NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Gerbang Frekuensi

Arlan berlari menyusuri gang-gang Sektor Tujuh dengan paru-paru yang terasa terbakar. Di belakangnya, suara deru statis yang masif mulai menelan blok apartemen tempat ia dibesarkan. Ia tidak menoleh. Ia tahu bahwa jika ia melihat ke belakang, ia akan melihat bayangan ibunya yang tadi ia selamatkan dengan memori palsu ikut memudar menjadi partikel perak kelabu. Dunia di sekitarnya mulai mengalami fragmentasi; aspal jalanan melengkung seperti pita kaset yang kusut, dan beberapa gedung tampak tumpang tindih dalam aberasi kromatik yang menyakitkan mata.

"Dante, dengung di telingaku semakin keras," desis Arlan ke alat komunikasi. Ia harus menekan telapak tangan kanannya yang masih terbalut perban ke dinding untuk menjaga keseimbangan. Luka bakar akibat koin perak yang ia temukan di saku baju satpam sebelumnya terasa berdenyut, seolah-olah logam di dalam darahnya bereaksi terhadap distorsi ruang ini.

"Itu karena kau sedang mendekati batas distrik, Arlan," suara Dante terdengar berat, terdistorsi oleh gangguan frekuensi. "Sektor Tujuh sedang dihapus. Para penghapus tidak ingin ada residu emosional yang tersisa. Kau harus mencapai gerbang sebelum ruang di sana menjadi solid dan menguncimu selamanya."

"Bagaimana dengan warga yang lain? Mereka masih di sana!"

"Kau tidak bisa menyelamatkan mereka sekarang, Kurir. Fokus pada kakimu. Jika kau berhenti, kau hanya akan menjadi satu baris data yang dibuang ke dalam kekosongan."

Arlan terus memacu langkahnya. Bau ozon yang tajam bercampur dengan aroma amis besi menyerang indra penciumannya. Ini adalah aroma khas dari proses penyerapan panas seluler—fenomena endotermik yang menandakan bahwa realitas sedang disedot habis. Di ujung jalan yang mulai kehilangan saturasi warnanya, Arlan melihat sebuah tirai cahaya vertikal yang bergetar hebat. Itulah Gerbang Frekuensi.

Dua sosok tinggi berdiri tegak di depan tirai tersebut. Mereka mengenakan jubah abu-abu metalik dengan wajah yang rata, tanpa fitur manusia apa pun selain sebuah cakram perak yang berputar pelan di posisi dahi mereka.

"Penjaga gerbang," gumam Arlan, langkahnya melambat hingga berhenti di balik tumpukan kontainer logistik yang sudah mulai keropos. "Mereka menutup jalan. Aku tidak melihat ada celah."

"Tentu saja tidak ada celah fisik," balas Dante. "Gerbang itu memindai frekuensi keberadaan. Kau membawa Koin Perak dan darah murni yang belum tersalin. Bagi sensor mereka, kau adalah 'noise' yang harus dibersihkan. Kau tidak bisa lari menembusnya begitu saja."

"Lalu aku harus bagaimana? Menyerah?"

"Dengarkan aku dengan saksama. Kau harus menggunakan sinkronisasi napas manual total. Kau harus menurunkan frekuensi biologis tubuhmu hingga selaras dengan getaran dinding energi itu. Kau harus menjadi hampa agar mereka menganggapmu sebagai bagian dari kegagalan sistem, bukan penyusup."

Arlan memejamkan mata. Ia merogoh saku jaketnya, menggenggam koin perak yang masih terasa hangat. Ia teringat bagaimana ibunya—salinan itu—menangis perak di dapur tadi. Rasa duka itu ia gunakan sebagai jangkar emosi untuk menstabilkan fokusnya.

Ritme yang Dipaksa

Arlan mulai mengatur tarikan napasnya. Ia memerintahkan setiap otot di dadanya untuk bergerak dengan ritme yang lambat dan presisi. Tarik. Tahan. Embuskan. Ia melakukannya berulang kali hingga detak jantungnya yang tadi memburu mulai melambat, jatuh ke dalam frekuensi yang rendah dan berat.

