Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Wening sampai mundur beberapa langkah menjaga keseimbangan. Untung saja Yuda tidak terlalu kencang, mungkin karena gemas pria itu refleks saja.
"Sorry, makanya jangan kepo!" tekan pria itu dingin.
Melihat itu dari jarak pandang beberapa meter, Seno langsung bergegas turun dari mobil menghampiri istrinya. Pria itu nampak marah melihat seorang pria yang dengan kurang ajarnya hampir mencelakai istrinya.
"Heh, bocah! Apaan kamu! Main dorong-dorong anak orang! Cowok bukan sih!" bentak Seno kesal.
Mendengar suara familiar yang cukup menggelegar, Wening dan Yuda menoleh ke sumber suara.
Pria itu jelas tidak terima, langsung balas mendorong pemuda tanggung itu hingga terjungkal ke lantai paving. Melihat itu, Wening sampai menutup mulutnya tak percaya. Seno benar-benar melakukan pembelaan untuknya.
Yuda terdiam menyorot dingin pria dewasa di depannya. Tak mau cari ribut, pria itu tidak meladeni, melainkan pergi begitu saja dengan kendaraannya.
Seno masih mengomel disaksikan Wening dari belakang.
"Kenapa diem aja, kalau disakitin sama orang tuh lawan. Giliran sama suami aja berani, dia siapa? Ngapain kamu sampai didorong-dorong!" omel Seno hingga masuk ke mobilnya.
"Bukan siapa-siapa, tadi ada sedikit kesalah pahaman aja," jawab Wening tidak fokus. Sungguh gadis itu dibuat penasaran setengah mati dengan sikap Yuda.
"Hei, melamun lagi. Ning!" seru pria itu gemas.
"Iya Om, denger," jawabnya datar.
"Am Om am om, dibilangin panggil dengan sebutan yang baik dan benar, aku bukan Om kamu. Paham!"
Wening mengangguk sebagai respon, ia masih belum fokus. Mengiyakan saja perkataan suaminya, yang Wening sendiri tidak menyimak. Hingga sampai di halaman rumah, membuat gadis itu linglung seketika.
"Turun! Udah sampai!" kata pria itu membuyarkan lamunan Wening.
"Eh, di mana ini? Kok nggak pulang ke rumah mama?" tanya gadis itu seraya keluar dari mobil.
"Jangan harap pulang ke rumah itu lagi. Masuk!"
"Om!" panggil gadis itu lagi yang membuat Seno menyorotnya tajam.
"Maaf, lidahku keseleo, sudah terlalu nyaman dengan panggilan itu. Anggap saja itu panggilan spesial," ralat gadis itu tenang.
Seno kembali melangkah memasuki ruang utama. Sebuah hunian yang cukup besar dan mewah. Wening merasa takjub masuk ke dalam.
"Om, kita tinggal di sini?" tanya gadis itu menyapu tatapan liar ke sepenjuru ruangan.
"Iya, bersikaplah lebih dewasa, kamu seorang istri, jadi, mulai sekarang kamu akan melayani suamimu!" kata pria itu cukup jelas dan gamblang.
"Hah! Maksudnya?" tanya Wening cukup shock mendengar kata 'melayani'
"Heh bocah! Lihatnya biasa aja, ada yang salah? Aku suamimu, dan kamu istriku. Jadi, wajarkan kalau istri melayani suami?" jelas pria itu tenang.
"Hehehe. Om ngadi-ngadi ya, Wening kan masih sekolah, mana boleh begituan," tolak gadis itu dengan polosnya.
"Kecil-kecil viktor. Emang kamu pikir melayani dalam hal apa?"
"Ya ... dalam hal lainnya yang sering suami dan istri lakukan. Wening belum bisa," ucap gadis itu jujur sekali.
"Kecil-kecil nyambung juga, baguslah kalau ngerti. Pastilah aku mau itu, siap-siap saja," gurau Seno yang membuat Wening mendelik resah.
"Tapi Om—"
"Kenapa? Keberatan? Kalau istri di rumah tidak bisa melayani suami dengan baik, jangan salahkan suami mencari perempuan lain di luar sana," ancam Seno terdengar sungguh-sungguh.
"Kenapa nggak dari kemarin saja, terus pulangin Wening ke kampung," jawab gadis itu nampak antusias.
"Boleh?" tantang Seno sungguh tak percaya dengan tanggapan istri ajaibnya.
Ada begitu istrinya mengizinkan suaminya mencari perempuan lain, atau sebegitu nggak sukanya dia dengan pria itu.
"Kamu sehat? Banyak perempuan di luar sana yang mengantri jadi Nyonya Seno Adiguna, kamu harusnya bersyukur bisa di tempat ini!" tekan Seno gemas.
"Aku udah bersyukur kok, walau masih sering digalakin dan dimarahin setiap hari. Di kampung saja ibu nggak pernah bentak-bentak, kamunya malah hobbynya marah terus."
"Itu karena kamunya bandel, coba sedikit nurut, kalem dikit jadi cewek, aku nggak mungkin marah."
Seno berjalan menaiki tangga, Wening mengekor hingga ke atas.
"Om, kamar aku yang mana?" tanya gadis itu tak sabar ingin rebahan atau duduk santai dengan tenang.
"Itu kamar kita, awas jangan berantakan dan jangan bikin rusuh!"
"Om, kita satu kamar? Emang rumah segede gini kamarnya cuma satu? Aku nggak mau," tolak Wening terang-terangan.
"Saya yang memberi perintah, siapa yang mengizinkan protes!"
"Tapi Om, apa tidak ada kamar lain. Aku butuh privasi," ujar Wening masih menego.
"Banyak, dikos-kosan. Kita itu mau bangun rumah tangga, bukan rumah kost, jadi mana ada suami istri pisah ranjang."
"Om, Wening masih sekolah loh, jangan macam-macam. Aku takut om tergoda dengan tubuhku yang terlalu aduhai ini."
"Kamu mau menggodaku, yang ada kamu nanti yang nggak bisa tahan lihat pesona aku," kata pria itu cukup percaya diri.
"Pokoknya om jangan macam-macam selama aku masih sekolah!" ancam gadis itu cerewet sekali.
"Berisik!"