Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Suasana di meja makan masih penuh tawa sampai tiba-tiba suara tangisan bayi yang melengking memecah obrolan. Zayyan, yang tadinya tertidur tenang di bouncer samping Mbak Sarah, mendadak terbangun dengan wajah merah dan tangan yang menggapai-gapai.
"Waduh, jagoan kecil sudah bangun. Sepertinya haus atau minta ganti popok ini," ucap Mbak Sarah sambil bersiap berdiri.
Namira, yang memang sangat menyukai anak kecil, langsung meletakkan sendoknya. "Mbak Sarah, biar aku aja yang tenangin! Boleh ya? Aku pengen belajar gendong Zayyan di kamar biar dia nggak berisik di sini."
Mbak Sarah melirik ke arah Abah dan Umi, lalu tersenyum. "Emang Namira nggak capek? Baru juga selesai sarapan."
"Enggak, Mbak! Serius, aku gemes banget sama Zayyan. Mas Ayyan juga udah selesai makan kan? Nanti Mas Ayyan bisa bantu aku kalau aku bingung,"
jawab Namira sambil nyengir ke arah suaminya.
Ayyan yang baru saja meneguk air putih langsung tersedak kecil. "Lho, kok saya?"
"Sudah, Mbak... kasih saja ke Namira. Biar mereka belajar latihan," sahut Umi Fatimah dengan nada penuh rahasia. Umi kemudian menoleh ke arah Ayyan sambil memberikan lirikan maut yang penuh godaan. "Gimana, Yan? Sudah cocok kan istrimu gendong bayi begitu?"
Ayyan hanya bisa pura-pura sibuk merapikan serbet di meja untuk menutupi rasa canggungnya.
Namira dengan sangat hati-hati mengangkat Zayyan ke dalam dekapannya. Ajaibnya, begitu bersentuhan dengan Namira, tangisan Zayyan yang tadinya kencang perlahan mereda menjadi isakan kecil, lalu ia mulai tenang sambil memainkan kancing baju Namira.
"Tuh kan! Dia mau sama Tante Mira yang cantik!" seru Namira senang. "Ayo Mas Ayyan, temenin aku ke kamar!"
Ayyan akhirnya berdiri, mengikuti langkah istrinya yang berjalan mendahului menuju kamar mereka.
Umi Fatimah yang melihat punggung keduanya menjauh langsung menyenggol lengan Abah Kyai.
"Lihat itu, Bah. Serasi banget ya? Namira yang telaten, Ayyan yang jagain dari belakang. Umi jadi makin nggak sabar pengen punya cucu langsung dari mereka."
Abah Kyai hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Sabar, Mi. Biarkan mereka menikmati masa mudanya dulu. Tapi ya... kalau disegerakan, Abah juga nggak nolak."
Di Dalam Kamar
Namira merebahkan diri di tempat tidur sambil memeluk Zayyan di sampingnya. Bayi itu sekarang sudah tenang, hanya sesekali mengeluarkan suara "ooh.. uuh.." kecil.
"Mas, sini deh! Lihat, Zayyan lucu banget kalau lagi merem-merem ayam gini," panggil Namira.
Ayyan duduk di pinggir kasur, menatap pemandangan di depannya. Namira yang biasanya heboh, kini terlihat sangat lembut saat mengelus pipi bayi itu.
"Namira," panggil Ayyan pelan.
"Iya, Mas?"
"Kamu... benar-benar ingin punya anak secepat itu?" tanya Ayyan tiba-tiba, teringat godaan Umi tadi.
Namira terdiam sejenak, lalu menatap Ayyan dengan tulus. "Aku pengen banget, Mas. Tapi aku juga pengen kuliah. Tapi kalau Allah kasih sekarang, aku nggak akan nolak. Emangnya Mas Ayyan... sudah siap jadi Papa Kulkas?"
Ayyan terdiam, lalu tangannya bergerak mengusap kepala Namira dan jemari kecil Zayyan secara bergantian. "Apapun yang datang, saya siap menjaganya. Termasuk menjaga ibunya yang hobi main TikTok ini."
"Eh, Mas Ayyan! Lihat deh, Zayyan kok mukanya jadi serius banget gini ya?" tanya Namira sambil tertawa kecil, memperhatikan ekspresi bayi mungil itu yang tiba-tiba menegang.
Ayyan mendekat, sedikit membungkuk untuk melihat keponakannya lebih jelas. "Mungkin dia nyaman karena kamu peluk, Namira."
Namun, sedetik kemudian, wajah Namira berubah drastis. Ia merasakan sesuatu yang hangat merembes dari balik bedong Zayyan, menembus piyama beruangnya, dan terus mengalir ke sprei abu-abu gelap milik Ayyan yang sangat rapi itu.
Sreeeeeet...
Namira mematung. Matanya melotot. "M-Mas... kok hangat ya? Mas, si jagoan kecil kayaknya 'bocor' deh!"
Ayyan langsung sigap melihat noda basah yang kian melebar di kasurnya. "Astagfirullah, Namira... Itu dia mengompol."
"HUWAA! Mas, gimana ini?! Kasur Mas yang estetik jadi korban!" pekik Namira panik sambil mengangkat Zayyan tinggi-tinggi dengan tangan gemetar agar air pipisnya tidak makin menyebar. "Mas, ambil tisu! Atau kanebo! Atau apa aja deh!"
Ayyan yang biasanya tenang kini ikut sedikit repot. Ia segera mengambil waslap bersih dan handuk kecil. "Jangan panik, Namira. Taruh Zayyan di atas perlak dulu, saya panggilkan Mbak Sarah."
Tapi sebelum Ayyan sempat keluar, Zayyan justru tertawa pelan seolah merasa lega setelah membuang muatan, lalu kembali tenang. Namira yang melihat itu antara mau marah dan gemas.
"Dek Zayyan... kamu ya, baru juga Tante puji-puji, langsung dikasih hadiah spesial buat malam pertama Tante di sini!" gumam Namira sambil mencoba membersihkan diri.
Ayyan kembali dengan perlengkapan ganti. Melihat Namira yang sibuk mengelap sprei dengan wajah cemberut namun tetap berhati-hati menjaga bayi itu, Ayyan tersenyum tipis. Ia mengambil alih handuk dari tangan Namira.
"Sudah, biar saya yang urus spreinya. Kamu ganti baju sana, piyamamu juga basah kan?" ucap Ayyan lembut.
Namira menatap Ayyan yang kini sedang sibuk mengelap kasur—seorang Gus besar yang biasanya pegang kitab, sekarang pegang handuk bekas pipis bayi.
"Mas Ayyan... maaf ya, gara-gara aku mau gendong Zayyan, kamar Mas jadi bau pesing," ucap Namira merasa bersalah.
Ayyan menoleh sejenak, menatap istrinya dengan sorot mata hangat. "Tidak apa-apa. Ini latihan, kan? Katanya tadi mau punya satu yang mirip saya? Anggap saja ini simulasi tahap pertama."
Namira langsung melempar bantal kecil ke arah Ayyan sambil tertawa malu. "Ihh! Mas Ayyan bisa aja ya kalau lagi mode nggak kulkas!"