Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.
Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.
Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.
Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: JALUR SEMPIT DI ANTARA DUA NAGA
Waktu seakan berhenti di ruang kerja Pak Hidayat yang megah namun mencekam itu. Putri bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tatapan tajam Pak Hidayat menembus dirinya, mencari kebohongan sekecil apa pun. Di sakunya, kotak kecil alat penyadap pemberian Pak Darmawan terasa semakin berat, seolah membakar kulitnya.
Putri tahu, satu kesalahan kata saja bisa berarti kematian baginya. Dia harus berpikir cepat. Latar belakangnya sebagai mahasiswa hukum semester akhir yang terlatih menganalisis situasi dan menyusun argumen kini menjadi penyelamatnya. Dia harus membuat alibi yang masuk akal, yang menyentuh sisi emosional, dan yang tidak bisa disangkal oleh Pak Hidayat.
Putri mengangkat kepalanya perlahan, menatap balik mata Pak Hidayat. Dia membiarkan air matanya yang sejak tadi ditahan jatuh perlahan, menciptakan gambaran seorang wanita yang ketakutan dan rapuh.
"Pak Hidayat..." suara Putri bergetar, namun tetap terdengar jelas. "Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud berbohong pada Rizky atau pada Bapak. Saya hanya... saya hanya takut."
"Takut apa?" potong Pak Hidayat dingin. "Takut memberitahu ke mana kamu pergi? Atau takut ketahuan melakukan sesuatu yang tidak-tidak?"
"Bukan, Pak! Tidak seperti itu!" Putri menggeleng cepat, meremas ujung bajunya seolah benar-benar panik. "Wanita yang bersama saya pagi tadi adalah Nina, asistennya Mas Rizky. Bapak pasti tahu Nina, kan? Dia sudah bekerja sama dengan Mas Rizky lama. Saya meminta bantuannya karena saya tidak punya orang lain lagi untuk diajak bicara."
Putri menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Kemarin sore, saya pergi ke taman kota tua karena saya mendapat kabar dari seseorang yang mengaku kenal dengan orang tua saya dulu. Dia bilang dia punya informasi tentang masa lalu orang tua saya, tentang bisnis mereka. Saya tahu ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi itu orang tua saya, Pak. Saya putus asa ingin tahu kebenaran, meskipun hanya sedikit."
Dia melihat ekspresi Pak Hidayat yang tidak berubah, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin pelan dan sedih. "Tapi pertemuan itu tidak membawa hasil. Orang itu hanya berbicara hal-hal yang tidak jelas dan membuat saya semakin bingung. Saya takut kalau saya memberitahu Mas Rizky, dia akan menganggap saya berlebihan atau malah akan khawatir berlebihan. Dia sudah terlalu sibuk memikirkan kesehatan Rara dan pekerjaan Bapak. Saya tidak ingin menambah beban pikirannya."
"Lalu kenapa pergi ke pinggiran kota yang sepi pagi ini?" tanya Pak Hidayat tajam. "Itu bukan tempat untuk sekadar curhat, kan?"
"Karena saya takut, Pak," jawab Putri jujur—setidaknya sebagian jujur. "Setelah pertemuan kemarin, saya merasa gelisah dan takut ada orang yang mengikuti saya. Nina menyarankan untuk pergi ke rumah kakeknya yang sepi di pinggiran kota supaya saya bisa tenang dan berbicara tanpa takut didengar orang lain. Saya butuh tempat untuk menenangkan diri sebelum menghadapi Rara di rumah sakit. Saya tidak mau Rara melihat kakaknya stres dan menangis terus-menerus. Itu saja, Pak Hidayat. Tidak ada hal lain. Saya minta maaf kalau tindakan saya menimbulkan kesalahpahaman."
Putri menundukkan kepalanya, seolah benar-benar merasa bersalah dan takut akan hukuman. Dia berdoa dalam hati semoga Pak Hidayat percaya pada kebohongannya yang dibalut sebagian kebenaran ini.
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti berabad-abad. Putri bisa mendengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Akhirnya, Pak Hidayat menghela napas panjang dan bersandar kembali ke kursi besarnya. Tatapannya masih tajam, namun sedikit mereda.
