mencoba membuka jalur komunikasi.

Lyra merasakan tangan Damian di bahunya, mengarahkannya ke posisi aman.

Namun ini bukan serangan untuk membunuh cepat.

Ini tekanan.

Serangan datang bergelombang, memaksa mereka bergerak, memaksa mereka memilih arah.

Raven berteriak di headset, “Keluar melalui pintu barat! Aku membuka jalur selama dua puluh detik!”

Damian menarik Lyra.

“Sekarang.”

Mereka bergerak cepat di antara bayangan dan cahaya merah berkedip. Suara langkah, benturan, dan perintah pendek memenuhi udara.

Pintu baja di sisi barat terbuka setengah.

Aidan menahan posisi terakhir.

“Gerak!”

Kael menutup formasi.

Mereka keluar tepat sebelum pintu menutup kembali.

Udara laut terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Tidak ada pengejaran langsung.

Tidak ada tembakan lanjutan.

Hanya keheningan pelabuhan.

Lucian akhirnya berbicara, napasnya masih cepat.

“Itu bukan penyergapan penuh.”

Aidan mengangguk. “Itu demonstrasi kontrol.”

Kael menatap kembali ke gudang gelap.

“Mereka bisa menghabisi kita.”

Damian menatap layar tablet Lucian yang masih menampilkan pesan video.

“Dia tidak ingin kita mati,” katanya pelan.

Lyra menatapnya.

“Dia ingin kau mengingat.”

Damian tidak menjawab.

Raven berbicara melalui headset, suaranya lebih tenang dari sebelumnya.

“Kalian melihat yang dia ingin kalian lihat.”

Lyra bertanya, “Apa arti video itu?”

Damian akhirnya menjawab, suaranya datar.

“Dalam pelatihan… aku menolak bertarung.”

Lyra menahan napas.

“Apa yang terjadi?”

“Orion menyerang lebih dulu.”

Hening.

Kael menatap Damian sekilas.

Aidan tidak mengatakan apa pun.

Lucian menutup tablet perlahan.

Lyra berkata pelan, “Dan sekarang dia ingin tahu apakah kau akan membuat pilihan berbeda.”

Damian menatap laut gelap di kejauhan.

“Tidak,” katanya.

Lyra memperhatikannya.

“Apa pun yang dia rencanakan,” lanjut Damian, “aku tidak akan memainkan perannya.”

Raven memberi instruksi terakhir.

“Kembali ke titik aman. Kita evaluasi langkah berikutnya.”

Mobil kembali bergerak meninggalkan pelabuhan.

Di kursi belakang, Lyra menatap bayangan kota yang semakin dekat. Ia bisa merasakan sesuatu berubah dalam diri Damian.

Bukan kelemahan.

Bukan kemarahan.

Melainkan keputusan.

Ia tidak tahu keputusan itu akan membawa mereka ke mana.

Namun satu hal jelas.

Permainan Orion bukan tentang kemenangan cepat.

Ini tentang memaksa Damian menghadapi masa lalu yang belum selesai.

Dan sekarang…

Masa lalu itu telah menemukan mereka.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!