NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Xie Ting

Di dalam aula perdagangan yang megah itu, suasana yang semula riuh oleh transaksi dan tawar-menawar perlahan berubah menjadi tegang dan membeku. Udara seakan menahan napas ketika percikan permusuhan antara dua keluarga besar di Kota Qingyang kembali menyala.

Lin Shan berlari tergesa-gesa di antara lorong-lorong paviliun yang luas, napasnya memburu, wajahnya memerah oleh amarah dan kecemasan. Di belakangnya, Lin Zhantian dan Qing Tan mengikuti dengan langkah cepat. Suasana di sekitar mereka terasa semakin berat, seolah-olah badai tengah menggumpal di langit yang tak kasatmata.

“Kami sebenarnya hanya berjalan-jalan melihat-lihat,” tutur Lin Shan dengan suara tertahan amarah, menjelaskan apa yang baru saja terjadi. “Namun kami bertemu dengan bajingan-bajingan dari Keluarga Xie. Kak Lin Xia hendak membeli sesuatu, tetapi mereka sengaja membuat keributan. Kak Lin Xia tidak tahan dan akhirnya bertindak…”

Ia mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Yang memimpin adalah Xie Ting, perempuan busuk itu! Ia adik dari Xie Yingying. Sekarang kekuatannya telah mencapai Tingkat Ketujuh Penempaan Tubuh. Mereka juga lebih banyak jumlahnya… Dalam kekacauan tadi, Kak Lin Xia ditampar olehnya!”

Langkah Lin Zhantian sedikit melambat, alisnya mengernyit tipis. Sorot matanya yang semula tenang kini berkilat dingin bagai pedang yang terhunus di balik selubung. Ia tidak menyukai keributan tanpa alasan, tetapi ia lebih membenci penghinaan yang disengaja.

Keluarga Xie memang semakin bertindak semena-mena. Menampar seorang gadis di depan umum bukan hanya soal kekuatan—itu adalah penghinaan terang-terangan, tamparan terhadap harga diri seluruh Keluarga Lin.

Qing Tan di sampingnya juga menggembungkan pipinya kesal. “Orang-orang Keluarga Xie memang menyebalkan. Bagaimanapun, kita adalah satu keluarga. Kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja.”

Lin Zhantian mengangguk perlahan. “Percepat langkah.”

Ketiganya berlari semakin dalam menuju jantung paviliun perdagangan itu.

---

Di bagian terdalam bangunan, terbentang sebuah lapangan kecil beralas batu pecah. Di sekelilingnya berdiri deretan toko yang menjual berbagai barang berharga: ramuan spiritual yang harum, senjata berkilau, zirah baja, gulungan seni bela diri, hingga inti iblis yang memancarkan aura samar.

Wilayah ini merupakan area kelas atas dalam pasar perdagangan. Mereka yang dapat masuk ke sini umumnya memiliki status tertentu di Kota Qingyang. Namun kini, perhatian seluruh pengunjung terpusat pada dua kelompok remaja yang saling berhadapan dengan tatapan penuh bara.

Atmosfer di antara mereka tajam seperti bilah pedang yang saling bersilang.

Keluarga Xie dan Keluarga Lin adalah dua kekuatan besar. Semua orang tahu hubungan keduanya dipenuhi persaingan dan tekanan terselubung, terutama karena aliansi Keluarga Xie dengan pihak lain yang tidak bersahabat terhadap Keluarga Lin. Maka, menyaksikan generasi muda mereka berhadapan seperti ini bukanlah kejutan—namun tetap saja menarik perhatian.

Di sisi Keluarga Xie, berdiri seorang gadis tinggi berbusana mewah. Wajahnya putih bersih dengan garis rahang tegas dan mata yang menyiratkan kesombongan. Bibirnya yang tipis melengkung dalam senyum sinis.

Dialah Xie Ting.

“Lin Xia, serahkan kalung kristal rubah itu padaku,” ucapnya ringan namun sarat ancaman. “Jika tidak, hari ini kalian tidak akan bisa pergi.”

Di hadapannya, Lin Xia berdiri dengan punggung tegak. Di pipinya masih tampak bekas merah samar—jejak penghinaan yang belum lama terjadi. Tatapannya dingin, namun di balik itu berkobar api yang tak mau padam.

“Serahkan padamu?” ia mencibir.

Tanpa ragu, Lin Xia menarik paksa kalung putih di tangannya hingga terputus. Manik-manik kecil itu berhamburan ke tanah berbatu, berkilau sesaat sebelum menjadi sekadar serpihan tak berarti.

Ia tahu benar bahwa benda itu hanyalah aksesori biasa. Dengan status Xie Ting, mustahil ia benar-benar menginginkannya. Semua ini hanyalah dalih untuk mencari masalah.

Dan benar saja—Xie Ting hanya mengangkat alisnya tipis. “Watakmu keras juga,” katanya dengan nada mengejek. “Hari ini, tampaknya kau memang ingin menentangku.”

“Xie Ting, jangan keterlaluan!” seru Lin Hong di samping Lin Xia. Ia tampak sedikit terengah, jelas baru saja terlibat bentrokan.

“Keterlaluan?” Xie Ting tertawa kecil, dingin seperti es. “Apa yang bisa kalian lakukan jika aku keterlaluan? Jika bukan karena kemurahan hati Keluarga Xie, Keluarga Lin kalian mungkin sudah lama tersingkir dari Kota Qingyang.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk harga diri.

Seorang pemuda berbaju kuning di sampingnya tertawa kasar. “Kenapa tidak langsung saja kita beri mereka pelajaran? Biar setelah ini, setiap kali melihat orang Keluarga Xie, mereka tahu harus menghindar.”

Yang lain mengangguk setuju. Dari posisi berdiri mereka, jelas terlihat bahwa selain Xie Ting, dua pemuda itu juga telah mencapai Tingkat Ketujuh Penempaan Tubuh.

Wajah Lin Hong menggelap. Di pihak mereka, hanya ia dan Lin Xia yang berada di tingkat ketujuh. Jika pertarungan pecah, dua melawan tiga—mereka jelas akan dirugikan.

Xie Ting mengangguk perlahan, sorot matanya seperti iblis kecil yang menemukan permainan baru. “Baiklah. Sedikit pelajaran tidak ada salahnya. Supaya semua orang tahu—status Keluarga Xie bukan sesuatu yang bisa dibandingkan oleh keluarga pendatang.”

“Serang!”

Begitu perintah itu meluncur, tubuh Xie Ting dan dua rekannya memancarkan kilau samar kekuatan. Mereka menghentakkan kaki ke tanah, melesat ke depan bagai panah yang dilepaskan dari busurnya.

Sementara itu, anggota Keluarga Xie lainnya bergerak menahan para pemuda Keluarga Lin agar tak bisa membantu.

Lin Xia dan Lin Hong mengencangkan rahang mereka. Gelombang tekanan mendekat dengan cepat.

Namun tepat saat Xie Ting dan dua pemuda itu hampir mencapai jarak serang—

“Wusss!”

Suara angin terbelah menggema dari samping.

Tiga batu melesat cepat, menghantam pilar batu di dekat mereka dengan suara dentuman berat. Pecahan kecil berhamburan, membuat Xie Ting dan yang lain terpaksa menghentikan langkah dan melompat menghindar.

“Siapa itu?!” seru Xie Ting dengan alis berkerut.

Tatapan mereka beralih ke arah datangnya serangan.

Tiga sosok berlari mendekat.

Yang berada paling depan—adalah Lin Shan, yang sebelumnya dipukul mundur dengan memalukan.

Namun di belakangnya—

Sosok pemuda dengan langkah tenang, mata jernih namun dalam, aura terkendali yang tak dapat diremehkan.

“Lin Zhantian!”

Seruan itu terdengar serempak dari kedua kubu.

Lin Xia yang semula tegang, matanya seketika berbinar. Meski ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, ada rasa lega yang mengalir di hatinya.

Lin Zhantian melangkah masuk ke tengah lapangan dengan sikap tenang. Tatapannya menyapu seluruh situasi dalam satu kilasan. Bekas merah di pipi Lin Xia tidak luput dari pengamatannya.

Di balik ketenangan wajahnya, ada sesuatu yang bergetar.

Itu bukan kemarahan yang meledak-ledak.

Melainkan kemarahan yang terkendali—dingin, dalam, dan berbahaya.

Ia menoleh sedikit pada Lin Xia. “Kau baik-baik saja?”

Lin Xia terdiam sesaat, lalu mengangguk ringan. “Hanya tamparan kecil.”

Tamparan kecil.

Namun bagi Lin Zhantian, itu adalah noda pada kehormatan keluarga.

Xie Ting menatapnya dari atas ke bawah, bibirnya melengkung sinis. “Oh? Bukankah ini Lin Zhantian yang belakangan cukup terkenal di Keluarga Lin? Apa kau datang untuk pahlawan menyelamatkan kecantikan?”

Suasana di sekitar mereka semakin tegang. Banyak orang mulai berbisik-bisik. Nama Lin Zhantian memang mulai terdengar di Kota Qingyang karena kemajuannya yang cepat.

Lin Zhantian tidak terpancing oleh ejekan itu. Ia hanya memandang Xie Ting dengan tatapan datar.

“Siapa yang menamparnya?” tanyanya pelan.

Nada suaranya tidak keras. Namun anehnya, suara itu menembus kebisingan dan terdengar jelas di telinga semua orang.

Xie Ting tersenyum miring. “Aku. Lalu?”

Keheningan turun sejenak.

Angin tipis berembus di lapangan batu itu, menggerakkan ujung pakaian Lin Zhantian.

Ia menatap Xie Ting tanpa berkedip.

“Kalau begitu,” ujarnya perlahan, setiap kata jatuh seperti batu ke dalam sumur dalam, “tamparan itu—aku yang akan membalasnya.”

Seketika, udara di sekelilingnya berubah.

Meski ia belum bergerak, aura yang terpancar darinya membuat beberapa penonton tanpa sadar menelan ludah.

Konflik yang semula sekadar bentrokan remaja kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Bukan lagi soal kalung kristal rubah.

Bukan lagi soal ejekan.

Melainkan soal harga diri.

Dan di bawah langit Kota Qingyang yang luas, badai kecil tengah bersiap mengguncang generasi muda dua keluarga besar.

Begitu Lin Xia dan Lin Hong melihat sosok yang berjalan di belakang Lin Shan, keduanya seketika berseru tertahan. Raut tegang di wajah mereka berubah menjadi kejutan, lalu menjelma kegembiraan yang sulit disembunyikan.

“Lin Zhantian!”

Nama itu meluncur dari bibir mereka hampir bersamaan, seakan-akan sekeping harapan yang dilemparkan ke tengah badai.

Lin Zhantian melangkah masuk ke dalam lingkaran kerumunan dengan tenang, Qing Tan dan Lin Shan mengikuti di belakangnya. Langkahnya tidak tergesa, tetapi setiap pijakan terasa mantap, seperti gunung yang bergeser perlahan namun tak tergoyahkan. Tatapannya menyapu situasi dengan cepat, lalu berhenti pada Lin Xia.

“Tidak apa-apa?” tanyanya ringan.

Nada suaranya tidak tinggi, bahkan terdengar biasa saja. Namun di balik ketenangan itu, tersembunyi arus dingin yang mengalir perlahan.

Ketika pandangannya jatuh pada bekas merah samar di pipi Lin Xia, alisnya yang tenang pun perlahan berkerut. Bekas itu tidak mencolok, tetapi cukup jelas bagi mata yang memperhatikan.

Sementara itu, di sisi lain, Xie Ting juga memusatkan perhatiannya pada pemuda yang baru datang itu. Sorot matanya menelusuri tubuh Lin Zhantian dari atas ke bawah, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Lin Zhantian? Jadi kau inilah yang belakangan tiba-tiba melonjak namanya di Keluarga Lin?” ujarnya dengan nada mengejek.

Lin Zhantian tidak langsung menjawab. Bahkan, sejak ia melangkah masuk ke lapangan batu itu, ia belum sekali pun menatap wajah Xie Ting secara langsung. Seolah-olah gadis tinggi dengan pakaian mewah itu hanyalah angin lalu yang tak layak diperhatikan.

Sikap tersebut jelas menyalakan bara amarah di hati Xie Ting.

