Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8- Biasa Saja
Bagi Aksa Pratama, kata-katanya adalah hukum yang tidak mengenal amandemen atau negosiasi. Jika kemarin sore, di tengah kepungan cahaya senja Jakarta yang merah dan berdebu, ia telah memutuskan untuk mendatangi Litera & Latte, maka tidak ada satu pun kekuatan di markas besar Pratama Group yang bisa mengubah arah kemudinya hari ini. Hidupnya selama ini adalah sebuah simfoni yang rapi, terukur, dan terkadang terasa begitu sunyi di tengah kebisingan bisnis. Ia terbiasa bergerak dalam algoritma yang pasti; input yang jelas akan menghasilkan output yang bisa diprediksi.
Namun, instruksi yang ia berikan kepada Rayyan kemarin sore telah menciptakan sebuah anomali besar dalam sirkuit hidupnya. Ia masih bisa merasakan getaran di ujung jemarinya saat ia mengetik pesan singkat itu sembari matanya tetap terpaku pada punggung kecil Alea Niskala yang menghilang di balik pintu bus yang berkarat.
“Batalkan semua jadwal makan siang saya besok. Saya akan makan di Litera & Latte.”
Pesan itu bukan sekadar instruksi, itu adalah proklamasi bahwa Aksa sedang bosan dengan dunianya yang biasa saja.
Pukul sebelas siang, di lantai paling atas gedung pencakar langit yang menjadi singgasananya, Aksa sedang menghadapi Rayyan yang tampak kewalahan. Rayyan berdiri dengan tablet di tangan, wajahnya mencerminkan ketidakmengertian yang mendalam terhadap perilaku bosnya yang tiba-tiba impulsif.
“Pak, saya harus mengingatkan kembali. Perwakilan dari konsorsium Singapura sudah mendarat satu jam yang lalu. Mereka adalah kunci untuk proyek ekspansi kita di Asia Tenggara. Jika kita membatalkan makan siang ini secara mendadak tanpa alasan medis atau darurat, mereka bisa saja menganggap ini sebagai bentuk penghinaan profesional,” lapor Rayyan, mencoba menggunakan nada persuasi yang paling tajam.
Aksa bahkan tidak mendongak dari tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani. Pulpen mahalnya menari dengan suara goresan yang tegas di atas kertas.
“Saya sudah mengatakannya kemarin sore, Ray. Batalkan. Jika mereka cukup cerdas, mereka akan tahu bahwa bekerja dengan saya tidak bergantung pada satu piring makan siang yang membosankan. Geser ke jam makan malam di hotel tempat mereka menginap. Jika mereka menolak, coret nama mereka dari daftar mitra potensial. Saya tidak suka bekerja dengan orang yang lebih peduli pada jadwal makan daripada jadwal eksekusi.”
Rayyan terdiam, tenggorokannya mendadak kelu. Ia tahu betul nada suara itu, nada suara Aksa yang sudah menutup pintu diskusi.
“Baik, Pak. Saya akan mengurusnya. Mobil sudah siap di lobi bawah dengan sopir.”
“Saya akan menyetir sendiri,” pungkas Aksa singkat, matanya kini baru menatap Rayyan dengan intensitas yang membuat asistennya itu sedikit mundur.
“Kamu tetap di kantor. Saya ingin laporan audit internal untuk divisi pemasaran yang masuk pagi tadi segera diperiksa. Dan satu lagi, saya ingin profil lengkap, riwayat pendidikan, hingga catatan perilaku Hanif Ardiansyah ada di mejaku sebelum matahari terbenam. Masukkan semuanya, termasuk detail sekecil apa pun tentang interaksi sosialnya di kantor.”
Setelahnya, Rayyan keluar dengan kebingungan yang masih menggantung, Aksa menyandarkan punggungnya di kursi kulit ergonomis yang sangat mahal itu.
Ia menatap langit Jakarta yang tertutup polusi melalui jendela kaca besar. Di dalam kepalanya, ia tidak sedang menghitung proyeksi profit kuartal depan. Ia sedang menyusun skenario pertemuan. Ia tidak ingin datang sebagai pahlawan dalam balutan jas yang mengkilap. Ia ingin datang sebagai pengamat, sebagai seseorang yang tidak sengaja lewat, hanya untuk melihat seberapa kokoh fondasi yang sedang dibangun kembali oleh Alea Niskala setelah ia dihancurkan di trotoar malam itu.
Aksa memarkirkan SUV hitamnya sekitar dua blok dari Litera & Latte. Ia sengaja memilih tempat yang tidak terlalu mencolok agar kendaraannya tidak menarik perhatian. Ia melepas jas abu-abunya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya ia gulung dengan presisi hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan kronograf perak yang nilainya sanggup membeli separuh stok buku di toko tersebut. Ia ingin terlihat biasa, meski ia tahu betul bahwa auranya, tatapan matanya yang dingin dan cara berjalannya yang penuh otoritas, selalu gagal untuk menyatu dengan kerumunan.
