Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuknya, Selalu Untuknya
Senin pagi di kantor berjalan seperti biasa. Raka duduk di meja kerja menatap layar komputer yang berkedip-kedip. Email masuk, email keluar, laporan, Spreadsheet. Dunia yang dulu ia kuasai sekarang terasa asing, seperti bahasa tapi lupa cara membacanya.
"Raka."
Ia menoleh atasan, Pak Dedi berdiri di samping meja senyum profesional.
"Ini karyawan divisi marketing butuh koordinasi sama timmu untuk proyek Q3."
Raka berdiri tangannya otomatis terulur untuk berjabat lalu membeku.
Wanita di depannya tersenyum, rambut hitam panjang, di kuncir kuda. Mata almond dengan eyeliner tipis. Blazer biru laut pas di tubuh semua familiar, terlalu familiar.
"Apa kabar, Raka." katanya tersenyum tipis
Pak Dedi melirik heran, "Kalian kenal?"
"Lama," jawab Laras cepat. "SMA, Satu sekolah."
Raka terdiam mulutnya kering, 6 tahun terakhir ia melihatnya—di parkiran mal, melempar cincin hadiah ulang tahun ke wajahnya sambil berteriak: " Lo pilih dia? Lo pilih cewek kampung itu?"
Lalu ia pergi, Raka tidak mengejar karena ia memang memilih Kinan, gadis penjual bunga yang polos, yang cerewet, apa adanya.
"Raka?" Pak Dedi mengernyit. "Kamu gapapa?"
"Baik, Pak, " akhirnya ia bersuara. "Selamat datang, Laras."
Ia tersenyum, senyuman yang dulu pernah membuat Raka jatuh cinta—manis di bibir, tapi tidak sampai ke mata.
"Dunia kecil banget, ya?" katanya
\=\=\=\=
Makan siang, Raka duduk di tangga darurat belakang gedung, memegang kotak nasi yang dibeli dari warteg depan. Nasi sudah dingin, Ia tidak lapar.
Ponselnya bergetar.
Maya: "Ra, Lo udah makan siang belum?"
Ia menatap layar tidak tahu harus menjawab apa. Kalau bilang "sudah", itu bohong. Kalau "belum", Maya akan khawatir. Kalau ia cerita soal Laras...Ia tidak tahu kenapa tidak ingin Maya tahu.
Raka: "Sudah. Lo, May?"
Maya: "Baru mau. Gue di dekat kantor lo, ada urusan boleh ketemu sebentar?"
Raka melirik jam satu lewat lima belas. Ia harusnya kembali ke meja dalam lima belas menit kedepan.
Raka: "Nggak bisa, May, gue banyak kerjaan."
Maya: "Oke. Jangan lupa minum air putih. Lo kemarin batuk."
Raka tersenyum tipis satu hal yang ia suka dari Maya— tidak memaksa, tidak seperti Laras yang dulu, tidak seperti...Tidak. Ia tidak boleh membandingkan.
Ia menyimpan ponsel, berdiri, dan kembali ke lantai tiga.
Laras sudah di mejanya tertawa dengan rekan marketing lainnya keras dan berani, seperti saat dulu masih pacaran.
Raka duduk menatap layar mencoba fokus.
Tapi di sudut mata Laras melihatnya sembari tersenyum lalu mengangkat tangan melambai. Ia menunduk pura pura tidak tahu.
\=\=\=
Hari Rabu, koordinasi proyek Q3.
Raka masuk ruang meeting dengan tiga orang anggota timnya. Laras sudah di sana, duduk di ujung meja, laptop terbuka mengenakan kemeja putih, lengan digulung sampai siku. Dulu ia suka melihat lengannya—pucat, halus, berbeda dengan lengan Kinan sedikit gosong karena sering berjemur di taman saat berjualan.
"Silakan duduk," ucapnya professional.
Meeting berjalan satu jam presentasi dengan lancar, angka-angka, grafik, strategi. Raka mencatat, sesekali bertanya semua formal aman.
Sampai semua orang keluar, dan hanya mereka berdua tinggal mengumpulkan berkas.
"Lo baik-baik aja?" tanyanya tiba tiba
"Baik."
"Syukurlah ."
Tangan Raka berhenti mengumpulkan kertas. Satu detik dua detik. "Iya," jawabnya singkat. Hampir setahun."
"Gue nggak bisa datang ke pemakaman waktu itu, keluar kota."
"Nggak apa apa."
"Raka. " Ia berdiri di dekat pintu, blazer digantung di lengan, matanya basah—atau itu hanya ilusi cahaya lampu neon? "Gue minta maaf, semua yang gue bilang dulu. Gue... gue egois."
Raka menatapnya enam tahun lalu, ia mengatakan hal-hal yang tidak bisa dihapus: "Cewek kampung, miskin, jualan bunga—lo pilih dia?" Laras menertawakan impian Kinan membuka toko bunga. Tapi ia tidak menyesal tidak sedetik pun."Sudah lewat," ucapnya pelan, " Gue lupa."
"Gue senang lo baik-baik aja, maksudnya... lo kuat."
Raka tidak menjawab berjalan menuju pintu." Maaf, Ras, gue mesti ke ruangan."
"Ra," panggilnya lagi. "Lo masih suka soto pinggir jalan? dekat kantor ? Gue lihat masih ada."
Raka ingat soto ayam dengan kuah bening, cabai rawit yang membakar, dan Laras yang mengeluh perutnya sakit tapi tetap meminta tambah. Dulu mereka makan di sana setiap Jumat. Dulu.
"Gue nggak tahu, udah lama nggak ke sana."
Ia dengan cepat keluar
\=\=\=
Raka duduk di teras melepaskan lelah setelah pulang kantor. Tanaman, anak anaknya hampir mati—sekarang tumbuh subur di pot-pot bekas cat. Maya ikut membantu merawatnya, mengganti tanah, menyiram, memangkas daun-daun kering.
Ponselnya bergetar nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Ra, ini gue, gue minta nomor lo dari HRD. Maaf kalau ganggu."
Raka menatap tanaman di depannya, bunga krisan putih, favorit Kinan—bergoyang perlahan di angin malam.
"Ada apa?"
"Gue cuma mau bilang senang bertemu lu lagi dan gue harap profesional. Tapi juga... teman?"
Teman. Kata yang dulu pernah mereka gunakan saat putus. "Kita tetap teman, Ra," katanya saat itu tapi tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang.
"Gue nggak tahu, Laras, Gue... gue bukan Raka dulu lagi."
"Gue tahu. Gue juga bukan." Ia terdiam sejenak. "Tapi mungkin kita bisa saling mengenal versi baru."
Raka menutup mata lelah dengan semua persoalan yang muncul setelah Kinan pergi, jiwa nya belum tenang, "Maaf Ras, gue harus pergi,"
"Oke. Tapi Ra—thanks for listening."
Telepon mati. Raka tetap duduk di teras, menatap kekosongan.
\=\=\=
Jumat pagi, Maya datang dengan bekal.
"Gue masak opor ayam," katanya meletakkan rantang di meja "Lo suka yang kuahnya banyak, kan? Ingat gue pernah masakin buat ulang tahun lo?"
Raka tersenyum tipis tiga tahun lalu, sebelum Kinan sakit parah. Maya datang dengan opor dan kue brownies, lalu mereka bertiga makan di lantai sambil nonton film komedi.
"Thanks, May, Lo nggak usah repot-repot tiap hari."
"Gue suka masak," jawabnya mengambil sapu. "Lagian, kalau nggak buat lo, gue makan sendiri. Bosen."
Raka menatap punggung yang membungkuk menyapu lantai. Ia selalu punya alasan, punya jawaban yang membuatnya tidak bisa menolak. Itu yang ia suka dari Maya—atau itu yang membuatnya bersalah?
Ponsel bergetar. Pesan dari Laras.
Laras: "Meeting di ruang 302 jam 10 besok Jangan lupa bawa file proyek."
Raka menyimpan ponsel cepat-cepat. Maya tidak melihat—atau pura-pura tidak melihat.
"Siapa?" tanya Maya santai.
"Rekan kerja," jawab Raka terlalu cepat. "Soal meeting."
Maya mengangguk, terus menyapu. Tapi gerakannya sedikit lebih kencang, lebih tegang.
"May," Raka memanggil.
"Hmm?"
"Lo... lo nggak perlu datang tiap hari. Gue bisa sendiri."
Maya berhenti. Sapu di tangannya terhenti di tengah udara.
"Lo nggak mau gue datang lagi?"
Bukan itu. Raka ingin berkata bukan itu. Tapi kata-kata yang keluar: "Gue nggak mau lo capek. Gue nggak bisa ngasih apa-apa balik."
Maya menatapnya. Mata coklatnya—warna yang sama dengan Kinan, tapi bentuknya berbeda—menatap lurus
"Gue nggak minta apa-apa. gue cuma..."
Ia berhenti, menggeleng lalu tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata
"Oke, gue akan kurangi mungkin besok gue nggak bisa datang, ada urusan."
Raka ingin berkata tidak ada masalah dengan kehadirannya, tapi ia hanya diam.
Gadis itu pergi lebih cepat dari biasa. Raka duduk sendirian, menatap rantang opor masih mengepulkan uap.
Ia tidak lapar tapi makan satu suap, satu suap, sampai perutnya sakit.
\=\=\=
Sore itu hujan turun deras, langit muntah selama ini menanggung beban air yang menumpuk. Raka melihat jendela bisa saja naik motor, tapi jas hujannya bocor dan jalan licin...
"Gue bawa mobil," kata Laras tiba tiba saja sudah berdiri disamping mejanya " Gue antar lo pulang? Hujan deras di luar."
"Nggak usah repot, Ras."
"Bukan repot cuma lewat kok, gue tinggal di apartemen dekat kompleks lo."
Raka tidak tahu dunia memang kecil. Atau memang sengaja disempitkan?
"Baik" katanya dengan hati berat "Thanks."
Didalam mobil suasana hening sampai seperempat perjalanan."Lo masih tinggal di kontrakan yang sama?" tanya gadis itu memecah
"Iya."
"Yang dekat taman kota? Tempat... tempat Kinan berjualan?"
Raka menoleh. Laras menatap jalan, tangan di setir, ekspresi netral. "Iya," .
"Gue pernah lewat sekali malam. Gue liat lo duduk di bangku sendirian."
Raka tidak ingat malam mana karena ia sering duduk di bangku taman
"Gue nggak ganggu," lanjutnya. "Gue cuma... liat terus pergi."
"Kenapa cerita sekarang?"
Ia menghela napas tangan kirinya mengepal di paha "Dulu gue pikir lo akan pindah setelah semuanya berakhir, tapi lo tetap di sana di tempat yang sama dengan kenangan-kenangan itu. Gue nggak tahu lo kuat atau bodoh, Ra, Gue nggak bisa kayak gitu."
"Gue bukan kuat, gue cuma... nggak tahu mau ke mana."
"Itu yang gue maksud, Ra."
Tiba-tiba, wangi mawar menyengat mengisi ruangan mobil.
Laras mengerutkan hidung. "Apa itu?"
"Apa?"
"Bau... bunga? Kayak mawar bau parfum lo?"
Raka menatap sekeliling tidak ada bunga di mobil atau parfum baru. Tapi ia mengenal bau vanila dan mawar, campuran khas Kinan. Bau yang selalu menempel di bantalnya, di baju-bajunya yang tersisa. "Bukan..bukan parfum gue."
Laras membuka sedikit jendela. "Aneh bau banget tiba-tiba."
---
Di depan, lampu merah mobil berhenti.
Tiba-tiba, radio menyala sendiri melompat dari frekuensi statis ke lagu—lagu yang Raka kenal baik. "Separuh Nafas" oleh Dewa 19. Lagu yang Kinan nyanyikan dengan suara fals, sambil menari-nari di dapur.
"What the—" Laras cepat mematikan radio, tubuhnya menegang "Kenapa nyala sendiri?"
Raka hanya diam, tapi dadanya terasa hangat"Mungkin Tape lo korsleting, Ras."
" Gak mungkin, ini mobil baru kok."
Lampu hijau, Laras menekan gas, mobil melesat kencang .
---
Di tengah perjalanan, AC menyala sendiri dengan suhu turun drastis.
Laras mengerang. "Ini mobil kenapa sih?"
Ia berusaha mematikan AC. Tapi tombolnya tidak berfungsi—AC tetap menyala, meniup udara dingin menusuk.
"Ra, lo dingin nggak?" tanyanya pucat.
Raka tersenyum tipis, merasa ada yang duduk di kursi belakang tidak terlihat, tapi dekat di urat lehernya , seakan menepuk pundaknya dari belakang berbisik, " Mas, enak ya numpang mobil mantan."
"Raka!" Laras berteriak. "Lo denger gue nggak?"
"Denger, tapi gue gak kedinginan."
Ia menatapnya aneh. "Dingin banget lho. Suhunya... tuh, liat—" ia menunjuk panel digital. 16 derajat padahal sudah matikan."
.
---
Tiba tiba mobil berhenti di bahu jalan, hujan masih deras mengguyur kaca.
"Gue... gue liat ada yang nulis," Laras gemetar matanya melirik ke kursi belakang terus-menerus. "Ra, lo liat nggak? Ada yang nulis—"
Raka menatap kaca tidak ada apa apa, tapi jejak air masih membekas membentuk huruf " K" diberi hati kecil di ujung, cara Kinan menulis."Gue nggak liat apa-apa," bibirnya bergetar, menahan senyum.
Laras memegang setir dengan kedua tangan. Jari-jarinya putih karena tekanan."Gue... gue antar lo sampai sini aja, lo bisa naik ojek online nggak dari sini?"
Raka menatap gadis itu benar benar pucat ketakutan "Oke," katanya turun dari mobil, menempuh hujan deras, " Terimakasih, Ya Ras."
Sebelum menutup pintu, ia sempat melihat ke kursi belakang kosong tapi bau mawar masih ada. Dan untuk satu detik—satu detik saja—ia merasa tangannya diremas hangat dan nyata.
" Pulang cepat, jangan kepikiran mantan, ntar sakit."
---
Di rumah, Raka duduk di lantai, punggung menempel dinding basah dingin sendiri.
Tapi tidak sepenuhnya sendiri Ia tahu itu sekarang.
Ponselnya bergetar.
Maya: "Hujan deras. Lo pulang naik apa?"
Raka menatap layar. Jari-jarinya melayang di atas keyboard ingin bercerita: "Gue baru aja naik mobil Laras, tapi Kinan marah sampai Laras mati ketakutan."
Tapi ia menulis: "Teman kantor. tadi lewat."
Maya: "Oh. Bagus. Hati-hati ya."
Raka: "Lo nggak datang hari ini."
Maya: "Gue bilang kan, ada urusan. Besok gue datang."
Raka: "Nggak usah repot repot, May"
Lama tiga menit, lima menit tidak ada balasan.
Lalu
Maya: "Oke. Kalau lo bilang gitu."
Raka diam tidak membalas lalu berbisik ke Udara , " Nan lu gak suka dengan laras?"
---
Di Ruang Tunggu, Kinan duduk di lantai putih tak berbatas, terengah-engah energinya hampir habis
"Kamu nekat," kata Wanita tua itu berang . "Tiga intervensi sekaligus, bau, radio, suhu, kamu mau punah?"
"Mas Raka.. numpang mobil mantannya, aku nggak bisa diam aja."
"Itu bukan urusanmu Kinan, Dia masih hidup. Kamu—"
"Aku tahu," potongnya cepat "Tapi aku juga tahu Laras itu siapa, orang yang nyakitin mas Raka."
"Cinta memang bikin orang gila bahkan setelah mati."
Kinan menatap "jendela" di depannya—transparan, menunjukkan Raka di kamarnya, sedang tersenyum sendiri. "Dia tahu, aku ada di sana."
"Dan itu berbahaya, kalau dia terlalu yakin, dia akan cari kamu lalu mengikuti."
"Maksudnya?"
"Kamu harus hati-hati. Nak, Cinta yang terlalu kuat bisa menarik jiwa."
Kinan menatap kembali ke jendela, dia sudah tidur, tersenyum dalam mimpi
"Aku akan hati-hati," bisiknya Tapi jiwanya membantah ia tahu: akan melakukannya lagi, dan lagi untuk Raka, selalu untuknya
mampir 🤭