SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 - Pekerjaan Arya
Kediaman Arya.
"Sayang, kamu gak apa kan papa tinggal lagi di rumah Nenek dan kakek? Papa harus mengunjungi perkebunan." Sebenarnya Arya tidak tega harus menitipkan Syakir terus, anaknya lebih sering bersama orangtuanya dibandingkan sama dia saking sedang sibuknya mengurus usaha teh yang makin berkembang di penasaran.
"Hali ini Cakil mau ikut papa, bocen di lumah meleka. Boyeh ya papa, Cakil mohon." Wajah balita itu memelas, pipinya mengembung dengan mata berkaca-kaca seraya menangkupkan kedua tangannya.
Melihat cara anaknya memohon membuat Arya tidak tega, dia pun mengangguk. "Ya udah, boleh, tapi gak boleh jauh dari papa ya. Soalnya papa kerjanya di perkebunan jauh dari rumah-rumah orang. Kalau jauh dari papa bisa tersesat."
"Ciap papa, Cakil paham."
********
Diperjalanan menuju kebun teh, Arya berpas-pasan dengan Raka Bagaskara, laki-laki yang menjadi salah satu guru di yayasan Nurul Huda, orangtuanya.
Mobilnya dan motor Raka berdampingan parkir di area parkiran dekat jalan. Tidak jauh dari perkebunan teh ada perkebunan sayuran juga.
"Loh Ka, kamu disini juga?" tanya Arya ketika sudah turun dari mobil, kebetulan motor Raka juga baru berhenti.
"Eh, Ar. Ini gue lagi mau jemput Mario dari tadi susah dihubungi, lo tahu kan area sini susah sinyal. Tadi Shakira jatuh pingsan makanya gue mau jemput dia, lo pasti lagi mantau pegawai kan?" Raka sudah bisa menebak, dia tahu Arya salah satu pemilik perkebunan teh di daerah sana.
"Terus keadaan Shakira sekarang gimana? Dia baik-baik saja kan?" Mendengar nama yang sudah pernah hadir dalam hatinya tetap saja Arya merasakan khawatir. Jika dulu karena suka sekarang sudah menganggap adiknya meski usia mereka cuman beda 1 tahun, tentunya lebih tua Shakira dan Raka dibandingkan dia. Jika Raka dan Shakira sekarang berusia 30 sedangkan Arya baru 29.
"Ck, masih aja khawatir sama adik gue, dia aman, justru sebab pingsan nya karena sedang hamil."
"Alhamdulillah, gue ikut senang dengernya. Akhirnya setelah 2 tahun menunggu mereka di karuniai calon anak juga." Senyum tulus muncul di bibir Arya, dia tahu betul bagaimana perjuangan Mario dan Shakira ingin punya anak lagi meski sudah ada Yusuf diantaranya.
"Alhamdulillah, ini juga gue masih gemeteran gak percaya Shakira bisa hamil setelah dokter bilang sulit hamil. Kalau gitu gue cari Mario dulu di kebon." Lalu pandangannya beralih pada Syakir tersenyum. "Eh ada bocil ganteng juga."
"Balu cadal ya kalau aku ganteng. Kemana aja Om? Dali tadi aku dicini balu cadal, menyebalkan gak dianggap," balas Syakir manyun kesal.
Raka tertawa, dia gemas mengacak-acak rambut Syakir. "Gemes banget sih bocil atu ini, maafin om Raka ya. Ar, gue pamit duluan."
"Ok. Hadiahnya nyusul ya, Ka." Setelah melihat Raka pergi sambil mengacungkan jempolnya, Arya lanjut ke area perkebunan.
"Ayo sayang."
"Cakil jayan aja papa, udah becal gak boyeh digendong." Langkah kecil kakinya mendahului Arya.
Sedangkan Arya tersenyum menggelengkan kepalanya mengikuti Syakir dari belakang.
Tidak lama kemudian dia berhenti di salah satu gudang pengumpulan daun teh. Sebelum di olah daun-daunnya di keringkan terlebih dulu.
"Pak Arya," sapa Roki menghampiri Arya ketika melihatnya datang ke pabrik.
Arya meliriknya sesekali memperhatikan sang putra yang sedang aktif bertanya pada orang-orang.
"Gimana pemasaran bulan ini, ada peningkatan?" tanya Arya dingin, dia sudah tahu Roki suami dari wanita yang berhasil mencuri hatinya.
"Penjualan bulan ini ada peningkatan, Pak. Para konsumen membludak terlebih mereka banyak menyukai teh siap saji."
