Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Operasi Tengah Malam
Tiga hari setelah kedatangan Kang Dae-ho, suasana di desa mulai berubah.
Dari tempat persembunyian yang sunyi, desa kecil ini berubah menjadi markas perang. Dua ratus pasukan elite Klan Utara berdatangan secara diam-diam, berkemah di hutan sekitar. Pasukanku sendiri—yang kubanggil "Batalion Meriam"—berjumlah lima puluh orang, sekarang bergabung dengan mereka.
Hyerin sudah bisa bangun. Tapi dia berbeda. Gadis ceria yang dulu suka bercanda kini berubah menjadi sosok pendiam dengan mata dingin. Dia berlatih pedang setiap saat, dari pagi hingga larut malam. Kadang sampai tangannya lecet berdarah.
Aku mencoba bicara, tapi dia hanya menjawab seperlunya.
"Oppa, aku baik-baik saja."
Tapi matanya berkata lain.
---
Malam keempat, Kang Dae-ho memanggilku untuk pertemuan rahasia.
Di tenda komandonya, peta markas Klan Gong terbentang. Telah dipelajari selama berhari-hari oleh mata-matanya.
"Posisi musuh," katanya, menunjuk beberapa titik. "Sekitar lima ratus orang di dalam markas. Sebagian besar Klan Selatan, sisanya pengkhianat pimpinan Tetua Jang."
Aku mengamati peta. Benteng yang dulu kukenal kini jadi sarang musuh.
"Di sini," aku menunjuk Aula Utama. "Ruang rahasia di belakang singgasana. Itu target kita."
"Kau yakin dokumen masih di sana?"
"Gong Jinsung bilang begitu. Dan aku percaya padanya."
Dae-ho mengangguk. "Masuk ke sana tidak mudah. Aula Utama dijaga ketat. Tapi..." dia tersenyum tipis, "...aku punya rencana."
---
Rencananya sederhana: serangan simultan dari tiga sisi.
Pasukan utama Klan Utara akan menyerang gerbang depan—menjadi pengalih perhatian. Sementara itu, tim kecil akan menyusup lewat lorong rahasia yang kau tahu, masuk ke Aula Utama, dan mengambil dokumen.
"Tim kecil itu terdiri dari kau, Hyerin, dan lima orang terbaikku," kata Dae-ho.
Aku mengerutkan kening. "Hyerin ikut?"
"Dia yang paling tahu markas itu. Setiap sudut, setiap lorong, setiap jebakan. Kita butuh dia."
"Dia belum pulih secara mental..."
"Justru karena itu, dia harus ikut." Dae-ho menatapku serius. "Kau tahu apa yang membakar semangat orang? Tujuan. Kalau kau kurung dia di sini, dia akan terus hancur. Tapi kalau kau beri dia misi, dia bisa bangkit."
Aku diam. Dia benar, meskipun aku tidak suka mengakuinya.
---
Malam itu, aku bicara pada Hyerin.
Dia duduk di tepi sungai kecil di belakang desa, memandangi bulan purnama yang memantul di air. Pedangnya tergeletak di samping.
Aku duduk di sampingnya.
"Besok malam kita bergerak."
"Iya."
"Kau ikut dalam tim penyusup."
Dia menoleh. Matanya sedikit terbelalak, lalu kembali dingin.
"Bagus."
"Hyerin-ah... kau yakin?"
"Apa yang tidak aku yakini?"
"Kau tahu maksudku." Aku meraih tangannya. "Kau masih terluka. Di dalam."
Dia menarik tangannya. "Oppa, semua orang terluka. Ayahku mati. Pamanku mati. Rumahku hancur. Tapi aku tidak punya waktu untuk terluka. Aku punya misi."
"Ini bukan tentang misi. Ini tentang kau. Aku tidak mau kehilanganmu juga."
Dia menatapku lama. Lalu tiba-tiba, dia menangis.
Bukan tangis histeris seperti dulu. Tangis diam, tanpa suara. Air mata mengalir di pipinya, tapi mulutnya terkunci rapat.
Aku memeluknya.
"Oppa... aku takut..." bisiknya di dadaku.
"Takut apa?"
"Takut kalau aku mulai membunuh... aku tidak bisa berhenti. Takut kalau dendam ini... mengubahku jadi monster."
Aku mengelus rambutnya. "Kau bukan monster. Kau manusia yang kehilangan orang tercinta. Itu wajar."
"Tapi ayahku dulu bilang... dendam hanya akan melukai diri sendiri..."
"Ayahmu benar. Tapi kadang, kita harus melewati api untuk sampai ke sisi lain." Aku menjeda. "Aku akan di sampingmu. Sepanjang jalan. Sampai api ini padam."
---
Malam penyerangan tiba.
Bulan purnama bersembunyi di balik awan—semoga pertanda baik. Kami berkumpul di pinggir hutan, seratus meter dari tembok belakang markas.
Tim penyusup: aku, Hyerin, dan lima prajurit elite Klan Utara. Semua berpakaian hitam, wajah ditutup kain. Senjata utama: senapan genggam, bom kecil, dan belati.
Di kejauhan, pasukan utama Dae-ho sudah siap di gerbang depan. Begitu suara genderang perang terdengar, mereka akan menyerang.
"Kau siap?" bisikku pada Hyerin.
