NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:97.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Enzo terdiam cukup lama. Tatapan Erza dan Elora menunggu jawabannya dengan penuh harap, mata yang berbinar, senyum yang nyaris tak sabar. Dua pasang mata itu seperti menggantungkan seluruh kebahagiaan mereka pada satu kata darinya, liburan. Sesuatu yang baginya kini terasa semewah waktu.

“Daddy?” Erza memanggil pelan, suaranya mengandung cemas yang ia coba sembunyikan.

Enzo menelan ludah. Dalam benaknya, jadwal rapat, perjalanan dinas, dan tenggat proyek berdesakan. Selama sebulan ke depan, nyaris tak ada satu hari kosong. Bahkan akhir pekan pun sudah terisi. Ia menoleh ke arah Azalea.

Wanita itu menangkap kebimbangannya hanya dari satu tarikan napas. Azalea tersenyum tipis, lalu berkata lembut, “Kalau Mas belum bisa, tidak apa-apa.”

Namun dalam sorot matanya, Enzo tahu, Azalea sedang berusaha melindunginya dan juga melindungi hati kedua anak itu.

“Aku … belum tahu,” jawab Enzo akhirnya. Jujur, tapi terasa menyakitkan.

Wajah Elora sedikit meredup. Erza menunduk, mencoba bersikap dewasa, meski jelas rasa kecewa menyelusup di sana.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Azalea duduk sendirian di teras belakang. Angin malam menyapu lembut, membawa suara dedaunan. Ia memikirkan wajah Erza yang berusaha tersenyum padahal kecewa. Elora yang memeluk bantal lebih erat dari biasanya.

“Anak-anak itu tidak butuh pantai atau hotel mewah,” batin Azalea. “Mereka hanya ingin bersama.”

Pagi berikutnya, saat Enzo bersiap berangkat kerja, Azalea menyapanya dengan rencana sederhana. “Mas,” ucapnya hati-hati, “kalau tidak bisa pergi jauh, bagaimana kalau kita berkemah saja? Di halaman belakang.”

Enzo tertegun. “Berkemah?”

“Iya. Tenda kecil, tidur bersama. Anak-anak belum pernah merasakannya, kan?”

Sejenak Enzo membayangkan halaman luas rumah itu. Tak pernah benar-benar digunakan. “Di rumah sendiri?” tanyanya ragu.

Azalea tersenyum. “Liburan bukan soal tempat. Tapi soal bersama.”

Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dada pria itu.

Malam itu juga, Enzo memesan perlengkapan berkemah. Hari libur yang dinanti akhirnya tiba. Begitu mendengar rencana berkemah, Erza dan Elora melonjak kegirangan.

“Kemah? Kayak di TV itu?” tanya Erza tak percaya.

“Kita tidur di tenda?” Elora memeluk Azalea erat. “Semuanya bareng?”

Azalea mengangguk sambil tertawa. “Iya. Satu tenda. Satu keluarga.”

Keluarga, kata itu membuat Enzo terdiam sejenak. Selama ini dia kurang merasakan kebersamaan bersama keluarganya.

Sepulang kerja, Enzo membawa mobil penuh perlengkapan. Ramon ikut membantunya mendirikan tenda di halaman belakang.

Erza dan Elora berniat membantu, tapi justru berlarian mengitari tenda, saling mengejar sambil tertawa.

“Pegang talinya!” teriak Ramon.

Elora malah tertawa dan bersembunyi di balik tiang.

Azalea dan Bi Minah menyiapkan bahan barbeque di dapur luar. Daging dimarinasi, jagung dibersihkan. Aroma bumbu mulai menyebar, bercampur dengan udara sore.

Saat matahari tenggelam, api dinyalakan. Enzo berdiri di depan panggangan, membalik daging dan jagung. Sesekali ia meniup bara api dengan kipas kecil.

“Daddy jago!” seru Elora.

Erza mengangguk penuh bangga. “Iya. Daddy kelihatan keren.”

“Tentu, dong!” Enzo tertawa kecil. Tawa yang dulu jarang ia keluarkan.

Azalea duduk tak jauh dari sana, memandangi mereka dengan hati hangat. Dia melihat Enzo benar-benar hadir, bukan sekadar tubuh, tetapi juga hatinya.

Mereka makan bersama di atas tikar, bercanda, saling berebut jagung bakar.

“Mommy, punyaku gosong,” protes Elora.

