"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Rahasia Mawar
Zahra tertegun, matanya menyipit menatap Mawar dengan penuh tanda tanya. "Tunggu... lo kok bisa tahu detail banget soal Kak Arfan sampai kritis segala, War? Aura yang kasih tahu?"
Mawar mengangguk pelan, wajahnya masih terlihat mendung. "Iya, dia sempat ngabarin aku lewat pesan singkat subuh tadi. Tapi suaranya... eh, maksudku ketikannya bener-bener kayak orang yang lagi hancur."
Perkataan Mawar tidak membua rasa curiga Zahra berkurang, ia terus menatap wajah Mawar yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Kayaknya ada yang Mawar tutupin dari gue, batin Zahra.
"Lo ga bisa boong terus War, sebenernya ada hubungan apa lo sama Arfan. Gue pernah liat kalian berdua ngobrol bareng pas di galeri kemarin bahkan lo sampe nangis di depan dia," ucap Zahra dengan nada mengintimidasi, ia melangkahkan kakinya ke depan.
Seketika Mawar kikuk, ia terkejut kenapa Zahra tiba tiba curiga dengannya. Mawar menundukkan kepalanya, ia bingung harus berkata apa.
"Jawab War, lo tau kan maksud gue apa? Lo ga usah pura pura ga tau apa apa, gue tau setiap gerak gerik lo yang aneh!"
"Zahra..... Zahra, kamu tenang dulu. Kamu salah paham, a..aku ga ngerti maksud kamu apa," ucap Mawar dengan terbata-bata sembari berjalan mundur.
"Maksud gu-"
"Woi, Zahra! Mawar! Cepetan gabung sini, kalian ngapain disana!" teriak ketua pengurus year book, membuat perkataan Zahra terpotong.
Mawar segera berjalan pergi dari sana dan bergabung dengan temannya. Mawar tidak berdiri di sebelah Zahra karena Zahra lebih memilih di sebelah Rio, yang merupakan mantan kekasihnya.
Setelah kecelakaan yang menimpa Rio, membuat tangan Rio patah dan harus memakai arm sling.
Tak henti hentinya Mawar menatap Zahra dan Rio, mereka terlihat sangat dekat, Apakah mereka udah balikan? Kenapa tiba tiba Zahra curiga, padahal aku udah berusaha buat seperti biasa saja, batin Mawar.
Lalu ia teringat wajah Aura yang harusnya ada di sebelahnya, "Ra, seharusnya kamu ada disini," lirih Mawar.
Fotografer mulai melakukan sesi pemotretan, "Oke, gaya formal dulu ya. Dari hitungan 1..... 2.....3"
Cekrek!
Mereka semua tersenyum manis kecuali Mawar, Mawar tersenyum paksa. Rasanya ia ingin menarik Aura kesini, walaupun hanya sebentar setidaknya Aura masuk dalam year book nanti.
"Permisi, aku izin ke toilet," ucap Mawar tiba tiba lalu berjalan pergi begitu saja.
"War, kan lagi sesi pemotretan dulu," ucap salah satu mereka. Mereka sempat berhenti sebentar, ada yang mengomel karena mereka takut panas dan make up luntur, ada yang sudah kepanasan dari tadi.
Zahra ikut kesal juga, karena ia tidak mau Rio kecapean karena menunggu Mawar selesai dari toilet.
"Lanjutkan aja Kak! Yang penting tadi Mawar udah sempet foto kan? Keburu hujan nanti," perintah Zahra.
Mereka kembali melakukan pemotretan tanpa menunggu Mawar kembali.
Di dalam toilet, Mawar menelfon Aura tetapi tak kunjung juga diangkat. Ia ingin mendengar berbicara dengan Aura, rasanya sangat aneh tanpa ada sahabatnya di sebelahnya.
"Ra, angkat dong!" lirih Mawar.
Beberapa kali Mawar menelfon tetap juga tidak diangkat oleh Aura.
"Maafin aku Ra, aku udah banyak bohong sama kamu, maafin aku," lirih Mawar. Ia terdiam cukup lama disana, merenungi kejadian yang hanya ia pendam sendirian.
Setelah beberapa menit Mawar disana, pintu toilet terbuka.
"Maksud lo apa pergi gitu aja, terus diem disini? Aneh banget jadi orang, lo pikir kami semua bakalan nungguin lo gtu?" ketus Zahra, ia masuk tanpa menatap Mawar.
"Zahra? Kamu udah balikan sama Rio? Sejak kapan, bukannya kata kamu, Rio itu jahat?" tanya Mawar.
Mawar khawatir kepada Zahra, ia masih ingat bagaimana sedih dan hancurnya Zahra karena Rio yang telah mengkhianatinya bahkan waktu itu Zahra sempat di usir oleh orang tuanya.
Flashback satu tahun yang lalu......
Suara bantingan pintu terdengar memekakkan telinga di kediaman Zahra. Malam itu, ruang tamu yang biasanya tenang berubah menjadi medan perang. Di atas meja, tumpukan buku tabungan dan catatan mutasi rekening Zahra berserakan.
"Jelaskan pada Papa, Zahra! Ke mana semua uang tabungan pendidikan yang Papa kasih setiap bulan?!" bentak sang Papa. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar menahan amarah.
Zahra hanya tertunduk, tubuhnya menggigil hebat. Air matanya sudah membasahi seragam sekolah yang belum sempat ia lepas. "Zahra... Zahra pakai buat keperluan mendesak, Pa..."
"Mendesak apa?! Papa sudah cek, uang itu kamu transfer ke rekening Rio! Cowok yang bahkan nggak punya masa depan itu?!"
"Rio lagi butuh, Pa! Dia kecelakaan dan keluarganya nggak punya uang!" teriak Zahra membela, meski ia tahu itu hanya alasan Rio untuk memerasnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Zahra. Mamanya hanya bisa menangis di sudut ruangan, tak berani melerai.
"Kamu sudah gila! Kamu hancurkan kepercayaan kami cuma demi cowok yang jelas-jelas mengkhianati kamu di belakang? Papa lihat dia kemarin jalan dengan perempuan lain pakai uang kamu!" Papa Zahra menunjuk ke arah pintu rumah dengan jari bergetar.
"Kalau kamu masih mau membela dia, silakan! Keluar dari rumah ini! Pergi cari Rio mu itu dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di sini sampai kamu sadar betapa bodohnya kamu!"
Malam itu, Zahra benar-benar diusir. Ia berdiri di bawah guyuran hujan, hanya membawa tas sekolah dan hati yang hancur. Di saat itulah, Mawar adalah orang pertama yang menjemputnya, memeluknya, dan menyembunyikan Zahra di rumahnya selama beberapa hari sampai situasi mereda.
Flashback selesai.....
Mawar menatap punggung Zahra yang baru saja membanting pintu toilet. Ia mengusap wajahnya yang basah, hatinya perih mengingat kejadian satu tahun lalu itu.
"Kenapa kamu lupa, Zah? Kenapa kamu lupa gimana hancurnya kamu waktu itu?" lirih Mawar sendirian di depan cermin.
Mawar sangat ingat betapa susahnya ia membujuk orang tua Zahra agar mau menerima Zahra kembali. Ia yang menemani Zahra saat sahabatnya itu hampir depresi karena dikhianati Rio. Dan sekarang, melihat Zahra kembali ke pelukan pria yang sama, sambil menuduh Mawar sebagai pengkhianat, rasanya lebih sakit daripada ditampar seribu kali.
"Aku nggak bermuka dua, Zah... aku cuma nggak mau kamu hancur untuk kedua kalinya," gumam Mawar sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Aura.
Aura: War, maaf tadi aku lagi di ruang ICU dampingi Kak Arfan sebentar. Ada apa? Kamu baik-baik saja kan di sekolah? Foto year book-nya lancar?
Membaca pesan itu, tangis Mawar makin menjadi. Di saat Aura masih memikirkan keadaannya di tengah musibah, Mawar justru terjebak dalam lingkaran kebohongan yang ia buat sendiri demi melindungi rahasia Arfan.
Ponsel Mawar berdering, menampilkan nama Aura yang sedang menelfonnya.
Bersambung......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