Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELATI DI BALIK REKAMAN.
Hening yang mencekam menyelimuti lorong menuju sayap kanan rumah mewah itu. Setelah mendapatkan peringatan keras dari Ferdiansyah, Ariya tidak lagi mengeluarkan suara. Ia membiarkan Arumi mendorong kursi rodanya dengan napas yang memburu karena menahan geram. Namun, ketenangan semu itu pecah saat mereka sampai di depan pintu kamar besar milik Ariya.
Heny, yang mengikuti dari belakang, menyentuh pundak Arumi dengan lembut. "Arum, mulai malam ini kamu istirahat di kamar Ariya saja ya? Biar gampang kalau Ariya butuh bantuan sewaktu-waktu."
Mata Ariya membelalak, ia menoleh dengan gerakan kaku. "Apa, Mah? Mamah menyuruh Arum tidur di kamarku? Tidak bisa! Memangnya rumah sebesar ini tidak punya kamar tamu lagi?"
"Tak bisa kau bilang?" Suara berat Ferdiansyah menyambar dari ujung lorong. Pria paruh baya itu berjalan mendekat dengan tatapan yang bisa membekukan apa pun yang dilewatinya. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah putranya.
"Dengar ya, Arya. Kamu tidak punya hak lagi untuk protes di rumah ini. Ini adalah hukuman yang harus kamu terima karena kebodohanmu dan wanita pilihanmu itu! Ingat, aku bukan orang yang mudah bertoleransi terhadap orang yang lemah sepertimu. Meskipun kamu anakku, aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah. Camkan itu!"
Ariya terdiam, nyalinya menciut melihat kilat amarah di mata sang ayah yang biasanya selalu membanggakannya.
"Sekarang pergilah, Arum! Bawa juga pria keras kepala ini dari hadapanku. Aku muak melihat kesombongannya yang tidak berdasar itu!" Ferdiansyah berbalik, membelakangi mereka dengan gestur pengusiran yang nyata.
Arumi tersentak sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Om." Ia segera mendorong kursi roda Ariya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu ganda kayu jati itu dengan rapat.
Di dalam kamar yang temaram, Arumi berdiri mematung di dekat tempat tidur. Ariya menatapnya dengan pandangan yang sama persis seperti saat ia pertama kali mendengar rekaman lima tahun lalu.
"Puas kamu sekarang?" tanya Ariya dengan suara parau yang penuh racun. "Puas melihatku dihina oleh ayahku sendiri karena membelamu?"
Arumi menghentikan kegiatannya. Ia menatap Ariya dengan tatapan datar. "Aku tidak pernah meminta Om Ferdi untuk membelaku, Ariya. Aku di sini hanya melakukan kewajibanku. Sekarang, biarkan aku membantumu pindah ke tempat tidur."
"Jangan sentuh aku!" Ariya menepis tangan Arumi dengan kasar. "Kamu pikir dengan status istri ini, aku akan melupakan betapa busuknya kelakuanmu lima tahun lalu? Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Arumi. Wanita munafik yang suka bergonta-ganti pria di belakang Ayahmu!"
Arumi tertegun. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menghujam jantungnya. Ia tahu persis dari mana fitnah itu berasal. Bayangan wajah Lusi yang tersenyum kemenangan lima tahun lalu kembali melintas di benaknya.
"Kamu hanya mendengar apa yang ingin kamu dengar, Ariya," bisik Arumi pedih. "Kamu lebih percaya pada rekaman suara dan video buram daripada sahabat yang tumbuh bersamamu sejak kecil."
Ariya tertawa sinis. "Video itu nyata, Arumi! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu turun dari motor pria asing setiap malam. Jadi, jangan berakting seolah kamu adalah korban di sini!"
Arumi menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Di dalam kamar yang luas itu, mereka berdua terperangkap dalam memori yang telah diracuni oleh kelicikan seseorang yang mereka anggap keluarga.
🍃
Di lorong, Heny menatap punggung suaminya dengan cemas. "Pah, jangan terlalu keras pada Arya. Mama kasihan, dia sedang dalam cobaan berat karena kakinya belum bisa digerakkan."
Ferdiansyah menghela napas panjang, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. "Berhentilah membelanya, Mah. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Mungkin ini cara Tuhan menyadarkannya bahwa selama ini langkahnya salah. Kita tidak boleh memanjakannya lagi."
