NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Kota Shen.

Chapter 5 : Kota Shen

Malam di Havenload

Langit malam di atas pulau terbang Havenload berkilau seperti lautan bintang. Lampu-lampu kristal yang menggantung di antara bangunan memancarkan cahaya biru lembut, membuat pulau itu tampak seperti kota mimpi yang melayang di udara.

Di jalan utama yang melengkung mengikuti tepi pulau, dua sosok kecil berlari kencang.

“Chikaaa! Tangkap aku kalau bisa!” teriak si princes kecil sambil menoleh ke belakang, menjulurkan lidah.

“Wleeek!!”

Chika terhuyung-huyung mengejarnya sambil tertawa, zirah knight Gurial Tempest-nya berbunyi kling-kling setiap kali ia melompat kecil.

“Hei, jangan curang! Kamu pakai sihir angin lagi ya?!”

“Aku cuma… sedikit lebih cepat!” jawab princes sambil memutar tubuhnya dan berbelok tajam.

Chika terpeleset karena lantai marmer yang licin oleh embun malam.

“WOOO—!”

BRAKK!

Ia jatuh terduduk, punggungnya menyentuh tanah.

Princes berhenti, menoleh, lalu tertawa kecil.

“Hehehe… Chika kalah.”

Chika mendengus, lalu tersenyum bodoh.

“Yah… kalau aku knight sejati, aku harus bisa kalah dengan gaya keren.”

Ia berdiri sambil mengibaskan debu dari baju zirahnya.

“Ayo, ulang lagi!”

Di penginapan Havenload

Dari balkon penginapan, Vivi berdiri dengan senyum lebarnya yang khas. Matanya tertutup seperti biasa, tapi kepalanya sedikit miring seolah sedang “melihat” dengan cara lain.

“…Mereka benar-benar cuma main kejar-kejaran,” gumamnya.

Tangannya terlipat di depan dada.

“Hero Sword… princes… dua anomali kecil…”

Senyumnya melebar sedikit.

“…Aku harus memastikan kalian tetap bisa tertawa seperti itu.”

Angin malam meniup rambut cokelat panjangnya hingga melambai perlahan.

Mall Havenload

Di dalam pusat perbelanjaan Havenload yang bercahaya, Selena, Emila, dan Marianne berjalan berdampingan di antara deretan toko.

Marianne menatap papan-papan toko dengan mata berbinar.

“Kapten Emila… sebagai kapten para knight… apa yang akan kamu beli di tempat sebesar ini?”

Emila menggaruk pipinya, ekspresinya datar seperti biasa.

“…Baju ganti.”

Marianne hampir tersedak.

“Hanya itu?!”

Selena menoleh ke kanan dan kiri, hidungnya bergerak-gerak seperti mencium sesuatu.

“…Permisi… apakah di sini ada toko yang menjual… darah? Dalam botol? Atau kantong?”

Marianne dan Emila berhenti bersamaan.

“…Tidak,” jawab mereka serempak.

Selena menghela napas panjang.

“Zaman modern tapi tidak ramah vampir…”

Ia melipat payungnya sambil menggerutu.

“Padahal aku cuma butuh golongan O sedikit saja…”

Marianne menepuk bahu Selena.

“Tenang, Selena. Kita bisa cari jus tomat dulu.”

Selena memalingkan wajah dengan ekspresi hancur.

“…Itu bukan hal yang sama.”

Pemandian Havenload

Uap hangat mengepul dari kolam batu alami.

Di dalamnya, Marvin berendam sampai bahu. Tubuh ogre-setengah-manusianya membuat kolam terlihat lebih kecil dari seharusnya.

“Ahhh…”

Ia menghembuskan napas panjang.

“…Hidup kadang perlu direndam.”

Ia menengadah ke langit-langit gua buatan yang memantulkan cahaya kristal biru.

“Kalau Nayla lihat aku sekarang…”

Ia tersenyum kecil.

“…dia pasti bilang aku terlihat seperti batu panas.”

Air bergoyang pelan setiap kali ia menggerakkan bahunya.

Kamar Beatrix

Di salah satu kamar penginapan…

“GRRRAAA!!”

