NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kebutaan yang Menipu

Jalan setapak menuju Qing-He adalah hamparan debu dan kerikil tajam yang seolah tidak berujung. Bagi Guiren, dunia kini tidak lagi dibatasi oleh dinding tebing atau pagar desa yang terbakar, melainkan oleh suara roda kereta kuda yang melintas beserta aroma keringat manusia yang asing.

Ia berjalan dengan satu tangan menggenggam tongkat kayu yang dikupas kasar, sementara tangan lainnya dilingkari oleh jemari kecil Xiaolian yang masih gemetar. Setiap kali sebuah kereta kuda lewat dengan kecepatan tinggi, mencipratkan lumpur kering ke jubah mereka, sementara Xiaolian akan merapat ke sisi kakaknya, mencoba mencari perlindungan yang sebenarnya tidak ada.

Di bawah kain penutup matanya, Visi Qi Guiren berdenyut samar. Ia tidak mengaktifkannya secara penuh, kelelahan pasca pembunuhan pertamanya masih menggantung di meridiannya seperti jelaga hitam yang sulit dibersihkan. Namun, ia bisa merasakan siluet energi kehidupan di sekitarnya. Sebagian besar berwarna abu-abu kusam, lambat dan membosankan, energi orang-orang biasa yang tidak mengenal darah.

Menjelang tengah hari, mereka sampai di sebuah persimpangan di mana seorang pedagang keliling sedang mengistirahatkan keledainya di bawah pohon ginkgo. Bau roti gandum, ikan segar dan air yang tersimpan di dalam kirbat kulit menusuk indra penciuman Guiren. Perutnya melilit.

"Tunggu di sini," bisik Guiren pada Xiaolian.

Ia melangkah maju, tongkatnya mengetuk-ngetuk tanah dengan ritme yang sengaja ia buat lambat. Ia harus tampak lemah. Ia harus tampak seperti anak buta malang yang kehilangan segalanya, sebuah peran yang sebenarnya tidak perlu ia buat-buat, namun kini ia mainkan dengan kesadaran penuh.

"Tuan," suara Guiren merendah, hampir tenggelam oleh bunyi gemerincing barang dagangan si pria. "Boleh saya menukar ini dengan sedikit air dan sepotong roti?"

Guiren mengulurkan telapak tangannya. Di sana terdapat beberapa keping tembaga kusam, sisa tabungan yang ia ambil dari reruntuhan rumah sebelum ia menyulut api.

Pedagang itu, seorang pria tambun dengan janggut jarang yang berbau tembakau, menoleh. Matanya menatap kain abu-abu yang menutupi mata Guiren, lalu beralih ke pakaian mereka yang kotor dan berbau asap. Sebuah seringai kecil yang penuh penghinaan muncul di sudut bibirnya.

"Hanya ini?" Pedagang itu mengambil kepingan tembaga tersebut, memutarnya di antara jari-jari yang berminyak. "Bocah, tembaga ini bahkan tidak cukup untuk membeli kotoran keledaiku di pasar Qing-He."

Guiren terdiam. Ia bisa merasakan energi kuning keruh yang terpancar dari pria itu, energi keserakahan yang picik. Melalui Visi Qi yang samar, ia melihat titik saraf di pergelangan tangan pria itu. Satu tusukan cepat dengan jarinya, dan pria ini tidak akan pernah bisa menggenggam koin lagi seumur hidupnya.

Kemarahan itu mendidih di perut Guiren, dingin dan tajam seperti tinta hitam yang meluap. Ia teringat bagaimana rasanya menusuk daging manusia hanya beberapa jam yang lalu. Rasa mual itu kembali, tapi bersamaan dengan itu, ada godaan gelap untuk membungkam mulut sombong di depannya.

Namun, ia merasakan tarikan kecil di ujung bajunya. Xiaolian.

Gadis itu berdiri di belakangnya, menunduk, mencoba mengecilkan tubuhnya. Jika Guiren membalas, jika ia menunjukkan sedikit saja kekuatan yang ia miliki, keributan akan terjadi. Keributan akan menarik perhatian. Dan perhatian adalah hal terakhir yang mereka butuhkan saat ini.

Guiren menundukkan kepalanya lebih dalam. Ia membiarkan bahunya merosot, menciptakan ilusi kerapuhan yang sempurna.

"Tuan, maafkan saya. Hanya itu yang saya miliki. Adik saya... dia belum makan sejak kemarin."

Pedagang itu mendengus, lalu dengan kasar melemparkan sepotong roti bantat yang sudah mulai berjamur di pinggirannya ke tanah.

"Ambil itu. Dan jangan menghalangi jalanku lagi. Dasar miskin. Pantas saja matamu dicongkel langit," umpatnya sambil meludah ke samping sepatu Guiren.

Guiren meraba tanah, jemarinya menyentuh roti yang kotor terkena debu jalanan. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak ada protes, tidak ada kutukan balik. Ia hanya mengambil roti itu dan berbalik.

"Kakak... ," bisik Xiaolian saat mereka sudah menjauh dari jangkauan telinga pedagang itu. "Dia berbohong. Tembaga itu seharusnya cukup untuk tiga roti."

Guiren berhenti melangkah sejenak. Ia meremas roti keras itu dalam genggamannya.

"Aku tahu," jawabnya datar.

"Kenapa Kakak diam saja? Kakak bisa... ." Xiaolian tidak melanjutkan kalimatnya, matanya menatap tangan Guiren yang masih memiliki noda darah kering di bawah kuku.

"Karena di dunia luar, Lian’er, diam adalah perisai paling kuat bagi orang seperti kita," jelas Guiren. Suaranya tidak lagi terdengar seperti remaja tujuh belas tahun, melainkan seperti sesuatu yang lebih tua dan lebih dingin. "Kemarahan yang ditunjukkan adalah kelemahan. Kemarahan yang disimpan... adalah kekuatan."

Ia memberikan roti itu kepada Xiaolian, mengabaikan perutnya sendiri yang meronta. Hinaan pedagang tadi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan koin perak yang tersembunyi di balik bajunya. Dunia ini memang busuk, dipenuhi oleh manusia-manusia kecil yang merasa besar dengan merendahkan yang lebih lemah.

Guiren mulai memahami satu hal, kebutaannya bukan hanya kutukan, tapi juga penyamaran yang sempurna. Selama orang-orang menganggapnya sebagai pengemis buta yang tidak berdaya, mereka tidak akan pernah melihat pisau yang ia sembunyikan di dalam jiwanya.

Ia melangkah kembali, mengetukkan tongkatnya ke tanah. Setiap ketukan adalah latihan untuk menahan diri, setiap langkah adalah cara untuk mengubur dendamnya lebih dalam hingga saat yang tepat tiba.

Gerbang Qing-He sudah terlihat di cakrawala batinnya, sebuah rimba manusia di mana ia harus belajar menghilang di tengah keramaian, sambil terus mengasah tinta takdirnya yang kini mulai berubah warna menjadi hitam pekat.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!