NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara Di sebuah perkantoran mewah yang menghadap ke arah pelabuhan Sydney, Australia, suasana ruangan itu begitu mencekam. Tuan Wijaya, paman dari Rangga Dirgantara, berdiri mematung di depan jendela kaca besar dengan rahang yang mengeras. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski mahal diremasnya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Seorang anak buah masuk dengan langkah gemetar, menunduk dalam-dalam. "Lapor, Tuan... Hendra sudah tertangkap. Rangga baru saja menghancurkan seluruh asetnya dalam satu malam. Hendra sekarang berada di bawah pengawasan ketat kepolisian atas kasus penggelapan dana yang sudah disiapkan Rangga."

​Wijaya berbalik, matanya berkilat penuh amarah. "Lagi?! Bagaimana mungkin seorang pria yang dulunya kehilangan akal sehat bisa bergerak secepat itu? Dia seharusnya masih terjebak dalam kegilaannya!"

​"Maaf, Tuan... sepertinya Rangga sudah benar-benar pulih. Sejak keberadaannya di Alpen dan memiliki anak-anak itu, stabilitas mentalnya berada di puncaknya. Dia bukan lagi Singa yang membabi buta, tapi dia menjadi predator yang penuh perhitungan," lapor anak buahnya dengan suara rendah.

​Wijaya melemparkan gelas kristal di tangannya ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping.

"Kurang ajar! Semua ini gara-gara wanita itu. Alya... dialah yang menjadi jangkar bagi Rangga. Tanpa Alya, Rangga hanyalah monster yang mudah dipancing. Jika kita ingin menjatuhkan Dirgantara Group, kita tidak perlu menyerang sahamnya lagi. Kita harus menyingkirkan sumber kekuatannya. Kita harus menyingkirkan Alya."

​Di wajah Wijaya terpancar senyum iblis. Rencana jahat baru mulai tersusun di kepalanya untuk menghancurkan kebahagiaan keponakannya itu dari akarnya.

...****************...

​Sementara itu, di Mansion Dirgantara yang tenang, Alya baru saja keluar dari kamar Arkan. Ia memastikan putra sulungnya itu telah terlelap setelah membacakan cerita tentang petualangan luar angkasa. Arkan tampak sangat damai dalam tidurnya, sebuah ketenangan yang selalu membuat hati Alya merasa utuh.

​Alya melangkah pelan melewati lorong kamar bayi kembar mereka, Aira dan Aisya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat dua suster penjaga sedang duduk siaga, sementara kedua bayinya tertidur pulas dalam ayunan yang bergerak lembut. Semuanya aman. Semuanya terkendali di bawah sistem keamanan yang dibangun suaminya.

​Alya kemudian masuk ke kamar utama. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut meja, menciptakan suasana yang sangat intim dan elegan.

​Begitu pintu tertutup, sebuah pelukan hangat dan kuat langsung melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum sandalwood yang maskulin dan dingin segera memenuhi indra penciuman Alya.

"Rangga".

​Rangga membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi obat penenang paling ampuh baginya. Pelukannya terasa intens, seolah ia tidak ingin ada jarak barang satu milimeter pun di antara mereka.

​"Mas... kau mengejutkanku," bisik Alya sambil mengusap lengan kekar suaminya yang melingkar erat di perutnya.

,

​Rangga tidak melepaskannya. Ia justru memutar tubuh Alya sehingga mereka kini berhadapan.

Mata hitam Rangga yang biasanya tajam dan menakutkan bagi dunia luar, kini meredup penuh dengan gairah dan kasih sayang yang membara.

​"Anak-anak sudah tidur semua, Sayang..." Rangga berbisik tepat di telinga Alya, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran elektrik ke seluruh tubuh Alya.

​Rangga menarik Alya lebih dekat hingga tubuh mereka menempel sempurna. Tangan Rangga mulai membelai punggung Alya dengan gerakan menggoda, sementara matanya terus mengunci tatapan istrinya. "Apakah boleh kita melakukannya sekarang? Aku sudah sangat merindukanmu... hanya kita berdua."

​Alya merasakan jantungnya berdegup kencang. Godaan Rangga selalu sulit untuk ditolak, namun ia teringat akan sesuatu. Ia menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Rangga dengan ragu. "Mas, aku tidak mau hamil lagi. Aira dan Aisya masih sangat kecil, dan persalinan kemarin sangat berat. Aku belum siap jika harus hamil lagi secepat ini."

​Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepercayaan diri dan gairah. Ia kembali menarik Alya ke dalam pelukannya, jemarinya mengusap bibir Alya dengan lembut.

​"Aku tidak akan menghamilimu lagi, Alya... aku akan menjagamu. Aku hanya ingin memiliki kamu malam ini. Sepenuhnya."

​Rangga tidak memberikan kesempatan bagi Alya untuk menjawab lagi. Ia langsung membungkam bibir Alya dengan ciuman yang dalam dan menuntut, sebuah ciuman yang mencurahkan segala rasa rindu, proteksi, dan gairah yang selama ini ia tahan demi pemulihan istrinya.

​Setelah percintaan yang intens itu berakhir, Rangga tidak membiarkan Alya menjauh. Ia mendekap tubuh istrinya di bawah selimut tebal, membiarkan kepala Alya bersandar di dadanya yang bidang. Napas mereka perlahan mulai teratur kembali.

​Rangga mengusap rambut Alya yang berantakan, matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang tajam. Meskipun ia baru saja merasakan kebahagiaan surgawi, instingnya sebagai pelindung tetap tidak pernah mati. Ia tahu pamannya di luar negeri tidak akan diam saja. Ia tahu bahwa ketenangan ini hanyalah selingan sebelum serangan berikutnya.

​"Mas, kenapa kau melamun?" tanya Alya pelan, suaranya terdengar mengantuk.

​Rangga mengecup puncak kepala Alya. "Tidak ada, Sayang. Aku hanya sedang berpikir betapa beruntungnya aku memilikimu. Aku akan memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu, apalagi menyakitimu."

​Alya tersenyum dan memeluk Rangga lebih erat, hingga akhirnya ia tertidur lelap karena kelelahan.

Bersambung...

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!