Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Bermasalah di Sekolah
Pagi itu, suasana kelas 12-A Metropolia International School terasa sedikit lebih riuh dari biasanya. Sierra melangkah masuk dengan gaya cueknya yang khas. Satu tangannya memegang ponsel, jemarinya lincah mengotak-atik sesuatu di layar, mungkin barisan kode atau enkripsi data yang hanya ia yang paham. Meski matanya tampak terpaku pada layar kecil itu, Sierra tetap awas mengawasi keadaan di sekelilingnya.
Untuk menuju ke bangkunya yang berada di barisan belakang, Sierra harus melewati deretan meja termasuk meja milik Wanda Steel.
Wanda Steel, salah satu teman dekat Nora, sudah lama memendam kedongkolan pada Sierra. Baginya, Sierra adalah pengganggu. Wanda menyukai Eugene tapi Eugene selalu menjaga jarak dengan semua orang terutama para penggemarnya yang dianggap mengganggu. Tapi Sierra dengan mudah dekat dengan Eugene, sang school hunk sekaligus murid kebanggaan Metropolia yang selama ini sulit didekati. Rasa iri itu membakar hati Wanda.
Saat Sierra berjalan melewati mejanya, Wanda melihat kesempatan mengerjainya. Dengan gerakan cepat yang ia kira tak terlihat, Wanda menjulurkan kakinya ke lorong jalan, berniat membuat Sierra tersungkur malu di depan seluruh kelas.
Namun, Sierra adalah gadis yang dilatih. Tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, ia seolah memiliki mata di kakinya. Alih-alih tersandung, Sierra justru menggeser langkahnya sedikit dan mendaratkan sol sepatu boots militer beratnya tepat di atas punggung kaki Wanda dengan tekanan yang luar biasa kuat.
KRAK!
"AAAAAAKKKKHHHHH!"
Jeritan melengking Wanda memecah kebisingan kelas. Ia menarik kakinya dengan wajah yang seketika pucat pasi karena rasa sakit yang menusuk. Seluruh murid di kelas seketika berhenti beraktivitas. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan, semua mata tertuju pada Wanda yang meringis kesakitan dan Sierra yang tetap berdiri tenang tanpa dosa.
Sierra akhirnya menurunkan ponselnya, lalu menatap Wanda dengan senyum miring yang provokatif. "Lantai ini memang licin, Wanda. Sebaiknya kau simpan kakimu di bawah meja kalau tidak mau terinjak lagi," ucapnya dingin.
"Kau... kau sengaja melakukannya!" teriak Wanda sambil menahan tangis. "Lihat kakiku! Kakiku jadi terkilir! Kau sengaja menginjakku!"
Melihat Sierra hanya tersenyum miring tanpa rasa bersalah, emosi Wanda meledak. Ia menyambar penggaris besi panjang yang ada di atas mejanya. Dengan gerakan kalap, ia mengayunkan penggaris tajam itu ke arah Sierra.
Srak!
Dengan gerakan yang hampir tidak bisa diikuti mata manusia biasa, Sierra menangkis ayunan itu. Ia menangkap pergelangan tangan Wanda, memutarnya berlawanan arah, dan memberikan satu sentakan kuat.
POP!
Suara sendi yang terlepas terdengar jelas. Wanda membeku sesaat, sebelum akhirnya raungan minta tolong yang jauh lebih mengerikan keluar dari mulutnya. Lengannya tergantung dalam posisi yang salah, dislokasi.
Para murid memandang horor. Ruangan itu penuh dengan aura ketakutan. Mereka melihat Sierra bukan lagi sebagai anak biasa yang bisa dibully, melainkan seseorang yang sangat berbahaya.
Wanda pun akhirnya ditolong teman-teman sekelasnya.
Karena dokter klinik tidak pernah menangani hal semacam ini akhirnya Wanda dilarikan ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, kabar itu sampai ke telinga kepala sekolah, dan Sierra pun dipanggil ke kantor.
Di sisi lain koridor, Anastasia yang menyaksikan kejadian itu dari ambang pintu segera menjauh. Ia tidak merasa takut pada Sierra, sebaliknya, ia merasa Sierra adalah sosok yang sangat keren. Ia tahu Sierra dalam masalah besar karena keluarga Steel cukup berpengaruh.
Tanpa ragu, Anastasia menelpon pamannya, Adrian Blackwood.
"Uncle, apa Uncle sedang sibuk sekarang? Aku mau minta bantuan," ujar Anastasia saat sambungan terhubung.
Di dalam mobil Rolls-Royce yang sedang membelah jalanan menuju Metropolia, Adrian menyahut pendek, "Apa?"
"Apa Uncle bisa datang ke sekolahku?"
"Apa kau membuat masalah?"
"Bukan aku, tapi temanku, Sierra. Dia sedang dalam masalah besar di ruang kepala sekolah."
