NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:196.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Jam istirahat belum benar-benar ramai ketika Kaisar sudah berdiri di depan pintu ruangan Pak Rangga. Ia menarik napas dalam, lalu mengetuk.

“Masuk!”

Kaisar melangkah masuk dan menutup pintu pelan di belakangnya. Ruangan itu dingin, rapi, dan entah kenapa membuat dadanya terasa makin sempit.

“Duduk,” perintah Pak Rangga singkat.

Kaisar menurut dan membuka tas, mengeluarkan map skripsinya, lalu menyerahkannya dengan dua tangan.

“Ini, Pak.”

Pak Rangga menerima map itu, membukanya tanpa ekspresi. Baru beberapa lembar dibuka, alis pria itu sudah mengerut. Pulpen di tangannya langsung bergerak dengan cepat, dan kasar.

Coretan demi coretan muncul, belum sampai seperempat isi, hampir seluruh lembaran sudah penuh tinta merah.

Kaisar menelan ludah, tangannya yang bertumpu di atas paha perlahan mengepal. Pak Rangga menutup map itu dengan suara yang keras.

“Kamu serius mau lulus pakai ini?”

Kaisar diam.

“Struktur berantakan. Analisis dangkal, referensi lemah,” lanjut Rangga dingin. “Ini bukan skripsi, ini … sampah akademik.”

Kata itu menghantam keras.

Rahang Kaisar mengeras. Dadanya naik turun. Ia ingin membantah, ingin berdiri dan ingin mengatakan bahwa ia sudah begadang berhari-hari. Tapi bayangan Aksa dengan wajah marah, tangan terangkat dan muncul begitu saja.

'Tenang, Kai.' Bisiknya dalam hati.

Pak Rangga mendengus, lalu tiba-tiba melempar map itu ke arah Kaisar. Map itu mengenai dadanya sebelum jatuh ke pangkuannya.

“Kamu tersinggung?” tanya Rangga sinis.

“Kalau nggak terima, gampang. Jangan perbaiki, tinggal satu semester lagi. Nggak usah lulus tahun ini.”

Detik itu juga, kesabaran Kaisar berada di ujung tanduk. Tangannya gemetar saat mengambil map skripsinya, dan lalu ia berdiri.

“Terima kasih masukannya, Pak,” ucapnya kaku, suaranya tertahan rapi. “Saya perbaiki.”

Rangga menatapnya tajam. “Pastikan kali ini layak dibaca.”

Kaisar mengangguk singkat.

“Permisi.” Ia berbalik dan keluar tanpa menunggu jawaban.

Begitu pintu tertutup, Kaisar berhenti di lorong. Napasnya berat, jemarinya meremas map itu kuat-kuat, sampai ujung kertasnya tertekuk.

“Sial!” Teriakan Kaisar menggema di koridor, memantul di dinding-dinding kampus yang biasanya sunyi di jam itu. Beberapa mahasiswa yang baru keluar kelas langsung menoleh. Ada yang berhenti melangkah, ada yang refleks menelan ludah, sebagian lain menunduk pura-pura sibuk dengan ponsel.

Tatapan-tatapan itu menempel di punggung Kaisar.

Kaisar berhenti mendadak, berbalik, matanya menyapu mereka satu per satu.

“Apa lihat-lihat?” bentaknya kasar.

Tak ada yang menjawab, beberapa mahasiswa langsung memalingkan wajah, ada yang buru-buru berjalan menjauh. Aura Kaisar hari itu terlalu gelap untuk dihadapi.

Di ujung koridor, dekat arena basket, terlihat Bima, Sakti, dan Alex sedang duduk di pinggir lapangan. Mereka sempat melirik, mata mereka bertemu sepersekian detik dengan Kaisar.

Biasanya Kaisar akan menghampiri. Tapi kali ini, ia bahkan tak memperlambat langkah.

Map skripsi terjepit di tangannya, kusut dan penuh coretan merah. Kaisar melewati arena basket begitu saja, meninggalkan suara pantulan bola dan bisik-bisik di belakangnya.

Tak satu pun dari mereka memangil, Kaisar pun tak menoleh lagi, berjalan menjauh dari koridor kampus dengan dada bergemuruh dan lebih panas dari matahari siang itu.

Sore itu rumah terasa sunyi, hanya suara langkah Kaisar yang berat saat masuk. Tasnya dilempar sembarang ke sofa, sepatu bahkan tak dilepas dengan benar. Wajahnya kusut, dengan wajah menahan amarah.

Shelina yang baru keluar dari dapur menoleh. Celemek masih melingkar di pinggangnya.

“Kai,” panggilnya pelan. “Mandi dulu, habis itu turun untuk makan, aku masak hari ini.”

Kaisar tak menjawab, dia berjalan menuju tangga, tapi berhenti di anak tangga pertama.

“Aku nggak mood makan,” katanya singkat, dingin. Shelina menghela napas, berusaha tetap tenang. Ia mendekat beberapa langkah.

