NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: RITUAL KEPUTUSASAAN DI BALIK KABUT

Malam itu, SMA Gwangyang diselimuti oleh kabut hitam yang tidak berasal dari alam. Suhu udara di sekitar asrama sekolah merosot tajam hingga embun membeku di jendela, membentuk pola-pola aneh yang menyerupai cakaran monster. Di dalam kamar asramanya yang mewah namun kini terasa seperti penjara, Alice Pendragon duduk bersimpuh di tengah lingkaran yang digambar dengan darahnya sendiri. Di tangannya, ia menggenggam 'Crest of the Fallen', sebuah artefak terlarang yang selama berabad-abad dikunci oleh keluarga Pendragon karena risikonya yang mampu melahap jiwa sang pengguna.

"Kau mengambil hartaku, kau menghancurkan kakakkku, dan kau menghina kehormatan keluargaku, Arkan..." bisik Alice. Suaranya serak, matanya yang biru kini dipenuhi oleh pembuluh darah yang pecah, memberikan kesan kemerahan yang mengerikan. "Jika aku harus menjadi iblis untuk menyeretmu ke neraka, maka biarlah!"

Alice menancapkan belati perak ke telapak tangannya, membiarkan darah segarnya mengalir ke tengah lingkaran. Seketika, ruangan itu bergetar hebat. Sebuah retakan dimensi berwarna hitam keunguan terbuka di lantai. Dari dalamnya, muncul aura yang begitu busuk hingga membuat tanaman di balkon Alice layu dan menghitam dalam sekejap.

"Bangkitlah... Dread-Knight dari Sektor Magma! Aku persembahkan jiwaku sebagai imbalan atas kepala sang Sovereign!"

KRAAAKK!

Lantai asrama itu hancur. Sesosok ksatria setinggi tiga meter dengan zirah obsidian yang membara keluar dari lubang tersebut. Di tangannya, ia memegang pedang besar yang memancarkan api hitam Abyss. Ia adalah 'Vorgath', algojo tingkat SSS yang seharusnya hanya muncul saat kiamat tiba.

Apartemen Arkan – Pukul 02.00 Dini Hari.

Arkan tersentak dari meditasi tidurnya. Ia berdiri tegak, matanya langsung berubah menjadi merah delima yang sangat pekat. Ia merasakan sebuah getaran yang sangat kasar—sebuah frekuensi yang sangat ia kenal namun sudah lama tidak ia rasakan di permukaan bumi.

'Julian! Segera evakuasi seluruh siswa asrama melalui manipulasi ruang! Sekarang!' perintah Arkan secara telepatis.

'Ayah, ini di luar prediksi! Alice melakukan "Soul Contract" tingkat tertinggi! Dia memanggil jenderal cadangan dari Sektor Magma yang baru saja kita kuasai. Monster itu, Vorgath, sedang menuju kamarmu melalui jalur bayangan!'

'Bastian, Hana, siapkan zona isolasi di atas langit sekolah. Aku tidak ingin satu pun warga sipil melihat apa yang akan kulakukan pada monster ini,' Arkan melangkah keluar ke balkon.

Vorgath bergerak secepat kilat hitam. Ia melewati tembok-tembok bangunan seperti hantu, meninggalkan jejak pembusukan di setiap tempat yang ia lalui. Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di depan apartemen Arkan.

BOOOOOMMM!

Seluruh dinding balkon apartemen Arkan hancur lebur saat Vorgath menghantamnya dengan pedang api hitam. Namun, di tengah debu dan api yang berkobar, Arkan berdiri dengan sangat tenang. Jubah Sanguine-nya telah menyelimuti tubuhnya, memancarkan cahaya merah yang menelan api hitam tersebut.

"Hanya seorang Dread-Knight?" Arkan menatap Vorgath dengan tatapan yang menghina. "Alice Pendragon benar-benar memiliki selera yang buruk dalam memilih sekutu."

Vorgath mengeluarkan raungan yang mampu meruntuhkan mental Hunter Kelas A. "Sovereign! Jantungmu akan menjadi persembahan bagi Raja Abyss kami!"

Vorgath menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang mampu membelah gedung menjadi dua. Namun, Arkan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, menangkap bilah pedang raksasa itu hanya dengan ibu jari dan telunjuknya.

KLANG!

Suara benturan logam itu menciptakan gelombang kejut yang seharusnya meratakan seluruh blok perumahan. Namun, Bastian dan Julian telah memasang perisai gravitasi di sekeliling apartemen tersebut, mengunci ledakan energinya di dalam area sempit.

"Kau... kau menangkap pedangku?!" Vorgath terkejut.

"Darahmu... aku bisa merasakannya. Kau terbuat dari sisa-sisa energi Jenderal Ignis yang aku bunuh kemarin, bukan?" Arkan meremas bilah pedang itu hingga hancur menjadi debu. "Kau hanyalah sisa makanan yang mencoba berontak."