"Aku mulai merasakan getarannya, Dante," bisik Arlan. Suaranya terdengar jauh, seolah ia sedang bicara di bawah air.

"Bagus. Sekarang jalan. Jangan ragu. Jika detak jantungmu melonjak meski hanya satu denyut, sensor cakram mereka akan langsung mengunci identitasmu."

Arlan melangkah keluar dari bayangan kontainer. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah ia sedang berjalan di dalam lumpur hisap. Suara langkah kakinya tertelan oleh hampa akustik yang menyelimuti area perbatasan. Saat ia mendekat, cakram perak di wajah penjaga gerbang sebelah kiri mulai berputar lebih cepat.

Zzzzt... Zzzzt...

Suara itu terdengar seperti pisau yang menggores kaca di dalam kepala Arlan. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa saat sensor sonar penjaga itu menyapu permukaan kulitnya. Arlan terus berjalan, matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya sepenuhnya terfokus pada perintah manual ke paru-parunya.

"Status biometrik: anomali ringan," suara mekanis penjaga itu bergema, datar dan tanpa emosi.

Arlan merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, namun ia menolak untuk gemetar. Ia teringat pesan ayahnya dalam fragmen memori sebelumnya—bahwa kunci asli berada di dalam kehendak, bukan di dalam benda.

"Lanjutkan pemindaian," perintah penjaga lainnya.

Arlan kini berada tepat di depan tirai frekuensi. Cahaya putih kebiruan itu menyilaukan matanya. Ia bisa merasakan energi statis yang membuat rambut halus di lengannya berdiri. Satu langkah lagi, dan ia akan bersentuhan langsung dengan dinding penghapus.

"Jangan berhenti, Arlan," suara Mira terdengar samar, hampir seperti bisikan hantu di dalam komunikatornya. "Kami menunggumu di sisi lain. Tembuslah."

Arlan menarik napas terakhirnya secara manual, menahannya di dalam rongga dada, lalu ia melangkah masuk ke dalam tirai energi itu.

Rasa sakitnya datang seketika. Rasanya seperti ribuan jarum panas ditusukkan ke setiap pori-porinya. Arlan ingin berteriak, namun suaranya tertahan oleh kekosongan udara. Ia melihat tangan kanannya mulai terlihat transparan, memperlihatkan aliran darah merahnya yang berpendar di tengah dominasi cahaya perak. Identitasnya sedang diuji. Realitas sedang mencoba menolaknya.

"Aku... adalah... manusia..." batin Arlan, ia mencengkeram koin perak di sakunya hingga telapak tangannya kembali berdarah.

Darah segar yang merembes dari luka bakarnya menjadi penyeimbang frekuensi. Cairan organik itu memberikan beban realitas yang dibutuhkan untuk memecah dinding statis. Dengan satu sentakan keras, Arlan merasa tubuhnya ditarik keluar dari ruang hampa tersebut.

Ia jatuh tersungkur ke atas permukaan yang keras dan dingin. Arlan terengah-engah, melepaskan tahanan napasnya hingga paru-parunya menghisap udara dengan rakus. Bau ozon menghilang, digantikan oleh aroma tanah basah dan bensin basi yang sangat nyata.

"Arlan! Kau mendengarku?" suara Dante kini terdengar sangat jernih, tanpa gangguan statis sedikit pun.

Arlan membuka mata perlahan. Di belakangnya, ia tidak lagi melihat Sektor Tujuh. Yang ada hanyalah sebuah dinding beton tua dengan grafiti yang memudar dari tahun 2012. Distrik itu benar-benar telah hilang dari pandangannya, seolah-olah ia baru saja melintasi batas menuju dunia yang berbeda.

"Aku... aku sudah keluar," bisik Arlan. Ia menyentuh tanah di bawahnya, merasakan debu dan kerikil. "Ini bukan lagi Lentera Hitam yang kukenal."

"Kau berada di Zona Netral sekarang," jawab Dante. "Tempat di mana salinan tidak bisa bertahan lama karena kurangnya stabilitas frekuensi. Tapi itu bukan berarti kau aman. Di sana adalah tempat pembuangan anomali."