Beatrix mengigau sambil memeluk bantal.

“Jangan kejar aku, gorila! Aku bukan pisang!!”

Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri.

Selimutnya terlempar setengah.

“…Dasar… makhluk berbulu…”

Ia mendengkur lagi.

Gerbang Havenload

Di luar, MK.99 berdiri kaku di pos penjagaan.

Lampu matanya berkedip biru.

“…Mode: jaga malam aktif…”

“…Mode: malas ekstrem…”

Ia sedikit menunduk.

“…Unit ini ingin tidur…”

Tiba-tiba suara Vivi muncul dari alat komunikasinya.

“MK.99, jangan tidur.”

MK.99 menegakkan tubuh.

“…Penjaga Havenload tidak suka ini.”

Ia melihat ke langit.

“…Bintang… terlalu cerah… tidak membantu tidur.”

Namun tetap, pedang futuristiknya tetap tergenggam.

Kembali ke Chika & princes

Chika akhirnya berhasil menangkap princes dari belakang.

“AHA! Ketangkap!”

Princes tertawa sambil meronta kecil.

“Hehehe… oke oke aku kalah!”

Mereka duduk di tepi jalan melengkung Havenload, kaki menggantung ke arah langit malam.

Chika menatap cahaya kota.

“Besok… kita ke Kota Shen ya.”

Princes mengangguk cepat.

“Iya! Katanya di sana orang-orang berlari di atap dan bisa lompat dari tembok ke tembok!”

Chika tersenyum.

“…Dan kita akan mencari Hero ke lima.”

Angin malam bertiup lembut, membawa suara kota yang masih hidup meski malam.

Dari kejauhan, Havenload melayang tenang…

sementara takdir pelan-pelan mendekat.

...----------------...

Pagi di Atas Pulau Havenload

Matahari pagi muncul perlahan dari balik awan, memantulkan cahaya ke bangunan kristal Havenload hingga seluruh pulau tampak seperti perahu cahaya yang mengapung di langit.

Di atap penginapan milik Vivi, dua sosok berdiri berdampingan.

Chika berdiri di ujung atap sambil menahan matahari dengan telapak tangan seperti sedang mengukur jarak.

“Hehe… ga sabar banget!” katanya dengan mata berbinar. “Kota Shen pasti udah kelihatan, kan?”

Princes meloncat kecil di sampingnya, jubah mungilnya berkibar tertiup angin.

“Iyaa!! Tapi… kalau di sana ada paprika…”

Ia menyipitkan mata, wajahnya serius.

“Aku akan membuangnya sejauh mungkin.”

Chika langsung tertawa dan menepuk dada dengan gaya pahlawan murahan.

“Tenang, princes! Aku yang akan memakannya!”

Princes langsung menunjuk ke arah Chika dengan ekspresi kagum berlebihan.

“Kamu selalu bisa diandalkan! Kesatria paprika!”

Chika tersenyum bodoh, bingung antara bangga atau menyesal.

Angin pagi meniup rambut mereka, membawa aroma gurun dan kota jauh di depan.

Di Bawah Penginapan

Di halaman penginapan, Marvin sedang mengencangkan sabuk besarnya.

Beatrix berdiri beberapa meter darinya, menyipitkan mata sambil menatap Marvin dari ujung kepala sampai kaki.

“….”

Marvin menoleh.

“Apa yang kau lihat?”

Beatrix menjawab singkat tanpa ekspresi,

“Godzilla.”

Marvin berkedip.

“…Aku bahkan tidak tahu itu pujian atau hinaan.”

Tiba-tiba, payung merah muncul dari samping.

Selena berdiri di baliknya, menahan sinar matahari dengan wajah kesal.

“Hei kamu! Beraninya bilang begitu!”

Beatrix melirik ke arah Selena.

“Eh… keluar juga kau, vampir tong.”

“APASIH?!” Selena langsung meledak.

“LU BISA GA SIH GA JELEKIN ORANG SEHARI SAJA?!”

Beatrix menguap.

“Tidak.”

Marvin menghela napas dalam hati.

