Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Hadiah di Balik Bayangan
Keheningan di alun-alun Sekte Awan Hijau terasa begitu berat, seolah-olah seluruh udara telah disedot keluar oleh satu tebasan pedang tadi.
Di atas Arena Utama, asap tipis masih mengepul dari belahan lantai batu yang terpotong rapi. Formasi Pelindung Arena yang terbuat dari ukiran rune kuno penyerap Qi berkedip redup, menandakan bahwa serangan Lin Xuan nyaris membelah batas formasi itu sendiri.
Wang Long, sang jenius dengan Akar Roh Dua Elemen, tergeletak di dalam genangan darahnya sendiri. Bahu kanannya terkoyak dalam. Meridian di lengannya telah putus sepenuhnya oleh Niat Pedang (Sword Intent) yang brutal, membuatnya cacat secara permanen.
"Pertandingan... selesai," Diaken wasit mengulanginya, kali ini suaranya terdengar lebih jelas meski masih bergetar. "Pemenang... Mu Chen!"
Tidak ada sorak sorai. Ribuan Murid Luar menatap Lin Xuan dengan campuran antara rasa takut dan takjub. Pemuda bertopi caping yang selama ini dianggap biasa saja, ternyata adalah monster yang menyamar.
Dari arah tribun VIP, sesosok bayangan melesat turun dengan kecepatan kilat, mendarat tepat di samping tubuh Wang Long. Itu adalah Tetua Utama Fraksi Wang, seorang pria tua dengan wajah berkerut menahan murka. Kultivasinya berada di Nascent Soul setengah langkah.
"Beraninya kau menghancurkan fondasi Dao masa depan klanku!" raung Tetua Wang. Gelombang Qi yang sangat pekat meledak dari tubuhnya, menekan Lin Xuan seperti gunung tak kasat mata.
Lutut Lin Xuan sedikit tertekuk menahan tekanan itu. Darah segar kembali merembes dari pori-pori lengan kanannya yang sudah terluka parah, namun wajahnya tetap sedingin es abadi. Ia menatap lurus ke mata Tetua itu tanpa berkedip.
"Di atas arena hidup dan mati, pedang tidak memiliki mata," jawab Lin Xuan datar. "Jika Tetua ingin menyalahkan seseorang, salahkan cucu Anda yang melepaskan Seni Api Pembakar Langit dengan niat membunuh terlebih dahulu. Apakah peraturan sekte hanya berlaku bagi mereka yang lemah?"
"Bocah kurang ajar!" Tetua Wang mengangkat telapak tangannya, berniat menghancurkan kepala Lin Xuan saat itu juga.
"Cukup, Tetua Wang."
Sebuah suara tenang bergema dari langit, namun cukup untuk menghentikan tangan Tetua Wang di udara. Gelombang energi yang lebih murni dan menekan seperti lautan yang dalam menyapu bersih tekanan Tetua Wang.
Sesosok pria berjubah hitam perlahan turun dari udara. Itu adalah Tetua Mo, Pemimpin Balai Hukuman Sekte Awan Hijau. Matanya yang tajam menatap Lin Xuan, lalu beralih ke tubuh Wang Long.
"Membawa urusan pribadi ke atas arena adalah pelanggaran," kata Tetua Mo dingin. "Wang Long kalah karena kemampuannya tidak sepadan. Bawa dia ke Balai Pengobatan. Jika kau menyentuh sehelai rambut murid ini karena dendam pribadi, aku sendiri yang akan menghancurkan Dantian mu, Wang Tua."
Tetua Wang menggertakkan gigi hingga terdengar suara retakan. Namun, ia tidak berani membantah Pemimpin Balai Hukuman. Ia menyambar tubuh Wang Long, lalu melesat pergi meninggalkan arena dengan wajah merah padam.
Tetua Mo kemudian berbalik menatap Lin Xuan. Ia memperhatikan lengan kanan pemuda itu yang bergetar samar dan meneteskan darah akibat meridian yang terbebani Qi secara ekstrem.
"Seni pedang yang mengorbankan diri sendiri," gumam Tetua Mo. "Kau memusatkan seluruh Qi di Dantian mu ke satu titik untuk menembus batas kecepatan fana. Sebuah teknik kuno yang cacat. Jika kau menggunakannya tiga kali lagi sebelum mencapai Foundation Establishment, lengan kananmu akan meledak menjadi kabut darah."
Lin Xuan menundukkan kepala dengan hormat, memainkan peran sebagai pemuda ceroboh yang beruntung. "Murid menemukan gulungan rusak ini di Pasar Hantu. Demi bertahan hidup, murid terpaksa mempelajarinya."
Tetua Mo mengelus jenggotnya. "Tekad yang gila. Namun, jalan kultivasi adalah perebutan nasib melawan langit. Kau memenangkan turnamen ini dengan adil."
Tetua Mo menjentikkan jarinya. Sebuah botol giok putih melayang menembus udara dan mendarat mulus di telapak tangan kiri Lin Xuan.
