"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-delapan
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca besar di ruang tamu kediaman Suhadi. Suasana yang biasanya kaku kini terasa lebih hidup dengan kehadiran seorang pria tua berwibawa yang duduk di kursi kebesarannya. Kakek Suhadi, dengan setelan batik sutra, menanti kemunculan cucu kesayangannya. Semalam ia pulang cukup larut Setelah menyelesaikan urusannya... Kakek Suhadi, walaupun usianya sudah senja, namun ia masih sehat, Setelah sarapan, Najwa meminta izin untuk mengganti pakaiannya karena tadi setelah subuh, ia ikut membantu para pekerja memasak di dapur...
Alendra dan Adriansyah sudah berdiri di dekat pintu utama, siap berangkat dengan mobil sport masing-masing. Mereka sesekali melirik jam tangan.
" baru hari pertama saja sudah merepotkan" gerutu Ardiansyah, seharusnya ia berangkat terlebih dahulu,namun tumben sekali kakek sudah duduk di ruang tamu, biasannya setelah sarapan,kakek masuk ke ruang kerjanya dan sesekali ia pergi ke kantor untuk membantu pekerjaan putranya yang sering keteteran.kakek mencegah mereka berangkat terlebih dahulu sebelum Najwa juga berangkat.
" lebih baik kamu diam, daripada uang jajanmu di potong sama paduka raja" ejek Adrian menatap adiknya, walaupun ia sendiri kesal karena langkahnya terhenti oleh suara bariton kakeknya yang meminta mereka untuk menunggu Najwa.
Saat Adriansyah akan membalas perkataan kakaknya, tiba-tiba pintu lift terbuka.
Ting....
Najwa melangkah keluar. Ia mengenakan gamis modern berbahan jatuh berwarna pearl white dipadukan dengan jilbab sutra polos yang terkesan lembut hasil pilihan Butik Mutiara semalam. Terlihat sederhana namun terlihat berkelas, apalagi harganya yang tidak masuk akal bagi kaum menengah ke bawah, Najwa sendiri tidak tahu harga yang ia pakai dari atas sampai bawah, ia hanya tahu kalau barang-barang yang ia kenakan sudah pasti harganya mahal, terdengar semalam, saat rombongan itu datang dari butik terkenal bukan dari pasar tradisional..membuktikan bahwa semua perlengkapan miliknya bukan kaleng-kaleng.Di bahunya tersampir tas kulit elegan yang simpel namun sangat berkelas. Tidak ada riasan apapun , Najwa hanya memakai sunscreen serta lip tint.... wajah yang bersih dan sorot mata yang teduh namun penuh kecerdasan.
Alendra terdiam, kunci mobil di tangannya hampir terjatuh. Ia menelan ludah, menyadari bahwa adiknya memiliki pesona yang bisa membuat seluruh kampus menoleh. Adriansyah pun tak jauh beda, ia yang biasanya banyak bicara hanya bisa mengerjap, gengsinya berperang hebat dengan rasa kagum yang tiba-tiba muncul.
Kakek Suhadi tersenyum bangga, matanya berbinar "Masya Allah... ini baru cucu Kakek. Cantik, cerdas, dan bersahaja. Kemari, Nak."
Najwa mendekat, menyalami tangan Kakeknya dengan takzim.
"Terima kasih, Kek. Najwa merasa... ini terlalu berlebihan. Tapi Najwa akan menjaganya dengan baik." ucap Najwa tersenyum lembut...
"Tidak ada yang berlebihan untukmu. Dan dengarkan, hari ini kamu tidak berangkat dengan kakak-kakakmu. Kakek sudah menyiapkan supir pribadi Kakek, Pak Darman, untuk mengantarmu dengan mobil khusus keluarga kita.
" sebenarnya tidak masalah kalau Najwa naik kendaraan umum, Najwa sudah terbiasa kek" balas Najwa yang merasa tidak enak, kakeknya terlalu baik.
" tidak bisa begitu nak, kau adalah cucu perempuan satu-satunya keluarga Suhadi, sudah seharusnya kau mendapatkan fasilitas yang sama seperti ke dua kakak mu, apalagi selama ini, kau tidak merasakan yang seharusnya milikmu sedari dulu, maafkan kakek ,kalau keputusan kakek ini tidak membuat mu nyaman" ucap sang kakek di buat-buat sedih, agar Najwa tidak menolak...