Ada jeda sejenak di seberang telepon. Adrian cukup terkejut mengetahui bahwa keponakannya itu berteman dengan Sierra, pasalnya sifat mereka sangat berbeda.
"Baiklah, aku ke sana sekarang," ujar Adrian singkat.
"Ha?" Anastasia melongo. Ia baru saja hendak mengeluarkan daftar alasan, janji untuk belajar rajin, hingga tawaran untuk menemani kakek mereka makan malam agar pamannya mau datang. Tapi Adrian langsung menutup telepon begitu saja.
"Kenapa dia gampang sekali setuju?" gumam Anastasia bingung, namun tetap merasa lega.
Di ruang kepala sekolah, suasana sangat mencekam. Orang tua Wanda, Mr. dan Mrs. Steel, sudah hadir dan mereka tampak sangat murka.
"Anak macam apa yang Anda terima di sekolah ini?! Sierra menyerang anak saya sampai kakinya bengkak dan lengannya dislokasi! Saya tidak mau tahu, Sierra harus dikeluarkan!" teriak Mrs Steel sambil menunjuk-nunjuk Sierra.
"Lagipula, kenapa Anda menerima jalang macam dia?!" lanjutnya dengan nada menghina. "Aku dengar kerjanya hanya merayu para pria di sekolah ini! Kenapa anak seperti dia bisa diterima di sekolah bergengsi seperti ini?! Apa anda tidak pernah mendengar rumor buruk tentang dia?! Bahkan aku dengar di usia 15 tahun dia sudah aborsi!"
Mr. Henderson mencoba menengahi. "Tenang, Mr. dan Mrs. Moore, kita harus bicara baik-baik..."
"Bagaimana aku bisa tenang?! Sekarang bagaimana anda akan bertanggung jawab sebagai kepala sekolah?!" teriak Mr Steel sambil menggebrak meja. "Saya tidak mau tahu, anak ini harus dikeluarkan! Tapi sebelumnya dia harus minta maaf di depan semua orang pada Wanda! Kalau tidak, saya akan lapor polisi!"
Mereka terus memojokkan Sierra yang hanya berdiri dengan tangan bersedekap.
"Kenapa aku harus minta maaf?" Sierra menyela dengan suara yang sangat tenang. "Aku cuma membela diri. Wanda yang menyerang duluan. Apa yang terjadi padanya itu salahnya sendiri. Kalau tidak mampu, jangan coba-coba sok jadi preman."
"Lihat! Lihat kelakuannya!" Mr Steel berteriak sambil menunjuk-nunjuk wajah Sierra. "Kau pikir keluarga Moore bisa melindungimu? Keluargamu itu akan bangkrut sebentar lagi!"
Sierra menatap jari yang menunjuknya itu dengan mata menyipit. Rasanya ia ingin sekali mematahkan jari itu menjadi dua.
"Sebelum keluarga Moore bangkrut, keluarga kalian yang akan jatuh miskin lebih dulu," balas Sierra tajam. "Dengan orang tua seperti kalian, pantas saja Wanda tumbuh menjadi anak yang tidak punya otak."
"Kau!!!" Mrs Steel yang kehilangan kesabaran mengangkat tangannya untuk memukul Sierra. Namun, Sierra dengan sigap menangkis tangan itu di udara, mencengkeram pergelangan tangannya hingga wanita itu meringis.
Tepat saat itu, pintu kantor terbuka lebar.
Adrian Blackwood masuk dengan aura yang begitu dingin, diikuti oleh James di belakangnya. Kepala Sekolah langsung berdiri dengan wajah tegang, sementara Sierra hanya menatap mereka dengan bingung. "Untuk apa mereka ke sini? Apa mereka punya keluarga di sekolah ini? Apa karena Anastasia? Kalau dipikir-pikir nama marga mereka sama..." pikirnya.
Mr dan Mrs Steel tidak mengenal Adrian, tapi mereka langsung mengenali James Harrington. Mereka segera memasang wajah ramah. "Mr Harrington, ada keperluan apa ke sini?"
Adrian langsung duduk di sofa tunggal tanpa menunggu dipersilakan serasa rumah sendiri. James menyusul duduk di sampingnya. "Aku mendengar ada yang ingin mengeluarkan Sierra barusan. Apa itu Anda, Nyonya?" tanya James dengan senyum yang tidak mencapai mata.
Mr dan Mrs Steel saling pandang, bingung. "Apakah James mengenal gadis ini?", batin mereka.
Mr. Henderson akhirnya menjelaskan penyebab keributan terjadi antara Sierra dan orangtua Wanda.
"Kalau begitu tinggal cek saja CCTV," potong James singkat.
Kepala keamanan dipanggil, dan rekaman kelas 12-A diputar di layar besar. Di sana terlihat jelas Wanda yang mencoba menjegal Sierra, lalu Wanda yang menyerang menggunakan penggaris besi sebelum Sierra melakukan pembelaan diri.
