"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI
Dua bulan setelah penangkapan Salma, kehidupan mulai kembali normal. Kirana sekarang sudah tujuh bulan bisa duduk sendiri, mulai merangkak, tertawa riang setiap melihat wajah Dara. Bayinya tumbuh sehat, jauh dari bayi prematur kecil yang dulu.
Sidang Salma berjalan cepat dengan semua bukti yang ada, jaksa yakin akan mendapat hukuman maksimal. Seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.
Lenna sudah pulih dan kembali bekerja, kali ini di klinik kecil sebagai resepsionis. Dia masih menjaga jarak dengan Dara, tapi sesekali mengirim foto dirinya bekerja, seperti membuktikan dia benar-benar berubah.
Tapi Dara tidak bisa sepenuhnya tenang. Ada yang mengganggu.
Mimpi...
Setiap malam, hampir setiap malam Dara bermimpi aneh.
Dia berjalan di koridor panjang. Di ujung koridor, ada cermin besar. Dan di cermin itu, bukan pantulan Dara.
Tapi Kiara.
Kiara yang asli dengan wajah lembut, mata sedih. "Terima kasih sudah jaga dia," bisik Kiara dalam mimpi. "Terima kasih sudah jadi ibu yang baik untuk Kirana."
"Kamu... kamu masih ada?" tanya Dara dalam mimpi.
"Aku selalu ada. Di sini. Bersamamu." Kiara tersenyum. "Kita berbagi, ingat? Tubuh ini milik kita berdua sekarang."
"Apa kamu mau tubuhmu kembali?"
"Tidak." Kiara menggeleng. "Kamu lebih kuat dariku. Kamu bisa lindungi Kirana lebih baik. Aku cuma... aku cuma mau kamu tahu, aku bersyukur. Aku bersyukur kamu yang datang."
Dara selalu terbangun dari mimpi itu dengan air mata di pipi.
Dan pertanyaan yang sama: Apa Kiara benar-benar masih ada? Atau itu hanya rasa bersalahku yang membentuk mimpi?
Pagi itu, Dara sedang menyuapi Kirana bubur bayi ketika Regan datang dengan wajah serius.
"Kak, ada yang harus Kakak tahu."
"Ada apa?"
"Salma... dia meninggal semalam."
Sendok di tangan Dara jatuh.
"Apa?"
"Bunuh diri. Dia gantung diri di selnya menggunakan seprai." Regan meletakkan laporan polisi di meja. "Sipir menemukan dia pagi ini. Sudah tidak bernapas."
Dara menatap laporan itu, tapi tidak membacanya. Pikirannya kosong.
Salma mati.
Pengkhianat yang membunuhku. Yang mengeksperimen padaku. Yang mencoba bunuh aku lagi.
Sekarang mati.
"Kakak... Kakak baik-baik saja?" tanya Regan hati-hati.
"Aku..." Dara berhenti. Apa aku merasa apa? "Aku tidak tahu."
Bukan senang. Bukan sedih. Hanya merasa hati kosong...
"Polisi bilang dia meninggalkan surat. Untuk Kakak."
Regan menyodorkan amplop. Tulisan tangan Salma rapi, familiar.
Dara membukanya dengan tangan gemetar.
Dara,
Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah pergi. Bukan karena aku takut hukuman, tapi karena aku tidak bisa hidup dengan kegagalan.
Selama ini, aku percaya aku jenius. Aku percaya aku bisa mengalahkan kematian. Tapi kamu membuktikan... aku bukan jenius. Aku cuma ilmuwan arogan yang membunuh dua puluh tiga orang untuk ego.
Kamu bertanya dulu apa aku yang menyebabkan reinkarnasi kamu? Jawabannya: aku tidak tahu. Aku melakukan ritual. Aku mencoba memfasilitasi perpindahan jiwa. Tapi apakah itu yang benar-benar terjadi? Atau kamu cuma kebetulan reinkarnasi saat aku kebetulan ada di sana?
Aku tidak akan pernah tahu. Dan itu yang membunuhku... bukan hukuman, bukan penjara. Tapi ketidaktahuan.
Aku minta maaf. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku minta maaf. Untuk membunuhmu. Untuk eksperimen gila. Untuk semua rasa sakit yang aku sebabkan.
Tapi aku tidak menyesal melakukannya. Karena meski dengan cara yang salah, aku membuktikan sesuatu yang mustahil itu mungkin. Dan kamu adalah buktinya.
Jaga dirimu. Jaga Kirana. Dan ingatlah kamu bukan cuma Dara. Kamu bukan cuma Kiara. Kamu adalah gabungan keduanya. Dan itu yang membuatmu luar biasa.
Selamat tinggal, sahabatku. Atau mantan sahabatku. Atau apapun kita sekarang.
- Salma
Dara meletakkan surat itu, tangannya gemetar.
"Dia minta maaf," bisik Dara. "Untuk pertama kalinya, dia minta maaf."
