alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua belas
Libur weekend ini alia habiskan dengan membawa luka berlibur bersama dengan narida dan ludwig, tawaran dari narida yang mengajaknya berlibur alia terima.
Sebenarnya sabtu ini jadwal belanja bulanan alia, namun ia tidak melakukannya, alia enggan untuk bertemu bara.
Alia duduk di pantai dengan narida, sementara luka bermain istana pasir, dengan ludwig. Mata alia menatap ke arah putranya, namun narida melihat tatapan itu kosong, pikiran alia sedang tidak berada di tempat.
"Kamu ada masalah di kantor, dek?" Tanya narida hati-hati, matanya mengamati sahabatnya yang terlihat seperti kebingungan.
"Aku baik-baik saja" sahut alia lirih, namun desah nafasnya yang berat, terdengar tidak baik-baik saja.
"Kamu enggak mau cerita sama aku?" Tanya narida lagi, tangannya menyentuh lengan alia yang masih terlihat galau. Alia menoleh, menatap mata sahabatnya itu, helaan berat masih terdengar dari mulutnya.
"Kemarin, pak bara...pak bara mengungkapkan perasaannya padaku, nari" jawab alia terbata,
"Aku bingung nari, aku tidak tahu mau jawab apa"
Mata nari terlihat melebar, senyumnya juga terlihat sumringah.
"Aku sudah duga kalau pak bara akan menyukaimu, kamu ingat nggak, ketika pertama kali pak bara datang ke kantor awal tahun lalu, matanya selalu menatapmu penuh" jelas nari dengan suara riang.
"Aku tahu, kalau beliau pasti suka sama kamu, dek"
Alia mengernyitkan matanya kebingungan, ia sama sekali tidak mengingat pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.
"Ya tuhan..., kamu lupa?" Tanya narida dengan gemas menatap wajah sahabatnya yang terlihat kesusahan mengingat.
"Waktu itu beliau berkunjung dengan ayahnya, sebentar sih, tapi aku ingat banget, cara pak bara menatapmu"
"Ahhhh..." seru alia tertahan, ia baru mengingat momen itu.
"Pantesan aku merasa seperti pernah melihat pak bara, tapi entah dimana dan kapan" lanjutnya dengan raut wajah malu,
"Kamu parah deh, hahahahah" narida tertawa lucu melihat sahabatnya yang masih muda namun pikun itu.
"Jadi bagaimana dek?".
"Apanya yang bagaimana?" tanya alia balik dengan wajah keheranan.
"Ya tuhaannnn," seru narida memukul jidatnya sendiri gemas.
"Bagaimana perasaan kamu kepada pak bara lohhh alia sayangku?"
"Ohhh, hahahahhaha" tawa alia pecah melihat wajah nari yang terlihat gemas menatapnya.
"Yah enggak bagaimana-bagaimana, aku enggak tahu bagaimana perasaanku pada pak bara, dia bos, nari. Bagaimana bisa aku menerimanya, ada-ada saja sih kamu?"
"Heiiii...emangnya ada yah larangan bos gak boleh pacaran sama pegawainya?" Protes narida dengan raut wajah gemas tidak terima.
"Kamu makan nasi, pak bara juga, itukan menunjukkan kalau kalian sama-sama manusia,"
Alia terkekeh lucu mendengar penjelasan Narida yang terdengar berapi-api.
"Memang tidak ada, nari. Tapi sebagai rakyat jelata seperti kita, bukanlah hal yang mudah berurusan dengan para konglomerat yang biasa bergelimang kemewahan itu, ada hukum tidak tertulis yang mengaturnya" jelas alia tanpa beban,
"Dan aku juga tidak tertarik menjadi cinderella"
"Bukan karena kamu memiliki luka?" Tanya narida hati-hati, suaranya berubah lebih sendu.
Alia terdiam tanpa suara, matanya menatap putranya yang tergelak di pelukan ludwig yang juga sedang tertawa riang.
"Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku berdua saja dengan luka, hanya dia yang kumiliki, nari. Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika pria yang mendekati aku, tidak bisa menerima luka" jelas alia dengan suara lirih setengah berbisik.
Alia memang tidak pernah berpikir untuk menikah, keinginan itu sudah lama alia pendam.
Narida menatap pilu sahabatnya itu, ia tahu bagaimana susahnya alia bertahan hidup dengan luka saat masih di dalam kandungan.
Alia adalah wanita yang cantik, selama 6 tahun ini, bukan hanya bara, pria yang berniat mendekatinya.
Namun semua berakhir tanpa jawaban, narida tahu bahwa alia menyimpan trauma di hatinya, sebagai sahabat narida hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya.
"Tapi kamu masih muda dek.., kamu juga berhak bahagia"
"Aku tidak tahu nari, saat ini aku tidak terpikir untuk itu, bagi aku saat ini bersama luka dan kalian adalah kebahagiaanku" jawab alia lugas, tersenyum indah menatap mata narida yang masih terlihat sendu.
#########
Alia berjalan tenang menuju lift, sania yang berada di sisinya masih terlihat begitu bersemangat menceritakan gosip terbarunya.