Arkan menghantam dada Vorgath dengan telapak tangannya yang terbuka.

"Sanguine Art: Molecular Disintegration!"

Seketika, zirah obsidian Vorgath mulai pecah berkeping-keping. Bukan karena kekuatan fisik, tapi karena Arkan memanipulasi ikatan molekul di dalam tubuh monster tersebut melalui darah Abyss yang mengalir di nadinya. Vorgath menjerit saat tubuhnya mulai mencair menjadi genangan cairan hitam yang panas.

Sementara itu, di kamar asrama Alice.

Alice jatuh tersungkur, ia memuntahkan darah hitam yang kental. Kontrak jiwanya sedang diputus secara paksa oleh Arkan dari jarak jauh. Ia merasa nyawanya sedang ditarik keluar.

"Tolong... sakit..." rintih Alice.

Tiba-tiba, pintu kamarnya hancur. Hana (Phantom) masuk dengan kecepatan yang tak terlihat. Ia mencengkeram leher Alice dan mengangkatnya ke dinding.

"Tuan melarang kami membunuhmu," bisik Hana dingin, matanya perak menatap tajam ke arah Alice yang sekarat. "Tapi dia tidak melarangku untuk menunjukkan padamu apa yang terjadi pada mereka yang mencoba mengusiknya."

Hana menyentuh dahi Alice, mengirimkan proyeksi penglihatan langsung dari apa yang sedang dilakukan Arkan pada Vorgath. Alice melihat Arkan yang berdiri dengan megah, memegang kepala Vorgath yang kini hanya tersisa tengkorak, lalu menghancurkannya menjadi abu dengan satu genggaman.

Alice gemetar hebat. Ia menyadari bahwa seluruh kekuatannya, seluruh harga dirinya, bahkan bantuan dari neraka sekalipun, hanyalah mainan bagi pria yang ia bully di kantin tempo hari.

Arkan berdiri di tengah reruntuhan balkonnya. Ia menarik napas panjang, menatap sisa-sisa abu Vorgath yang terbang tertiup angin.

'Julian, pulihkan apartemen ini dalam waktu lima menit menggunakan manipulasi materi. Aku tidak ingin pemilik gedung ini mengeluh besok pagi,' perintah Arkan.

'Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign. Ayah, apa yang harus kita lakukan pada Alice? Dia sudah sangat dekat dengan kematian akibat kontrak jiwanya yang gagal.'

Arkan menatap ke arah asrama sekolah. 'Bawa dia ke markas. Biarkan Rehan menyembuhkannya dengan racun pemurni. Aku ingin dia tetap hidup... sebagai saksi. Dan berikan dia lencana "Anjing Pelayan". Mulai hari ini, dia akan menjadi mata-mataku di dalam WHA. Jika dia menolak, biarkan Rehan memberinya kematian yang sangat lambat.'

Keesokan Pagi – SMA Gwangyang.

Liora berjalan menuju kelas dengan perasaan bingung. Ia merasa ada yang aneh dengan malam tadi, seolah ada suara ledakan namun saat ia bangun, semuanya tampak normal.

Saat ia sampai di kelas, ia melihat Arkan sudah duduk di tempatnya, sedang serius membaca buku teks kimia. Namun yang paling mengejutkan adalah Alice Pendragon.

Gadis pirang yang biasanya angkuh itu kini duduk di bangku di depan Arkan. Ia tidak lagi menatap Arkan dengan tajam. Sebaliknya, saat Arkan meminta izin untuk meminjam penghapus, Alice segera memberikannya dengan tangan yang gemetar dan kepala yang tertunduk dalam, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan tuhan.

"Arkan, ada apa dengan Alice? Dia kelihatannya... berubah?" bisik Liora heran.

Arkan tersenyum tipis, menyesuaikan kacamatanya. "Mungkin dia baru menyadari bahwa sekolah di Korea lebih disiplin daripada di London, Liora."

Liora hanya mengangkat bahu, tidak menyadari bahwa di bawah meja, Alice sedang menggenggam lencana perak kecil bergambar tetesan darah—tanda bahwa ia kini telah resmi menjadi budak dari sang Sovereign.

Arkan menatap ke luar jendela. Langit tampak sangat cerah. Namun ia tahu, di dimensi pusat Abyss, 'The Great One' telah menyadari hilangnya tiga jenderalnya.

"Bermain sekolah-sekolahan ini sepertinya akan segera berakhir," gumam Arkan pelan. "Julian, siapkan pasukan. Kita akan menyerang dimensi pusat bulan depan."

Malam merah baru saja akan dimulai, dan kali ini, seluruh alam semesta akan merasakannya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!