"Tapi Mama takut, Pah. Arya itu sangat membenci Rumi sekarang. Mama takut dia malah melampiaskan kekesalannya pada anak itu," keluh Heny dengan nada khawatir.
"Itu tidak akan terjadi. Rumi anak yang kuat. Persahabatan mereka bukan baru setahun dua tahun. Papa yakin, lambat laun kenangan lama itu akan kembali menyatukan mereka," balas Ferdian syah dengan nada yang lebih melunak, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga.
Heny mengangguk kecil, meski hatinya masih gundah. "Semoga saja, Pah. Mama rindu melihat mereka rukun seperti lima tahun lalu, sebelum teman Papa itu menikahi ibunya Lusi. Mama kesal melihat Erwin, kenapa dia bisa lebih percaya pada anak tirinya dibanding anak kandungnya sendiri?"
"Bukan salah Erwin sepenuhnya, Mah. Kalau dipikir-pikir, kita juga sempat tertipu, kan? Mama ingat saat Lusi memberikan rekaman suara itu?" Ferdian mengingatkan istrinya pada sebuah memori pahit yang menjadi awal mula keretakan hubungan mereka.
Lima Tahun yang Lalu
Sesuai tradisi keluarga yang sudah disepakati, setiap tiga bulan sekali keluarga Ferdian syah mengunjungi kediaman Erwin. Hari itu seharusnya menjadi hari silaturahmi yang hangat, namun aroma ketegangan sudah tercium sejak mereka menginjakkan kaki di teras.
"Maaf, Er, kali ini kami telat. Banyak urusan di rumah sakit yang tidak bisa kutinggalkan," ujar Ferdiansyah sambil menjabat tangan sahabatnya dengan hangat.
Erwin tertawa kecil, menepuk bahu Ferdiansyah. "Aku maklum, Bro. Mengelola perusahaan besar ditambah rumah sakit pribadi pasti membuatmu kewalahan."
"Ya, begitulah. Aku membangun rumah sakit itu untuk anak-anak kita, Er. Biar saat Arumi dan Ariya lulus kedokteran nanti, mereka sudah punya tempat tinggal kedua untuk mengabdi," jelas Ferdiansyah dengan wajah penuh harap.
Erwin tertegun, raut rasa bersalah melintas di wajahnya. "Aku jadi merasa tidak enak. Kamu selalu memikirkan masa depan Arumi, sementara aku belakangan ini terlalu sibuk dengan urusan pribadiku."
"Sudahlah, jangan dibahas. Ngomong-ngomong, mana Arumi dan Lusiana? Kok tidak kelihatan?" tanya Ferdiansyah sambil mengedarkan pandangan.
Tiba-tiba, dari arah dapur, Lusiana muncul membawa baki berisi teh. Ia mengenakan senyum manis yang tampak sangat tulus. "Lusi di sini, Om. Kalau Kak Rumi sedang di kamar. Katanya dia sedang malas bertemu dengan keluarga Om Ferdi."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong. Erwin langsung berdiri dari duduknya dengan wajah memerah. "Jangan bohong kamu, Lusi! Rumi tidak mungkin bicara sekasar itu!"
Lusi menunduk, wajahnya tampak sedih seolah ia adalah korban penindasan. "Ya sudah kalau Ayah tidak percaya. Tapi Lusi tidak sengaja merekam pembicaraan Kak Rumi tadi saat aku mengajaknya turun."
Dengan tangan gemetar yang dibuat-buat, Lusi merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menekan tombol putar pada sebuah rekaman suara.
"Masa bodo! Pokoknya gue malas melihat mereka. Jangan libatkan gue dalam urusan basa-basi keluarga itu! Memuakkan!"
Suara itu sangat mirip dengan suara Arumi. Dingin, ketus, dan penuh kebencian. Lusi segera mematikan rekaman itu sebelum durasinya berakhir, memberikan kesan seolah masih banyak hal menyakitkan lainnya yang diucapkan Arumi.
"Sekarang Ayah percaya, kan?" tanya Lusi dengan nada bicara yang lirih, sementara matanya melirik sinis ke arah tangga tempat Arumi yang asli sebenarnya sedang dikurung di dalam gudang oleh ibu tiri mereka.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra