Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Aruna
Javi tersenyum, lalu dia meraih tangan Aruna dan meletakkannya di pipinya.
"Kalau begitu, saya tidak mau pergi. Di sini, saya merasa seperti manusia asli, bukan sekadar produk yang suaranya diputar di dinding. Meskipun nama saya Ujang, saya merasa... utuh."
Aruna merasa hatinya meleleh seperti es mambo yang terpapar matahari siang. Dia ingin berkata jujur, tapi dia takut kehilangan momen ini.
"Tapi Javi... eh, Ujang... tadi itu member grupmu. Kamu beneran nggak ngerasa apa-apa pas liat mereka?"
Javi berpikir sejenak.
"Saya merasa... saya merasa ingin membelikan mereka semua es mambo. Mereka kelihatan sangat lelah dan stres. Terutama pria yang membawa durian itu , wajahnya penuh dengan kerutan kecemasan."
Aruna tertawa kecil.
"Itu mah emang wajah asli dia kalo nggak pake skincare."
Malam semakin larut. Sekitar jam dua pagi, perut Javi kembali berdemo. Mungkin karena radiasi emosi saat bertemu teman-temannya tadi, dia merasa sangat lapar.
"Aruna... Aruna..."
Javi menggoyang-goyangkan kaki Aruna yang tertutup selimut.
"Apalagi sih, Jang? Aku baru tidur lima menit!" gerutu Aruna dari balik bantal.
"Saya ingin mencoba Mi Instan Jam Dua Pagi. Tadi Bambang Kecil bilang saya sering membuatnya. Saya ingin mengetes apakah memori otot saya masih berfungsi untuk memasak mi."
Aruna menghela napas, menyerah pada takdir. Dia bangkit dan mengeluarkan satu bungkus mi instan dari kardus di bawah meja.
"Nih. Masak sendiri. Jangan bakar kosan ini ya."
Javi dengan penuh semangat menuju kompor gas satu tungku di pojok luar kamar. Dia memulai ritual memasaknya dengan sangat serius, seolah sedang melakukan operasi jantung.
"Langkah pertama: rebus air. Air harus mencapai titik didih yang pas untuk menghidrasi mi kloningan ini," gumam Javi.
Namun, karena Javi tidak ingat cara menyalakan kompor gas yang agak macet, dia malah memutar-mutar kenopnya tanpa memantik api. Bau gas mulai menyebar.
"Kenapa tidak ada api? Apakah api juga sedang amnesia?" tanya Javi pada panci.
Aruna yang mencium bau gas langsung lari keluar.
"UJANG! MATIIN! KAMU MAU KITA MELEDAK?!"
Aruna segera mematikan gas dan membuka jendela lebar-lebar.
"Kamu beneran ya... ganteng-ganteng membahayakan nyawa!"
Javi menunduk sedih.
"Maaf, Majikan. Sepertinya memori mi instan saya belum sinkron dengan peralatan teknologi rendah ini."
Aruna akhirnya yang memasakkan mi itu. Mereka berdua duduk di lantai lorong kosan, berbagi satu mangkok mi instan di bawah lampu kuning yang redup.
"Ujang," ucap Aruna di sela-sela mengunyah.
"Kalau besok-besok mereka balik lagi dan bawa polisi, kamu harus lari ya."
Javi menyeruput kuah mi dengan sangat estetik, bahkan cara dia makan mi saja terlihat seperti iklan.
"Saya tidak akan lari dari Aruna. Jika polisi datang, saya akan bilang kalau saya sedang melakukan riset untuk menjadi asisten rumah tangga terbaik sedunia."
Aruna tersenyum pahit. Dia tahu, waktu mereka tidak banyak. Di basecamp, ketiga member itu pasti sedang berjuang menahan rahasia. Dan di luar sana, Mbak Widya yang baru siuman pasti sedang sibuk mengunggah video "Penampakan Artis di Kosan" ke media sosial.
"Ujang..."
"Iya, Aruna?"
"Mi-nya enak?"
Javi menatap Aruna, ada butiran kuah di sudut bibirnya yang membuatnya terlihat konyol tapi menggemaskan.
"Sangat enak. Lebih enak daripada air dari Alpen."
Malam itu berakhir dengan Javi yang tertidur di depan pintu kamar Aruna karena dia merasa harus menjadi satpam kloningan untuk melindungi Majikannya, sambil masih memegang erat kacamata renang birunya.
Sementara itu, di basecamp LUMINOUS, Kenji, Satya, dan Rian duduk melingkar.
"Kita harus gimana?" tanya Rian.
"Kita harus pastikan Javi-hyung nggak ketauan media," jawab Kenji tegas.
"Dan Rian... besok kita harus beli daster. Banyak daster."
"Buat apa, Hyung?"
"Buat menyogok ibu kos itu supaya dia tutup mulut!"