Dia mengangguk. Tangannya memegang pedang—pedang ayahnya, yang berhasil diselamatkan seorang prajurit dari api.
"Aku siap."
---
Kami bergerak.
Lorong rahasia itu dimulai dari sumur tua di belakang markas—tempat yang dulu ditunjukkan Hyerin padaku. Turun ke dalam sumur, ada terowongan sempit yang mengarah ke ruang bawah tanah Aula Utama.
Air sumur dingin menusuk tulang. Kami berenang satu per satu ke mulut terowongan. Hyerin memimpin, hafal jalannya.
Terowongan itu gelap, sempit, dan bau. Harus merangkak puluhan meter. Tapi tidak ada yang mengeluh.
Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di ujung terowongan. Sebuah lubang ditutup papan kayu.
Hyerin menempelkan telinga, mendengarkan. Lalu mengangguk.
Dia mendorong papan itu perlahan. Cahaya remang masuk.
Kami keluar satu per satu.
---
Ruang bawah tanah itu gelap dan lembab. Bekas gudang anggur, sekarang kosong. Tapi dari atas, terdengar suara langkah kaki dan percakapan.
Para penjaga.
Hyerin memberi isyarat. Kami merayap ke tangga, naik dengan hati-hati.
Di ujung tangga, pintu kayu. Di baliknya, suara dua orang sedang bicara.
"...Penjagaan ketat sekali. Ada apa?"
"Kata komandan, takut ada penyusup. Katanya menantu Patriark masih hidup."
"Huh, cuma satu orang. Apa yang bisa dia lakukan?"
"Kau lupa bubuk hitamnya? Itu yang hancurin gerbang depan."
Diam. Lalu tawa.
"Sudahlah. Cepat ganti shift. Aku ngantuk."
Ini kesempatan.
Saat pintu terbuka, aku melompat. Satu pukulan di kepala penjaga pertama—dia jatuh pingsan. Penjaga kedua sempat terkejut, tapi sebelum berteriak, Hyerin sudah menutup mulutnya dengan belati di leher.
"Diam. Atau mati."
Dia mengangguk panik.
"Di mana Tetua Jang?" tanyaku.
"D-di Aula... Aula Timur... rapat dengan komandan Selatan..."
"Berapa banyak penjaga di Aula Utama?"
"Du... dua puluh orang... bergantian..."
Hyerin menekan belati sedikit. "Kau bohong."
"SUMPAH! DUA PULUH! AKU TIDAK BOHONG!"
Aku mengangguk. Hyerin memukulnya—pingsan.
Kami ikat mereka berdua, tutup mulut dengan kain, lalu lanjut.
---
Aula Utama tidak jauh. Tapi harus melewati koridor panjang dengan beberapa ruangan di sisi.
Kami bergerak seperti bayangan. Menghindari patroli, bersembunyi di balik pilar, diam saat ada suara.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Akhirnya, kami sampai di pintu belakang Aula Utama.
Di balik pintu ini, ruang singgasana. Dan di belakang singgasana, ruang rahasia.
Hyerin menempelkan telinga. Lalu berbisik, "Ada empat orang di dalam. Dua di dekat pintu, dua di dekat singgasana."
Aku mengangguk. Kami susun rencana cepat.
Lima prajurit elite akan masuk duluan, mengeliminasi dua penjaga pintu. Aku dan Hyerin akan langsung menuju singgasana, mengurus dua sisanya.
---
Pintu terbuka.
Pshh! Pshh!
Dua penjaga pintu roboh—kena panah kecil dari busur siluman prajurit Utara. Mereka tidak sempat berteriak.
Kami melesat ke dalam.
Dua penjaga di singgasana terkejut. Satu sempat menghunus pedang, tapi Hyerin sudah lebih dulu. Pedang ayahnya menari, satu tebasan, leher penjaga itu tersembelih.
Yang lain mencoba lari. Aku menembak dengan senapan genggam.
DOR!
Dia jatuh.
Sunyi.
Aku menengok ke belakang. Prajurit Utara sudah mengamankan pintu, menutupnya rapat.
"CEPAT! Ruang rahasia!" bisik Hyerin.
Kami berlari ke singgasana. Di belakangnya, ukiran naga di dinding. Hyerin menekan mata naga kiri—sekali, dua kali, tiga kali.
Klik.
Dinding bergeser, membuka lorong sempit.
---
Di dalam, ruangan kecil dengan satu meja dan rak-rak dokumen.
Aku langsung mencari—dokumen, surat, apa pun yang bisa jadi bukti. Hyerin membantu, membuka laci, memeriksa rak.
"Ini!" bisiknya.
Sebuah map tebal. Dibuka—isinya surat-surat, beberapa dengan cap Klan Selatan, dan daftar nama.
Daftar agen Klan Selatan di klan-klan lain.
Termasuk nama Tetua Jang.
"Ini dia," gumamku. "Bukti."
Tapi saat kami berbalik, suara dari luar.
BRAK!
Pintu ruang rahasia didobrak. Di ambang pintu, berdiri Tetua Jang, dikelilingi dua puluh pendekar bersenjata lengkap.
"Jin Tae-kyung," desisnya, senyum licik di wajah. "Aku sudah menunggumu."
---
[Bersambung ke Bab 22]