"Kamu tahu Al, hari ini adik pak bara akan diperkenalkan kepada kita, abangnya saja seganteng itu, gimana lagi adiknya yah" ucap sania bersemangat, alia hanya menanggapi dengan senyuman.
"Kamu tahu kalau ternyata pak bara itu belum menikah?" Lanjutnya lagi.
Alia berjalan tenang dengan sania yang masih bersemangat berceloteh tentang bara dan adiknya. Di koridor menuju ruangan mereka, mereka berpapasan dengan bara dan asistennya, yang juga sedang menuju ke ruangan dirut.
Sania dan alia menundukkan kepala dengan hormat.
"Alia ke ruangan saya sebentar" perintah pria itu sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Alia mengikuti bosnya itu, setelah menitipkan tasnya ke sania.
"Duduk" perintah bara begitu alia masuk
"Apakah saya membuat kamu tidak nyaman, alia?" Tanya pria itu tanpa basa basi, begitu alia duduk di hadapannya.
"Maaf pak?" Tanya alia heran,
"Maaf alia, kalau pengakuan saya kemarin terkesan ambigu, saya tahu kamu single mother, saya tahu kamu pasti takut menerima saya karena status kamukan?, tapi saya tidak perduli alia, sa—"
"Pak bara.." sambar alia cepat,
"Bolehkah saya menjawabnya sekarang"
Bara, pria itu menganggukkan kepalanya,
"Saya bukan takut menerima perasaan bapak karena status saya sebagai single mother, saya hanya merasa saya tidak layak untuk itu pak, dunia kita sangat berbeda, bapak dan saya hidup di dunia yang berbeda, yang tidak bisa kita satukan" jelas alia dengan tenang.
Bara menatap wanita di hadapannya ini penuh kagum, ia tahu wanita ini masih muda, usianya baru 24 tahun namun cara berpikirnya sangat dewasa.
"Kalau saya bisa menerima dan masuk ke dunia kamu, akankah kamu mempertimbangkannya?" Tanya bara menatap mata alia penuh harap, alia tercekat mendengar pertanyaan bara yang terasa tulus di telinganya.
"Biarkan waktu yang menjawabnya pak"
jawaban diplomatis alia membuat bara terdiam, rasa kagum dan suka pada wanita itu semakin menguat di hati bara.
Ia bertekad, akan melakukan segala cara untuk menggapai hati alia yang entah mengapa menurut bara sangat sulit untuk di selami.
Jam 12 tepat, sebelum waktu makan siang terlihat rombongan dirut beserta direktur divisi berjalan menuju ruangan para pegawai, terlihat edo asisten bara menepuk tangannya keras meminta perhatian seluruh pegawai yang berada di ruangan itu.
Serentak semua pegawai berdiri dengan antusias,
Pak bara sang dirut sementara, terlihat maju kedepan ingin menyampaikan sebuah kabar.
"Selamat siang saudara-saudara, maaf saya menyita waktu istirahat kalian, saya akan mengenalkan direktur utama yang akan memimpin di sini.
Perkenalkan langit mahesa laksana" ujarnya mempersilahkan seorang pria yang berdiri dibelakangnya untuk maju.
Alia tersentak kaget, nama yang baru disebutkan bara membuat alia terperangah.
Dengan cepat alia mencari tempat yang jelas untuk melihat pria yang sedang diperkenalkan itu, alia berharap bahwa nama yang disebutkan barusan bukanlah pria yang ia kenal dengan nama yang sama.
"Selamat siang, saya langit, saya akan menggantikan posisi pak bara di sini" ujar pria itu mengedarkan pandangannya merata keseluruh ruangan.
Saat mata langit beradu pandang dengan mata alia, mereka saling bertatapan cukup lama. Ada rasa terkejut di mata pria itu, mata itu membola menatap alia lebih lama.
Alia yang terkejut dengan cepat menguasai dirinya kembali, ia berusaha menunjukkan wajah yang biasa saja, seakan-akan ia tidak pernah mengenal pria yang akan menjadi bosnya itu.
Alia tidak bisa menutupi keterkejutan dan kegugupannya, terlihat wajahnya yang memias, sebab tatapan langit tak berkedip dan terpaku padanya.
Setelah sesi perkenalan selesai, seperti biasa dirut meminta para direktur divisi dengan para manager dan wakilnya datang ke aula rapat, untuk memperkenalkan diri secara resmi kepada pimpinan utama itu.
Alia memegang ujung mejanya gugup, entah mengapa tubuhnya bergetar, entah karena rasa takut, rasa jijik atau rasa benci, sungguh alia tidak tahu. Namun rasanya ia enggan melangkahkan kakinya ke aula rapat itu, jika fandi wakilnya tidak mengajak.
Alia berjalan lambat, rasanya saat ini alia ingin menghilang saja dari tempat ini. Ia berdiri lama di depan pintu yang baru tertutup ketika fandi melangkah masuk, dengan langkah berat dan tubuh yang masih bergetar, alia memaksa dirinya masuk.
Bersambung...