Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah melipat mukena dan menyimpan sajadahnya, Aisyah kembali ke sisi ranjang. Wajahnya tampak begitu teduh dan bersih setelah dibasuh air wudhu.
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela rumah sakit memberikan aura ketenangan pada dirinya, sangat kontras dengan badai yang sedang terjadi di luar sana.
Rizal tidak bisa memalingkan wajahnya. Ia menatap lekat-lekat setiap garis di wajah istrinya.
Ada rasa kagum yang tumbuh perlahan, bercampur dengan kebingungan akan takdir yang membawanya dari jurang kehancuran menuju pelukan wanita sehebat Aisyah.
Aisyah yang menyadari tatapan itu, tersenyum lembut.
Ia duduk di kursi kecil dan meraih gelas air mineral di atas nakas.
"Mas, haus?" tanya Aisyah lembut sambil menyodorkan sedotan ke arah bibir Rizal.
Rizal menganggukkan kepalanya perlahan dan meminum sedikit air itu. Namun, setelah rasa haus itu hilang, satu hal yang mengganjal di hatinya sejak tadi akhirnya terucap juga.
"Kenapa kamu memanggilku 'Mas'?" tanya Rizal dengan nada ragu.
"Dulu kamu memanggilku 'Rizal' dan aku memanggilmu 'Mama'. Sekarang, kamu jauh lebih dewasa dariku, Aisyah. Kamu adalah pemilik semua ini, sedangkan aku hanya..."
Aisyah segera meletakkan gelasnya dan menatap mata Rizal dengan serius, namun penuh kasih.
"Rizal," potong Aisyah dengan nada tenang.
"Status kita sudah berubah sejak ijab kabul tadi. Di mata hukum dan agama, aku adalah istrimu, dan kamu adalah imamku. Panggilan 'Mas' adalah bentuk hormatku padamu sebagai suami."
Ia menggenggam tangan Rizal yang masih terpasang infus.
"Jangan pernah merasa rendah diri lagi. Di luar sana, orang mungkin melihat umur atau harta. Tapi di kamar ini, kamu adalah suamiku. Aku ingin kamu mulai membiasakan diri dengan posisi barumu. Kamu bukan lagi sekadar pemuda yang bekerja keras, tapi kamu adalah pemimpin bagi hidupku sekarang."
Rizal terdiam, tenggorokannya terasa tercekat. Baru kali ini ada orang yang memberinya rasa hormat setinggi itu di saat ia sedang tidak memiliki apa-apa.
"Tapi aku belum bisa memberimu apa pun, Aisyah..." bisik Rizal getir.
"Kamu sudah memberikan satu hal yang tidak dimiliki Hadi atau pria lain yang pernah kutemui," balas Aisyah mantap.
"Ketulusan. Dan bagiku, itu modal yang cukup untuk kita membangun imperium baru."
Tepat saat suasana syahdu itu menyelimuti mereka, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan suara melengking dari lorong rumah sakit.
"Mana kamarnya?! Di mana wanita tua itu dirawat?!"
Rizal dan Aisyah saling pandang saat mendengar suara Intan.
Aisyah berdiri, merapikan sedikit hijabnya, dan menatap pintu dengan senyum dingin.
"Sepertinya 'perayaan' yang mereka nantikan sudah tiba, Mas," ujar Aisyah sambil mengedipkan mata pada Rizal.
Pintu kamar VIP itu terbuka dengan bantingan keras, menimbulkan bunyi dentum yang menggema di seluruh ruangan.
Intan melangkah masuk dengan napas memburu, diikuti Hadi yang tampak kebingungan di belakangnya.
Wajah Intan yang tadinya penuh seringai kemenangan seketika kaku seperti disemen.
Ia mematung di ambang pintu. Matanya membelalak melihat Aisyah berdiri dengan tegak, segar bugar, dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sekarat. Namun, kejutan yang lebih besar menghantam jantungnya saat ia melihat sosok pria yang terbaring di ranjang mewah itu.
"Rizal?" gumam Intan, suaranya bergetar antara tidak percaya dan jijik.
"Kenapa si miskin ini ada di sini? Dan kenapa Mama tidak..."
Aisyah tidak memberikan celah bagi Intan untuk melanjutkan makiannya.
Ia melangkah perlahan menuju arah Intan, dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Aisyah kemudian kembali ke sisi ranjang, meletakkan tangannya di atas bahu Rizal dengan gerakan protektif sekaligus penuh klaim kepemilikan.
"Selamat pagi, Intan," sapa Aisyah, suaranya terdengar semerdu musik namun sedingin es.
Intan menunjuk-nunjuk Rizal dengan jari gemetar.
"Apa-apaan ini, Ma? Kenapa Mama mengurusi sampah ini di kamar VIP? Apa Mama sudah gila?!"
Aisyah tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Hadi meremang di belakang.
Ia meraih tangan Rizal, memperlihatkan buku nikah yang tergeletak di atas nakas dan cincin yang melingkar di jari mereka.
"Jaga bicaramu, Intan. Kamu sedang berada di hadapan kepala keluarga yang baru," ucap Aisyah dengan nada otoritas yang mutlak.
"Mulai tadi pagi, pria yang kamu hina ini telah resmi menjadi suamiku. Dia bukan lagi Rizal yang dulu kamu injak-injak."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Intan. Wajahnya berubah pucat pasi, lalu memerah, dan kembali pucat.
"Suami? Mama menikah dengan dia?!" jerit Intan histeris.
Aisyah mengabaikan jeritan itu. Ia menatap Intan dengan tatapan menghakimi.
"Ayo, mana sopan santunmu? Sebagai anak yang masih menumpang di bawah naungan asetku, setidaknya tunjukkan rasa hormatmu."
Aisyah menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan kalimat yang menghantam telak harga diri Intan.
"Ayo, cium tangan ayahmu dulu, Intan. Berlutut lah di hadapan pria yang semalam kamu ludahi, karena mulai detik ini, hidup dan matimu bergantung pada tanda tangannya."
Rizal hanya diam, menatap Intan dengan tatapan datar dan dingin.
Tidak ada lagi cinta di matanya, yang ada hanyalah ketegasan seorang pria yang baru saja bangkit dari kematian jiwanya.
Hadi di belakang Intan hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan singa yang selama ini ia anggap kucing rumahan.
Suasana di kamar VIP itu semakin mencekam. Intan mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih, menahan gejolak penghinaan yang membakar dadanya.
Di depannya, Rizal hanya menatapnya dengan pandangan kosong—sebuah tatapan yang lebih menyakitkan daripada makian.
"Kamu boleh pilih, Intan," suara Aisyah memecah keheningan, tenang namun mematikan.
"Cium tangan ayahmu sekarang jika kamu ingin kembali menjadi putriku, atau keluar dari rumah itu detik ini juga dan jadilah gelandangan. Hiduplah bersama Hadi tanpa nama Baskoro di belakang namamu. Mari kita lihat, sejauh mana cinta 'setara' kalian bisa bertahan tanpa sepeser pun uang dariku."
Aisyah menyesap air mineralnya sedikit, lalu melanjutkan, "Mama masih memberikan satu kesempatan terakhir agar kamu tetap bisa menjadi putri Mama."
Wajah Intan merah padam. Ia menoleh ke arah Hadi yang tampak pengecut dan mulai menghindari tatapannya.
Harga diri Intan yang setinggi langit memberontak.
"Mama tidak bisa memerintahkanku untuk tunduk pada si miskin ini!" teriak Intan, suaranya melengking memenuhi ruangan.
"Pernikahan ini gila! Aku tidak sudi punya ayah tiri ingusan seperti dia!"
Intan melangkah mundur menuju pintu, matanya berkilat penuh dendam.
"Mama pikir Mama sudah menang? Tunggu saja! Aku akan melaporkan semua kegilaan ini kepada Nenek Rimbi. Nenek pasti akan mengusirmu dari keluarga Baskoro karena sudah mencemari nama baik Papa dengan menikahi pemuda bau kencur ini!"
Sambil membanting pintu, Intan keluar dengan amarah yang meledak-ledak, diikuti Hadi yang terseok-seok mengejarnya.
Di dalam kamar, Rizal menghela napas panjang. Nama 'Nenek Rimbi' membuatnya bergidik.
Sebagai orang yang pernah dekat dengan keluarga Intan, Rizal tahu betul siapa wanita tua itu. Nenek Rimbi adalah ibu kandung mendiang Papa Taufik—sosok yang sangat kolot, keras kepala, dan menakutkan.
Dia adalah pemegang tradisi keluarga yang tidak segan-segan membuang siapa pun yang dianggap memalukan keluarga.
"Aisyah..." panggil Rizal dengan nada khawatir.
"Nenek Rimbi bukan orang sembarangan. Dia bisa sangat kejam jika tahu kita menikah diam-diam seperti ini. Dia sangat menjaga kehormatan nama Baskoro."
Aisyah kembali duduk di samping Rizal. Ia mengusap rambut suaminya dengan lembut, sama sekali tidak tampak gentar.
"Jangan takut, Mas," ujar Aisyah pelan.
