"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 8
"Nikmati saja makanannya Tuan. Jangan bicara sambil makan, nanti kau tersedak."
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."
"Tuh kan, apa aku bilang. Kesedak juga akhirnya." Yiyue membenarkan ucapannya sendiri, sebelum kemudian dia mengambil segelas air minum untuk suami kulkasnya.
"Minum dulu Tuan." Yiyue membantu suaminya minum. Gadis cantik itu tersenyum kemenangan saat suaminya tak berkutik. Alhasil lelaki itu mau memakan masakannya yang telah Yiyue buat spesial untuk sang suami.
"Tuan, ayo buka mulutmu lagi." Titahnya yang telah menyodorkan sebuah sendok berisi nasi goreng pada Qiaoyan.
Tak hentinya untuk Yiyue kembali menyuapi suami kulkasnya itu. Disisi lain Qiaoyan tak membantah ucapan sang istri, Qiaoyan langsung membuka mulutnya agar makanan itu bisa masuk ke dalam perutnya. Lelaki itu sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, tak ada kata bantahan dari mulutnya. Baru kali ini Qiaoyan merasakan makanan enak yang dibuat oleh istrinya. Rasanya begitu pas di lidahnya, bahkan terasa lebih lezat dari masakan koki andalannya.
"Yeaah ... akhirnya habis juga. Kau hebat Tuan, akhirnya makanan yang ku buat ini habis tak bersisa." Dengan senyum mengembang Yiyue bertepuk tangan layaknya seorang anak kecil yang telah mendapat sebuah hadiah.
Qiaoyan hanya diam menatap tingkah laku istri kecilnya itu yang begitu menggemaskan sekali. Entah kenapa melihat hal itu seketika hatinya menghangat, tanpa dia sadari seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Minum lagi Tuan biar tidak haus. Perbanyaklah minum air putih karena itu bagus bagi kesehatan." Yiyue kembali membantu Qiaoyan untuk minum.
"Bagus, anak pintar." Yiyue mengacak rambut legam Qiaoyan sambil tersenyum melihat suami kulkasnya tunduk padanya.
'Berani sekali dia mengacak rambutku. Dia pikir dia siapa, seenaknya saja berbuat seperti itu,' batin Qiaoyan melirik sekilas ke arah Yiyue.
Yiyue yang hendak melangkah pergi tiba-tiba ada tangan besar yang menariknya alhasil membuat Yiyue terhuyung ke belakang dan jatuh di pangkuan suami kulkasnya.
Seketika pandangan mereka bertemu dan saling beradu pandang. Bersamaan itu terdengar jelas detak jantung keduanya yang berdegup kencang dengan posisi keduanya yang begitu intim. Bahkan helaan napas Yiyue pun dapat Qiaoyan rasakan saat menerpa kulit putihnya. Begitu juga Yiyue yang dapat mendengar detak jantung suami kulkasnya seolah genderang mau perang.
Beberapa detik kemudian, Yiyue tersadar dengan posisinya saat ini yang begitu intim dengan suami kulkasnya. Hingga akhirnya dia terlebih dulu memutus kontak mata dan berusaha menetralkan perasaannya. Faktanya Yiyue merasakan jika jantungnya seolah ingin melompat dari sarangnya. Kedua tangannya pun terasa dingin seperti berada di dalam kutub utara.
"Lepas Tuan!" Sekuat tenaga Yiyue berontak sambil memukul dada bidang Qiaoyan. Gadis cantik itu berusaha lepas dari tangan besar suami kulkasnya itu yang memeluk pinggangnya dengan erat.
Qiaoyan tersenyum miring menatap sang istri. "Kenapa? Apa kau takut, hm? Kemana keberanian mu tadi yang dengan beraninya mengacak rambutku?" Dipandanginya wajah cantik sang istri yang begitu dekat, seolah dia tak ingin melewatkan pemandangan indah yang mampu membuatnya berdesir hebat saat menatap wajah istrinya itu.
Entah kenapa mendadak Qiaoyan merasa nyaman dengan posisinya saat ini, dimana sang istri duduk di atas pangkuannya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas dada bidangnya. Namun, hal itu tak berangsur lama karena Yiyue terus-menerus berontak agar terlepas dari tangan besar Qiaoyan.
Mata Yiyue membulat sempurna setelah dia sadar jika dirinya tadi mengacak rambut sang suami. "M- maaf Tuan jika hal itu membuatmu tak suka. Aku hanya ...."
Dengan sekali sentakan, Qiaoyan berhasil membawa tubuh mungil istrinya lebih dekat ke arahnya. Sorot matanya menatap intens manik mata berwarna dark hazel itu, seakan seperti magnet yang memiliki daya tarik sendiri bagi Qiaoyan. Tangan besarnya mendekap erat tubuh Yiyue seolah membuatnya candu yang tak ingin melepaskan tubuh mungil itu.
Namun tidak dengan Yiyue, gadis cantik itu tak berhenti memberontak. Yiyue terus memukul dada bidang suaminya, hingga berujung dia menggigit tangan besar suami kulkasnya itu. Alhasil usahanya pun berhasil dan dia segera mungkin beranjak dari tempatnya.
"Arggghhh ...." Qiaoyan meringis kesakitan karena ulah istri kecilnya.
"Kau ...." Tunjuknya dengan sorot mata elang menatap pada Yiyue.
Namun yang ditatap sama sekali tak merasa gentar, Yiyue sama sekali tak mengindahkan tatapan suaminya. Gadis cantik itu memutar malas bola matanya melihat Qiaoyan yang masih marah-marah.
Perlahan, Yiyue berjalan ke arah lantai yang terlihat kotor karena ulah suami kulkasnya itu. Saat ini Yiyue tengah membersihkan pecahan piring dan gelas di lantai. Tanpa Yiyue tahu, jika Qiaoyan sedang memperhatikannya sekarang. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa bersalah saat melihat wajah polos itu.
Hatinya yang semula merasa kesal, seketika berubah menjadi hangat melihat pemandangan yang begitu menyayat hati.
"Hentikan! Suruh pelayan saja yang bersihkan," ucap Qiaoyan yang tidak tega melihat istri kecilnya seperti pembantu. Padahal dia sendiri yang meminta sang istri layaknya seperti pembantu. Tapi, hatinya justru berkata lain dan tak bisa dibohongi.
"Tidak apa-apa Tuan, biar saya saja yang membersihkan. Tidak seharusnya kamar kita dimasuki oleh sembarang orang, karena itu privasi," terang Yiyue.
Detik itu juga Qiaoyan terdiam membeku ketika mendengar Yiyue mengatakan kamar kita. Lagi dan lagi hatinya kembali dibuat menghangat oleh istri kecilnya, sesuatu yang tak pernah Qiaoyan rasakan selama dia menjadi lelaki lumpuh.
"Sebaiknya kau istirahat saja Tuan. Aku akan membersihkan ini semua. Jika kau butuh apa-apa, panggil saja aku." Ucapnya yang sebelum pergi meninggalkan ruangan mewah itu.
"Dan satu lagi, jangan lupa minum susunya Tuan. Susu itu untuk membantu kesembuhan mu agar tulang bisa kembali merasakan reaksi." Tambahnya yang kemudian melenggang pergi. Namun, sebelum itu Yiyue menyerahkan ponsel suaminya pada sang empu.
"Ini Tuan ponselmu. Ingat, kalau makan tidak boleh pegang HP!" Ucapnya memperingati suami kulkasnya itu.
Qiaoyan hanya terdiam tanpa sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya. Lelaki itu tak menyangka jika sang istri benar-benar mau menuruti keinginannya sesuai dengan perjanjian yang telah dia lontarkan tepat saat malam pertama mereka. Seketika ada rasa sesal yang menyeruak ke dalam benaknya kala mengingat hal itu.
🥕🥕🥕
"Fan Zhi, siapkan pakaian terbaik dan terbagus untuk istriku. Ingat, belikan di butik ternama karena aku tidak ingin melihat istriku memakai pakaian yang tak layak. Dan satu hal lagi, pilihkan model terbaru yang tidak terbuka karena aku tidak suka jika ada orang lain melihatnya," titah Qiaoyan pada sang asisten di seberang telpon.
Setelah kepergian Yiyue, tak lama Qiaoyan langsung membuka ponselnya yang ada di tangan besarnya. Sebelum kemudian lelaki itu langsung menghubungi asistennya.
Sementara di seberang telpon, Fan Zhi terkesiap mendengar ucapan atasannya barusan. Fan Zhi tak menyangka jika atasannya akan bicara seperti itu, yang memang dia ketahui bahwa Qiaoyan begitu dingin dan tak pernah sedikitpun menunjukkan perhatiannya selain ke Ruo Wei, mantan kekasih atasannya.
Fan Zhi masih terdiam seribu bahasa, tak menjawab ucapan Qiaoyan barusan. Hingga membuat lelaki tampan itu kembali bersua.
"Fan Zhi, apa kau masih disana?" tanya Qiaoyan memastikan.
"I- iya Tuan." Fan Zhi terbata menjawab ucapan atasannya.
"Apa kau sudah mengerti dengan perintahku barusan?" Tanyanya lagi.
"Mengerti Tuan."
"Good. Segera siapkan semua yang aku minta barusan. Aku tidak mau tahu, dalam tiga puluh menit semua barang itu harus ada di hadapanku."
"Baik Tuan."
.
.
.
🥕Bersambung🥕