Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Yang Menyenangkan
Hari itu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh nenek Baskara.
Ruang acara dipenuhi tamu penting, keluarga besar, relasi bisnis, dan orang-orang yang sejak dulu hanya mau datang ketika ada keuntungan, segalanya tampak sempurna dekorasi mewah, musik lembut, senyum-senyum yang terlatih.
Satu hal yang paling menyakitkan.Ibunya Baskara tidak diundang Baskara tahu dia sadar sepenuhnya.
Namun wajahnya tetap tenang tidak ada komentar tidak ada reaksi dia berdiri tegak, berbicara seperlunya, tersenyum di waktu yang tepat, dari luar dia tampak persis seperti yang neneknya inginkan penerus keluarga yang matang, rasional, dan patuh.
Neneknya memperhatikannya dengan puas dia akhirnya berpihak padaku, pikirnya dia sudah belajar bagaimana bersikap sebagai pewaris perusahaan keluarga.
Tak ada lagi pembangkangan tak ada lagi emosi begitu neneknya kira beberapa saat sebelum acara dimulai resmi, Baskara mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
“Rin,” ucapnya singkat.
“Iya, Pak?” suara Ririn terdengar jelas.
“Kamu sudah sampai?” tanya Baskara sedikit cemas.
“Iya, Pak. Saya sudah ada di dalam.”
Baskara menutup telepon dan langsung menoleh, matanya menyapu ruangan.
Tak lama, dia menemukannya. Ririn berdiri agak di pinggir, mengenakan dress yang dia pilih sendiri gaun yang beberapa hari lalu dia kira akan dikenakan Lola. Wajahnya tampak tenang, sederhana, tapi justru itulah yang membuatnya mencolok.
Ririn melambaikan tangan kecil saat mata mereka bertemu.
“Pak.”
Baskara melangkah mendekat, lalu berhenti sejenak dia mematung.
Ada sesuatu yang menyesak dadanya rasa asing, rasa lama yang seharusnya sudah terkubur. Baskara menatap Ririn terlalu lama sampai Ririn sendiri merasa canggung.
“Pak?” panggil Ririn pelan.
Baskara tersadar, lalu tersenyum tipis.
“Kamu Cantik," Kata-kata itu telontar begitu saja dari bibir Baskara.
Ririn seketika salah tingkah, dia bingung harus bereaksi seperti apa.
"Eh, maksud saya kamu datang,"
“Oh, Iya, pak selamat ya,” ucap Ririn tulus. “Acaranya bagus sekali.”
Baskara menatapnya dalam dia tak mau mengalihkan padangannya dri Ririn.
“Ucapan selamat yang terlalu cepat,” katanya pelan.
Ririn mengernyit bingung menatap Baskara namun dia tak terlalu memikirkan ucapan bosnya itu.
“Kamu diem di samping aku,” lanjut Baskara sambil meraih lengan Ririn. “Jangan ke mana-mana.”
“Hah, Pak?” Ririn kaget, refleks menoleh ke arah tangannya yang digenggam.
“Diem aja,” ulang Baskara datar.
Ririn menelan ludah mungkin bos butuh sesuatu, pikirnya. Atau ada urusan kerja mereka melangkah bersama dan bertemu Lola,Lola tersenyum ramah saat melihat mereka.
“Oh, ini kan asisten Mas Baskara,” katanya ceria. “Kamu cantik sekali.”
Ririn tersenyum sopan.
“Terima kasih, Bu Lola. Bu Lola yang paling cantik malam ini selamat ya, Bu.”
Baskara berdehem pelan melirik Ririn.
“Aku bilang terlalu cepat mengucapkan selamat.”
Ucap Baskara, genggaman tangannya semakin erat sekarang.
Lola terdiam sepersekian detik. Matanya turun ke tangan Baskara yang menggenggam Ririn.cara memegangnya berbeda. Terlalu dekat terlalu personal.
Namun Lola segera tersenyum kembali, menepis rasa ganjil di dadanya, malam ini semuanya akan jelas, pikirnya Mas Baskara akan jadi tunanganku.
Dia tidak tahu, bahwa bagi Baskara, malam itu bukan tentang kejelasan melainkan tentang pengungkapan rasa sakit, kepada seluruh keluarga yang sedang berkumpul malam ini.a
Nenek Baskara berdiri paling tengah, anggun dan penuh wibawa. Di sampingnya ayah dan ibu Lola, wajah mereka dipenuhi senyum bangga. Baskara berdiri di sisi Lola, rapi, tenang, sesuai dengan gambaran calon pewaris keluarga besar.
Tak jauh dari sana, Ririn berdiri agak menyamping dia sengaja menjaga jarak tidak terlalu dekat tidak terlalu terlihat gue cuma karyawan, batinnya ngapain ikut masuk dokumentasi keluarga orang.
Dia bahkan sedikit memiringkan badan, menghindari arah kamera yang mulai sibuk menjepret. Baginya, kehadirannya malam itu hanyalah formalitas memenuhi undangan bos.
MC mulai berbicara, suaranya lantang dan penuh semangat menghidupkan acara malam itu.
“Pada malam yang berbahagia ini, keluarga besar dengan bangga mengumumkan,”
“Sebentar.” Suara Baskara memotong tajam ruangan mendadak hening MC terdiam, para tamu saling berpandangan. Nenek Baskara mengerutkan dahi, tak mengerti.
“Ada yang ingin aku ungkapkan,” lanjut Baskara dengan suara tenang tapi jelas.
Tanpa memberi waktu siapa pun bereaksi, Baskara melangkah lalu meraih tangan Ririn.
Ririn tersentak matanya membelalak menatap Baskara.
“Hah Pak?” napasnya tercekat, panik langsung menyerbu otaknya, pikirannya kosong ini apa lagi?
Ririn menatap Baskara penuh pertanyaan, jantungnya berdegup tak karuan.
Belum sempat dia bicara, belum sempat dia menarik tangannya Baskara menunduk dan menciumnya.
Di depan semua orang, di depan seluruh keluarga besarnya, di depan kamera media, dan depan Lola.
“Saya sudah punya pasangan,” ujar Baskara lantang “Dan kami sudah tinggal bersama.”
Detik itu juga, ruangan meledak oleh reaksi para tamu, nenek Baskara tersentak, tubuhnya goyah sebelum akhirnya pingsan.
Keluarga besar gempar wajah ayah dan ibu Lola membeku, lalu berubah marah bisik-bisik panik terdengar di mana-mana Lola terpaku, matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar.
“Apa, apa maksud Mas?” suaranya nyaris tak terdengar.
Baskara menoleh padanya, tersenyum tipis. Bukan senyum lembut melainkan senyum yang dingin dan selesai, tanpa menjelaskan apa pun Baskara menarik tangan Ririn.
“Kita Pergi dari sini.” Ririn hanya berdiri mematung tubuhnya bergetar syok.
Dan mereka pergi meninggalkan acara yang berubah menjadi sebuah kekacauan.
Ririn berjalan di samping Baskara dengan langkah kaku otaknya benar-benar kosong tidak ada kata, tidak ada protes, tidak ada pertanyaan.
Dia hanya mengikuti langkah Baskara karena saat itu, bahkan berpikir pun terasa mustahil.