NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:182.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Surabaya di tengah malam perlahan mendingin. Di lantai VVIP Mahardika Medical Center, kebisingan kota yang biasanya akrab di telinga warga Surabaya kini hanya terdengar seperti dengung rendah yang jauh. Di dalam kamar rawat nomor satu, cahaya lampu temaram menyinari sosok Kirana Adytama yang masih terjaga.

Bau antiseptik yang bercampur dengan aroma terapi sandalwood yang mewah memenuhi ruangan itu, namun bagi Kirana, ruangan ini terasa begitu hampa. Ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu dari gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.

Pikiran Kirana kembali berputar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ia masih ingat bagaimana Ayah Haris berdiri di depan pintu sebelum pamit pulang.

Ayahnya sempat menepuk bahu Rio dan berkata dengan nada penuh harap, "Rio, tolong jaga Kirana di sini ya sampai dia benar-benar sembuh. Ayah percayakan dia padamu."

Rio, dengan sikap tenangnya yang selalu misterius, hanya mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya tidak akan meninggalkan Mbak Kirana."

Setelah itu, keluarganya pergi. Mama Reva dan Bianca bahkan tidak menoleh sekali pun untuk memberikan kata-kata penyemangat. Mereka pergi seolah-olah hanya baru saja menyelesaikan kewajiban formalitas mengunjungi orang asing.

Kini, di tengah kesunyian ini, Kirana merasa dadanya sesak. Ia adalah CEO KiraPharma yang disegani di dunia bisnis farmasi, namun di kamar ini, ia hanyalah seorang wanita yang merasa kehilangan segalanya.

Seandainya Bunda masih ada... batin Kirana lirih.

Ingatannya melayang pada usia 16 tahun, saat dunianya hancur karena kepergian sang ibu. Jika ibunya masih di sini, mungkin ia tidak perlu merasa "menumpang" di rumah ayahnya sendiri. Jika kakeknya masih ada, mungkin ada seseorang yang akan membelanya saat Bianca dan Mama Reva menginjak-injak harga dirinya.

Satu bulir air mata jatuh, melintasi pipinya yang pucat, diikuti bulir-bulir lainnya yang tak sanggup lagi ia bendung. Kirana segera menyapunya dengan ujung jari, mencoba tetap terlihat kuat meski tak ada orang yang melihat. Namun, isakan kecil yang tertahan itu tetap lolos dari bibirnya.

Di luar kamar, Raditya—yang saat ini sedang mengenakan kaos gelap dan celana kargo khas Rio—baru saja menutup ponselnya. Ia baru saja menyelesaikan koordinasi cepat dengan Bram mengenai pengamanan rumah sakit dan instruksi rahasia untuk memantau pergerakan bisnis Haris Adytama.

Begitu ia mendorong pintu jati kamar Kirana dengan sangat pelan, langkahnya terhenti. Raditya melihat Kirana sedang membelakanginya, menatap jendela dengan pundak yang sedikit bergetar. Cahaya bulan dari luar membingkai tubuh Kirana, membuatnya terlihat begitu rapuh dan kecil di tengah kemewahan kamar tersebut. Raditya bisa mendengar suara isakan halus yang berusaha ditekan, suara yang sanggup mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.

Raditya terdiam di ambang pintu. Ada kemarahan yang membuncah di dadanya—marah pada Ayah Haris yang membiarkan putrinya sendirian, marah pada Mama Reva yang tak punya hati, dan terutama marah pada keadaan yang memaksa Kirana harus menanggung semuanya sendirian.

Sebagai Raditya Mahardika, ia terbiasa mengendalikan segalanya dengan uang dan kekuasaan. Tapi di sini, sebagai Rio, ia hanya memiliki ketulusan.

Ia berjalan mendekat, langkah kakinya hampir tak terdengar di atas karpet tebal. Saat jarak mereka hanya tersisa dua meter, Kirana menyadari kehadirannya dan terburu-buru menghapus lelehan air mata di pipinya.

"Mas Rio? Sudah kembali?" tanya Kirana tanpa menoleh, suaranya terdengar sengau.

"Sudah, Mbak Kirana," jawab Raditya dengan nada serendah mungkin, penuh empati. Ia melangkah hingga berdiri di samping tempat tidur.

Raditya menatap profil samping wajah Kirana. Ada keinginan luar biasa besar dalam dirinya untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Kirana di bahunya, dan membisikkan bahwa dia tidak akan pernah sendirian lagi selama Raditya masih bernapas.

Ia ingin menyudahi sandiwara gila ini, mengaku bahwa dia adalah pemilik rumah sakit ini, dan membawa Kirana pergi dari keluarga toxic itu menuju kebahagiaan yang layak ia dapatkan.

Namun, langkah Raditya tertahan oleh satu pemikiran besar: Jika aku mengaku sekarang sebagai Raditya Mahardika, apakah Kirana akan tetap menatapku dengan ketulusan yang sama? Apakah dia akan menganggapku hanya pria lain yang mencoba membelinya dengan kekuasaan?

Raditya tahu, Kirana adalah wanita yang mandiri dan berprinsip. Selama menjadi Rio, ia bisa melihat sisi Kirana yang paling jujur—sisi yang tak pernah diperlihatkan wanita itu pada dunia bisnis maupun keluarganya. Sebagai Rio, dia adalah tempat Kirana bersandar tanpa beban status.