"Ini adalah hadiah pertamamu. Sepuluh butir Batu Roh Kualitas Menengah, dan satu Pil Pembentuk Dasar. Besok, kau diizinkan memasuki Puncak Dalam untuk mendaftar sebagai Murid Dalam."
Lin Xuan menggenggam botol giok itu erat-erat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Inilah kunci untuk menembus belenggu fana.
"Terima kasih, Tetua," ucap Lin Xuan.
Tanpa banyak bicara lagi, Lin Xuan berbalik dan berjalan turun dari arena. Lautan murid secara otomatis membelah, memberinya jalan yang lebar. Bahkan Zhao Yun yang berdiri di pinggir arena tidak berani langsung mendekatinya, tertegun oleh aura darah yang masih menyelimuti sahabatnya itu.
Malam itu, di dalam kesunyian Hutan Bambu Hitam.
Lin Xuan tidak kembali ke Kamar 204. Ia tahu banyak mata akan mengawasinya di asrama. Ia membutuhkan tempat yang aman untuk menyerap pil tersebut.
Ia duduk bersila di atas batu datar yang tersembunyi di balik semak berduri. Cahaya bulan purnama menyusup dari celah dedaunan, menyinari botol giok di tangannya.
"Pil Pembentuk Dasar," suara Gu Tianxie terdengar di kepalanya. Hantu tua itu melayang di udara, matanya yang merah menatap pil tersebut dengan tatapan menilai. "Kualitasnya rendah. Terlalu banyak kotoran sisa dari tungku alkimia sekte kecil ini. Jika kultivator biasa memakannya, mereka butuh waktu sebulan untuk membuang racun sisa pil."
"Tapi aku bukan kultivator biasa," balas Lin Xuan.
"Benar. Cincin Samsara Darah akan memurnikan kotoran itu," Gu Tianxie menyeringai. "Namun, ingat Lin Xuan. Saat kau menembus ranah Foundation Establishment, kau secara resmi melangkah keluar dari batas manusia fana. Langit akan menyadarinya. Karena kau menempuh Jalan Asura yang melawan kodrat, Petaka Surgawi akan turun."
Mata Lin Xuan menyipit. "Petaka Surgawi? Kultivator biasa tidak mengundang petir surgawi hanya untuk mencapai Foundation Establishment."
"Kau bukan kultivator biasa!" Gu membentak. "Tubuhmu dibangun di atas pengorbanan dan penyiksaan tulang. Langit membenci itu. Petir itu akan mencoba menghapus keberadaanmu. Apakah kau siap menderita seratus kali lipat dari tebasan pedangmu tadi siang?"
Lin Xuan membuka tutup botol giok tersebut. Aroma obat yang sangat pekat langsung menyebar di udara, membuat meridian di tubuhnya bereaksi secara naluriah.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia menuangkan pil bundar berwarna biru keemasan itu ke telapak tangannya, lalu menelannya dalam satu tegukan.
"Penderitaan hanyalah teman lama yang datang berkunjung," gumam Lin Xuan, menutup matanya dan mulai membentuk segel tangan Kitab Suci Tulang Asura.
BOOM!
Begitu pil itu masuk ke perutnya, energi spiritual yang luar biasa dahsyat meledak seperti gunung berapi. Qi yang tadinya berwujud gas di dalam Dantian Lin Xuan mulai berputar tak terkendali, bertabrakan satu sama lain, mencoba memadat menjadi bentuk cairan.
"Arahkan Qi itu ke pilar utamamu! Jangan biarkan energi itu menyebar ke organ vital!" teriak Gu.
Kulit Lin Xuan berubah menjadi merah padam. Urat-urat di seluruh tubuhnya menonjol hingga kulitnya terancam robek. Rasa sakit yang merobek jiwa menghantam kesadarannya, diperparah oleh sensitivitas dari Cincin Jiwa Kuno.
Ia merasa seolah-olah seluruh darah di tubuhnya diganti dengan timah mendidih.
Namun di luar sana, alam mulai merespons.
Di atas Gunung Awan Hijau, angin malam yang tenang tiba-tiba berubah menjadi badai. Awan hitam pekat bergulung-gulung berkumpul tepat di atas Hutan Bambu Hitam, menutupi cahaya bulan sepenuhnya.
Suara gemuruh guntur tertahan di dalam awan tebal itu. Alih-alih petir biru biasa, kilatan cahaya ungu gelap mulai merambat di antara gumpalan awan hitam tersebut. Tekanan langit yang menghancurkan jiwa menekan seluruh makhluk hidup di wilayah sekte.
Di puncak gunung, Tetua Agung Sekte Awan Hijau yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya, wajahnya penuh kengerian.
"Awan Petaka? Dan warnanya ungu?!" Tetua Agung melesat ke luar paviliunnya, menatap langit malam. "Siapa... siapa monster yang sedang menerobos ranah di dalam wilayah sekte kita?!"
Di bawah sana, di dalam hutan yang gelap, Lin Xuan menengadah ke arah langit. Darah mengalir dari sudut bibirnya, namun matanya memancarkan tekad yang menantang surga.
"Turunlah," desis Lin Xuan menantang awan petaka itu. "Akan kugunakan petirmu untuk menempa tulangku!"