Ahh… normal ini mah…

Di Kastil Havenload

Sementara itu, di bagian tertinggi kastil, Emila berdiri sendirian.

Ia menatap patung-patung leluhur yang berjejer di sepanjang dinding, ukiran ksatria dan raja masa lalu terukir dengan megah.

Tangannya menyentuh dinding batu yang dingin.

“Ratu Vexana…” gumamnya pelan.

“Aku akan menemukanmu…”

Matanya sedikit menyempit, bukan karena marah, tapi karena tekad yang lama terkubur kembali bangkit.

Tiba di Kota Shen

Beberapa saat kemudian, Havenload melambat.

Dari kejauhan, Kota Shen terlihat jelas:

bangunan beratap melengkung, jembatan merah, lentera tergantung di udara, dan menara-menara yang tampak seperti bertumpuk di tebing batu.

“WOOOAAH…” princes membuka mulut lebar.

“Chika… itu kelihatan kayak kota yang bisa lompat-lompat!”

Chika mengangguk cepat.

“Iya… dan katanya orang-orang di sini larinya di atap.”

Mereka turun ke jalan kota.

Suasana ramai:

klontang! pedagang menurunkan barang,

ciat-ciat! orang melompat dari balkon ke balkon,

dan suara lonceng kecil bergema di gang-gang sempit.

Princes memutar tubuh sambil melihat ke segala arah.

“Chika… kita mau cari Hero ke lima kan?”

Chika mengangguk.

“Iya… tapi masalahnya…”

Ia menggaruk pipi.

“Kita bahkan belum tahu siapa dia.”

Princes mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Kalau begitu… kita cari yang aneh!”

Chika tersenyum.

“Yang aneh, kuat… dan bikin kamu tertarik.”

Princes menunjuk ke arah gang penuh kedai makanan.

“Aku tertarik ke sana.”

Chika menelan ludah.

“…Aku takut itu cuma karena bau mie.”

Mereka berjalan masuk ke Kota Shen tanpa tahu bahwa:

di antara atap-atap kota,

di antara lentera dan suara langkah cepat,

ada seorang gadis panda mengantuk

yang tak sadar bahwa takdirnya sedang mendekat.

Kedai Ramen “Naga Merah” – Kota Shen

Kedai ramen itu kecil, tapi penuh asap uap kuah. Lampion merah menggantung rendah, dan papan kayu bertuliskan “RAMEN TERPEDAS KOTA SHEN” sudah miring karena terlalu sering ditunjuk orang.

Srkkk… srkkk…

Suara mie ditarik dari panci besar bercampur dengan aroma cabai yang langsung menusuk hidung.

Chika dan princes duduk berdampingan di bangku kayu panjang.

Chika membuka menu dengan mata berbinar.

“Wah… ada level pedas satu sampai sepuluh…”

Princes mengintip dari samping, meniru ekspresi serius Chika.

“Kalau kamu pilih yang mana?”

Chika menunjuk tanpa ragu.

“Ekstra pedas level sepuluh.”

Princes langsung menegakkan badan.

“Kalau begitu… aku juga mau yang sama!”

Chika menoleh cepat.

“Eh? Kamu yakin? Ini pedas banget loh.”

Princes mengibaskan tangan kecilnya.

“Pfft! Aku kan calon penguasa dunia! Masa kalah sama mie!”

Pemilik kedai, pria tua berjanggut putih, melirik mereka sambil menyeringai aneh.

“Dua… ramen naga level sepuluh?”

“YA!” kata Chika dan princes bersamaan.

Mangkuk Pertama

Dua mangkuk besar diletakkan di depan mereka.

Kuahnya merah menyala seperti lava.

Cabai kering mengapung seperti pulau-pulau kecil.

SSSSHHHH…

Uap panas naik perlahan.

Chika langsung mengambil sumpit.

“Itadakimasu!”

Princes ikut-ikutan.

“…Ita…daka…masu!”

Mereka menyedot mie bersamaan.

SLURP—

Chika:

“Hmm… enak.”

Princes:

“….”

Wajah princes langsung berubah merah dari pipi sampai telinga.