Begitu ia mendorong pintu kaca Litera & Latte, lonceng kecil di atas pintu berdenting halus, sebuah suara yang bagi Aksa terasa seperti bel dimulainya sebuah babak baru. Aroma kertas tua, kayu pinus yang lembap, dan gilingan biji kopi segera menyergap indra penciumannya. Tempat ini terlalu hangat, terlalu santai, dan terlalu lambat bagi pria yang setiap detiknya dihargai jutaan rupiah.
Aksa segera menemukan targetnya.
Di antara rak-rak buku fiksi yang menjulang, Alea Niskala sedang bergerak. Ia mengenakan celemek cokelat gelap yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang ramping. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya dipulas riasan yang cukup tebal, sebuah upaya yang jelas untuk menyembunyikan sisa-sisa badai emosional yang ia alami semalam. Aksa melihat bagaimana Alea tersenyum pada pelanggan yang bertanya, sebuah senyum profesional yang Aksa tahu persis betapa melelahkannya untuk dipertahankan saat jiwamu sedang meronta minta pulang.
Aksa berjalan menuju meja paling pojok, sebuah area yang sedikit tersembunyi di balik rak-rak buku sejarah dunia yang tebal dan berdebu. Ia duduk dengan tenang, mengambil sebuah buku secara acak dari rak terdekat, sebuah buku tentang sejarah keruntuhan kekaisaran kuno dan meletakkannya di atas meja kayu yang permukaannya mulai aus.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang ringan dan berirama mendekat. Langkah kaki seseorang yang sudah terbiasa bergerak cepat di ruang yang sempit.
“Selamat siang, selamat datang di Litera & Latte. Mau pesan apa, Pak?”
Suara itu berusaha terdengar ceria, namun Aksa bisa mendengar getaran tipis yang tidak stabil di ujung kalimatnya. Itu adalah suara seseorang yang sedang memaksakan diri untuk berfungsi di tengah kehancuran.
Aksa mendongak perlahan, matanya bergerak dari halaman buku menuju wajah di depannya. Tatapannya langsung mengunci mata Alea tanpa ampun.
Dalam detik itu, ia melihat perubahan drastis di wajah gadis itu. Pupil mata Alea melebar seketika. Bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengeluarkan suara yang kemudian tertahan di tenggorokan. Pulpen di tangan kanannya sempat terhenti di atas kertas catatan. Ada kilatan pengenalan yang sangat tajam di sana, namun segera dibayangi oleh keraguan yang luar biasa besar. Alea menatapnya seolah sedang melihat hantu dari masa lalunya yang baru berumur empat puluh delapan jam.
“Satu kopi hitam. Panas. Dan nasi goreng rempah,” ucap Aksa. Suaranya rendah, stabil, dan tanpa riak ekspresi, seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang benar-benar baru pertama kali bertemu dalam hidup mereka.
Alea masih terdiam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Ia menatap garis rahang Aksa yang tegas, lalu matanya turun ke tangan pria itu yang terletak dengan tenang di atas meja. Ingatannya berputar liar seperti gulungan film yang rusak, lampu mobil yang menyilaukan, dan selembar sapu tangan biru tua berinisial A.P. yang kini tersimpan rapi di saku celemeknya.
“Maaf... Pak?” Suara Alea nyaris berupa bisikan yang tertelan kebisingan kafe. “Apa...apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Alea.
Aksa menyesap gelas air mineral yang sudah ada di meja, menatap Alea lurus-lurus dengan tatapan yang sanggup membuat direktur perusahaan mana pun gemetar.
“Kenapa kamu bertanya begitu? Apa wajahku memberikan kesan bahwa aku adalah seseorang yang harus kamu ingat?”
Alea tersentak kecil, sebuah semu merah tipis muncul di pipinya yang pucat karena malu. “Ah, maaf. Saya…hanya merasa wajah Anda sangat familiar. Mungkin saya hanya salah orang. Mohon tunggu sebentar, pesanan akan segera saya siapkan.”
Alea berbalik dengan terburu-buru, langkahnya hampir saja membuatnya tersandung kakinya sendiri. Aksa memperhatikan punggung gadis itu yang tampak menegang kaku saat berjalan menuju area bar. Ia tahu Alea sedang gemetar. Ia tahu Alea sedang bergelut dengan badai pertanyaan di dalam kepalanya yang mungkin jauh lebih riuh daripada kebisingan pelanggan di sekeliling mereka.
Selama sepuluh menit menunggu, Aksa tidak membaca buku di depannya. Ia justru mengamati bagaimana Alea bekerja. Gadis itu adalah definisi dari “mesin yang terluka”. Ia melayani meja lain dengan kesabaran yang luar biasa, ia merapikan buku-buku yang jatuh, dan ia sempat berbincang singkat dengan rekan kerjanya, seorang gadis berambut pendek bernama Dinda dengan tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telinga Aksa.
Bagi Aksa, ini bukan lagi sekadar makan siang. Ini adalah studi tentang ketahanan mental manusia. Ia ingin tahu, kapan Alea akan retak? Atau apakah ia benar-benar bisa membangun kembali harga dirinya hanya dengan menyibukkan diri di tempat yang sunyi seperti ini?
