Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BAYANG-BAYANG DI TENGAH PESTA
BAB 28: BAYANG-BAYANG DI TENGAH PESTA
Malam itu, kediaman Vashishth tampak gemerlap. Lampu-lampu kristal dinyalakan, dan karpet merah digelar dari pintu gerbang hingga ke aula utama. Rayhan sedang merayakan keberhasilan misinya di perbatasan, dan rumah itu dipenuhi oleh para perwira tinggi militer serta pejabat kota Delhi. Musik klasik India mengalun lembut, namun bagi Vanya, suara musik itu terdengar seperti lonceng kematian.
Vanya berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sari berwarna emas yang diberikan oleh Suman. Wajahnya dirias dengan sempurna, namun matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasan. Di bawah sana, di paviliun yang tersembunyi oleh pepohonan rimbun, Arlan sedang bersama Ibu Sujati. Vanya tahu bahwa keberadaan Arlan di rumah ini adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Suman mendekati Vanya dengan senyum kemenangan yang palsu. "Tersenyumlah, Vanya. Malam ini adalah malam suamimu, Rayhan. Jangan biarkan wajah sedihmu merusak reputasi keluarga kami di depan para Jenderal."
"Reputasi?" Vanya menoleh dengan tatapan tajam. "Nyonya Suman, kau bicara soal reputasi seolah-olah rumah ini tidak dibangun di atas tumpukan kebohongan. Kau mengundang semua orang ini, tapi kau menyembunyikan fakta bahwa putra kandung suamimu ada di paviliun belakang."
Suman mencengkeram lengan Vanya dengan kuat. "Jaga bicaramu! Jika kau berani membocorkan satu kata saja malam ini, aku pastikan Arlan akan menghilang selamanya sebelum matahari terbit."
Sementara itu, di luar gerbang belakang yang gelap, sebuah mobil hitam berhenti. Hendra turun dengan penyamaran yang rapi. Dia mengenakan seragam pelayan katering, lengkap dengan kumis palsu dan topi yang menutupi dahinya. Di pinggangnya terselip sebilah belati tajam. Dia telah berkoordinasi dengan Suman melalui pesan singkat untuk masuk lewat pintu samping saat para penjaga sedang fokus pada tamu undangan di depan.
"Kau menghancurkan kehormatanku di Simla, Arlan," gumam Hendra dengan gigi terkatup. "Malam ini, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bicara lagi."
Hendra berhasil masuk ke area taman belakang. Dia melihat Arlan sedang duduk sendirian di bangku taman, jauh dari keramaian pesta. Arlan tampak sedang melamun, menatap pantulan bulan di kolam air mancur. Ingatannya yang sudah kembali membuat Arlan sering merasa terasing di tengah keramaian.
Arlan mendesah pelan. Ia teringat kalimat yang selalu menghantuinya. "Terkadang kita selalu menginginkan sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah bisa kita dapatkan... tapi terkadang, takdir justru memaksa kita berhadapan dengan apa yang paling ingin kita lupakan."
Tiba-tiba, insting Arlan bereaksi. Dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Arlan bukan lagi pria polos yang mudah dipukul; pengalaman pahit telah mengasah indranya. Saat Hendra mengayunkan belati dari kegelapan, Arlan menghindar dengan gerakan refleks yang cepat.
"Siapa kau?!" teriak Arlan.
Hendra melepaskan topinya, menunjukkan wajahnya yang penuh kebencian. "Ingat aku, Arlan? Monster dari mimpimu sudah kembali!"
Arlan terpaku sejenak. Melihat wajah Hendra membuat kepalanya berdenyut hebat. Kenangan saat kepalanya dihantam kayu kembali membanjiri pikirannya. Dia sempat goyah, kakinya gemetar. Namun, saat dia melihat Vanya berdiri di balkon dan menatap ke arah mereka dengan wajah pucat, keberanian Arlan bangkit kembali.
"Hendra Kashyap..." desis Arlan. "Kau berani datang ke sini? Ini bukan Simla di mana kau bisa membeli hukum dengan uangmu!"
"Di mana pun aku berada, aku adalah hukum bagi orang sepertimu!" Hendra menerjang kembali.
Perkelahian pecah di tengah kegelapan taman. Arlan melawan dengan tangan kosong melawan belati Hendra. Di sisi lain, Vanya yang melihat kejadian itu berteriak histeris. "RAYHAN! TOLONG! ADA PENYUSUP!"
Teriakan Vanya memecah suasana pesta. Rayhan, yang sedang berbincang dengan atasannya, langsung berlari menuju arah suara istrinya. Dia melihat Vanya menunjuk ke arah taman belakang. Dengan sigap, Rayhan mencabut pistol dari sarungnya dan berlari secepat kilat.