PT Teh Pratama menjual berbagai macam teh, umumnya dibedakan berdasarkan tingkat oksidasi daun Camellia sinensis, yaitu teh hijau tanpa oksidasi, teh oolong Semi oksidasi, dan teh hitam oksidasi penuh, serta teh putih dan pu-erh. Bentuk fisiknya meliputi daun kering, celup, bubuk (matcha), hingga
Jenis-Jenis Teh Berdasarkan Pengolahan (Camellia Sinensis) terdiri dari Teh Hijau (Green Tea), Diproses tanpa oksidasi, kaya antioksidan, rasa cenderung ringan dan grassy.
Teh Hitam (Black Tea), Oksidasi penuh, warna pekat, rasa kuat (contoh: teh melati, teh poci). Teh Oolong (Oolong Tea), Semi-oksidasi, aroma wangi, warna kuning keemasan hingga cokelat. Teh Putih (White Tea), Paling minim pemrosesan, menggunakan kuncup muda, rasa lembut. Teh Pu-erh, Teh fermentasi, seringkali berbentuk padat, aroma earthy dan Matcha, Teh hijau bubuk khas Jepang.
"Saya harap para konsumen menyukainya dan jangan sampai ada kesalahan dalam catatan pemasukan."
"Baik Pak."
"Ok, kalau gitu saya kesana dulu." Arya menghampiri para pekerja yang sedang memilih berbagai daun teh untuk dipisahkan berdasarkan pengolahan nanti.
"Gimana kerjanya? Masih semangat?" tanya Arya ramah pada ibu-ibu disana.
"Semangat atuh jang, apalagi lihat bos tampan kayak kamu, kita mah makin semangat, iya kan ibu-ibu?" ucap salah satunya.
"Betul itumah, sudah baik, ramah, ganteng, gak perhitungan lagi," timpal yang lain.
"Tapi cayang papa Cakil belum punya istli," celetuk Syakir tiba-tiba sudah mendekat.
"Nah, itu masalahnya. Kapan atuh nikahnya Jang Arya? Udah punya calon belum?"
Arya tersenyum. "Insyaallah kalau udah waktunya saya undang kalian. Oh iya, untuk menambah semangat bekerja saya kasih bonus. Yogi!" panggilnya pada asistennya.
"Siap Pak, sesuai permintaan sudah disiapkan."
"Aduh makin betah aja kerja disini mah. Tiap seminggu sekali dapat bonus dan gaji utuh tiap bulannya."
"Iya ih, kami bersyukur banget bisa kerja sama Nak Arya. Semoga segera dapat ibu buat Syakir ya, aamiin."
"Aamiin."
Kebaikan Arya tidak diragukan lagi, Roki pun mengakuinya dan ia juga senang bisa menjadi salah satu karyawan Arya.
Tiba-tiba ponselnya Roki berdering, pria itu mengambil dari saku celananya. Dahinya mengernyit. "Caca."
Pergerakannya tentu saja diperhatikan oleh Arya. "Syakir, papa kesana dulu, kamu disini aja ya sama Om Yogi?"
"Ciap papa." Anak itu tidak nakal, dia selalu nurut dan menjadi salah satu hiburan bagi pekerja karena celotehannya dan kecerdikannya.
Arya diam-diam mengikuti kemana Roki pergi. Dari jauh dia melihat pria itu ke bagian samping gudang dan matanya menyipit saat seseorang datang memeluknya.
"Sayang, aku kangen."
"Kamu ngapain datang kesini?"
"Tentu untuk menemui kamulah, kamu kan janji akan menginap sama aku, makanya kamu bilang sama Galuh kerja di luar kota."
"Aku tahu tapi untuk satu penginapan aku gak bisa, terlebih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan."
Caca tersenyum, dia merangkul manja lengan Roki. "Gak masalah asalkan kita sering berdua aja. Aku udah bahagia kok."
Melihat interaksi keduanya dan perbincangan mereka, Arya mengepalkan tangannya. "Jadi mereka berselingkuh di belakang Galuh?"
Langkahnya mendekat. "Roki."
Pria itu menoleh kaget. "Eh, pak."
"Siapa dia?" Arya berpura-pura tidak tahu demi ingin mengetahui pasti siapa wanita didepannya.
"Hmmm." Roki panik.
"Saya kekasihnya Pak," ujar Caca ramah mengeluarkan suara kemayu nya.
Deg.
"Kalian pacaran?" Makin yakin saja jika pria itu berselingkuh dan Arya juga sempat kaget mendengar suara Caca, terkesan dibuat-buat.