Alea kembali membawa nampan berisi kopi dan nasi goreng. Kali ini, gerakannya terlihat jauh lebih kaku dan terukur. Saat ia meletakkan cangkir kopi panas itu ke hadapan Aksa, jemarinya yang lentik bersentuhan secara tidak sengaja dengan ujung jari Aksa yang dingin.
Alea menarik tangannya secepat kilat, seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api.
“Silakan dinikmati, Pak,” ucapnya cepat-cepat, matanya tertuju ke meja, menolak untuk bertemu tatap dengan mata Aksa lagi.
“Pelayan!” panggil Aksa sebelum Alea sempat melarikan diri
Alea berhenti, tubuhnya mematung sejenak sebelum akhirnya berputar pelan. “Iya, Pak? Ada yang kurang?” sahut Alea.
Aksa mengetuk pelan sampul buku sejarah kekaisaran yang ia ambil tadi. “Buku ini membahas tentang keruntuhan yang tidak bisa dihindari karena kesalahan pada fondasi yang dianggap remeh. Menurutmu, sebagai seseorang yang dikelilingi ribuan buku setiap hari, apa fondasi yang paling penting dalam hidup seseorang agar dia tidak benar-benar hancur saat dunianya runtuh?”
Pertanyaan itu bukan pertanyaan pelanggan biasa. Itu adalah serangan filosofis yang sangat personal, sebuah pancingan yang Aksa lempar untuk melihat sisa-sisa bara di dalam diri Alea.
Alea menoleh perlahan, menatap buku itu, lalu menatap Aksa dengan tatapan yang kini mulai berani dan tajam. “Harga diri, Pak,” jawab Alea pendek, suaranya kini terdengar jauh lebih kuat daripada saat ia menawarkan menu tadi. “Karena kalau itu sudah hilang, fondasi semegah apa pun tidak akan bisa menahan bangunannya agar tetap berdiri. Seseorang bisa kehilangan cinta, uang, atau pekerjaan, tapi selama dia masih memegang harga dirinya, dia masih punya tanah untuk berdiri kembali.”
Aksa terdiam selama beberapa saat. Jawaban itu … sangat presisi. Jauh lebih dewasa dari yang ia harapkan dari seorang gadis yang menangis tersedu-sedu di trotoar dua malam lalu. Ia memberikan anggukan kecil, sebuah apresiasi langka yang biasanya ia simpan untuk bawahannya yang paling brilian. “Jawaban yang cukup dalam untuk siang yang panas ini.”
Alea segera pergi tanpa kata lagi. Ia merasa jantungnya berpacu sangat kencang hingga telinganya berdenging. Pria itu... dia tidak mungkin kebetulan ada di sini, kan? Bagaimana mungkin seorang pria dengan aura dominan seperti itu berakhir di pojokan toko buku kecil hanya untuk menanyakan tentang fondasi hidup?
Sementara itu, Aksa mulai menyantap nasi gorengnya. Rasanya biasa saja menurut standar lidahnya yang terbiasa dengan masakan hotel bintang lima, namun ada kepuasan aneh yang menjalar di dadanya, sebuah sensasi yang tidak ia temukan dalam pertemuan bisnis mana pun. Ia telah membuktikan satu hal hari ini: Alea Niskala bukan sekadar korban yang pasif. Gadis ini punya pemikiran, punya taring, dan punya kesadaran yang tajam terhadap posisinya.
Namun, bagi Aksa, ini baru permulaan. Ia merasa hidupnya yang biasa saja selama sepuluh tahun terakhir tiba-tiba mendapatkan sebuah variabel baru yang berbahaya sekaligus menggiurkan. Ia datang untuk mengamati, tapi kini ia mulai merasa ingin terlibat dalam proses rekonstruksi yang sedang diupayakan Alea.
Ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar karena pesan masuk dari Bianca yang menanyakan keberadaannya dan mengajak makan malam besok. Tanpa ekspresi, Aksa menghapus pesan itu tanpa membalasnya. Perhatiannya kini sepenuhnya tersita oleh sosok di ujung ruangan yang sedang sibuk merapikan rak buku, sosok yang mungkin tidak sadar bahwa hidupnya baru saja dimasuki oleh badai yang jauh lebih besar dan lebih dingin daripada sekadar pengkhianatan Hanif.
“Kita lihat, Alea Niskala,” gumam Aksa pada uap kopinya yang mulai menipis. “Seberapa kuat harga diri itu saat kenyataan mulai menghantammu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.”
Ia tidak segera pergi. Ia tetap duduk di sana selama hampir dua jam, memesan kopi kedua, hanya untuk memastikan bahwa setiap kali Alea lewat di dekat mejanya, gadis itu akan merasa tidak nyaman dan terganggu oleh kehadirannya yang konstan. Aksa ingin Alea tahu bahwa dia ada di sana. Bahwa dia mengawasi. Dan bahwa permainan ini, baru saja benar-benar dimulai.