Saat Rayhan sampai di taman, dia melihat Arlan sedang bergulat dengan seorang pria berpakaian pelayan. Hendra berhasil menggores lengan Arlan, darah segar mengucur membasahi kemeja putih Arlan.
"BERHENTI!" teriak Rayhan sambil melepaskan tembakan peringatan ke udara. DARR!
Hendra terkejut. Dia melihat moncong pistol Rayhan mengarah tepat ke jantungnya. Hendra menjatuhkan belatinya dan mengangkat tangan, namun matanya tetap menatap Arlan dengan penuh dendam.
Para tamu undangan dan penjaga militer segera mengerumuni taman. Suman muncul dari kerumunan dengan wajah pucat. Dia tidak menyangka Hendra akan seceroboh ini hingga tertangkap di depan banyak orang.
Rayhan mendekati Hendra dan merenggut penyamarannya. "Tuan Hendra? Apa yang kau lakukan di rumahku dengan senjata tajam?"
Hendra tertawa getir, mencoba memutar balikkan fakta. "Aku datang untuk mengambil putriku! Pria gila ini menyerangku saat aku ingin bicara baik-baik!"
"Bohong!" teriak Vanya yang sudah turun ke taman. "Dia mencoba membunuh Arlan! Aku melihatnya sendiri!"
Rayhan menatap Arlan yang sedang memegang lengannya yang berdarah. Rayhan merasakan amarah yang membara di dadanya. Bukan hanya karena pesta kehormatannya dirusak, tapi karena pria ini—mertuanya sendiri—terus mencoba menyakiti adiknya di bawah atap rumahnya.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah!" perintah Rayhan pada anak buahnya. "Dan jangan biarkan dia bicara dengan siapa pun sampai aku sendiri yang menginterogasinya."
Setelah Hendra dibawa pergi, Rayhan mendekati Arlan. Dia ingin memegang bahu Arlan, namun Arlan mundur selangkah. Arlan menatap Rayhan dengan mata yang dipenuhi luka dan kekecewaan.
"Lihat ini, Rayhan," ucap Arlan sambil menunjuk luka di lengannya. "Inilah hadiah dari keluargamu. Ibumu mengundang monster ini masuk, dan suamimu... maksudku, ayah istrimu, mencoba menyelesaikanku."
"Arlan, aku tidak tahu—"
"Kau memang tidak pernah tahu, Rayhan! Karena kau terlalu sibuk menjaga reputasimu!" Arlan berteriak di depan para tamu yang masih terpaku. "Kau menyelamatkanku, tapi kau juga membiarkanku tinggal di rumah yang penuh dengan serigala! Terkadang aku menginginkan seorang saudara yang benar-benar bisa aku andalkan, tapi takdir justru memberiku seorang Mayor yang terikat oleh rantai ibunya sendiri."
Rayhan terdiam seribu bahasa. Kata-kata Arlan lebih tajam daripada belati Hendra. Para tamu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya tentang hubungan antara Arlan dan keluarga Vashishth. Suman mencoba menenangkan situasi, namun Rayhan mengabaikannya.
Rayhan berbalik menghadap tamu-tamunya. "Maafkan gangguan ini. Acara malam ini selesai. Silakan kembali ke rumah masing-masing. Ada masalah keluarga yang harus segera kami selesaikan secara pribadi."
Setelah semua tamu pergi, suasana rumah menjadi sangat sunyi dan mencekam. Rayhan, Vanya, Arlan, Ibu Sujati, dan Suman berkumpul di aula utama.
"Sekarang katakan padaku, Ibu," Rayhan menatap Suman dengan mata yang sangat dingin. "Apakah Ibu yang memberikan akses pada Hendra untuk masuk lewat pintu belakang?"
Suman mencoba mengelak. "Tentu tidak! Bagaimana mungkin aku—"
"Berhenti berbohong, Nyonya Besar!" sela Ibu Sujati. "Aku melihatmu memberikan kunci cadangan pada salah satu pelayan katering tadi sore. Kau ingin Hendra membunuh Arlan agar rahasiamu aman, bukan?"
Suman terpojok. Dia menatap semua orang di ruangan itu dengan penuh kebencian. "Ya! Aku melakukannya! Karena selama anak ini ada di sini, hidup kita tidak akan pernah tenang! Dia adalah kutukan bagi keluarga ini!"
Rayhan memejamkan mata. Dia merasa dunianya runtuh. "Ibu... kau baru saja mengakui percobaan pembunuhan. Sebagai putramu, aku hancur. Tapi sebagai seorang perwira, aku harus bertindak."
Arlan melangkah maju. Dia menatap Suman, lalu menatap Rayhan. "Terkadang kita menginginkan keadilan, Rayhan. Tapi apakah kau sanggup memberikan keadilan itu jika pelakunya adalah orang yang melahirkanmu?"