“Kamu belum makan dari pagi, mungkin di kampus juga, jangan keras kepala.”

“Aku capek, Shel,” potong Kaisar, suaranya mulai meninggi.

“Jangan mulai.”

Shelina terdiam sesaat. Tatapannya melembut, tapi suaranya justru tegas.

“Kai, kamu sendiri yang janji mau berubah. Kamu bilang mau mulai dari awal.” Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke api.

Kaisar berbalik cepat, matanya merah, bukan karena menangis tetapi karena marah.

“Berubah?!” bentaknya. “Kamu pikir gampang, hah?! Hidup gue berantakan, skripsi gue kacau, motor gue disita, dan sekarang kamu ceramahin gue soal janji?!”

Shelina tersentak, tapi tetap berdiri di tempatnya.

“Aku cuma—”

“Cukup!” Kaisar melangkah mendekat. “Kamu nggak tahu apa-apa, Shelina! Jangan sok paling ngerti hidup gue!”

Nada suaranya tajam, menghantam tanpa ampun. Dada Shelina naik turun, matanya mulai berkaca.

“Aku cuma peduli sama kamu,” ucapnya lirih. “Aku di sini bukan buat nyerang kamu.”

“Peduli?” Kaisar tertawa pendek, sinis. “Kalau kamu peduli, jangan paksa gue jadi orang lain!”

Hening jatuh di antara mereka. Bau masakan dari dapur terasa asing sekarang meskipun dia hangat tapi menyakitkan. Shelina menggenggam ujung bajunya, suaranya bergetar.

“Aku nggak minta kamu jadi orang lain, Kai. Aku cuma minta kamu jadi versi yang lebih baik … buat diri kamu sendiri.”

“Gue mau ke kamar,” katanya dingin. “Jangan ganggu.”

Ia berbalik, meninggalkan Shelina berdiri sendiri di ruang makan, di depan meja yang sudah tertata rapi dengan dua piring, dua gelas, dan harapan yang perlahan retak.

1
Aji Priatun
suka
Raisha
maaf Thor,aku kok agak bingung sama kalimatnya ya, yg nyetir kan kaisar tp kok kalimatnya aneh gitu?🤔..."tangan kiri tetap memegang stir tp tangan kanan tak pernah benar² melepaskan jemari selina",gitu kan ya? emang bisa tangan kanan pegang tangan orang yg duduk di sebelah kirinya,apa gak susah nyetirnya? kalo setir mobilnya sebelah kiri,lha itu baru bisa & masuk akal...Maaf ya,kalo aku salah
Raisha: terimakasih kak author🙏😃
total 2 replies
Nani Te'ne
suka
Nanik Arifin
sampai end Arman g keluar kata maaf tuk Kaisar & menjelaskan semuanya ?
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
Eka
tjor lel.aska lanjit tjor ku tunggu jangan lama2
Aisyah Alfatih: udah tamat ya kak 🙏 Aksa nikah di novel sebelah di eps terakhir 🙏
total 1 replies
nuraeinieni
happy ending,,,,trimakasih thor,karyanya bagus,,,di tunggu karya barunya.
nuraeinieni
syukurlah ibu dan bayinya selamat,,,selamat kai,shel sekarang sdh jadi orang tua
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cepat banget tamatnya, sist? aksa aja belum nikah.
Aisyah Alfatih: nikah di sebelah kak, 🤭🙏 udah aku bagi info...
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah bahagia semuanya
Naufal Affiq
semua karya kakak tamat
Aisyah Alfatih: tgl 3 rilis karya baru ya kak 🙏
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah selamat
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
tidak sepenuhnya tamat kan, sist?
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah... semua selamat
SLina
thor bonchap dong 😊
Aisyah Alfatih: nanti di pikirkan ya kak, ini masih bingung 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
alhamdulilah semuanya sudah berdamai dan bahagia, makasih thor sudah melanjutkan cerita ini sampe tamat, sehat selalu untuk othornya di tunggu novel selanjutnya
Fenty: g chapter ni Thor?
aksa kan belum nikah
total 3 replies
Teh Euis Tea
duh sampe deg degan aku bacanya takut shelina ga ada umur, syukurlah selamat 22nya
Nanik Arifin
klo Aksa yg salah besar aj bisa minta maaf, apa kau masih dg egomu, Arman ?
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara
Nanik Arifin
emang murni itu Ken ego kamu, Man. Aksa hanya berusaha membuat Kaisar bertindak terkendali & dewasa. atau... itu titipan pesanmu, Man... kebencian yg dibungkus kearifan & kepatuhan Aksa membuatnya berpikir itu usahamu merendahkan Kaisar darah dagingmu. Krn bungkusmu tll rapi, Aksa pikir itu logis. Ayah yg ingin mendidik anaknya mjd lebih baik
SLina
lanjutannya mana thor?
Aisyah Alfatih: udah update ya kak, udah tamat di bab 56🙏
total 1 replies
SLina
ipar y sgt keren.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!