Area 21+
Anak di bawah umur dilarang mendekat.
Tentang Bianca yang memendam perasaan cinta terhadap Alexander Valentino sahabat kakaknya. Ia rela dijadikan partner di atas ranjang bagi pria itu meski ia tau hati Alex begitu kuat berpaut pada kekasih yang sangat dicintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Seharian ini Bianca menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di kamar. Berusaha menata hatinya yang tiba-tiba berantakan setelah Alex seolah menyesali apa yang telah mereka lakukan. Padahal tadi saat ia masih di kampus dan saling berkirim pesan pria itu masih sempat menggoda dirinya.
Mungkin Alex merasa bersalah setelah bertemu Salsa, yah jelas saja Alex ingin menghentikan nya karena merasa telah mengkhianati kekasih yang amat dicintainya. Begitulah Bianca menyimpulkan nya.
'Alex sama sekali tidak bersalah, jika ada yang harus disalahkan itu kamu bi. bukan salah Alex jika menyesal atas apa yang terjadi, kenapa harus sakit hati?' Sisi dirinya seolah tengah berusaha untuk membuatnya lebih tau diri.
Bianca melirik jam yang berada di dinding kamarnya, sekarang sudah sore dan merupakan jam pulangnya Alex, Bian kembali resah karena ia tak tau harus bersikap bagaimana dengan pria itu Setelah obrolan mereka di mobil terakhir kali.
🍁🍁🍁
Sebuah ketukan di pintu kamar nya membuat hati Bianca tak menentu, ia yang baru selesai membersihkan dirinya dan hanya memakai handuk kebingungan mengapa Alex mengetuk pintu kamarnya, padahal Bianca berencana untuk tidak keluar kamar malam ini.
Tak ingin Alex menunggu lebih lama dan merasa curiga Bianca terpaksa membuka kan pintu, ia hanya mengeluarkan kepalanya yang berbalut handuk.
"Ada apa bang?" Tanya gadis itu, nada suara dan ekspresinya ia buat sebiasa mungkin.
"Makan malam uda siap dek" Ucap nya, Alex juga tampak berusaha bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
"Iya bang, nanti Bian keluar. Ini baru kelar mandi" Ucap Bianca, senyum manis ia sematkan setelah berucap.
"Jangan lama-lama ya, abang tunggu" Alex berbalik setelah Bianca menganggukkan kepalanya.
Beberapa waktu kemudian Bianca keluar dengan baju tidur tipis hitam nya, berupa dress satin sepanjang paha dengan tali tipis sejari dan terdapat aksen serut pada bagian dadanya, seperti biasa tampak begitu seksi dan menggoda iman bagi makhluk bernama pria.
Bianca tak bermaksud menggoda Alex karena sejak dulu ia memang selalu memakai pakaian yang seksi untuk tidur. Rambutnya yang ia cepol asal menampilkan lehernya yang jenjang.
Mata Alex terpaku menatap Bianca yang semakin mendekat, Alex tak bisa mencegah sesuatu yang ada di bawah sana bereaksi melihat penampilan gadis itu yang terlihat begitu cantik di matanya.
"Abang cuma pesan nasi goreng bi, nggak apa-apa?" Ucap Alex setelah berhasil mengendalikan dirinya.
"Nggak apa-apa bang" Ucap Bianca dengan senyum nya. Ia melihat nasi goreng yang terhidang di meja, sepiring nasi goreng seafood yang terlihat begitu menggugah selera. Alex tentu tau bahwa ini adalah salah satu makanan favorit gadis itu.
"Bi, sengaja mau menggoda abang?" Tanya Alex dengan menatap tajam pada Bianca yang baru saja memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya. Keningnya berkerut bingung.
"Maksud abang?"
"Jangan pura-pura nggak tahu Bi" Ucap Alex setengah mengeram.
"Bian nggak bermaksud sama sekali untuk menggoda abang, kenapa abang jadi mempermasalahkan pakaian yang Bian kenakan? Kalo abang tergoda ya harusnya abang bisa mengendalikan diri abang. Kan selama ini pakaian tidur Bian semuanya seperti ini bukan sekali dua kali abang melihatnya, kenapa baru sekarang dipermasalahkan?" Ucap Bianca ketus dan Alex menghela nafas berat. Bianca cuek melanjutkan makan nya begitu pun dengan Alex yang kembali menyuap makanan nya meski konsentrasinya terpecah.
