Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 - Malam yang Tidak Direncanakan
..."Beberapa pertemuan tidak direncanakan, tapi meninggalkan rasa yang tak mudah dilupakan."...
Happy Reading!
...----------------...
Healing versi Shaira selalu sederhana.
Kasur yang tidak dirapikan, bantal dan guling yang dipeluk seadanya, lampu kamar temaram, dan waktu yang berjalan tanpa tuntutan apa pun. Tidak ada tugas. Tidak ada jadwal. Tidak ada nama yang perlu dihindari.
Diam—dan itu cukup.
Setidaknya, sampai ponselnya bergetar pelan di samping bantal.
Shaira mengerang kecil, memutar badan, lalu mengangkat panggilan itu tanpa melihat layar. Sambungan terputus bahkan sebelum ia sempat berkata apa-apa.
Ia menatap ponselnya beberapa detik, lalu mendengus pelan.
"Nyebelin," gumamnya. "Belum juga gue ngomong."
Notifikasi menumpuk di layar. Grup kelas. Grup alumni. Pesan tak penting yang biasanya ia abaikan begitu saja.
Namun jarinya berhenti di satu nama.
Arkan Dwi Pratama.
Ia membukanya tanpa ragu. Isinya tidak mendesak. Tidak genting. Tidak juga dramatis.
"Nongkrong yuk malam ini. Ke rumah Keno. Biar rame."
Shaira mencibir pelan. Ia sempat—sedikit saja berharap ada sesuatu yang berbeda. Entah kabar penting, atau alasan mendadak yang memaksanya keluar rumah.
Ternyata hanya rutinitas lama.
Ia menghembuskan napas panjang, menenangkan diri. Healing ala-ala harus berhenti sementara.
Shaira bangkit dari kasur, meraih jaket tipis, lalu keluar kamar. Ia mengambil sepeda dan mengayuh perlahan menuju rumah Nara, yang jaraknya hanya beberapa menit dari rumahnya.
Sore itu hangat. Langit mulai memerah di ujung barat, menyisakan semburat jingga yang lembut. Aroma tanah basah dari hujan semalam masih tertinggal, angin ringan menyentuh kulit, dan satu per satu lampu jalan mulai menyala.
Perjalanan itu terasa menenangkan.
Meski pikirannya sesekali melayang ke hal-hal lama—nama yang masih tersisa di ruang hatinya, perasaan yang ia kubur rapi di balik denial kecilnya.
Di tengah jalan, ia melihat sekelompok anak kecil bermain bola di halaman rumah mereka. Sebagian terjatuh, sebagian tertawa terpingkal. Shaira tersenyum tipis, menahan tawa sendiri, mengingat masa-masa ia dan teman-teman sekolahnya bermain di sore hari seperti itu. Sesuatu yang sederhana, tapi terasa hangat.
Nara sudah menunggu di teras rumah dengan senyum lebar.
"Kok cepet?" katanya.
"Dekat," jawab Shaira singkat.
Mereka masuk ke ruang tamu. Camilan dikeluarkan. Teh hangat diseduh. Drama Korea favorit mereka menyala di layar televisi, mengisi ruangan dengan dialog dramatis yang sudah terlalu sering mereka komentari.
"Siapa aja yang dateng nanti malam ke rumah Keno?" tanya Nara sambil menyerahkan segelas teh.
"Katanya Arkan sama Fadly. Keno mah udah pasti," jawab Shaira sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Nara mendengus. "Keno mah nggak usah dihitung. Itu rumah dia."
Mereka tertawa kecil.
Percakapan mengalir ringan-tentang karakter drama yang terlalu berisik, alur cerita yang makin nggak masuk akal, dan candaan kecil yang tidak perlu dipikirkan dalam-dalam.
Shaira menelan napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Gue sudah move on, kok… setidaknya itu yang selalu Shaira ucapkan pada diri sendiri.
Meski jauh di dalam dirinya, ada bagian yang masih tahu-nama itu belum sepenuhnya hilang. Raven masih muncul sesekali, tanpa izin, tanpa aba-aba.
Tapi malam itu, Shaira memilih tidak menanggapinya.
Ia membiarkan suara Nara, cahaya televisi, dan kehangatan ruang tamu menenangkan pikirannya.
Waktu berjalan pelan.
Episode drama selesai, tapi mereka tetap duduk. Mengobrol tentang hal-hal random, masa sekolah, dan rencana yang entah akan jadi atau tidak.
Langit di luar jendela semakin gelap.
Akhirnya, mereka bersiap berangkat.
Shaira menyalakan motor. Nara duduk di belakang. Bleky—motor kesayangan Nara melaju pelan menembus angin malam. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah. Udara terasa dingin, tapi menenangkan.
Di perjalanan, Shaira melihat lampu toko yang mulai tutup. Bayangan pepohonan menari di aspal basah. Sesekali, ia tersenyum tipis melihat pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan di trotoar—hal sederhana yang membuat hatinya ikut hangat tanpa harus mengingat masa lalu.
Percakapan masih mengalir, meski Shaira lebih banyak diam. Menatap jalan. Mengatur napas.
Nama itu sempat muncul lagi. Raven.
Hanya sekilas. Tidak menekan. Tidak menyakitkan.
Ia mengencangkan jaketnya dan menegaskan satu kata di kepalanya: Ogah.
Ogah berharap. Ogah menunggu. Ogah mengulang rasa yang sama.
Cukup menikmati angin malam. Cukup mendengar tawa Nara. Cukup berada di momen ini.
...----------------...
Begitu Shaira tiba di halaman rumah Keno, ia langsung memarkir motor di sisi lain, mengatur napas, dan menepuk-nepuk helmnya pelan. Dari teras, ia melihat teman-temannya sudah berkumpul. Suasana hangat dengan lampu teras dan aroma arang dari panggangan ayam membuatnya sedikit tenang, tapi juga menegangkan.
Shaira menelan ludah. Ia menatap teras, dan kemudian—deg—tatapannya bertemu dengan seseorang yang terlalu familiar untuk diabaikan begitu saja. Tuhkan, ada dia, pikirnya.
Raven.
Tatapan mereka bertemu hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat Shaira berhenti sejenak. Masker menutupi sebagian wajahnya, menyelamatkannya dari ekspresi terkejut yang mungkin terlalu jelas. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan tangan yang gemetar, dan melangkah bersama Nara ke halaman.
Tidak ada sapaan, tidak ada senyum—hanya dua orang yang kebetulan dipertemukan lagi setelah sekian lama. Terakhir mereka bertemu beberapa bulan lalu di parkiran lobi sekolah. Shaira masih mengingat jelas kejadian itu... sementara Raven? Tidak ada yang tahu pasti apakah ia juga mengingatnya.
Shaira dan Nara duduk di sofa dekat jendela. Tugas mereka malam itu cuma cuci piring dan siapkan minum.
Teman-teman cowok sibuk di halaman membakar ayam, saling berebut posisi sambil tertawa dan bercanda.
Raven, setelah lelah membantu memanggang, duduk di sofa dekat Shaira untuk istirahat. Posisi mereka berdekatan secara alami-bukan sengaja-karena Shaira sedang menyiapkan minum dan membungkuk mengambil gelas.
Shaira sempat mencium aroma sabun yang familiar—hal sederhana yang entah kenapa membuat dadanya menegang.
Saat Shaira berdiri untuk menuang teh, hampir saja tubuhnya menabrak Raven yang mencondong sedikit ke depan.
"Eh!" seru Shaira, cepat menahan gelas.
Raven menatapnya sekilas, ekspresi datar tapi ada senyum samar terselip di sudut bibirnya. Mata mereka bertemu beberapa detik—cukup lama untuk membuat jantung Shaira berdetak lebih cepat—lalu Shaira menunduk, menenangkan napasnya.
"Eh, liat deh! Shaira sama Raven deketan gitu!" teriak Arkan, membuat semua orang menoleh dan tertawa.
Keno menepuk tangan dramatis. "Ada chemistry nggak sih, mantan kini dekat banget nih!"
Fadly ikut menimpali, "Bener-bener! Seriusan, cocok banget deh!"
Nara menepuk bahu Shaira sambil menahan tawa. "Lo panik, ya? Hahaha."
Shaira mengerjapkan mata, pipinya memerah. "Aduh, nggak lucu!" gumamnya pelan, sambil mencoba tetap fokus menuang minum.
Raven hanya tersenyum tipis, tetap diam.
Beberapa menit berlalu. Aroma ayam bakar dari halaman memenuhi udara. Shaira dan Nara menyelesaikan tugas mereka dengan cepat, sesekali tertawa kecil.
"Menurut lo, siapa yang paling konyol pas bakar ayam?" tanya Shaira sambil menata gelas.
Nara menahan tawa. "Keno! Mukanya pas Arkan tabur bumbu salah, hampir kena mukanya sendiri!"
Shaira tersenyum, ikut menertawakan kenekatan teman-teman mereka. Raven menatap mereka dari sisi sofa, tersenyum tipis tapi tetap tenang.
Tiba-tiba, Arkan melambaikan tangan dan berteriak lagi, "Eh, Shaira, bilang dong sama Raven! Lo deketan gitu, kasih tau dong perasaan!"
Shaira tersentak, pipinya makin merah. Raven hanya menatapnya sekilas, senyum tipis tak berubah, tapi mata mereka bertemu beberapa kali.
Nara menahan tawa, menepuk bahu Shaira lagi. "Santai, Sha. Mereka cuma usil, nggak lebih."
Shaira menarik napas, mencoba menenangkan diri. "Iya... santai... santai..." gumamnya di hati, tapi hatinya tetap berdetak lebih cepat.
Godaan teman-teman jadi pengingat kecil tentang hubungan lama yang belum sepenuhnya hilang, tapi malam itu terasa ringan, playful, dan hangat.
Shaira akhirnya menaruh gelas di nampan, duduk kembali tegak, menatap Nara, dan tersenyum tipis.
Dan di sofa yang sama, meski canggung, ada kehangatan yang terasa-dari tawa teman-teman, aroma ayam bakar, dan senyum tipis yang tak diucapkan.
...----------------...
Setelah semuanya selesai, mereka menikmati makan malam dengan menu ayam bakar. Shaira sempat tersenyum sendiri, membayangkan, siapa yang tahu, mungkin ayam yang ia lahap adalah salah satu yang dibakar oleh Raven-tanpa ia sadari, sosok itu selalu meninggalkan jejak meski tak terlihat.
Setelah tugas cuci piring mereka selesai. Shaira dan Nara bersiap pulang. Mereka berpamitan duluan kepada yang lain, termasuk kakak Keno, Beni, yang memang baru datang dan sedang asik bermain game.
"Kak Ben, kita pulang duluan yaa," ucap Nara sambil melambaikan tangan, membuat Beni menoleh.
"Ohiya, hati-hati ya pulangnya," balas Beni ramah.
"Iya kak, makasih yaa," giliran Shaira yang membuka suara, sementara Nara hanya mengangguk santai di sampingnya.
"Iyaaa, Shela... sama-sama," Beni tersenyum, salah menyebut nama seperti biasa.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah lain: "Shaira, kok malah Shela," ujar Raven cepat, dengan nada ringan tapi tegas.
"Oh, kepeleset lidah gue. Lagian, kok lo yang protes, bukannya Shaira," sahut Beni sambil tertawa. Raven hanya tersenyum tipis, lalu kembali fokus ke teman-temannya, seolah tak ingin terlibat lebih jauh.
...----------------...
Perjalanan pulang mereka terasa lebih sunyi. Shaira menatap lampu jalan yang memantul di aspal basah. Angin malam membawa aroma tanah basah dan daun yang tersapu motor. Sesekali, ia tersenyum tipis mengingat kejadian malam itu—Raven diam, Arkan, Keno dan Fadly bercanda, Nara di belakang tertawa, dan ia sendiri yang hanya bisa menikmati momen sederhana itu.
Ia menutup mata sebentar, menarik napas panjang. Ini cukup, gumamnya. Cukup untuk malam ini. Cukup untuk hari ini.
Untuk pertama kalinya, sejak sekian lama, Shaira merasa bahwa menikmati hal-hal kecil bisa menenangkan hati tanpa harus mengejar yang hilang.
Dan mungkin, beberapa pertemuan memang tidak datang untuk mengubah apa pun—hanya untuk mengingatkan bahwa kenangan tidak selalu harus diperjuangkan kembali.
...----------------...
Shaira — aku sangat senang hari ini.
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/