"Tapi dia tidak menyesal," tambah Regan yang sudah membaca suratnya juga.
"Tidak. Dia tidak menyesal." Dara menatap keluar jendela. "Dia tetap percaya dia benar. Sampai akhir."
"Kakak mau ke pemakamannya?"
Dara terdiam lama.
Bagian Dara yang pernah berteman dengan Salma, bagian yang ingat mereka berdua sebagai mahasiswa kedokteran yang berjuang bersama... ingin pergi. Tapi bagian yang lebih besar... bagian yang dikhianati, yang hampir dibunuh berkali-kali... tidak mau.
"Tidak," katanya akhirnya. "Salma sudah mati untukku sejak dia meracunku di kehidupan lama. Aku tidak perlu ke pemakamannya untuk menutup itu."
Regan mengangguk mengerti.
Tapi malam itu... mimpinya berubah. Bukan lagi Kiara di cermin.
Tapi Salma.
Salma berdiri di ujung koridor yang sama, tapi kali ini dia terlihat lebih muda, lebih segar. Seperti Salma saat mereka masih kuliah bersama.
"Hai, Dara," sapanya dengan senyum yang dulu hangat.
"Kenapa kamu ada di mimpiku?" tanya Dara.
"Karena kita terikat. Mau tidak mau... aku yang membunuhmu, dan mungkin aku yang memberimu kehidupan kedua. Kita terikat selamanya."
"Aku tidak mau terikat denganmu."
"Sayangnya kamu tidak punya pilihan." Salma melangkah mendekat. "Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan ganggu lagi. Aku cuma mau bilang... terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena kamu membuktikan aku tidak sepenuhnya salah. Reinkarnasi mungkin. Jiwa bisa pindah. Dan itu meski dengan cara yang salah, adalah penemuan terbesarku."
"Kamu masih arogan bahkan setelah mati."
"Tentu saja. Itu aku." Salma tersenyum. "Selamat tinggal, Dara. Atau Kiara. Atau siapapun kamu sekarang. Semoga kehidupan keduamu lebih baik dari yang pertama."
Dia berbalik... berjalan menjauh, menghilang dalam kabut. Dan Dara terbangun dengan perasaan aneh.
Bukan lega. Bukan sedih.
Tapi penutupan.
Salma sudah pergi. Benar-benar pergi. Dan Dara bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang itu lagi.
Pagi itu, saat Dara menyusui Kirana, ada ketukan di pintu. Arkan membukakan dan di sana berdiri Lenna.
"Permisi aku tahu ini tiba-tiba, tapi aku dengar tentang Salma. Dan aku mau..." Lenna terlihat tidak nyaman, "...aku mau pastikan Kak Kiara baik-baik saja."
Dara menatapnya dari sofa dengan Kirana di pelukan.
"Kenapa kamu peduli?"
"Karena meski aku benci mengakuinya, kita sama-sama korban Salma. Dengan cara yang berbeda. Tapi tetap korban."
Dara mengangguk perlahan. "Masuk. Tapi tidak lama."
Lenna masuk duduk di ujung sofa, menjaga jarak.
"Aku... aku mau bilang, aku turut berduka. Meski Salma jahat, dia tetap..."
"Dia bukan apa-apa untukku lagi," potong Dara. "Dia sudah mati sejak lama bagiku."
Lenna mengangguk. "Aku mengerti."
Hening.
Kemudian Lenna bertanya pelan, "Kakak memaafkan aku suatu hari nanti?"
Dara menatapnya lama.
Lenna yang dulu mencoba membunuh anaknya. Yang merebut suaminya. Yang membuat hidupnya sengsara. Tapi juga Lenna yang membawa bukti melawan Salma. Yang hampir mati untuk menyelamatkan data tambahan.
"Mungkin," kata Dara akhirnya. "Suatu hari. Kalau kamu terus buktikan kamu benar-benar berubah."
Lenna tersenyum... senyum kecil tapi tulus. "Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih."
Setelah Lenna pergi, Arkan duduk di samping Dara.
"Kamu benar-benar akan maafkan dia?"
"Entahlah." Dara menatap Kirana yang tertidur di pelukannya. "Tapi aku belajar satu hal, menyimpan kebencian itu melelahkan. Dan aku sudah cukup lelah."
Arkan mencium keningnya. "Aku bangga padamu."
"Kenapa?"
"Karena setelah semua yang kamu alami, kamu masih bisa mempertimbangkan maaf. Masih bisa memberi kesempatan. Itu butuh kekuatan yang luar biasa."
Dara tersenyum merasakan kehangatan menyebar di dadanya. Kehangatan yang jarang dia rasakan di kehidupan lama sebagai Dara. Tapi sering dia rasakan sekarang sebagai Kiara.
Atau sebagai gabungan keduanya.
Seperti kata Salma, aku bukan cuma Dara. Bukan cuma Kiara. Aku adalah keduanya.
Dan mungkin...
Itu yang membuatnya bisa bertahan.
👻👻👻👻