NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Lukanya semakin perih

Ervana mengerjapkan matanya perlahan ketika cahaya putih menyinari wajahnya. Aku di mana? Batin gadis itu sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan sempit itu. Kosong, sunyi, dan asing. Ruangan berdinding putih itu seperti sebuah penjara yang siap menjeratnya seumur hidup. Kepingan ingatan mulai menguasai isi kepalanya. Yang ia ingat, Renita menghinanya lalu keluarganya mendengar segala teriakannya. Cara Renita menangis dan tersenyum licik ke arahnya membuatnya tertawa getir. Ia ingat! Ia ingat di mana dirinya sekarang. Persis sebelum kesadarannya hilang, ia menangkap isi pembicaraan keluarganya yang berbicara tentang rumah sakit jiwa. Astaga hidupnya benar-benar sangat mengerikan sekarang. Ervana menekuk lututnya ketika ketakutan mulai menguasainya. Ruangan ini terasa sangat asing.

"Aku benar-benar menyedihkan". Gadis itu terisak pelan di kamar sempit itu, meratapi nasib buruk yang terasa sangat akrab dengannya.

"Aku memang bodoh dan menjijikkan".

"Jangan berisik! Kau pikir suara tangisanmu semerdu itu?" Seorang perawat muda bertubuh tinggi mendekat lalu menjambak rambut panjang gadis itu.

"Putri keluarga Moses yang menyedihkan, cuih". Wajah Ervana basah karena ludah sang perawat yang entah kenapa begitu membencinya.

"Ervana Moses, ingat baik-baik perkataanku ini! Namaku Ema dan aku akan membuatmu menyesal telah terlahir sebagai putri keluarga Moses. Cih, gadis menjijikkan sepertimu mau bersaing dengan Renita? Terlalu naif dan bodoh". Dengan gerakan terukur, Ema menampar wajah sendu milik Ervana yang masih ingin mencerna semua kejadian luar biasa ini.

"Kenapa kau membenciku?" Cicit gadis itu dengan takut. Ema adalah seorang perawat berusia 30 tahun yang terlihat sangat menakutkan di matanya. Rambut keriting Ema diikat rapi, membentuk sebuah kunciran yang terlihat indah di mata Ervana. Bukan, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengagumi rambut keriting Ema.

"Kenapa aku membencimu? Karena aku sahabat baik Renita. Aku tidak ingin gadis itu semakin tersakiti karenamu. Nikmatilah hidupmu di tempat sempit ini, Ervana. Dengan senang hati aku bersedia menyiksamu". Ema pergi, membawa semua kebencian dan amarah tak beralasannya.

"Gila, ini semua benar-benar sangat gila". Ervana meraup wajahnya yang masih terasa basah karena ludah Ema.

"Ini menjijikkan". Gadis itu meraih selimut tipis yang teronggok di sudut ruangan. Sebuah selimut kumal yang lebih pantas dibuang daripada dijadikan penutup tubuh.

Netra beningnya bergerak cepat ke sana kemari memperhatikan setiap detail ruangan sempit itu. Tidak ada yang lebih berarti selain kasur dan selimut lusuh yang dipegang Ervana.

Gadis itu bangkit perlahan. Sisa-sisa obat bius masih bekerja, membuatnya nyaris jatuh karena rasa pening yang menjalarinya. Satu hal baru membuatnya nyaris berteriak marah. Ia baru sadar jika dirinya telah mengenakan baju pasien rumah sakit jiwa bernomor 14. Ah, itu tanggal kelahirannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ervana benar-benar membenci tanggal bodoh itu.

"Aku bahkan tidak tau kesalahan apa yang kuperbuat sampai-sampai nasibku semalang ini". Gadis itu mendesah putus ada di atas kasur lusuhnya. Ervana Moses, putri kandung keluarga Moses kini harus merasakan kejamnya takdir. Cerita tragisnya baru saja dimulai. Bekas tamparan Lucas di pipinya terlihat samar. Ervana bahkan tak berusaha untuk menutupinya. Biarkan saja, biarkan semua orang tau sekejam apa keluarga Moses. Namun, sayang sekali tidak ada yang peduli. Rumah sakit itu berisi pasien dengan gangguan jiwa yang bahkan tidak peduli dengan penampilannya sendiri. Setiap hari, gadis itu menyaksikan beberapa adegan yang seharusnya tidak ia saksikan.

