Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Latihan Neraka Sembilan Elemen Naga
Angin gunung berdesir pelan, menyapu dedaunan pinus yang tumbuh di lereng Gunung Sunyi.
Kabut pagi belum sepenuhnya menghilang ketika Wang Long berdiri tegak di depan air terjun. Di tangannya tergenggam Pusaka Naga Sembilan Langit, pedang yang sejak malam kemarin tak pernah benar-benar ia lepaskan.
Shen Tianlong berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Tatapannya tajam, namun sorot matanya dalam—seperti seseorang yang sedang memandang masa lalu yang panjang.
“Wang Long,” ucapnya perlahan, suaranya bergema lembut di antara tebing batu.
“Ya, Guru.”
“Apakah kau tahu apa arti kekuatan?”
Wang Long terdiam sejenak.
“Untuk melindungi… dan menghancurkan kejahatan.”
Shen Tianlong tersenyum tipis.
“Jawaban yang mudah. Tapi salah.”
Wang Long mengangkat wajahnya.
“Salah, Guru?”
“Kekuatan,” lanjut Shen Tianlong, “adalah beban. Semakin besar kekuatanmu, semakin berat takdir yang harus kau pikul.”
Angin tiba-tiba berputar mengitari tubuh sang guru.
“Pedang itu telah memilihmu. Darah sembilan naga mengalir dalam tubuhmu. Tapi jika hatimu dikuasai dendam, maka kau tidak akan menjadi King Master Naga… kau akan menjadi raja kehancuran.”
Wang Long mengepalkan tangannya.
“Guru… bagaimana saya harus memadamkan api dalam dada saya? Setiap kali saya menutup mata, saya melihat ayah dan ibu saya tergeletak bersimbah darah.”
Shen Tianlong menatapnya dalam.
“Bagus.”
Wang Long tertegun.
“Bagus?”
“Selama kau masih merasakan sakit, berarti kau belum kehilangan kemanusiaanmu.”
Sang guru menunjuk ke arah air terjun.
“Hari ini, kita mulai Latihan Neraka Sembilan Elemen Naga.”
Elemen Pertama: Naga Air
Air terjun di hadapan mereka mengalir deras dari ketinggian puluhan zhang. Suaranya menggelegar seperti ribuan genderang perang.
“Masuklah,” perintah Shen Tianlong.
Wang Long tidak bertanya.
Ia melangkah ke bawah derasnya air.
Begitu air menghantam tubuhnya, ia hampir tersungkur. Tekanannya seperti batu besar jatuh dari langit.
“Tegakkan punggungmu!” teriak Shen Tianlong.
Air menghantam kepala dan bahunya tanpa ampun.
“Guru… ini seperti dihantam ribuan palu!”
“Air adalah kelembutan yang mampu menghancurkan batu. Jika kau tak mampu berdiri di bawah air, bagaimana kau akan berdiri di tengah badai dunia persilatan?”
Wang Long menggertakkan gigi.
Ia mengatur napas.
Satu tarikan.
Satu hembusan.
Ia merasakan aliran energi naga dalam tubuhnya bergetar. Perlahan, ia membiarkan tenaga dalamnya mengikuti irama air, bukan melawannya.
Shen Tianlong mengangguk pelan.
“Benar… jangan melawan arus. Jadilah arus itu.”
Tiga jam berlalu.
Tubuh Wang Long gemetar hebat. Kakinya nyaris tak mampu menopang tubuhnya lagi.
Namun ia tidak mundur.
Ketika matahari telah tinggi, Shen Tianlong akhirnya berkata, “Keluar.”
Wang Long tersungkur di batu.
“Elemen pertama… mengajarkan ketahanan dan kelenturan,” ujar sang guru.
“Jika hatimu kaku, kau akan patah.”
Elemen Kedua: Naga Api
Malam hari.
Shen Tianlong menyalakan sembilan obor besar yang disusun melingkar.
“Masuklah ke tengah.”
Api berkobar tinggi.
Panasnya menyengat kulit.
Wang Long berdiri di tengah lingkaran api.
“Api adalah amarah. Ia bisa menerangi… atau membakar habis segalanya,” kata Shen Tianlong.
Api semakin membesar.
Panasnya membuat keringat Wang Long menetes deras.
Tiba-tiba Shen Tianlong mengibaskan lengan bajunya.
Semburan api meluncur ke arah Wang Long.
Pemuda itu terkejut dan menangkis dengan pedangnya.
Api menyambar bilah pedang, lalu menyebar ke sekelilingnya.
“Jangan melawan dengan ketakutan!” teriak Shen Tianlong.
Wang Long memejamkan mata.
Ia teringat wajah ibunya.
Ia teringat jeritan Mei Lin.
Amarah bangkit seperti gelombang.
Tubuhnya memancarkan aura merah keemasan.
Api di sekelilingnya justru tertarik ke arah pedang.
Shen Tianlong membelalakkan mata.
“Cepat sekali… ia menyatu dengan elemen api…”
Api berputar mengelilingi Wang Long, namun tidak membakarnya.
