Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Surat yang tak pernah sampai
Sore itu, suasana di taman belakang sekolah terasa sangat sunyi. Hanya ada suara gesekan daun yang tertiup angin. Brian, Bara, dan Aluna berdiri membentuk lingkaran kecil, namun jarak di antara mereka terasa berkilo-kilo meter jauhnya.
Bara menarik napas panjang, lalu ia mengeluarkan sebuah amplop lusuh dari saku tasnya. Bukan gelang yang ia tunjukkan, melainkan sebuah surat lama yang permukaannya sudah agak menguning.
"Soal gelang itu, Brian... itu murni pemberian Aluna buat gue karena dia udah maafin gue.
Gue sempet kasar sama dia, dan dia kasih gelang itu sebagai tanda kalau kita udah baikkan sebagai teman. Nggak lebih," jelas Bara dengan suara rendah namun tegas.
"Terus, surat apa itu?" tanya Brian, matanya tertuju pada amplop di tangan Bara.
Bara menatap surat itu dengan tatapan pedih. "Ini surat yang harusnya gue kasih ke Aluna setahun lalu. Surat yang isinya perasaan gue yang sebenarnya sebelum lo dateng dan bilang kalau lo suka sama dia. Surat ini nggak pernah sampai ke tangan Aluna, karena gue milih buat jaga perasaan lo, Bri."
Aluna tertegun, menatap surat itu dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka bahwa selain gelang tanda maaf yang ia berikan, ada pengakuan cinta Bara yang terpendam begitu lama dalam bentuk tulisan.
"Jadi..." suara Brian bergetar. "Gelang itu tanda maaf, tapi surat itu bukti kalau kalian emang punya perasaan yang sama dari dulu?"
Bara mengangguk pelan. "Gue simpan surat ini buat ngingetin diri gue sendiri, kalau gue nggak boleh egois. Tapi soal gelang yang lo temuin semalam, Aluna kasih itu tulus supaya hubungan kita bertiga nggak retak karena sikap kasar gue tempo hari. Gue nggak nyangka benda itu malah bikin lo curiga sehebat ini."
Aluna menatap Brian dengan mata berkaca-kaca. "Bri, tolong percaya. Gelang itu cuma biar aku dan Bara nggak berantem lagi. Aku nggak mau kamu kepikiran kalau aku sama Bara musuhan terus. Tapi aku nggak tahu kalau Bara masih nyimpen surat itu..."
Brian terdiam, ia melihat surat yang tak pernah terkirim itu dan gelang yang melingkar di tangan Aluna. Kebenaran ini terasa jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Ternyata, di balik permintaan maaf yang tulus lewat gelang itu, ada sejarah perasaan yang tak terselesaikan yang selama ini menghantui mereka bertiga.
Tangan Brian gemetar saat ia meraih amplop biru kusam itu dari tangan Bara. Ia menatap Aluna sejenak, yang kini hanya bisa menunduk sambil meremas ujung seragamnya. Pelan-pelan, Brian mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.
Matanya menyapu setiap baris tulisan tangan Bara yang rapi namun tampak ragu-dua coretan di sana-sini menunjukkan betapa sulitnya surat itu ditulis.
"Lun, mungkin ini terdengar konyol karena kita sudah bersama sejak kecil. Tapi setiap kali aku melihatmu, jantungku tidak pernah berdetak seperti kepada seorang sahabat. Aku mencintaimu, lebih dari yang bisa kau bayangkan..."
Brian berhenti membaca. Dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di taman itu mendadak hilang. Ia melipat kembali kertas itu dengan gerakan kaku.
"Jadi..." Brian bersuara, pecah dan parau. "Alasan kalian sering canggung, alasan Aluna kasih gelang itu sebagai tanda maaf karena lo sempat kasar... itu semua karena surat ini? Karena perasaan ini?"
"Bri," Aluna mendekat, air matanya jatuh. "Soal gelang itu, aku benar-benar cuma mau kita baikkan. Aku nggak mau kamu terbebani kalau aku dan Bara musuhan. Aku nggak tahu kalau Bara masih menyimpan perasaan itu lewat surat..."
Brian menoleh ke arah Bara yang sejak tadi mematung. "Kenapa lo nggak pernah kasih surat ini ke dia, Bar? Kenapa lo biarin gue masuk dan nembak Aluna kalau lo sendiri punya perasaan sedalam ini?"
Bara menarik napas berat, menatap langit yang semakin menggelap. "Karena hari itu, lo dateng ke gue dengan mata yang berbinar-binar, Bri. Lo bilang Aluna adalah semangat hidup lo. Sebagai sahabat, mana mungkin gue tega merampas satu-satunya alasan lo buat bahagia? Gue milih buat bakar perasaan gue sendiri, tapi ternyata gue gagal total. Gue malah jadi kasar ke Aluna karena gue terlalu sakit liat kalian. Dan gelang itu... Aluna kasih buat nenangin gue, bukan buat khianati lo."