Di Kota Qingyang, sebagai adik Xie Yingying dan salah satu bakat muda Keluarga Xie, ia selalu menjadi pusat perhatian. Tatapan kagum, bisikan hormat, bahkan rasa takut—semua itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Namun kini, ia diperlakukan seperti udara kosong.

Lin Xia, setelah rasa senangnya mereda, justru menunjukkan kekhawatiran. “Kenapa kau di sini?” tanyanya pelan. “Meskipun kau datang, kekuatan kita hanya seimbang. Mereka punya tiga orang di Tingkat Ketujuh.”

Lin Zhantian tersenyum tipis. “Aku hanya datang berjalan-jalan dan kebetulan bertemu Lin Shan.”

Jawabannya sederhana. Tetap saja, ia tidak menoleh sedikit pun pada Xie Ting, apalagi menjawab pertanyaan gadis itu.

Wajah Xie Ting mengeras. Tepat saat amarahnya hendak meluap, seorang pemuda di sampingnya membisikkan sesuatu di telinganya.

Mendengar bisikan itu, Xie Ting mendengus pelan, lalu tersenyum dingin.

“Ah, kupikir siapa,” katanya lantang. “Ternyata hanya putra Lin Xiao—si mantan jenius yang berubah menjadi sampah itu.”

Ucapan itu seperti kilat yang membelah udara.

Dalam sekejap, tubuh Lin Zhantian yang semula santai terlihat sedikit berhenti. Gerakannya terhenti sepersekian detik—cukup lama untuk disadari oleh mereka yang memperhatikan.

Nama ayahnya.

Nama itu adalah luka lama yang belum sepenuhnya sembuh di hati banyak orang Keluarga Lin. Lin Xiao, dahulu jenius yang disegani, kini menjadi simbol kejatuhan.

Dan Xie Ting baru saja mengungkitnya dengan nada penghinaan.

Perlahan, Lin Zhantian berbalik.

Untuk pertama kalinya sejak ia tiba, tatapannya benar-benar tertuju pada wajah Xie Ting.

Namun yang muncul di wajahnya bukanlah kemarahan yang meledak.

Ia justru tersenyum.

Senyum itu tipis, nyaris lembut. Tetapi di kedalaman matanya, kilatan dingin muncul seperti pedang yang baru diasah.

Ia mulai melangkah mendekat.

“Berhati-hatilah!” seru Lin Xia cemas. “Mereka punya tiga orang Tingkat Ketujuh!”

Sementara itu, pemuda berbaju kuning yang tadi mengejek mendengus dingin. “Biarkan aku mencoba,” katanya. “Aku ingin melihat seberapa hebat ‘jenius baru’ Keluarga Lin ini.”

Ia melangkah maju dengan cepat. Kekuatan dalam tubuhnya berputar, cahaya samar berkumpul di telapak tangannya. Otot-ototnya menegang, napasnya mengatur ritme serangan.

Ia menghentakkan kaki dan melesat menuju Lin Zhantian.

Kerumunan di sekitar menahan napas.

Namun—

“Bam!”

Suara benturan rendah menggema.

Segalanya terjadi terlalu cepat.

Sosok yang baru saja melesat penuh percaya diri itu tiba-tiba terlempar ke belakang seperti layang-layang putus tali. Tubuhnya berputar di udara sebelum jatuh menghantam tanah dengan keras dan berguling beberapa kali.

Debu beterbangan.

Pemuda berbaju kuning itu terbaring dalam keadaan kacau, wajahnya pucat, napasnya tercekat.

Kerumunan terdiam.

Bahkan Xie Ting dan anggota Keluarga Xie lainnya membelalakkan mata.

Yang baru saja terjadi begitu cepat hingga sulit dipahami. Banyak orang bahkan tidak melihat dengan jelas bagaimana Lin Zhantian bergerak.

Hanya satu hal yang pasti—

Ia hanya mengayunkan satu tamparan.

“Xie Zhen!” seru seseorang dari pihak Keluarga Xie.

Wajah Xie Ting berubah drastis.

Seorang lagi pemuda Tingkat Ketujuh yang berdiri di sampingnya menggertakkan gigi. “Berani memukul orang Keluarga Xie? Kau mencari mati!”

Tanpa mau kalah, ia pun menyerbu.