Pagi di kampus DKV dimulai dengan atmosfer yang lebih tegang daripada menunggu pengumuman nilai UAS. Aruna berjalan melintasi koridor dengan langkah seribu, sementara di belakangnya, Javi mengekor dengan gaya yang sangat kontradiktif.
Javi hari ini memakai seragam penyamaran level 3 yaitu kemeja flanel Aruna yang kancingnya salah posisi, celana training yang ditarik sampai ke pusar, topi beanie yang menutupi setengah matanya, dan tentu saja, kacamata renang biru yang bertengger di dahi seperti alat sensor alien.
"Ujang, dengerin aku," bisik Aruna sambil menoleh ke belakang.
"Hari ini Genta pasti bakal cari gara-gara lagi. Kamu jangan kepancing. Kalau dia ngomong aneh-aneh, kamu pura-pura jadi patung manekin aja, ngerti?"
Javi membetulkan letak kacamata renangnya.
"Majikan, kenapa saya harus jadi manekin? Apakah karena struktur tulang saya sudah mencapai level kesempurnaan plastik? Saya lebih suka jadi satpam kloningan yang siap menerjang badai."
"Nggak ada terjang-terjang badai! Kita ke sini cuma buat ngambil hasil asistensi kemarin. Habis itu kita pulang, beli es mambo, dan sembunyi dari kejaran Mbak Widya!"
Namun, rencana Aruna hancur saat mereka sampai di lobi. Genta sudah berdiri di sana, dikelilingi oleh antek-anteknya, beberapa mahasiswa tingkat akhir yang wajahnya tampak seperti kurang tidur dan lebih banyak mengonsumsi kafein daripada oksigen.
Di tangan Genta, ada sebuah poster besar hasil cetakan kilat. Isinya? Foto Javi saat audisi kemarin, tapi sudah diedit dengan sangat jahat. Wajah Javi ditempeli stiker babi, dan di bawahnya tertulis,
"MODEL CABUTAN: GANTENG TAPI HALUSINASI."
"Wah, liat siapa yang dateng!" Genta berteriak, suaranya menggema di lobi.
"Si Aruna dan Ujang si Kloningan Gagal! Gimana Jang? Masih mau jadi model? Atau mau lanjut nyuci daster di empang?"
Aruna berhenti, tangannya mengepal erat di sisi tas ranselnya.
"Genta, apaan sih ini? Kamu udah janji bakal hapus foto itu kalau Ujang ikut audisi!"
"Gue emang hapus foto daster itu, Ar. Tapi gue nggak janji nggak bakal bikin parodi dari foto audisinya," Genta tertawa licik, memancing tawa dari teman-temannya.
"Lagian, asisten lo ini aneh banget. Kemarin gue denger dia ngomong sendiri soal pusat kendali. Ar, lo nemu dia di RSJ mana sih?"
Aruna maju selangkah, wajahnya merah padam.
"Jangan hina dia, Gent. Dia jauh lebih berguna daripada kamu yang cuma bisa joki tugas orang!"
Genta mendekat, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari Aruna.
"Oh ya? Berguna buat apa? Buat jadi pajangan di kamar kos lo yang sempit itu? Atau buat jadi pemuas halusinasi lo karena nggak laku-laku?"
Javi, yang sejak tadi diam mengikuti perintah Aruna untuk jadi manekin, tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut. Bukan karena alarm kloningan, tapi karena sebuah emosi yang sangat manusiawi yaitu amarah.
Di kepalanya, sebuah memori kilat muncul. Dia ingat pernah berdiri di atas panggung besar, melindungi member-membernya dari lemparan benda oleh orang-orang yang tidak suka pada mereka. Dia ingat dia adalah perisai. Dan sekarang, perisainya harus melindungi Aruna.
Javi melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Genta dan teman-temannya harus mendongak.
"Pria Bermulut Ember," ucap Javi dengan suara bariton yang begitu dingin, membuat suasana lobi mendadak turun beberapa derajat.
"Hah? Apa lo bilang?!"
Genta mendorong bahu Javi.
Javi tidak bergeming.
"Anda menghina Majikan saya. Anda menghina tempat tinggal saya yang meski sempit, tapi tidak berbau busuk seperti kata-kata Anda. Dan yang paling penting... Anda menghina martabat daster pink yang sudah memberikan saya kenyamanan lahir batin."
"Bacot lo, Ujang!"
Genta melayangkan pukulan ke arah wajah Javi.
Tapi Javi bukan manusia biasa. Meskipun ingatannya hilang, muscle memory sebagai idol yang berlatih tari intensif selama belasan jam sehari membuat refleksnya luar biasa. Javi sedikit memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat estetik seperti sedang menghindari sorot lampu panggung, lalu dia menangkap pergelangan tangan Genta.
"Genta! Berhenti!" teriak Aruna panik.
"Aruna, mundur," perintah Javi tanpa menoleh.
"Biarkan saya melakukan prosedur pembersihan hama secara manual."