Brian terdiam. Ia menatap gelang di tangan Aluna, lalu menatap surat di tangannya. Sebuah simbol permintaan maaf dan sebuah simbol cinta yang terkubur.
"Gue ngerasa jadi orang paling jahat di sini," bisik Brian lirih. "Gue ngerasa gue udah nyuri kebahagiaan kalian berdua tanpa gue sadari."
"Enggak, Bri! Jangan ngomong gitu!" Aluna memegang lengan Brian, mencoba meyakinkannya.
Tapi Brian menjauhkan tangannya pelan. Ia menatap kedua orang di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Satu tahun... kalian simpan ini selama satu tahun di belakang gue. Kalian berkorban, kalian bohong, kalian pura-pura... demi gue?"
Brian berdiri mematung, meremas surat itu hingga kertasnya sedikit lecek. Angin sore yang semakin dingin meniup rambutnya, namun ia tidak bergeming. Di depannya, Bara dan Aluna menunggu dengan kecemasan yang nyata. Keheningan di taman belakang sekolah itu terasa begitu mencekam, seolah alam pun ikut menahan napas menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Brian.
"Satu tahun," gumam Brian lagi, suaranya lebih tajam sekarang. "Kalian berdua terjebak dalam sandiwara ini selama satu tahun. Bara pura-pura jadi sahabat yang mendukung, dan kamu, Lun... kamu pura-pura semuanya baik-baik saja meski kamu tahu ada yang luka di antara kita bertiga."
"Bri, aku nggak bermaksud pura-pura. Perasaanku ke kamu itu nyata," Aluna mencoba membela diri, suaranya gemetar tertahan tangis.
Brian menggeleng pelan, senyum getir tersungging di bibirnya. "Nyata, Lun? Tapi nggak pernah utuh, kan? Karena separuh dari perhatian kamu selalu terbagi untuk memastikan Bara nggak terluka. Dan kamu, Bar... lo kasih gue kebahagiaan di atas penderitaan lo sendiri. Lo pikir gue bakal bangga punya cinta yang asalnya dari belas kasihan sahabat gue sendiri?"
Bara melangkah maju, wajahnya mengeras. "Ini bukan belas kasihan, Bri! Ini pengorbanan! Gue mau lo bahagia, itu tulus!"
"Tapi lo bikin gue jadi orang bodoh, Bar!" teriak Brian tiba-tiba, membuat Aluna tersentak. "Lo bikin gue jadi satu-satunya orang yang tertawa di saat dua orang yang paling gue sayang lagi nangis di dalam hati! Itu bukan persahabatan, Bar. Itu penghinaan!"
Brian menatap surat biru itu untuk terakhir kalinya, lalu menatap gelang di pergelangan tangan Aluna, gelang yang kini ia pahami sebagai simbol perdamaian yang dipaksakan.
Ia menarik napas panjang, sebuah keputusan besar mulai terbentuk di kepalanya, sebuah keputusan yang sangat berat namun ia rasa paling benar.
"Gue nggak bisa lanjutin ini," ucap Brian dengan nada yang mendadak dingin dan tenang.
Aluna tertegun, matanya membelalak. "Maksud kamu apa, Bri?"
"Kita selesai, Lun, Gue nggak mau jadi tembok yang berdiri di antara dua orang yang harusnya dari dulu udah bareng. Dan buat lo, Bar... gue butuh waktu."
" Gue nggak tahu apa gue masih bisa ngeliat lo sebagai sahabat yang sama setelah tahu lo nyimpen rahasia sebesar ini dari gue."
"Bri, jangan egois! Jangan hancurin semuanya cuma karena emosi!" seru Bara frustrasi.
"Bukan gue yang hancurin, Bar. Kalian udah hancurin ini sejak kalian milih buat berbohong," balas Brian. Ia menyerahkan kembali surat biru itu ke Bara, lalu menatap Aluna dengan tatapan perpisahan yang menyakitkan. "Ambil surat ini, Bar. Kasih ke Aluna dengan cara yang benar. Jangan sampai ada lagi yang tersakiti".
Tanpa menoleh lagi, Brian membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap langkahnya menyeret beban seluruh kenangan mereka. Aluna jatuh terduduk di bangku taman, tangisnya pecah sejadi-jadinya, sementara Bara hanya bisa berdiri terpaku, memegang surat yang kini terasa ribuan kali lebih berat dari sebelumnya.
Bersambung...........