“P-pedas…” katanya pelan.

Chika melirik.

“Eh? Kamu kenapa?”

Princes langsung berdiri di bangku.

“AKU… TIDAK… PEDAS!!!”

Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia tetap memaksa senyum.

“T-Tuh kan… biasa aja…”

Chika mengangguk polos.

“Oh… oke.”

Ia lanjut makan.

Mangkuk ke-5… ke-10… ke-20

Pemilik kedai mulai berkeringat.

“Anak itu…” gumamnya.

“…sudah makan dua puluh mangkuk…”

Chika mengelap mulut dengan kain.

“Pak, tambah lagi.”

“LAGI?!”

Princes di sampingnya memegang mangkuk seperti memegang bom.

Tangannya gemetar.

“Chika…” bisiknya.

“Lidahku… sudah tidak merasa sebagai lidah…”

Chika tersenyum lebar.

“Hebat! Berarti kamu mulai kebal!”

“Ini… bukan kebal…”

Princes meneguk air sambil menangis diam-diam.

“Ini… sudah mati rasa…”

Rekor Terpecahkan

Beberapa jam kemudian…

Mangkuk bertumpuk seperti menara.

Pemilik kedai memukul lonceng kecil.

TING TING TING!

“DENGAR SEMUA!”

Ia menunjuk Chika dengan sendok kayu.

“ANAK INI… TELAH MEMAKAN… 146 MANGKUK RAMEN PEDAS!!!”

Orang-orang bertepuk tangan.

“WOAAAAH!”

Princes menatap tumpukan mangkuk dengan mata kosong.

“…Kita tadi makan cuma dua mangkuk, kan?”

Chika mengangguk.

“Iya.”

Ia berhenti sebentar.

“…eh?”

Ia melihat ke tumpukan.

“EH?! ITU PUNYA SIAPA?!”

Pemilik kedai menyerahkan gulungan kertas.

“Ini… hadiah.”

“Apa ini?”

“Resep rahasia ramen ekstra pedas.

Kau resmi pemecah rekor kedai ini.”

Chika memeluk kertas itu seperti harta karun.

“WAAAH! Kalau balik ke Havenload… aku mau belajar masak!”

Princes langsung panik.

“JANGAN BUAT AKU MAKAN ITU LAGI.”

Menuju Takdir (Dojo)

Mereka keluar dari kedai.

Angin Kota Shen berhembus lembut, membawa aroma dupa dan kayu.

Tiba-tiba…

DUM… DUM…

Dada Chika bergetar.

“Eh…?”

Cahaya biru muda muncul samar dari dalam zirahnya.

Hero Sword bereaksi.

Chika memegang dadanya.

“Hero Sword…?”

Princes menoleh.

“Kenapa?”

Chika mengangkat kepala.

Di ujung jalan, terlihat sebuah dojo besar dengan gerbang kayu dan lonceng angin.

Di dalamnya terdengar suara:

HYA! HAP!

Chika menelan ludah.

“…Aku rasa…”

Hero Sword berkilau lebih terang.

“…Hero ke lima ada di sana.”

Princes mengepalkan tangan kecilnya.

“Berarti… setelah mie… kita masuk ke dojo?”

Chika tersenyum.

“Kelihatannya… iya.”

Angin meniup pita rambut princes.

Takdir kembali bergerak.

---

Dojo Kota Shen

Pintu kayu besar dojo terbuka perlahan.

KRIIIIEK…

Aroma kayu tua, dupa ringan, dan keringat latihan langsung menyambut mereka.

Chika dan princes berdiri di ambang pintu.

Mata mereka langsung membesar.

Di dalam dojo, puluhan murid berlatih:

Manusia biasa memukul tiang kayu.

Manusia setengah kucing melompat-lompat lincah.

Ada yang berlatih dengan tongkat, ada yang beradu tinju.

HAP! HYA! HOO!

Suara hentakan kaki menggema di lantai kayu.

Princes menarik ujung jubah Chika.

“Chika… lihat mereka…”

Matanya berbinar biru muda seperti anak kecil masuk taman bermain.

“WAAAH!!”