"Sepertinya Sierra hanya membela diri," ujar James tenang. "Lalu, kenapa Anda ingin mengeluarkannya?"
"Tapi dia pada akhirnya tidak terluka, sementara anak saya harap dirawat di rumah sakit? Bukankah itu tidak adil?", ucap Mrs Steel.
Mrs Steel masih merasa kalau Sierra yang salah dan harus bertanggungjawab.
Adrian kemudian menatap kedua orang tua Wanda. "Sebelum kalian mengurusi Sierra, bukankah lebih baik Anda khawatirkan diri Anda sendiri?"
"Apa... apa maksud Anda?" tanya Ayah Wanda gemetar saat melihat tatapan dingin Adrian.
Sesaat kemudian, ponsel Ayah Wanda berdering. Wajahnya seketika pucat pasi. "Halo? Apa?! Blackwood Group menarik semua investasinya?! Tapi kita sudah membeli peralatan untuk proyek besar itu! Kita bisa bangkrut!"
Pria itu tiba-tiba menatap Adrian dengan gemetar. "Siapa... siapa Anda sebenarnya?"
"Oh, saya lupa memperkenalkan. Dia adalah Adrian Blackwood. Pemilik Blackwood Group yang baru saja memutuskan kerja sama dengan perusahaan Anda," James memperkenalkan dengan nada santai.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Pasangan Steel seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Seketika, orang tua Wanda jatuh terduduk.
"Mr Blackwood... tolong... kami tidak tahu..." Mr Steel meratap, mencoba mendekat tapi James menghalanginya.
"Sierra, maafkan kami! Kami tadi hanya emosi!" ucap Mrs Steel tapi Sierra hanya membuang muka.
Mereka mulai memohon-mohon, bahkan mencoba memegang kaki Adrian, namun Adrian menghindar dengan risih.
"Bawa mereka keluar," perintah Adrian dingin kepada para pengawalnya.
"Oke bos." James memberi isyarat pada para pengawal yang berjaga di luar. Dengan kasar, pasangan Steel diseret keluar dari kantor kepala sekolah. Jeritan permohonan mereka perlahan menghilang di kejauhan.
Adrian berdiri, merapikan setelannya, lalu menatap Sierra yang masih berdiri di sana dengan ekspresi tidak terbaca.
Sierra hanya berdiri diam melihat pemandangan itu. Sebagai seorang hacker, ia bisa saja menghancurkan keluarga Steel dengan kemampuannya sendiri, namun dia kehilangan kesempatan untuk beraksi karena keduluan Adrian.
Selama ini tidak ada yang melindunginya selain Charles. Melihat Adrian bertindak untuk melindunginya dan menghukum orang yang kurang ajar padanya, ada perasaan aneh yang muncul di hatinya.
Tapi tentu saja tidak semudah itu membuat Sierra jatuh cinta. Sierra berpikir kalau Adrian melakukan ini untuk membalas pertolongannya di Cragstone.
"Jam pelajaran belum selesai kan? Kembalilah ke kelas", ucap Adrian sambil mengelus kepala Sierra.
James dan Mr Henderson melihat Adrian dengan heran, semua orang tahu Adrian tidak suka bersentuhan dengan manusia lainnya, dia punya OCD yang parah, semua orang dianggap kotor olehnya.
Sierra tidak terlalu mempermasalahkan tapi dia merasa sedikit canggung.
"Hm. Aku akan kembali ke kelas. Oh ngomong-ngomong apa kau kenal Anastasia? Kalian punya nama keluarga yang sama", ucap Sierra.
"Tentu saja!! Mereka berdua adalah paman dan keponakan!!", jawab James antusias. "Anastasia tadi juga menelpon Adrian dengan panik sambil berkata bahwa kau mendapatkan masalah di sekolah"
"Apa kamu datang karena Anastasia?"
"Tentu saja bukan!", jawab Adrian.
"Jadi kamu datang karena aku?", tanya Sierra memastikan.
"Sudah pasti kan?"
"Kalau begitu terima kasih, dengan ini kita impas kan? Aku kembali ke kelas sekarang", ucap Sierra sambil berbalik dan pergi dari ruang kepala sekolah.
Adrian dan James pun pergi untuk kembali ke Blackwood Group.
"Apa nyawaku semurah itu?", tanya Adrian.
"Maksudmu?", tanya balik James bingung.
"Bagaimana bisa menyelamatkan nyawaku dianggap impas dengan membereskan masalah pertengkaran di sekolah?"
"Pft!! Jadi kau sejak tadi diam karena memikirkan itu? Lalu apa maumu? Menikahinya?"
"Hm... Dia masih terlalu muda, setidaknya aku harus menunggu beberapa tahun lagi untuk itu"
"Hah??!! Kamu serius, Adrian??!"
Adrian tidak mau menjawab lagi pertanyaan James dan lanjut bekerja.