"Kau memang wanita yang rumit, Putri," ucap Pak Hidayat pelan. "Aku tahu kau masih terikat dengan masa lalumu. Tapi ingatlah ini: sekarang kau adalah bagian dari keluarga Adinata. Hidupmu, masa depanmu, dan masa depan adikmu ada di tanganku. Jangan pernah mencoba bermain api dengan orang-orang asing atau melakukan sesuatu yang bisa mencoreng nama baik keluarga ini. Aku tidak suka hal-hal yang tidak aku ketahui, dan aku tidak suka dikhianati."
"Saya mengerti, Pak. Saya tidak akan melakukannya lagi," jawab Putri cepat, merasa lega luar biasa namun tetap berusaha tidak menunjukkannya secara berlebihan.
"Baiklah. Kau boleh pergi," kata Pak Hidayat, kembali menunduk melihat dokumen di hadapannya, seolah Putri sudah tidak menarik perhatiannya lagi. "Dan beritahu Rizky kalau aku memintanya datang ke sini nanti malam. Ada urusan bisnis yang perlu dibicarakan."
"Baik, Pak. Terima kasih," ucap Putri pelan. Dia berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, lalu berjalan mundur perlahan menuju pintu, tidak berani membalikkan punggungnya sepenuhnya sampai dia keluar dari ruangan itu.
Saat pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Putri menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang seolah baru saja kehabisan udara. Jantungnya masih berdegup kencang. Dia berhasil. Dia berhasil melewati bahaya itu. Tapi dia tahu, ini baru permulaan. Ancaman Pak Darmawan masih menggantung di atas kepalanya, dan tugas menyadap ruang kerja itu masih harus dilakukan.
Putri berjalan menuju tangga, berniat kembali ke kamarnya. Saat dia melewati lorong yang agak gelap menuju dapur, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dan menyeretnya ke dalam ruang penyimpanan kecil di samping dapur. Putri hampir berteriak, tapi mulutnya segera ditutup oleh tangan yang besar dan kuat.
"Shhh... Jangan berisik, Bu Putri. Ini saya, Bang Rio," bisik suara berat di telinganya.
Putri membuka matanya lebar-lebar dan melihat wajah Bang Rio yang tampak cemas di kegelapan ruang penyimpanan itu. Dia melepaskan tangannya dari mulut Putri perlahan.
"Bang Rio? Apa yang Bapak lakukan? Apa Bapak mau membunuhku karena Bapak dengar aku berbohong pada Pak Hidayat?" tanya Putri gemetar, mundur selangkah.
Bang Rio menggeleng cepat, wajahnya tampak serius namun tidak bermusuhan. "Tidak, Bu Putri. Saya tidak bermaksud jahat. Saya justru... saya baru saja menyelamatkan Ibu tadi."
"Maksud Bapak?" Putri mengerutkan kening, bingung.
"Saat Pak Hidayat menyuruh saya memanggil Ibu, dia sudah sangat marah," bisik Bang Rio menjelaskan. "Dia punya foto Ibu bertemu dengan pria di taman kemarin sore. Dia berniat menyiksa Ibu untuk mengakui siapa pria itu dan apa yang kalian bicarakan. Tapi saat Ibu berbicara tadi... cara Ibu bicara, air mata Ibu... saya rasa Pak Hidayat percaya. Saya tidak ikut campur, tapi saya berdoa dalam hati supaya Ibu berhasil meyakinkannya."
Putri tertegun. Dia tidak menyangka bahwa pria yang dikenal sangat setia pada Pak Hidayat ini justru merasa iba padanya. "Kenapa Bapak melakukan ini? Kenapa Bapak peduli? Bapak kan anak buah setia Pak Hidayat."
Bang Rio menunduk, tampak bergumul dengan sesuatu. "Saya memang bekerja untuk Pak Hidayat, dan saya berhutang budi padanya. Tapi saya bukan orang yang buta, Bu. Saya melihat bagaimana Pak Rizky begitu baik pada Ibu dan adik Ibu. Saya juga melihat kesedihan di mata Ibu. Saya tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai karena kekejaman dunia ini. Istri dan anak saya dulu... mereka menjadi korban bentrokan antar-geng saat saya sedang bertugas. Pak Hidayat membantu saya saat itu, tapi lama-kelamaan, saya mulai ragu dengan cara-cara yang dia gunakan. Terlalu banyak darah, terlalu banyak kebohongan."
Dia menatap Putri lekat-lekat. "Dan soal pria yang Ibu temui di taman... Saya tidak tahu siapa dia, tapi saya peringatkan Ibu: hati-hati. Orang-orang Pak Hidayat banyak yang mata-matanya tajam. Kalau Ibut butuh bantuan kecil... mungkin saya bisa membantu, asalkan itu tidak membahayakan keluarga saya dan tidak membuat saya mengkhianati Pak Hidayat secara langsung. Saya hanya ingin keadilan, Bu. Seperti Ibu."
Putri terpana. Ini adalah kejutan besar. Bang Rio, tangan kanan Pak Hidayat, ternyata memiliki hati nurani dan mungkin bisa menjadi sekutu tak terduga. Tapi dia harus berhati-hati. Ini bisa jadi jebakan juga.
"Terima kasih, Bang Rio," ucap Putri pelan. "Saya... saya akan ingat tawaran Bapak. Tapi tolong, jangan beri tahu siapa pun tentang pembicaraan kita ini."
"Pasti, Bu. Saya akan menjaga rahasia ini," janji Bang Rio. Dia membuka pintu ruang penyimpanan sedikit dan mengintip keluar. "Jalanan aman. Ibu bisa kembali ke kamar sekarang."
Putri keluar dari ruang penyimpanan dengan perasaan campur aduk. Dia baru saja mendapatkan sekutu potensial di sarang musuhnya sendiri, tapi dia juga semakin sadar betapa rumit dan berbahayanya situasi ini.
Sesampainya di kamar, Putri mengunci pintu dan bersandar di belakangnya. Dia mengeluarkan kotak kecil alat penyadap itu dari saku. Masalah dengan Pak Hidayat sudah terlewati untuk saat ini, tapi ancaman Pak Darmawan masih ada. Dia harus memasang alat itu malam ini juga. Tapi bagaimana caranya sekarang? Pak Hidayat ada di dalam sana, dan dia baru saja diperingatkan untuk tidak melakukan hal mencurigakan.
Tiba-tiba, Putri teringat kata-kata Pak Hidayat tadi: "Beritahu Rizky kalau aku memintanya datang ke sini nanti malam."
Ah! Itu kesempatannya. Nanti malam, saat Rizky datang dan masuk ke ruang kerja Pak Hidayat, perhatian semua orang—termasuk Pak Hidayat dan mungkin Bang Rio—akan terpusat pada pertemuan mereka. Itu adalah waktu terbaik untuk menyelinap.
Malam pun berlalu. Putri kembali ke rumah sakit sebentar untuk memastikan Rara baik-baik saja, lalu kembali ke rumah Adinata menjelang malam. Seperti dugaan Putri, Rizky datang sekitar pukul delapan malam. Putri menyambutnya di depan rumah.
"Mas Rizky," panggil Putri pelan. "Ayah memintamu datang ke ruang kerjanya sekarang. Dia sedang menunggu."
Rizky menatap Putri, memperhatikan wajahnya yang masih terlihat pucat. "Kamu tidak apa-apa, Sayang? Wajahmu terlihat lelah sekali."
Putri tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang. "Aku baik-baik saja. Cuma kurang tidur karena memikirkan Rara. Kamu masuk saja dulu. Aku akan menyiapkan teh untuk kalian."
Rizky mengangguk, mencium kening Putri sebentar sebelum berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Putri melihat pintu ruang kerja tertutup. Sekarang.
Putri berjalan pelan menuju dapur, membuat teh, tapi dia tidak langsung membawanya ke sana. Dia menunggu sekitar sepuluh menit, memastikan percakapan di dalam sudah berlangsung dan perhatian mereka sudah terbagi. Dengan langkah selembut mungkin, Putri berjalan mendekati pintu ruang kerja. Suara percakapan samar terdengar dari dalam—suara Pak Hidayat yang terdengar tegas dan suara Rizky yang lebih tenang.
Putri mengeluarkan kotak kecil itu dari saku. Dia tahu dia tidak bisa masuk begitu saja. Tapi dia ingat tata letak ruangan itu. Di balik meja kerja Pak Hidayat, ada sebuah ruang kecil tempat dia menyimpan arsip, yang memiliki ventilasi udara yang terhubung ke koridor luar, tepat di samping pintu utama. Ventilasi itu cukup besar untuk memasukkan tangan dan benda kecil.
Putri berjalan memutar ke sisi luar ruangan, berhati-hati agar tidak terlihat oleh penjaga di depan rumah. Dia menemukan ventilasi besi yang agak berkarat itu. Dengan hati-hati, dia mencoba menggerakkan penutupnya. Beruntung, penutupnya agak longgar karena usia. Putri membukanya sedikit saja, cukup untuk memasukkan tangannya.
Dari celah itu, dia bisa melihat bagian belakang meja kerja Pak Hidayat. Di sana, di pojok belakang meja, ada tumpukan buku tebal yang jarang disentuh. Sempurna. Dengan tangan gemetar, Putri mengeluarkan alat penyadap itu dan meletakkannya di antara tumpukan buku tersebut, di tempat yang tersembunyi namun cukup dekat dengan telepon dan komputer di atas meja.
Alat itu sudah aktif, sesuai instruksi Pak Darmawan. Putri menarik tangannya kembali dan menutup ventilasi dengan hati-hati, memastikannya kembali rapat seperti semula.
Selesai. Dia melakukannya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara adrenalin dan rasa takut. Dia baru saja mengkhianati Pak Hidayat, tapi dia tidak punya pilihan. Demi Rara.
Putri buru-buru kembali ke koridor utama, menyusun wajahnya agar terlihat normal, lalu membawa nampan berisi teh menuju ruang kerja. Dia mengetuk pintu.
"Masuk," suara Pak Hidayat terdengar.
Putri masuk dengan senyum sopan. "Saya bawa teh, Pak. Mas Rizky."
Rizky menatapnya dengan senyum hangat, sementara Pak Hidayat hanya mengangguk singkat tanpa banyak menatapnya. Putri meletakkan teh di meja, lalu dengan santai memeriksa sekeliling ruangan dengan pandangannya. Alat penyadap itu tersembunyi dengan sempurna di balik tumpukan buku. Tidak ada yang akan menyadarinya.
"Terima kasih, Putri. Kamu boleh keluar," kata Pak Hidayat.
Putri mengangguk dan keluar dari ruangan itu, menutup pintu perlahan. Begitu pintu tertutup, dia menghela napas panjang, merasa kakinya lemas. Dia berhasil melewati malam yang penuh bahaya ini.
Segera setelah sampai di kamar, Putri mengirim pesan singkat ke nomor tidak dikenal itu: [Sudah selesai. - P]
Hanya beberapa detik kemudian, balasan masuk: [Bagus. Tunggu instruksi selanjutnya. Jangan melakukan kesalahan apa pun. - D]
Putri meletakkan ponselnya di meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dia merasa lelah luar biasa, secara fisik maupun mental. Dia sedang bermain dengan dua naga yang berbahaya, dan satu kesalahan kecil bisa membuatnya hancur berkeping-keping.
Dia memikirkan Rizky yang baik hati, yang sedang di dalam sana berbicara dengan ayahnya yang kejam. Dia memikirkan Rara yang sedang tidur di rumah sakit, menunggu operasi yang menyelamatkan nyawanya. Dan dia memikirkan bukti-bukti yang dia sembunyikan, yang bisa mengubah segalanya.
Besok adalah hari operasi Rara. Putri berdoa semuanya berjalan lancar. Tapi dia tahu, setelah operasi ini, perang yang sesungguhnya baru akan dimulai. Dan dia harus siap menghadapinya, dengan atau tanpa bantuan siapa pun.
*[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja berhasil meyakinkan Pak Hidayat dengan kebohongannya, mendapatkan sekutu tak terduga dari Bang Rio, dan berhasil memasang alat penyadap di ruang kerja Pak Hidayat di bawah ancaman nyawa Rara. Besok adalah hari operasi Rara, dan Putri tahu bahwa setelah ini, situasi akan semakin berbahaya. Jika kamu jadi Putri, apakah kamu akan memberitahu Rizky tentang apa yang terjadi—termasuk soal ancaman Pak Darmawan dan alat penyadap itu