Arlan berusaha berdiri, namun rasa sakit di punggung dan kakinya membuatnya kembali meringis. Ia melihat sekeliling. Tempat itu tampak seperti sisa-sisa kota pasca-perang. Mobil-mobil berkarat berjajar di jalanan yang retak, dan lampu jalan hanya berupa tiang besi yang sudah bengkok.

"Mira, kau di mana?" tanya Arlan, mencoba mencari arah.

"Aku melihatmu di radar panas, Arlan," suara Mira terdengar lega. "Tetaplah di sana. Ada seseorang yang sedang menuju ke arahmu. Dia bukan musuh, tapi dia juga bukan sepenuhnya teman. Hati-hati."

Arlan meraba sakunya, memastikan koin perak dan kunci tua tanpa pintu itu masih ada di sana. Di tengah kesunyian Zona Netral, ia mendengar langkah kaki yang menyeret di atas aspal yang pecah. Seseorang sedang mendekatinya dari balik bayangan sebuah bus tua yang terguling.

Beban yang Berdenyut

Langkah kaki yang menyeret itu berhenti tepat di batas cahaya lampu jalan yang redup. Arlan menajamkan penglihatannya, berusaha menembus aberasi kromatik yang masih sesekali muncul di sudut matanya. Sosok yang keluar dari balik bus terguling itu tampak seperti bayangan yang compang-camping; seorang pria tua dengan seragam kurir yang sudah memudar warnanya, jenis seragam yang sudah tidak lagi digunakan sejak dekade lalu.

"Jangan gunakan napas manualmu terlalu keras di sini, Nak," suara pria itu terdengar parau, seperti gesekan amplas di atas kayu. "Di Zona Netral, udara tidak akan menipumu, tapi paru-parumu mungkin akan lupa cara bekerja secara alami jika kau terlalu lama memerintahnya."

Arlan menurunkan posisi siaganya, namun tangannya tetap menggenggam koin perak di balik saku jaket. "Siapa kau? Mira bilang kau bukan musuh."

"Mira? Oh, gadis yang bisa mendengar kekosongan itu," pria itu terkekeh pelan, menyingkap wajah yang penuh kerutan namun memiliki mata yang sangat jernih—terlalu jernih untuk standar warga Lentera Hitam. "Namaku tidak penting lagi. Aku hanya salah satu 'anomali' yang gagal dihapus saat Sektor Lima diratakan sepuluh tahun lalu."

"Kau seorang kurir?" Arlan memperhatikan lencana karatan di dada pria itu.

"Dulu. Sebelum aku menyadari bahwa barang-barang yang kami antar bukan sekadar paket, melainkan potongan jiwa yang tercecer," pria itu mendekat, langkahnya kini lebih stabil. "Kau baru saja menembus gerbang itu dengan darah murnimu, bukan? Aku bisa mencium bau besi segar dari perbanmu. Bau yang sangat dibenci oleh para Peniru."

"Dante mengirimku. Dia bilang aku harus mencapai markas bawah tanah," Arlan menegaskan tujuannya.

"Dante selalu punya rencana, tapi dia sering lupa memberitahukan harganya," pria tua itu berhenti tepat di hadapan Arlan. Ia menunjuk ke arah saku jaket Arlan yang berpendar tipis. "Koin yang kau bawa itu... dia mulai bicara padamu, bukan? Dia mulai terasa panas?"

Arlan terdiam sejenak. Panas di telapak tangannya memang semakin meningkat sejak ia menembus dinding frekuensi tadi. "Bagaimana kau tahu?"

"Karena koin itu adalah beban kolektif. Semakin banyak kau kumpulkan, semakin kau akan merasa asing di tubuhmu sendiri. Kau akan mulai melihat memori orang lain seolah itu adalah memorimu. Kau akan mulai meragukan apakah air matamu adalah milikmu, atau milik ribuan orang yang sudah dihapus."

Peringatan di Tengah Sunyi

Angin dingin berhembus melewati reruntuhan, membawa aroma debu dan kenangan lama. Arlan merasa martabatnya sebagai manusia sedang diuji oleh kata-kata pria ini. Dilema itu muncul kembali; apakah menjadi "Wadah" adalah sebuah kehormatan atau justru kutukan yang akan menghapus identitasnya sendiri?