"Mas Rio... kenapa melihat saya begitu?" tanya Kirana lirih, akhirnya memberanikan diri menatap mata Rio.

Raditya tersadar dari lamunannya. Ia memaksakan sebuah senyuman kecil, jenis senyuman yang biasanya tak pernah keluar dari bibir dingin seorang Raditya Mahardika.

"Mbak Kirana tidak perlu menahan tangis di depan saya," ucap Raditya lembut. "Kadang-kadang, menangis itu bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa kita sudah terlalu lama menjadi kuat sendirian."

Kata-kata itu menghujam jantung Kirana. Pertahanannya runtuh seketika. Ia kembali menundukkan kepala, membiarkan air matanya mengalir lebih deras. Ia merasa heran, bagaimana bisa seorang supir yang baru dikenalnya beberapa hari bisa memahami isi hatinya sedalam ini?

"Saya merasa sangat sepi, Mas Rio. Di rumah itu, di sini... rasanya tidak ada tempat yang benar-benar milik saya," bisik Kirana di sela tangisnya.

Raditya tidak bisa menahan diri lagi. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu perlahan mengusap punggung tangan Kirana yang tidak terpasang infus. Sentuhannya hangat dan penuh perlindungan.

"Mbak Kirana punya saya. Maksud saya... selama saya masih bekerja untuk Mbak, Mbak tidak akan pernah sendirian. Saya akan menjaga Mbak, bahkan jika seluruh dunia membelakangi Mbak," janji Raditya, suaranya terdengar sangat tulus hingga membuat suasana di kamar itu mendadak terasa lebih hangat.

Kirana menatap tangan Rio yang menggenggam tangannya. Ada rasa aman yang menjalar, rasa aman yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Di bawah cahaya lampu temaram, ia melihat mata Rio yang berkilat tajam namun lembut—mata yang sama sekali tidak terlihat seperti mata seorang supir biasa.

Raditya menatap bibir ranum Kirana yang bergetar. Gejolak di dalam dirinya semakin kuat. Ia ingin sekali menyudahi penyamaran ini dan menjanjikan dunia untuk Kirana. Namun, ia menyadari satu hal; menjadi Rio adalah cara terbaik baginya untuk tetap berada di sisi Kirana tanpa membuat wanita itu merasa terintimidasi oleh nama besar Mahardika.

Bertahanlah sebentar lagi, Kirana, batin Raditya. Aku akan menghancurkan siapa pun yang menyakitimu, termasuk mereka yang menyebut diri mereka keluargamu. Dan saat waktunya tepat, aku akan menunjukkan padamu siapa pria yang sebenarnya berdiri di depanmu ini.

Malam itu, di kamar sunyi di jantung Surabaya, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar majikan dan supir mulai terbentuk. Di balik topeng kesederhanaannya, sang singa bisnis sedang bersiap untuk menerkam siapa saja yang berani menyentuh miliknya.

***

1
Lucy
Reva ttp aja iri dgn status JD istri Haris ttp mau menguasai seluruh hartanya,mmg gila harta
GK sabar nunggu Sabtu undangan mkn di kluarga mahardika😄😄😄
Reni Anjarwani
makin seru thor doubel up thor
stela aza
udh mau 100 bab tapi belum menikah ,, kelamaan trs kasus keluarga Kirana ngusut nya juga lama kenapa g langsung j s ,,, terlalu panjang membosankan 👶
Mundri Astuti
kirain DDI gedung thor acara pertunangannya, kan jadi tau tuh org bnyk
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Lucy
lanjut Thor double up👍👍👍seru nih papi Rivaldo setuju dgn ide Raditya dlm pesta pertunangan itu buat kejutan biar Reva dan Bianca kejut batin🤣🤣
Desi Santiani
ya ampun thor, kaget siang2 dh dpt up yg manis2 dr mereka, semangat trus thor dtunggu selalu update kisah merekaa 😍😍😍
Mundri Astuti
tetep stay nih thor ❤️
dapurAFIK
ga sabar nunggu moment Ituuuuu
semaput ga tuh mama Reva & Bianca 😆😆
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Mundri Astuti
ngga sabar momen itu tiba, semua kebusukkan Reva dan ayahnya Kirana kebongkar, dan mereka tahu siapa Kirana sebenarnya
Ma Em
Kirana cepat bongkar semua kebusukan mama Reva dan identitas Kirana yg seorang CEO kirafarma segera diketahui oleh pak Haris , agar pak Haris dan mama Reva tau siapa Kirana Adytama yg sebenarnya .
Lucy
seru seru cepatlah kebongkar kejahatan reva🤣
Arix Zhufa
spill wajah Radtya saat menjadi Rio
kok orang tidak bs mengenali
Lucy
lanjut Thor double up
Reni Anggraeni
up lg torr
Desi Santiani
anggap saja takjil untuk buka puasa 😄
Ma Em
Pak Haris kalau tau bahwa Kirana seorang CEO ternama pasti akan sock karena tdk disangka Putri yg selalu dia abaikan adalah orang yg sdh sukses jadi pengusaha , begitu juga dgn mama Reva juga Bianca mungkin akan kena serangan jantung karena orang yg selalu dia rendahkan adalah seorang pengusaha kirafarma .
Mundri Astuti
itu belum seberapa ayah Haris, putri yg kamu abaikan ini ....beuh jauh diatas kamu kemampuan memimpinnya
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!