Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Hak Milik Mutlak
Mobil Rolls-Royce itu meluncur menjauhi gang sempit rumah Ibu Kirana. Lyra menatap keluar jendela, merasa dunianya baru saja berputar 180 derajat dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
"Kita mampir ke kontrakan saya sebentar, Pak—maksudku, Sean. Saya harus mengepak baju dan beberapa buku," ujar Lyra memecah keheningan.
"Tidak perlu," jawab Sean tanpa menoleh, jemarinya sibuk dengan tablet di pangkuannya.
"Apa maksudmu tidak perlu? Aku tidak punya baju ganti di tempatmu."
Sean akhirnya menoleh, menatap Lyra dengan tatapan menilai. "Semua pakaianmu di kontrakan itu sudah aku minta orangku untuk menyumbangkannya. Sampah-sampah itu tidak pantas masuk ke apartemenku."
"Sean! Itu barang-barang kenanganku!"
"Aku sudah mengisi walk-in closet di kamarmu dengan koleksi terbaru dari Paris dan Milan. Jika kau butuh kenangan, aku akan memberimu kenangan baru yang jauh lebih mahal setiap harinya. Sekarang diamlah."
Lyra mendengus kesal. Baru saja ia merasa tersentuh dengan bantuan Sean pada ibunya, sisi diktator pria ini kembali muncul. Tiba-tiba, ponsel di tas Lyra bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Seryl.
Lyra mengangkatnya dengan ragu. "Halo, Seryl?"
"Lyra! Kau di mana?! Kenapa semalam hilang begitu saja?" suara Seryl terdengar berisik dengan latar belakang musik dentum klub. "Ini ada Deryl! Dia dari tadi menunggumu di sini. Dia cemas sekali karena kau dibawa pria menyeramkan itu semalam. Dia mau bicara!"
Mata Lyra membelalak. Ia melirik Sean yang ternyata sudah berhenti bermain tablet dan kini menatapnya dengan mata menyipit tajam.
"Lyra? Halo? Ini Deryl," suara pria di seberang sana berganti. "Lyra, kau baik-baik saja? Pria itu menyakitimu? Katakan di mana kau sekarang, aku akan menjemput—"
Sret!
Sean merampas ponsel itu dari tangan Lyra. Aura di dalam mobil mendadak turun hingga titik beku.
"Dengarkan aku, pecundang," suara Sean rendah namun sangat mengancam. "Wanita yang sedang kau cari ini bukan lagi sekretaris yang bisa kau ajak dansa. Dia adalah Nyonya Elgar. Jika kau berani menyebut namanya atau mencarinya lagi, aku pastikan besok kau tidak akan punya kaki untuk berdansa. Paham?"
Sean mematikan ponsel itu dan langsung melemparnya ke kursi depan.
"Sean, itu keterlaluan! Dia hanya khawatir!" teriak Lyra.
"Khawatir?" Sean mencengkeram rahang Lyra, memaksanya menatap mata yang berkilat cemburu itu. "Dia menginginkanmu, Lyra. Dan aku tidak suka barang milikku dikhawatirkan oleh pria lain. Sepertinya hukuman semalam belum cukup membuatmu sadar siapa tuanmu sekarang."
"Aku bukan barang, Sean!"
"Malam ini, aku akan mengingatkanmu lagi. Sampai kau lupa cara menyebut nama pria lain."
Mobil Rolls-Royce itu berhenti dengan sentakan pelan di depan lobi apartemen. Aura di dalam mobil masih membeku sejak insiden telepon dari Seryl. Sean turun terlebih dahulu, mengitari mobil, dan membuka pintu Lyra dengan kasar.
"Turun," perintahnya pendek.
"Sean, bisakah kita bicara baik-baik? Kau menghancurkan ponselku, dan kau mengancam orang yang tidak bersalah," ujar Lyra, mencoba tetap tenang meski kakinya gemetar.
Sean tidak menjawab. Ia justru menarik lengan Lyra, membimbingnya masuk ke lift pribadi dengan langkah lebar. Begitu pintu lift tertutup, Sean menyudutkan Lyra ke dinding kaca.
"Tidak bersalah? Pria itu menunggumu di klub, Lyra. Dia ingin memilikimu. Dan kau bilang dia tidak bersalah?"
"Dia hanya teman!"
"Bagiku, setiap pria yang menatapmu lebih dari tiga detik adalah musuh," desis Sean tepat di depan bibir Lyra.
Begitu sampai di penthouse, Sean langsung menyeret Lyra ke kamar utama. Ia melempar jasnya ke lantai, memperlihatkan kemeja putih yang kini sudah terbuka beberapa kancing atasnya.
"Sean, jangan... aku lelah. Kejadian semalam saja aku belum pulih sepenuhnya," rintih Lyra saat melihat sorot mata Sean yang seperti binatang buas yang kelaparan.
"Lelah? Tapi kau punya tenaga untuk menerima telepon dari teman-teman klubmu?" Sean merangkak naik ke atas ranjang, menindih Lyra tanpa ampun. "Malam ini, aku akan memastikan kau tidak punya tenaga lagi untuk mengingat siapa itu Deryl."
