Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Kembali Terbentang
Malam itu, di dalam kesunyian mansion Bellvania yang megah, Ozora duduk di meja belajarnya. Namun, alih-alih fokus pada jurnal hukum, matanya terpaku pada layar ponsel.
Notifikasi Instagram muncul di bagian atas layar. Anastasia_Romanov baru saja mengunggah foto.
Ozora ragu sejenak, namun jarinya seolah punya pikiran sendiri untuk menekan notifikasi itu. Napasnya tercekat. Di sana, di layar yang terang, tampak Anastasia sedang bersandar manja di bahu seorang pria. Wajah pria itu tidak terlihat, hanya bahu lebar yang terbungkus jas hitam mahal dan sebagian rahang bawahnya yang tajam.
Tapi Ozora tahu siapa itu. Dia mengenali tekstur kain jas itu, dia mengenali cara pria itu duduk. Itu Sky Remington.
Caption:
"My constant. 4 months and counting. ❤️ #RemingtonRomanov #PowerCouple"
Ozora perlahan meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia memeluk lututnya, merasa sesak yang tiba-tiba datang menghimpit dadanya.
"Apa yang kupikirkan?" gumamnya lirih. "Senyum di perpustakaan, sentuhan di pinggang... itu semua mungkin hanya keramahan biasa baginya."
Ozora menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Ia melihat gadis dengan rambut hitam legam dan wajah yang ia anggap terlalu biasa jika dibandingkan dengan Anastasia yang bersinar seperti berlian di foto itu.
Di mata dunia, Sky dan Anastasia adalah pasangan yang sempurna, definisi dari keindahan Rusia yang tak tergoyahkan.
Rasa tidak percaya diri yang sempat memudar berkat perhatian Sky, kini kembali menyergap dengan lebih kejam. Ozora merasa dirinya hanyalah selingan singkat di tengah tugas kelompok, sementara Anastasia adalah masa depan yang sudah digariskan untuk Sky.
Ia berdiri, berjalan ke arah cermin, dan tanpa sadar tangannya menyentuh bagian perut bawahnya, tempat di mana tato bunga indah itu tersembunyi. Seni yang ia banggakan itu kini terasa tidak berarti. Ia merasa, mau sebanyak apa pun rahasia atau keunikan yang ia miliki, ia tetaplah Gadis yang tak terlihat yang sulit bersaing dengan kenyataan bahwa Sky sudah memiliki seseorang.
"Dia memang sulit digapai, Ozora," bisiknya pada diri sendiri. Air mata kecil mulai menggenang di sudut matanya. "Jangan bermimpi terlalu tinggi jika tidak ingin jatuh terlalu sakit."
Di kampus, Ozora datang lebih pagi dan langsung menuju kelas, menghindari kafetaria agar tidak perlu melihat Sky dan Anastasia duduk bersama. Saat sirkel mereka akhirnya berkumpul di kelas, Ozora memilih duduk tiga baris di belakang tempat biasanya, kembali ke zona nyamannya yang gelap.
Sky masuk bersama para sahabatnya. Matanya langsung memindai ruangan, mencari sosok yang biasanya duduk di dekatnya. Saat ia melihat Ozora di barisan belakang, keningnya berkerut.
"Kenapa dia duduk di sana?" gumam Sky sangat pelan, hampir tak terdengar.
Phoenix, yang sedang berjalan di sampingnya, melirik ponselnya lalu melirik Sky. Ia tahu soal unggahan Anastasia semalam. "Kau tahu, Remington... terkadang foto bisa mengatakan hal yang salah pada orang yang tepat," bisik Phoenix sambil menepuk bahu Sky.
Sky tidak menjawab. Ia tetap duduk di barisan depan karena Anastasia sudah menarik tangannya, tapi sepanjang kuliah, Sky tidak pernah benar-benar mendengarkan Profesor. Ia terus menoleh ke belakang, menatap Ozora yang kini kembali menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku, persis seperti saat pertama kali Sky Memperhatikan nya.
Sky tidak pernah peduli dengan apa yang diunggah Anastasia ke media sosial, tapi kali ini berbeda. Ia tahu foto itu adalah belati yang secara tidak sengaja menebas kepercayaan diri seseorang yang baru saja mulai terbuka padanya.
Sky memutar ponselnya di atas meja dengan gerakan yang tenang namun mengancam. "Hapus foto itu, Anastasia," gumam Sky rendah, suaranya sedingin es namun sangat mutlak.
Anastasia yang sedang asyik membalas komentar-komentar pujian di unggahannya tersentak. Ia menoleh, menemukan tatapan Sky yang tajam dan tak terbantahkan.
"Tapi Sayang, itu foto yang sangat cantik. Semua orang bilang kita..."
"Aku tidak suka privasiku dijadikan konsumsi publik," potong Sky, suaranya naik satu Oktav namun tetap terkendali. "Hapus. Sekarang."
Anastasia menelan ludah. Di sirkel elit ini, semua orang tahu bahwa jika Sky Remington sudah bicara dengan nada seperti itu, tidak ada ruang untuk negosiasi. Meskipun ia sombong, Anastasia memiliki ketakutan besar akan kehilangan Sky, dan posisi sebagai calon tunangannya.
"Baiklah, jika itu membuatmu terganggu. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya bangga memilikimu," bisik Anastasia pelan, jarinya gemetar saat menekan tombol delete. Tanpa kecurigaan sedikit pun bahwa kemarahan Sky dipicu oleh seorang gadis yang duduk tiga baris di belakang mereka, Anastasia kembali tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitu kelas berakhir, Ozora langsung membereskan bukunya dengan terburu-buru. Ia ingin menghilang sebelum Sky sempat bicara padanya. Namun, langkah Sky jauh lebih lebar.
Di koridor yang mulai sepi karena jam makan siang, Sky berhasil mencegat Ozora tepat di depan loker kayu tua.
"Kenapa duduk di belakang?" tanya Sky langsung. Ia berdiri begitu dekat, hingga Ozora bisa merasakan aura dominan yang biasanya ia takuti, tapi kali ini terasa seperti pelindung.
Ozora menunduk, pura-pura sibuk mencari kunci di tasnya. "Kursi di barisan belakang lebih tenang, Sky. Lagipula, kamu sudah punya constant yang menemanimu di depan," ucap Ozora, mengutip caption foto Anastasia dengan nada pahit yang tak bisa ia sembunyikan.
Sky menghela napas panjang. Ia menyandarkan satu tangannya di loker, mengurung Ozora di antara tubuhnya dan deretan loker.
"Aku sudah menyuruhnya menghapusnya. Itu bukan keinginanku."
"Tetap saja, Sky. Itu kenyataannya," bisik Ozora, akhirnya berani menatap mata biru itu. "Empat bulan. Pertunangan. Ibumu. Aku... aku hanya gadis yang tidak sengaja satu kelompok denganmu. Kita berada di dunia yang berbeda meskipun duduk di meja yang sama."
Sky tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru bergerak lebih dekat. Tangannya perlahan turun ke pinggang Ozora, bukan lagi hanya sekadar menyentuh, tapi melingkar dengan tegas.
Ozora terkesiap, napasnya tercekat saat merasakan kehangatan telapak tangan Sky yang besar menembus kasmir tipisnya.
"Jangan pernah berpikir bahwa apa yang terlihat di layar adalah kebenaran, Ozora," gumam Sky, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ozora.
"Duniaku mungkin rumit, tapi di sini..." Sky menekan jemarinya sedikit lebih kuat di pinggang Ozora, "...di tempat yang hanya kita berdua tahu, aku tidak sedang bersandiwara."
Tepat saat itu, Phoenix lewat di ujung koridor sambil bersiul pelan. Ia melirik ke arah mereka, memberikan jempol rahasia pada Sky, lalu segera berbalik untuk memastikan Anastasia tidak berjalan ke arah yang sama.
"Sky, lepaskan... seseorang bisa melihat," bisik Ozora, meskipun di dalam hati ia ingin waktu berhenti di detik itu juga.
Sky melepaskannya perlahan, tapi matanya tetap mengunci mata Ozora.
"Pulang kampus nanti, aku akan menjemputmu. Tidak ada urusan tugas. Kita hanya akan... bicara."
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