“Yang gosong itu manis,” jawab Azalea sambil tersenyum.

“Punya aku manis,” ucap Erza sambil mengacungkan jagungnya. “Punya Daddy manis, nggak?"

“Manis,” balas Enzo tersenyum.

Malam semakin larut. Lampu-lampu kecil dipasang di sekitar tenda, menciptakan suasana hangat.

Erza dan Elora masuk ke tenda lebih dulu. Mereka berbaring di tengah, saling berhadapan, masih tertawa kecil. Sementara Azalea berbaring di sisi kanan dan Enzo di sisi kiri.

Jarak di antara mereka awalnya terjaga, namun anak-anak tak bisa diam. Elora berguling ke arah Azalea. Erza ikut bergerak, mencari posisi nyaman.

Dalam tidurnya, Erza tanpa sadar bergeser ke arah Enzo. Elora menyusul, mendorong pelan.

Azalea terbangun setengah sadar ketika merasakan kehangatan lain di sampingnya. Tangannya bersentuhan dengan dada Enzo. Ia hendak menarik diri, tapi tubuh kecil Elora menekan punggungnya, membuatnya tak bisa bergerak. Napas Enzo terasa di ubun-ubunnya.

Enzo membuka mata. Ia terdiam, menyadari Azalea kini berada dalam pelukannya, terjebak di antara dua anak yang tertidur pulas. Ia bisa saja bergerak, namun ia tidak melakukannya.

Malam itu, di bawah langit berbintang dan cahaya lampu kecil, Enzo merasakan sesuatu yang asing namun hangat. Bukan gairah. Melainkan rasa pulang.

Sementara Azalea, dalam tidurnya yang ringan, bergumam lirih, seolah berdoa, “Ya Allah … terima kasih.”

Hari masih gelap. Embun masih menggantung di ujung rumput halaman belakang. Udara dingin menyusup lembut ke sela-sela tenda, membawa aroma tanah basah dan sisa arang barbeque semalam. Enzo terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, disambut pemandangan yang membuat dadanya tiba-tiba terasa hangat dan sesak sekaligus.

Azalea. Wanita itu masih terlelap di dalam pelukannya. Rambutnya sedikit berantakan, ujung jilbabnya terlepas, menyentuh dada Enzo. Wajahnya terlihat begitu damai, jauh dari kesan wanita yang selama ini selalu kuat dan menahan luka sendirian.

Di dadanya, Elora tidur sambil memeluk lengan Azalea. Sementara Erza meringkuk di sisi Enzo, satu tangannya mencengkeram kaus ayahnya, seolah takut terlepas.

Enzo menahan napas. Ini terlalu hangat untuk disebut kebetulan. Selama ini, tidur selalu menjadi urusan sendiri. Namun pagi ini, ia terbangun dengan perasaan utuh—lengkap—sesuatu yang tak pernah ia sadari selama ini.

Tangannya reflek mengencang sedikit, melindungi Azalea agar tidak terhimpit saat Elora bergerak. Gerakan kecil itu membuat Azalea terbangun. Matanya terbuka perlahan, lalu membulat ketika menyadari posisinya. Ia sedang berada dalam pelukan Enzo. Napasnya tercekat. Wajahnya memanas. Jantungnya berdegup kencang.

“Mas—” suaranya nyaris tak terdengar.

Enzo segera melonggarkan pelukannya. “Maaf,” ucapnya cepat, seolah takut Azalea salah paham. “Anak-anak, mereka bergeser semalaman.”

Azalea mengangguk pelan, buru-buru bangkit sedikit, tapi Elora mengerang kecil dan justru memeluknya lebih erat.

“Mommy ...,” gumam Elora dalam tidurnya.

Azalea terdiam.

Enzo ikut terdiam.

Akhirnya, Azalea kembali merebahkan tubuhnya, kali ini dengan jarak yang sedikit lebih aman. Namun kehangatan itu sudah terlanjur tinggal di kulit, di dada, di perasaan.

1
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
Yulay Yuli
udh lebaran Duluan y
Nar Sih
semoga habis lebaran ini enzo dan lea bisa seperti psngn suami istri separti org lain agar erza juga elora cpt punya adik lgi
Dewie
👍
Sun Rise
bgus
Kar Genjreng
Gengsi mamak masih meninggi kapan tu kira kira akan runtuh menjadi manusia
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!