Namun hasilnya tak berbeda.

Satu langkah.

Satu ayunan tangan.

“Bam!”

Ia pun terhempas, jatuh dengan lebih mengenaskan daripada rekannya.

Kini, suara tarikan napas terdengar dari segala arah.

Jika yang pertama bisa disebut kebetulan, yang kedua jelas bukan.

Tatapan orang-orang yang menyaksikan mulai berubah. Dari meremehkan menjadi kagum—bahkan waspada.

Lin Xia dan Lin Hong menatap punggung Lin Zhantian dengan wajah tercengang.

“Mudah sekali…” gumam Lin Hong.

Lin Xia merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia bukan orang bodoh. Mengalahkan praktisi Tingkat Ketujuh dengan satu tamparan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sesama tingkat.

Itu hanya mungkin jika—

“Tingkat Kedelapan…” bisiknya pelan.

Benar.

Hanya dengan melangkah ke Tingkat Kedelapan Penempaan Tubuh seseorang dapat memiliki perbedaan kekuatan sedemikian besar.

Di hadapan semua orang, Lin Zhantian berdiri dengan tenang, seakan baru saja mengusir dua lalat yang mengganggu.

Ia melangkah mendekati Xie Ting.

Wajah gadis itu yang semula angkuh kini memucat. Namun ia tetap mengangkat dagu, memaksakan ketegaran.

“Kau… kau mau apa?” katanya, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menyembunyikannya. “Kakakku ada di sini! Kalau tak ingin dihajar, cepat bawa orang-orangmu dan pergi!”

Ia masih tidak percaya Lin Zhantian akan berani menyentuhnya.

Bagaimanapun, ia adalah adik Xie Yingying.

Namun Lin Zhantian hanya menatap wajahnya yang putih dengan ekspresi datar.

Dalam sorot matanya, dingin yang tadinya tersembunyi kini tampak jelas.

Ia tersenyum.

Senyum yang membuat bulu kuduk meremang.

Tangannya perlahan terangkat.

Gerakan itu sederhana.

Namun di tengah keheningan yang mencekam, setiap orang bisa merasakan tekanan tak kasatmata menyelimuti lapangan batu itu.

“Berhenti!”

Tiba-tiba, suara perempuan yang nyaring dan tegas menggema dari kejauhan.

Bersamaan dengan itu, hembusan angin tajam melesat ke arah Lin Zhantian—jelas merupakan serangan untuk menghentikannya.

Tatapan Lin Zhantian menggelap.

Namun tangannya tidak berhenti.

“Plak!”

Suara tamparan yang keras dan jelas menggema, menampar keheningan hingga pecah berkeping-keping.

Di hadapan puluhan pasang mata yang membelalak tak percaya, telapak tangan Lin Zhantian mendarat tepat di pipi Xie Ting.

Kepala gadis itu terhentak ke samping, rambutnya berayun liar. Jejak merah seketika muncul di wajah putihnya.

Lapangan itu sunyi.

Tak seorang pun bersuara.

Bahkan angin pun seolah berhenti berembus.

Ia benar-benar menamparnya.

Bukan sekadar membalas penghinaan pada Lin Xia.

Bukan sekadar mempertahankan harga diri.

Melainkan menyatakan kepada seluruh Kota Qingyang—

Bahwa generasi muda Keluarga Lin tidak lagi akan tunduk.

Dan di tengah keheningan yang mengguncang itu, bayangan badai yang lebih besar mulai menggelayut di cakrawala.

1
alex kawun
jangan gitu lah thor demi u memenuhi target tulisan & chapter harus nulis ber ulang2 poin yg sama
mbosenin thor
Eko
ayoooo tambah kuat
Eko
alur cerita yang bagus
Joe Maggot Curvanord
lin dong
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
Dian Pravita Sari
liat ajakl gak tamat lagi faj gak guns ada komentar gak ada tindak lanjut dah sangat kecewa duanya cerita gak da yg tamatrenjijikkam pengarangnya hy mikir duit tp nol tanggung jawab alur cerita dan penyelesaian cerita gak bermutu blas
gak
REY ASMODEUS
up 10 eps
Jullsr red: okee bossskuuu
total 1 replies
REY ASMODEUS
lnjut
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!