"Aku tahu Intan akan lari ke ketiak neneknya. Tapi ada satu hal yang tidak diketahui Intan maupun Nenek Rimbi."
Aisyah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop hitam yang tersegel rapat.
"Sebelum Papa Taufik meninggal, dia memberiku kartu AS tentang masa lalu Nenek Rimbi. Sesuatu yang jika terbuka, akan menghancurkan seluruh wibawa Nenek di mata dunia bisnis. Papa memberikan ini padaku agar aku bisa melindungi diri dari kekejaman ibunya sendiri jika saatnya tiba."
Aisyah menatap pintu kamar yang baru saja dibanting Intan.
"Biarkan dia melapor. Aku justru ingin melihat, siapa yang akan berlutut lebih dulu di hadapanku: cucunya yang manja, atau neneknya yang arogan itu."
Rizal baru menyadari bahwa istri yang baru saja dinikahinya ini bukan hanya sekadar wanita kaya yang baik hati, melainkan seorang ahli strategi yang telah menyiapkan jaring laba-laba untuk mangsanya.
Di sebuah hotel mewah di Zurich, Swiss, seorang wanita tua dengan sanggul perak yang rapi sedang duduk menatap pegunungan Alpen melalui jendela besar.
Tangannya yang keriput namun dihiasi cincin berlian besar menggenggam ponsel dengan erat.
Matanya yang tajam dan dingin seketika menyipit saat mendengar suara tangisan histeris dari cucu kesayangannya di seberang telepon.
"Nenek, tolong Intan, Nek!" suara Intan pecah, terdengar begitu menderita.
"Mama Aisyah sudah gila. Dia menghianati kenangan Papa!"
Nenek Rimbi menghentikan gerakan cangkir tehnya.
"Bicara yang jelas, Intan. Apa yang dilakukan wanita itu?"
Intan, yang saat ini sedang duduk di kursi taman kota karena tidak punya uang untuk masuk ke kafe, mulai melancarkan aksinya. Ia membolak-balikkan fakta dengan sangat licin.
"Mama menikah lagi, Nek! Dia menikah diam-diam di rumah sakit dengan seorang pemuda pengangguran bernama Rizal. Pemuda itu sebenarnya adalah orang yang mencoba memeras keluarga kita, tapi Mama malah jatuh cinta padanya!"
Nenek Rimbi menggebrak meja kecil di sampingnya."Apa?! Menikah dengan berandalan?"
"Bukan hanya itu, Nek!" Intan semakin menjadi-jadi, air mata buayanya mengalir deras.
"Mama mengusir Intan dari rumah. Intan dituduh yang bukan-bukan. Semua kartu kredit Intan diblokir, mobil Intan diambil. Mama bilang, sekarang kekuasaan ada di tangannya dan suami barunya itu. Dia bilang Nenek sudah tua dan tidak punya kekuatan lagi untuk mengaturnya!"
Nenek Rimbi berdiri, napasnya memburu karena amarah yang memuncak. Baginya, harga diri keluarga Baskoro adalah segalanya.
Menikahnya Aisyah dengan pria kasta rendah tanpa izinnya adalah penghinaan besar, apalagi jika benar Aisyah sudah berani meremehkan otoritasnya.
"Kurang ajar! Wanita pemetik harta itu benar-benar sudah lupa siapa yang mengangkat derajatnya," geram Nenek Rimbi, suaranya terdengar seperti guntur yang tertahan.
"Dia pikir karena Taufik sudah tidak ada, dia bisa berbuat semaunya?"
"Nek, Intan takut. Intan sekarang jadi gelandangan. Tolong Intan, Nek..."
"Hapus air matamu, Intan," potong Nenek Rimbi tegas.
"Nenek akan memesan penerbangan pertama ke Jakarta malam ini. Siapkan dirimu. Kita akan beri pelajaran pada wanita itu dan pemuda pemerasnya. Nenek sendiri yang akan menyeret mereka keluar dari rumah Baskoro!"
Setelah telepon ditutup, Intan menyeringai puas.
Ia menghapus air matanya dan menatap Hadi yang berdiri di sampingnya dengan harapan baru.
"Aisyah dan Rizal akan hancur, Hadi. Nenek Rimbi tidak akan pernah membiarkan orang rendahan menyentuh harta Baskoro," ucap Intan dengan nada kejam. Namun, Intan tidak tahu bahwa di Jakarta, Aisyah sedang memegang amplop hitam yang berisi rahasia paling kelam milik Nenek Rimbi dimana sebuah senjata yang bisa membuat sang singa tua itu bertekuk lutut dalam sekejap.