Ia menunjuk ke depan.

“Itu keren banget!!”

Chika ikut terpukau. Rambut pirang pucatnya yang sedikit dikepang bergoyang saat ia mengangguk cepat.

“Iya!! Keren!! Dan lihat, semuanya ikut latihan!”

Ia mencoba meniru gerakan salah satu murid:

menekuk lutut… mengangkat tangan… tapi malah miring.

“HUAAH—”

Ia hampir jatuh ke depan.

Princes cepat-cepat menahan.

“Kesatria… gerakanmu kayak burung keseleo…”

“A-aku cuma pemanasan!”

---

Panda Misterius Muncul

Tiba-tiba…

DUM… DUM… DUM…

Langkah kaki berat terdengar dari belakang.

Mereka menoleh.

Seekor panda besar berdiri di sana, mengenakan pakaian dojo longgar, dengan sabuk kain merah.

Wajahnya ramah… tapi badannya segede lemari.

“Selamat datang, anak-anak,” katanya dengan suara dalam tapi lembut.

“Apakah kalian dua peserta yang akan dikirim untuk melawan Klan Naga?”

Chika & princes:

“EHH?!”

Mereka refleks melambaikan tangan bersamaan.

“B-bukan!”

“Kami cuma lihat-lihat!”

“Kami turis!”

“Kami salah masuk!”

“Kami—”

Panda itu mengangguk serius.

“Hmm. Baik. Berarti… kalian murid baru.”

“BUKAN ITU MAKSUDNYA—”

---

Dua Menit Kemudian

DUM!

Chika dan princes sudah berdiri sejajar dengan murid-murid lain.

Keduanya mengenakan pakaian dojo putih.

Chika menatap ke bawah.

Bajunya… ketat di bagian dada.

Ia mencoba menggerakkan tangan.

KRIIIK…

Kainnya tertarik.

“…ini sempit…”

Ia menutup dadanya dengan tangan satu, wajahnya memerah.

“Ehm… Pak Panda… boleh aku pakai zirahku lagi?”

Panda itu menatapnya serius.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Zirah menghalangi aliran chi.”

“…yang terhalang ini bukan chi…”

Princes di sampingnya memakai pakaian dojo juga, tapi ukurannya kebesaran.

Lengan bajunya menjuntai sampai menutup tangan.

Ia mengepalkan tinju tapi yang terlihat cuma kain.

“Chika… aku jadi kayak tahu tempe…”

---

Latihan Dimulai

Panda besar bertepuk tangan.

“SEMUA! KUDA-KUDA!”

DUM!

Semua murid menekuk lutut.

Chika ikut meniru.

“Grr… gini ya?”

Kakinya gemetar.

Panda berjalan memutari mereka.

“Punggung lurus.”

Ia menepuk punggung Chika.

“HUAAAH!!”

Chika refleks meluruskan terlalu keras.

Dadanya ikut terdorong ke depan.

“JANGAN NOLAK GRAVITASI!”

Princes mencoba meniru gerakan pukulan.

“HYA!”

Tapi karena lengan bajunya kepanjangan, kainnya menutupi wajah.

“WOI AKU BUTA—”

Ia muter-muter sambil memukul udara.

“INI JURUS APA? JURUS TIRAI JENDELA?!”

Chika menahan tawa sambil mencoba serius.

“Fokus… fokus…”

Ia maju selangkah.

BRUK

Ia terpeleset karena sandalnya dilepas terlalu cepat.

“AKU JATUH DEMI KEHORMATAN DOJO—”

---

Kesatria vs Bela Diri

Chika berdiri lagi sambil memegang dadanya.

“Pak… aku biasanya pakai pedang…”

Panda tersenyum.

“Di sini, tubuhmu adalah pedang.”

“…pedangku tidak dirancang untuk baju sempit…”

Princes berdiri kaku.

“Chika… perutku sakit…”

“Kenapa?”

“Sepertinya ramen tadi… ikut latihan…”

Panda menepuk tangan lagi.

“SEKARANG! LOMPAT!”

Semua murid melompat.

Chika ikut melompat.

“…EH?!”