"Aku tidak punya pilihan," ucap Arlan dengan nada yang lebih tegas. "Jika aku tidak membawanya, semuanya akan menjadi salinan yang kosong. Ibuku... dia sudah menjadi bagian dari kepalsuan itu. Aku tidak ingin dunia berakhir seperti dia."

"Keadilan yang kau cari adalah beban yang sangat berat, Kurir," pria itu menepuk bahu Arlan dengan tangannya yang terasa kasar namun hangat—kehangatan organik yang nyata. "Ingat pesanku: jangan pernah berikan koin itu kepada siapapun sebelum kau benar-benar melihat bayangan aslimu di cermin hampa. Bahkan pada mereka yang menyebut diri mereka Archivist."

"Kenapa kau memperingatkanku soal sekutuku sendiri?"

"Karena di dunia yang penuh salinan, kejujuran adalah barang paling langka. Sekarang pergilah. Pintu besi di bawah menara air itu adalah jalanmu. Mira sudah membuka kuncinya dari sana."

Arlan menatap pria tua itu untuk terakhir kalinya. "Kau tidak ikut denganku?"

"Tempatku di sini, di antara sisa-sisa yang tertinggal. Seseorang harus tetap tinggal untuk mengingatkan dunia bahwa anomali itu nyata." Pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan Zona Netral sesunyi uap yang memuap.

Arlan tidak membuang waktu lagi. Ia berlari menuju menara air tua yang menjulang di kejauhan. Sesampainya di sana, ia menemukan sebuah pintu besi berat yang tertimbun tumpukan ban bekas dan kayu lapuk. Dengan satu tarikan kuat menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, ia membuka pintu itu.

"Dante, aku sudah di titik masuk," lapor Arlan.

"Masuklah, Arlan. Kami sudah menunggumu," suara Dante terdengar penuh otoritas di ujung komunikasi.

Arlan melangkah masuk ke dalam terowongan yang gelap, menuruni tangga beton yang berbau oli dan kelembapan bawah tanah. Di ujung tangga, sebuah cahaya lampu minyak temaram menerangi sosok dua orang yang sangat ia kenali. Dante berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya yang keras tampak sedikit melunak saat melihat Arlan. Di sampingnya, Mira berdiri dengan earphone besar melingkar di lehernya, memberikan senyum tipis yang penuh kelegaan.

"Kau berhasil, Arlan," ujar Mira, suaranya terdengar jernih tanpa gangguan statis untuk pertama kalinya. "Kau benar-benar menembusnya."

"Selamat datang di realitas yang sebenarnya, Kurir," sambut Dante. Ia melangkah maju, menjabat tangan Arlan dengan kuat. "Sektor Tujuh mungkin sudah hilang, tapi perlawanan kita baru saja dimulai di sini."

Arlan melihat sekeliling bunker yang dipenuhi oleh peta-peta lama dan peralatan radio analog. Di sini, di bawah tanah yang dalam, detak jantungnya terasa lebih tenang. Ia meraba koin di sakunya, merasakan denyutnya yang kini melambat, seolah-olah benda itu pun merasa telah pulang ke rumah yang seharusnya.

"Apa langkah selanjutnya?" tanya Arlan, suaranya kini terdengar lebih dingin dan terkendali—sebuah tanda awal dari evolusi mentalnya.

"Kita akan mengaudit koin yang kau bawa," jawab Dante sambil menunjuk ke sebuah meja perak di tengah ruangan. "Kita harus memastikan bahwa memori di dalamnya tidak terkontaminasi oleh kode penghapus. Dan setelah itu, kau akan tahu mengapa darahmu begitu istimewa bagi dunia ini."

Arlan mengangguk. Ia meletakkan koin perak itu di atas meja. Cahaya lampu minyak memantul di permukaannya, menciptakan bayangan yang menari di dinding bunker. Di tempat ini, jauh dari cahaya hijau kebiruan Lentera Hitam, Arlan menyadari bahwa kehidupannya yang tercuri mungkin akan segera ia ambil kembali, satu fragmen demi satu fragmen.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!