"Hentikan... ahh!" Lyra memekik saat Sean mencium lehernya dengan kasar, meninggalkan tanda-tanda merah yang mencolok.
"Katakan padaku, Lyra. Siapa suamimu?"
"Kau... kau suamiku," jawab Lyra tersengal.
"Lalu kenapa kau masih membiarkan pria lain mencarimu? Apa sentuhanku semalam kurang berkesan bagimu?"
Sean benar-benar menjadi monster yang haus. Intensitasnya jauh lebih gila dibanding semalam. Ia tidak memberikan jeda sedikit pun. Stamina Sean yang luar biasa—hasil dari kedisiplinannya berlari sepuluh kilometer setiap pagi dan latihan beban yang rutin—benar-benar membuat Lyra kewalahan. Pria itu seolah memiliki pasokan tenaga yang tak terbatas.
"Sean... kumohon... berhenti. Ini sakit..." Lyra mulai menangis, memohon di sela-sela gairah yang menghimpitnya.
"Sakit? Atau kau mulai menikmatinya?" Sean berbisik parau, gerakannya semakin menuntut. "Kau tidak bisa membohongiku, Lyra. Tubuhmu meresponsku dengan sangat baik."
Lyra menggigit bibirnya, mencoba menahan lenguhan yang hampir lolos. Ia membenci dirinya sendiri karena di balik rasa lelah dan perih yang ia rasakan, ada aliran kenikmatan panas yang mulai menguasainya. Sentuhan Sean yang ahli namun dominan membuatnya kehilangan kendali atas akal sehatnya.
"Katakan lagi, kau milik siapa!" bentak Sean, suaranya berat oleh gairah.
"Milikmu... ahh! Sean, aku milikmu seutuhnya!" seru Lyra, air matanya jatuh bersamaan dengan puncak gairah yang menghantamnya.
Namun, Sean tidak berhenti. Setiap kali Lyra mengira ini sudah berakhir dan mencoba untuk memejamkan mata karena kelelahan, Sean akan kembali membangkitkan gairahnya. Pria itu terus mengejar kepuasan, memastikan bahwa setiap inci tubuh Lyra tertanam jejak kepemilikannya.
"Kau tidak akan tidur sampai subuh, Nyonya Elgar," bisik Sean saat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. "Aku ingin kau hanya mengingat rasa sakit dan nikmat dariku saat kau bangun nanti."
"Kau jahat... Sean..." gumam Lyra lemah, namun tangannya justru semakin erat merangkul leher kokoh suaminya.
Hukuman panas itu terus berlanjut hingga cahaya fajar mulai mengintip dari balik gorden. Lyra akhirnya terkulai lemas, benar-benar tidak berdaya, sementara Sean tampak masih segar meski napasnya memburu. Ia mengecup dahi istrinya yang basah oleh keringat.
"Sekarang tidurlah. Tapi ingat satu hal," Sean mengunci pandangan Lyra yang sudah sayu. "Jika aku mendengar nama pria lain dari bibirmu lagi, malam ini akan terasa seperti pemanasan bagimu."
Lyra tidak mampu menjawab. Ia jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam karena kelelahan yang ekstrem, menyadari bahwa ia telah benar-benar menyerahkan hidupnya pada pria yang tidak akan pernah melepaskannya.
Pukul sembilan pagi, Lyra terbangun dengan seluruh tubuh terasa remuk. Ia melihat jam dan menjerit kecil. "JAM SEMBILAN?! Sean! Aku terlambat!"
Ia mencoba bangkit, namun area intimnya terasa sangat perih dan kakinya gemetar hebat. Sean yang sedang duduk santai dengan laptopnya di sofa kamar hanya melirik tipis.
"Tidak usah buru-buru. Aku sudah bilang pada kantormu kalau sekretarisku sedang 'sakit'," goda Sean dengan senyum kemenangan.
"Sean! Lihat leherku!" Lyra menunjuk bercak merah keunguan yang menutupi leher dan pundaknya lewat cermin. "Bagaimana aku bisa ke kantor seperti ini?!"
"Tutup pakai syal. Atau biarkan saja, biar semua orang tahu kau sudah 'terpakai'," jawab Sean enteng.
Di dalam mobil menuju kantor, perdebatan itu berlanjut. Lyra bersikeras ingin profesional dan meminta pernikahan ini dirahasiakan.
"Aku tidak mau lingkungan kerjaku jadi tidak kondusif, Sean. Kumohon, rahasiakan ini. Aku ingin tetap menjadi Sekretaris Graceva di mata publik."
Sean terdiam sejenak, menatap leher Lyra yang terbalut syal sutra mahal. "Baik. Kita mainkan permainan rahasiamu. Tapi ingat, Lyra... di dalam ruang kerjaku, tidak ada rahasia. Di sana, kau adalah istriku yang paling patuh. Jika kau melanggar, aku tidak akan segan-segan melakukan 'hukuman' itu di atas meja kerjaku."
Lyra menelan ludah, menyadari bahwa jeratan Sean justru semakin kuat di tempat yang ia sebut sebagai 'lapangan kerja' itu.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...