“Guru,” ucap Wang Long dengan suara berat, “api ini tidak menyakiti saya.”
Shen Tianlong menatapnya dalam.
“Karena dalam dirimu, api itu telah memiliki tuan.”
Elemen Ketiga: Naga Angin
Di puncak tebing.
Angin gunung berhembus kencang, hampir menyeret tubuh manusia dewasa.
“Berdirilah di ujung batu itu,” perintah Shen Tianlong.
Di bawah mereka jurang dalam menganga.
Wang Long berdiri di atas batu selebar dua kaki.
Angin menerpa dari segala arah.
“Angin adalah kebebasan… tapi juga ketidakpastian,” ujar Shen Tianlong.
“Jika pikiranmu goyah, kau akan jatuh.”
Angin semakin kuat.
Tubuh Wang Long oleng.
Ia hampir terpeleset.
“Tenangkan pikiranmu!” suara guru menggema.
Wang Long memejamkan mata.
Ia membiarkan tubuhnya mengikuti arah angin, bukan melawannya.
Kakinya ringan.
Tubuhnya seperti daun yang melayang.
Shen Tianlong tersenyum samar.
“Baik… sangat baik.”
Elemen Keempat hingga Kedelapan
Hari-hari berikutnya dipenuhi latihan yang nyaris merenggut nyawanya.
Naga Tanah — ia harus memukul batu besar hingga retak dengan tenaga dalam murni.
Naga Petir — ia berdiri di tengah badai gunung, menyerap energi langit tanpa hancur.
Naga Bayangan — bertarung melawan bayangannya sendiri yang dibentuk oleh ilusi tenaga dalam Shen Tianlong.
Naga Es — duduk di danau beku sepanjang malam tanpa membeku.
Naga Cahaya — bermeditasi di bawah matahari terik hingga penglihatannya melampaui batas biasa.
Setiap elemen membuat tubuhnya hancur dan pulih kembali.
Kulitnya lebih keras.
Napasnya lebih panjang.
Tatapannya berubah tajam.
Namun latihan belum selesai.
Elemen Kesembilan: Naga Jiwa
Suatu malam, Shen Tianlong berdiri di depan muridnya.
“Elemen terakhir bukan tentang tubuh.”
“Lalu tentang apa, Guru?”
“Jiwamu.”
Shen Tianlong mengangkat tangannya.
Kabut hitam menyelimuti sekeliling.
Wang Long tiba-tiba kembali berada di Desa Awan Hijau.
Ia melihat ayahnya terbunuh.
Ibunya dipenggal.
Mei Lin menjerit.
Semua terasa nyata.
Amarah menguasai dirinya.
Ia mengangkat pedang dan menyerang bayangan anggota Partai Tengkorak Hitam.
Namun semakin ia menyerang, bayangan itu semakin banyak.
Tiba-tiba, di antara bayangan itu muncul sosok dirinya sendiri—bermata merah, tertawa kejam.
“Kau ingin membalas dendam? Bunuh semuanya! Hancurkan dunia!”
Wang Long gemetar.
“Tidak… aku bukan seperti itu!”
“Bukankah itu yang kau inginkan?” suara bayangan itu berbisik.
Pedangnya bergetar.
Ia hampir kehilangan kendali.
Tiba-tiba suara Shen Tianlong terdengar seperti gema dari kejauhan.
“Jika kau membiarkan dendam menguasaimu… maka kau bukan pewaris naga. Kau hanyalah budak kebencian!”
Wang Long berlutut.
Air mata jatuh.
“Ayah… Ibu… jika aku menjadi monster… apakah kalian akan bangga?”
Sunyi.
Bayangan dirinya sendiri perlahan memudar.
Wang Long berdiri perlahan.
Ia mengangkat pedangnya.
“Aku tidak akan membunuh demi dendam. Aku akan menghentikan kejahatan… agar tidak ada desa lain yang mengalami nasib seperti milikku.”
Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.
Kabut hitam hancur.
Ia kembali berada di Gunung Sunyi.
Shen Tianlong berdiri di depannya.
Tatapannya penuh kebanggaan.
“Kau telah melewati Latihan Neraka Sembilan Elemen Naga.”
Wang Long terengah, namun matanya kini jernih.
“Guru… apakah saya sudah cukup kuat?”
Shen Tianlong menggeleng pelan.
“Belum.”
Wang Long tersenyum tipis.
“Saya mengerti.”
Sang guru menatap langit malam.
“Namun mulai hari ini… kau telah melangkah ke gerbang sejati dunia persilatan.”
Angin berhembus pelan.
Pedang Pusaka Naga Sembilan Langit berkilau lembut.
Shen Tianlong berkata dengan suara mantap,
“Wang Long, pewaris sembilan naga… bersiaplah. Dunia akan segera mengetahui bahwa King Master Naga telah bangkit.”
Dan jauh di suatu tempat yang gelap, seseorang tersenyum dalam bayangan.
Badai pertama telah bergerak.
Bersambung...