Karena bajunya ketat, lompatannya aneh.

PLOK!

Ia mendarat dengan posisi aneh.

Princes melompat juga… tapi tersandung ujung bajunya sendiri.

BRUK!

Keduanya jatuh bersamaan.

Lantai dojo sunyi.

Semua murid menoleh.

Chika telentang.

“Princes… kita dipaksa ikut klub olahraga…”

Princes mengangkat jempol sambil tiduran.

“Dan aku… belum siap secara spiritual…”

Panda mengangguk puas.

“Bagus. Kalian berbakat.”

“DARI BAGIAN MANA?!”

---

Penutup Adegan

Chika berdiri lagi, rambut pirangnya sedikit berantakan, kepang kecilnya miring.

Mata hijaunya menatap panda itu ragu.

“Pak… kami cuma mau jalan-jalan…”

Panda tersenyum lebar.

“Dan sekarang… kalian latihan.”

Princes mendesah panjang.

“…Kita cuma mau cari Hero ke lima…”

Hero Sword di dalam dada Chika bergetar pelan.

DUM…

Seolah setuju.

Chika menelan ludah.

“…Aku punya firasat…”

Princes:

“Firasat buruk?”

Chika:

“Firasat… Hero ke lima ini…”

Ia melihat sekeliling dojo.

“…suka bikin orang capek.”

---

Senja di Dojo Kota Shen

Langit di atas Kota Shen mulai berwarna jingga keemasan. Cahaya matahari senja menembus kisi-kisi jendela dojo dan jatuh miring di lantai kayu yang penuh bekas tapak kaki latihan.

Di luar, beberapa murid dojo duduk melingkar di beranda bambu, menyeruput teh hangat sambil tertawa.

“Latihan hari ini gila banget…” “Lenganku masih gemetar…” “Besok aku pasti kaku semua…”

Uap teh mengepul pelan.

Namun…

Di dalam dojo bagian dalam…

Chika dan princes justru terkapar di lantai seperti dua karung beras tumbang.

Chika telentang, rambut pirang pucatnya yang sedikit dikepang sudah agak berantakan, pipinya memerah karena panas. Matanya yang hijau muda setengah terpejam.

“Haaah… capek…” Ia mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan.

“Kenapa sih… kita bisa tiba-tiba dilatih kayak gitu… Padahal tadi cuma mau lihat-lihat…”

Tanpa berpikir panjang, dia mulai melepas seragam latihan atasnya perlahan – jari-jari nya sedikit kesulitan membuka kancing depan karena tangan sedikit licin akibat keringat, hingga akhirnya "krek-krek" beberapa kancing terbuka satu per satu. Dia menarik seragamnya ke atas perlahan, melepasnya dengan gerakan yang rileks seperti biasa dia lakukan ketika merasa gerah di kamp mereka di Havenload – seperti sedang membuka baju renang di pantai saja. Akhirnya, hanya tersisa bra warna putih yang menutupi dadanya dan celana dalam yang sama warnanya, sementara tubuhnya yang berkeringat memantulkan cahaya senja dengan sedikit kilau.

Ia mengeluh panjang.

“Dojo ini panasnya kayak wajan…”

Princes duduk di sampingnya, mengipasi Chika dengan kipas bambu kecil yang entah dari mana ia ambil.

“Chika… kamu gampang banget kepanasan…”

Lalu princes melirik sekilas dan bertanya dengan polos, tanpa niat aneh sama sekali,

“Eh… ternyata kamu pakai bra ya… Kenapa warnanya putih? Kan ada warna lain…”

Chika menatap langit-langit dojo, mikir sebentar.

“…Eh? Iya ya… sejak kapan aku pakai yang ini…”

Ia menggaruk pipinya.

“Kayaknya aku asal ambil…”

Princes terkekeh kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung Chika dari belakang, seperti anak kecil nempel ke bantal.

“Hehe… kamu benar-benar kesatriaku…” Ia mengendus sedikit.

“Eh… kamu harum juga.”

Chika tertawa kecil.

“Hehehe… jelas dong…”

---

Pintu Terbuka

GREEEK—

Pintu geser kayu tiba-tiba terbuka.