Dan benar saja, Najwa langsung memeluk kakeknya karena merasa bersalah " kek, maafkan Najwa, bukan maksud Najwa menolak..., baiklah, Najwa akan mengikuti semua aturan yang akan kakek berikan , asal tidak bertolak belakang dengan ajaran agama " kata Najwa dengan raut wajah merasa bersalah, karena sudah membuat kakeknya sedih, ia sadar kalau kakeknya sebenarnya ingin menebus kesalahannya yang kakek sendiri tidak pernah tahu kalau ia memiliki cucu seorang perempuan. Dan selama ini ditelantarkan.
Monica yang baru saja turun dari tangga bersama Raisa, berhenti di anak tangga terakhir. Wajahnya mengeras melihat pemandangan di ruang tamu. Ia melihat suaminya, Afkar, juga berdiri di sana dengan tatapan haru, sementara kedua putranya, yang biasanya angkuh, tampak seperti kehilangan kata-kata di depan Najwa.
"Mobil khusus, Kek?" Monica menyela dengan tawa yang dipaksakan. "Jangan bilang Ayah memberikan mobil Rolls-Royce terbatas itu hanya untuk mengantar anak ini ke kampus? Alendra dan Adriansyah saja tidak pernah Ayah izinkan memakai mobil itu."
Kakek Suhadi menoleh perlahan, tatapannya dingin. "Mobil itu milikku, Monica. Dan aku bebas memberikannya kepada siapa pun yang menurutku pantas menyandang martabat keluarga ini. Najwa tidak hanya membawa nama Suhadi, dia membawa kehormatan yang selama ini mungkin sudah mulai memudar di rumah ini."
....
Kakek Suhadi beralih menatap Alendra dan Adrian yang masih mematung.
"Alendra, Adriansyah! Jaga adikmu di sana. Jika aku mendengar ada satu helai rambutnya jatuh atau ada orang yang merendahkannya, Kakek tidak akan segan-segan membekukan seluruh fasilitas kalian." tegas kakek Suhadi menatap tajam kedua cucu laki-lakinya. Cucu laki-laki yang seharusnya sudah bisa belajar membantu pekerjaan di kantor namun masih asik sibuk dengan kegiatan kuliah serta main.
Alendra gugup, ia membuang muka "I-iya, Kek. Alendra mengerti." jawabnya sedikit takut, ia tidak mau semua fasilitas itu di cabut, ia pasti akan di jauhi oleh gadis-gadis yang selama ini memperebutkan dirinya.
Najwa melirik ke arah Raisa yang tampak ingin meledak karena iri. Mobil mewah yang biasanya hanya dipakai sang kakek kini sudah terparkir di depan pintu, pintu mobilnya dibukakan oleh Pak Darman dengan sangat hormat.
"papa, mama Monica... Najwa pamit berangkat kuliah, Assalamualaikum?". Lalu menoleh ke arah kedua kakaknya. Kak Alendra, Kak Adrian, sampai bertemu di kampus."
Najwa masuk ke dalam mobil dengan anggun. Saat mobil itu perlahan meninggalkan halaman, Alendra menatap sisa debu kendaraan tersebut dengan perasaan campur aduk.
Adriansyah berbisik pada Alendra saat mereka berjalan menuju mobil masing-masing "Bang... kayaknya rencana Mama bakal susah. Kalau Kakek sudah turun tangan begini, kita bisa mati kalau Najwa kenapa-napa."
Alendra mengeraskan rahangnya "Diamlah, Adrian. Kita lihat saja nanti. Kampus itu tempat yang luas, Kakek tidak mungkin mengawasinya 24 jam."
Meskipun berkata demikian, Alendra tahu satu hal, hatinya mulai goyah. Ada sesuatu dalam diri Najwa yang membuatnya merasa malu akan kelakuannya selama ini. ...
Brakkkkk...
Raisa menutup mobil mewahnya dengan sangat kencang...ia sangat marah pagi ini, "gadis itu... Baru satu hari di sini sudah merebut semua perhatian orang rumah., aku tidak terima brengsek....tunggu saja, aku pastikan kau akan di usir dari rumah ini secara tidak hormat" gumamnya pelan.
Setelah kepergian cucu-cucunya, Kakek Suhadi menatap Monica dengan tatapan elang yang dingin "Najwa adalah wajah masa depan keluarga ini, Monica. Aku ingin semua orang di kampus itu tahu, bahwa siapa pun yang berani mengusik gadis ini, mereka sedang berhadapan langsung denganku. Pak Darman akan menunggunya sampai jam kuliah selesai." tegas kakek Suhadi yang tidak mau di bantah....lalu pergi meninggalkan Monica sendirian, sedangkan Afkar berangkat ke kantor dengan supirnya sendiri.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong