Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Sebelas
Rico meremas jantungnya terasa sakit saat mengingat Hana.
"Apa kau baik-baik saja, Hana?" gumam Rico
Rico bangkit dari kursi kebesarannya. Entah kenapa ia menjadi memikirkan Hana. Ada apa dengan dirinya? Rico kembali ke meja kerjanya mengambil ponsel untuk menelpon seseorang.
"Hallo, bos!" sapa orang yang ia telpon
"Untuk pencarian Hana, kalian lanjutkan saja. Jangan berhenti sampai ketemu!" perintah Rico pada orang kepercayaannya.
"Baik, bos. Kami akan menyebarkan anak buah lebih jauh lagi lokasi pencariannya."
"Bagus. Saya tunggu kabar baiknya!"
Sambungan telpon pun di matikan seusai Rico memberikan perintah.
drrttt drrrttt
Ponsel Rico kembali bergetar ada panggilan masuk. Di lihatnya nama yang tertera. Rico menerima panggilan itu karena dari ibunya.
"Hallo, bu!" sapa Rico
"Kamu bisa pulang malam ini, nak?"
"Baiklah, bu."
Setelah menyanggupi permintaan ibunya, Rico kembali mengerjakan sisa pekerjaannya.
Waktu sudah menunjukkan jam jam 5 sore. Rico bergegas menyimpan berkas-berkas yang ia kerjakan tadi. Ia keluar dari ruangannya yang sudah mulai lengang. Di perusahaan Dirgantara ini, jam pulang kariawan mulai dari jam 4 sore. Jika pun ada lembur maka waktunya di batasi. Itu adalah peraturan dari almarhum Burhan ayahnya Rico.
Ayah Rico tidak menginginkan waktu bersama keluarga di habiskan oleh mereka bekerja atau lembur sampai tinggi malam.
Rico membuka pintu ruangannya dan melihat Suzil masih berkutat dengan komputernya. Rico berhenti sebentar menyapa Suzil.
"Kenapa belum pulang?"
"Masih tanggung, pak. Sedikit lagi selesai juga laporannya, pak." jawab Suzil.
"Ya sudah. Jangan terlalu diforsir. Kamu bisa besok lagi mengerjakannya. Saya pulang dulu, Zil."
Suzil berdiri menunduk "Baik, pak. Hati-hati di jalan!"
Rico berjalan menuju lift. Setelah pintu lift terbuka, Rico langsung masuk menekan tombol menuju lantai satu. Rico berjalan ke parkiran khusus presdir. Rico memacu mobilnya membelah jalanan yang padat merayap.
Hampir satu setengah jam, Rico baru sampai di rumah utama. Rico masuk setelah bertanya di mana ibunya pada ART rumah mereka.
"Sayang!" seru ibunya saat melihat Rico.
Rico menghampiri ibunya dan mencium pipi ibunya.
"Sayang, kenalin ini tante Yolan tetangga kita dulu!" ucap ibunya senang.
"Rico, tante!" Rico menjabat tangan Yolan yang sebenarnya tidak di ketahui Rico sebenarnya.
"Wah, anak kamu tampan banget, ya jeng. Cocok nih sama anak tante!"
Rico hanya menyunggingkan sedikit senyum mendengar ucapan Yolan.
"Bu, Rico kekamar dulu, mandi ya! Permisi dulu tante, Rico tinggal!" pamit Rico pada mereka yang ada di ruang tamu. Rico menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Gimana Tania, menurut kamu anak tante?" tanya ibu Rico.
"Tampan dan Tania suka tante." ucapnya to the point.
"Wah wah kamu itu ya, gercep banget sih." ujar mama Tania. Tania hanya nyengir saja mendengar ucapan mamanya.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian santai, Rico turun menemui ibunya. Meski malas, tapi demi menghormati ibunya.
Kini mereka berkumpul di meja makan.
"Rico, besok kamu temani Tania ya!" pinta ibunya
"Tapi bu, Rico besok masih sibuk. Kerjaan lagi numpuk bu." jawab Rico
"Nggak papa, kak. Aku bisa tunggu kak Rico selesai kerja, baru kita jalan!" Tania sepertinya memang menyukai Rico.
"Baiklah, kalau kamu mau menunggu." Rico mengiyakan saja. Ia malas berdebat. Hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah insiden tadi siang di kantornya. Ia masih kepikiran keadaan Hana.
*
Hana sudah rebahan di atas kasur kecilnya. Ia sudah tidak bekerja untuk sementara waktu. Hana harus menghemat pengeluarannya. Beruntungnya, uang hasil kerjanya dulu ia tabung.
Malam semakin larut, hanya suara-suara jangkrik yang menjadi teman dalam kesunyian malam. Hana pun sudah larut dalam alam mimpinya. Perut yang semakin besar membuatnya semakin cepat lelah dan juga mengantuk.
Pagi menjelang, Hana sudah bersiap diri untuk jalan-jalan pagi. Banyak bergerak akan lebih bagus untuk kehamilannya. Terlebih agar kaki tidak terlalu bengkak. Hana mulai berjalan menyusuri jalan beraspal. Tidak jauh, hanya sekitar 500 meter saja. Dua kali bolak balik, Hana memutuskan istirahat di sebuah kedai pinggir jalan.
Kedai yang setiap pagi buka, menyediakan menu sarapan, mulai dari nasi kuning, lontong, bubur ayam, dan juga aneka kue basah. Hana membeli satu bungkus nasi kuning dan juga beberapa jenis kue untuk kudapan teman ngeteh.
Ia berjalan kembali ke kontrakannya, sebelumnya ia akan melakukan olah raga ringan terlebih dulu. Hana merentangkan sebuah matras, lalu di putarnya video senam khusus ibu hamil. Hana melakukan senam kegel, gerakan senam tailor, dan juga senam jongkok.
Semua gerakan memiliki fungsi untuk ibu hamil. Apa lagi di saat semester tiga. Hana hanya melakukan gerakan senam sederhana saja. Setalah dua puluh menit, Hana istirahat perutnya sudah meronta minta di isi. Biasanya ibu hamil yang sudah masuk semester tiga nafsu makannya sudah membaik.
Hari ini Hana juga akan pergi belanja ke salah satu Mall di kota Cantik, ada beberapa peralatan calon bayi yang tidak ada. Hana memesan taxi online dan seperti biasa ia sangat menikmati perjalanannya.
Beberapa puluh menit di jalan, taxi yang di tumpangi Hana sudah tiba di halaman parkir Mall. Selama tinggal di Palangkaraya, Hana memang tidak memiliki teman yang dekat, ia memang tidak pernah mau merepotkan orang lain. Waktu masih di panti pun Hana selalu menjadi andalan ibu panti untuk membantunya.
Hana berkeliling mencari kekurangan peralatan calon bayinya.
"Wah lucu banget!" ucap Hana saat melihat jejeran baju-baju bayi yang di pajang. Mungkin seluruh ibu-ibu biasanya akan kalap dalam berbelanja pakaian calon bayi atau bayi yang baru di lahirkan. Sama halnya dengan Hana. Andai ia tak memikirkan jangka panjang mungkin keranjang di tangannya sudah penuh dengan pernak pernik bayi.
Di rasa sudah cukup, Hana berjalan kekasir untuk membayar belanjaannya. Karena buka weekend maka antrian di kasir juga tidak banyak hanya menunggu satu orang di depannya.
Sesampainya di rumah, Hana beristirahat. Nantinya ia akan mengepak barang-barang yang akan ia bawa ke klinik bidan praktek. Dua hari ini Hana sudah beberapa kali merasa kontraksi di perutnya. Meski tidak sering, Hana tetap berjaga-jaga karena menurut dokter HPL tidak menjamin bisa sesuai. Kadang bisa maju, bisa juga mundur.
Jika kontraksi itu hadir, Hana akan menarik napas pelan lalu ia keluarkan lewat mulut. Pikirannya harus rileks. Ia tidak boleh stres. Meski hidup sebatang kara, Hana sering mendapatkan perhatian dari orang-orang sekelilingnya. Terkadang mereka juga memberikan Hana makanan atau bantuan.
Namun, Hana berpegang pada prinsipnya. Tidak ingin merepotkan orang lain. Terbiasa hidup mandiri membuatnya berpikir dewasa.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya. Di tunggu juga reviewnya.
Follow IG aku ya @thoro_ro
Happy reading
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....