Di sudut ruangan, beberapa perawat muda terlihat sedang menyiksa seorang pasien tua bertubuh ringkih karena ketahuan pipis di celana. Menyedihkan sekali.

"Tidak adakah yang ingin membelaku? Renita begitu pandai bermain drama sampai-sampai ia memposisikan diriku sebagai antagonis. Selalu begitu! Aku bahkan tak menyangka jika kakak kandungku sebenci itu padaku". Ervana menelungkupkan wajahnya di sela-sela lipatan lututnya. Dalam sekejap, wajahnya basah karena air mata. Cara Lucas menatapnya dengan jijik menari-nari di kepalanya. Ibunya juga bak orang asing di matanya ketika berusaha membela diri. Apakah tubuhnya semenjijikkan itu? Eva Moses, wanita yang begitu disayanginya sekarang bukan miliknya. Renita merebut semua cinta dan perhatiannya. Merebut posisinya sebagai putri sah keluarga Moses tentu saja bukanlah hal yang sulit bagi Renita.

"Renita Renita Renita! Namamu akan selalu kuingat bahkan ketika aku didorong ke nerak sekalipun". Si gadis malang menghapus air matanya dengan kasar. Saat ini tujuan hidupnya sudah berubah. Dulu, ia akan melakukan apapun asalkan semua orang memberinya sedikit perhatian. Sekarang, ia hanya perlu menjaga sisa-sisa kewarasannya dari wanita sejahat Ema. Renita mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat baik. Ia bahkan pemeran baru dalam drama yang ia ciptakan. Saat ini, Ema datang sebagai figuran yang siap membela Renita.

"Saat ini juga aku berjanji aku tidak akan menjadi manusia bodoh yang selalu mengemis cinta keluargaku. Itu benar-benar tidak penting sekarang. Aku adalah Ervana yang berdiri dengan sisa-sisa harga diriku". Ruangan gelap dan kumuh itu menjadi saksi bisu kekecewaan dan rasa sakit yang menjelma menjadi sebuah keputusasaan. Ervana mengangkat kepalanya lalu menghapus sisa-sisa air mata di wajah sembabnya. Netranya bergerak cepat ke sana ke mari. Kamar yang ditempatinya begitu minim pencahayaan. Hanya sedikit ventilasi kecil di atas sana. Ah, lubangnya terlalu kecil untuk kabur.

"Kamar bernomor 14 ini seperti kuburan bagi manusia yang masih hidup tapi jiwanya sudah lama mati". Ervana tertawa getir dengan kalimatnya sendiri. Ia benar bukan? Kamar ini lebih mirip penjara atau kuburan daripada tempat istirahat normal. Ini menyedihkan? Bagaimana mungkin orang-orang betah menghabiskan waktunya di tempat seperti ini?

"Clara, kau pasti mengkhawatirkanku. Maaf karena aku tidak sempat pamit. Sahabatmu ini benar-benar menyedihkan. Jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja di tempat ini". Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya ketika mengingat momen kebersamaannya bersama Clara. Hanya gadis itu yang selalu berdiri kokoh di depannya lalu membelanya habis-habisan.

"Terima kasih untuk setiap kebersamaan kita. Aku tidak tau kapan lagi kita bisa berkumpul dan membicarakan banyak hal tentang masa depan kita. Aku benar-benar merindukanmu, Clara Aston". Wajah ceria Clara berlarian di kepalanya, membuat Ervana sedikit tenang.

"Gadis baik sepertimu memang pantas berbahagia,Clara". Ervana kembali memejamkan matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang kebetulan singgah. Ah, sayangnya ini adalah kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Sedikit tidak adil tapi inilah takdirnya.

"Hah, keluarga bodoh itu akan membayar harga yang sangat mahal untuk rasa sakitku ini".

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!