Angin senja masuk bersama bayangan besar.

Seekor panda besar berdiri di ambang pintu.

Chika refleks melompat duduk dan langsung menutup tubuhnya dengan pakaian dojo.

“EHHH!!” “MASUK ITU PERMISI DULU!!”

Wajahnya merah sampai ke telinga.

Princes ikut panik dan menarik kain penutup seperti tirai darurat.

Panda besar itu membeku.

“Oh… maaf… maaf… aku tidak tahu kalian sedang… istirahat.”

Ia batuk kecil.

“Tapi… bolehkah aku minta bantuan kalian?”

---

Lorong Dojo

Beberapa menit kemudian…

Chika sudah memakai pakaian dojo yang ukurannya pas karena sudah dijahit ulang. Princes berjalan di sampingnya, dan panda besar memimpin di depan.

Mereka menyusuri lorong belakang dojo yang penuh lukisan naga dan tulisan kaligrafi tua.

Chika bertanya sambil berjalan,

“Jadi… paman panda mau minta tolong apa?”

Panda itu menghela napas.

“Sebenarnya aku sudah meminta murid-murid lain… tapi mereka kewalahan.”

Princes menengadah.

“Kewalahan menghadapi apa?”

Panda itu berhenti di depan pintu kayu belakang dojo.

“Aku rasa… kalian berdua bisa mengatasinya.”

---

Hutan Bambu di Belakang Dojo

Pintu dibuka.

Di belakang dojo terbentang kebun bambu hijau. Angin senja membuat daun bambu bergesekan.

Shhhh… shhhh…

Di tengah kebun…

Seorang gadis setengah panda tidur tengkurap di atas tumpukan bambu.

Telinga pandanya bergerak-gerak pelan.

Wajahnya cantik dan damai.

Rambut putihnya memiliki satu garis hitam dan dikepang panjang ke samping.

Ia mengunyah bambu sambil tidur.

Krek… krek…

Chika terbelalak.

“Wah… dia manusia setengah panda!”

Princes langsung membandingkan refleks.

“…Dia lebih cantik dari Chika.”

Chika:

“HEI.”

Ia menoleh ke panda besar.

“Siapa dia, paman panda?”

Panda itu berkata dengan nada pasrah,

“Itu… anakku.”

Otak Chika dan princes berhenti bekerja.

Mereka melihat gadis panda itu.

Lalu melihat panda besar.

Lalu kembali ke gadis panda itu.

Lalu ke panda besar lagi.

Chika berseru,

“KOK BISA?!”

Panda itu mengangkat bahu.

“Rahasia.”

Ia menatap anaknya yang tidur.

“Masalahnya… dia sangat pemalas. Tidur pagi, siang, malam. Bangun cuma buat gigit bambu, lalu tidur lagi.”

Chika menyipitkan mata.

“…Mirip MK.99 ya…”

---

Potongan ke Havenload

Di Havenload, MK.99 yang sedang berjaga tiba-tiba:

“HATCHOO.”

Vivi menoleh.

“Kau bisa bersin?”

MK.99 menjawab datar,

“Sistem mendeteksi… seseorang sedang membicarakan aku.”

---

Kembali ke Dojo

Princes menunjuk telinga gadis panda itu.

“Chika… lihat… telinganya gerak-gerak…”

Chika mendekat pelan.

“Imut banget…”

Tiba-tiba…

DUM… DUM…

Hero Sword di dalam dada Chika bergetar kuat.

Chika memegangi dadanya.

“Eh… Princes… Hero Sword bereaksi…”

Princes langsung berkata dengan polos,

“Berarti… dia Hero ke lima.”

Chika menatap gadis panda yang masih tidur sambil menggigit bambu.

“…Hero ke lima…” “…sedang tidur…”

Gadis panda itu bergumam sambil tidur,

“…bambu… gratis…”

Daun bambu jatuh pelan di wajahnya.

Dan senja di kebun dojo terus berwarna jingga, seolah mengumumkan:

Hero kelima telah ditemukan…

dalam kondisi paling tidak heroik yang mungkin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!