"Tapi kalau ini membuat abang tersiksa, besok sehabis dari kampus Bian ajak Bella buat beli beberapa baju tidur yang baru" Ucap gadis itu santai. Alex tak menimpali, ia masih fokus dengan nasi goreng yang ada di piringnya.
Mereka menikmati makan malam dalam hening, seolah kehilangan bahan untuk berbincang karena diliputi kecanggungan.
"Bian udah selesai bang. Bian duluan ke kamar ya" Namun terlebih dahulu Bianca membawa dan meletakkan piring kotornya ke wastafel. Besok asisten rumah tangga yang hanya bertugas dari pagi sampai sore akan mencucinya.
Alex tak mengerti mengapa otak nya bisa sekotor ini, melihat tubuh Bianca yang berbalut dress tipis itu membuat hasratnya memuncak, ia kehilangan kontrol diri nya. Alex mengepalkan tangan nya lalu kemudian berjalan cepat menyusul Bianca, ia mendorong pintu kamar yang baru akan ditutup oleh gadis itu.
"Abang kenapa?" Tanya Bianca yang terkejut, ia melihat sorot mata yang berkabut pada tatapan Alex yang membuat tubuh nya meremang. Tanpa menjawab Alex langsung meraih tubuh Bianca, memagut bibirnya dengan penuh hasrat, menyesapnya dalam dan menuntut.
Bianca hanya pasrah, membiarkan Alex melakukan apa yang pria itu mau. Meski tak menginginkan hatinya setidaknya Alex masih menginginkan tubuhnya dan itu sudah cukup bagi Bianca.
"Abang menginginkanmu Bianca, seberapa pun abang mencoba menahan diri nyatanya abang tetap kalah pada pesona mu" Ucap Alex dengan tatapan dalam, Bianca tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum tipis nya.
Tanpa menunggu lebih lama, Alex mendorong tubuh Bianca hingga jatuh ke ranjang. Menindih tubuh gadis itu dan kembali melancarkan serangan nya pada bibir sensual Bianca yang sudah memerah dan sedikit membengkak. Ia merasa tergila-gila pada semua yang tubuh Bianca suguhkan. Ia tak menyangka tubuh gadis itu mengandung candu yang mematikan logika nya.
Persetan dengan Brian dan janjinya, ia hanya ingin terus menikmati tubuh gadis itu.
Sesapan Alex turun pada leher jenjang mulus itu, menyusuri nya dengan penuh pemujaan. Setelah puas pada bagian itu kini Ia beralih menikmati bagian dada Bianca yang sudah tak tertutupi apapun, Bianca hanya bisa meleng*h menikmati sentuhan Alex hingga ia sendiri tak menyadari sejak kapan dirinya dan Alex tak lagi mengenakan apapun.
Sulit dipercaya bahwa Alex tak pernah menyentuh Salsa sebelumnya, pria itu begitu piawai mempermainkan tubuhnya hingga berhasil membangkitkan titik-titik sensitif pada tubuhnya. Tak hanya Alex yang begitu tergila-gila dengan apa yang tersuguh pada diri Bianca, nyatanya gadis itupun merasa begitu menggilai semua sentuhan pria itu.
"Ah Bianca..." erang Alex saat ia telah memasuki Bianca, penyatuan ini melumpuhkan semua akal sehatnya.
Alex menggoyangkan tubuhnya, membuat Bianca merintih tak berdaya. Keduanya berulangkali meleng*h bahkan menjerit menikmati sensasi yang teramat memabukkan
"Ahhh Sayang, aku bisa gila" Ceracau Alex sambil terus memaju mundurkan tubuhnya, ekspresi nikmat yang tampak di wajah Bianca begitu membuatnya bersemangat, peluh yang memercik di kening gadis itu membuat nya begitu cantik dan seksi.
"Gadis nakal ku kau benar-benar menebar candu" Senyum tipis tersungging di bibir Bianca di sela nafasnya yang terengah, ia begitu bahagia bisa membuat Alex merasakan kenikmatan pada tubuhnya.
Bianca begitu menyukai pergulatan ini, selain karena kenikmatan yang tercipta juga karena i abisa berada begitu dekat dengan Alex tubuh mereka menyatu tanpa jarak.
"Ahhh Bianca..." Alex mengerang saat merasakan pelepasan nya, ia menghujamkan tubuhnya lebih dalam membuat tubuh Bianca bergetar hebat, merasakan tubuhnya seolah melayang pada langit tertinggi"