NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5-Lyra

Selasa pagi di SMA Garuda selalu punya atmosfer yang beda. Sebagai sekolah favorit, drama sekecil apa pun bisa jadi konsumsi publik. Apalagi jika menyangkut dua pilar utamanya: Arlan, Sang Ketua OSIS jenius yang ketampanannya dianggap sebagai standar emas sekolah, dan Aluna, cewek paling populer yang pesonanya bisa bikin cowok-cowok rela antre cuma buat markirin motornya.

​Meski populer, keduanya adalah kutub yang saling tolak-menolak.

Selasa pagi di SMA Garuda tidak sedramatis kemarin. Aluna datang lebih awal, kali ini kancing seragamnya sudah benar, dan rambutnya terikat rapi. Ia memarkirkan motor matic-nya dengan sekali gerak.

"ALUNA!" teriakan itu melengking, memecah ketenangan area parkir. Pelakunya tak lain adalah Belva dan Sesya yang berlari kecil menghampirinya dengan napas tersengal.

​Aluna yang baru saja melepaskan helmnya sedikit tersentak. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm, lalu menoleh dengan wajah yang berusaha ia buat sedatar mungkin. "Suara lo berdua bisa dikit dikontrol nggak? Ini sekolah, bukan pasar kaget."

​"Ya ampun, Al! Lo berangkat pagi banget hari ini? Tumben? Biasanya nunggu gerbang mau dikunci dulu baru muncul," ujar Belva sambil berkacak pinggang, menatap Aluna dengan penuh selidik.

​"Lagi pengen aja. Biar nggak ada drama lagi sama si Robot," jawab Aluna cuek, meski sebenarnya alasan utamanya adalah agar ia punya waktu lebih banyak untuk menenangkan pikirannya yang masih semrawut soal perjodohan semalam.

​Sesya menyenggol lengan Aluna, matanya melirik ke arah pintu masuk koridor utama. "Ngomongin soal Robot... tuh, panjang umur. Sang penguasa sekolah sudah standby di posnya."

​Aluna mengikuti arah pandang Sesya. Di sana, Arlan berdiri tegak seperti pilar beton. Almamater biru tuanya tampak sangat rapi, tanpa ada lipatan sedikit pun. Ia sedang mengawasi arus siswa yang masuk, tangannya memegang papan jalan dengan posisi yang selalu presisi.

​Sebagai dua orang paling populer di SMA Garuda, kehadiran mereka di satu area yang sama selalu mengundang lirikan dari siswa lain. Beberapa siswi kelas sepuluh berbisik-bisik kagum melihat Arlan, sementara cowok-cowok di depan mading pura-pura sibuk tapi mata mereka tidak lepas dari Aluna.

​"Ayo masuk, males gue liat mukanya pagi-pagi," ajak Aluna sambil menyampirkan tasnya di bahu.

Sementara itu, di pos penjagaan gerbang, Arlan tidak sendirian. Di sampingnya ada Barra dan Darrel, dua anggota inti OSIS sekaligus sahabat terdekat Arlan sejak kelas sepuluh. Barra yang santai sedang bersandar di pilar, sementara Darrel yang lebih kalem sibuk mengecek daftar nama di tabletnya.

"ARLAN" teriak seorang siswi yang memanggil namanya, dia adalah Lyra temen sekelas Arlan sekaligus orang yang sudah menaksir Arlan sejak lama. Dengan nada riang yang sengaja dibuat semanis mungkin. Ia berjalan mendekat sambil menenteng sebuah paper bag kecil, mengabaikan tatapan dingin yang biasa Arlan berikan.

​Barra dan Darrel saling lirik, sudah hafal dengan rutinitas pagi Lyra yang selalu mencoba mencuri perhatian standar emas SMA Garuda itu.

​"Ini, ada sandwich buat kamu. Aku tahu kamu pasti sibuk dan nggak sempat sarapan di rumah," ucap Lyra sambil menyodorkan bungkusan itu tepat di depan dada Arlan.

​Arlan hanya melirik bungkusan itu sekilas, lalu kembali menatap papan jalannya tanpa minat. "Simpan saja, Lyra. Gue sudah sarapan. Terima kasih," jawab Arlan datar, sangat singkat, dan tanpa ekspresi.

"Tapi kan ini sandwich kesukaan kamu, Lan. Aku bikin sendiri lho," desak Lyra, masih dengan senyum manis yang dipaksakan meski penolakan Arlan barusan cukup telak.

​Barra menyenggol lengan Darrel sambil berbisik, "Tingkat kepercayaan diri Lyra emang perlu diapresiasi, tapi sayangnya dia ngadepin tembok Berlin."

​Darrel hanya mengangguk setuju. Ia melirik Arlan yang masih bergeming. "Udahlah Ly, mending buat gue aja kalau Arlan nggak mau. Daripada mubazir, kan?" tawar Barra mencoba mencairkan suasana.

Tepat saat itu, Aluna bersama Belva dan Sesya melintas di depan mereka. Langkah Aluna sengaja dibuat mantap, namun telinganya tidak bisa tidak mendengar percakapan itu. Ia melirik sekilas ke arah Arlan yang sedang dikerumuni, lalu mendengus cukup keras.

Arlan mendongak, matanya bertemu dengan mata Aluna selama satu detik. Ada kilat dingin yang saling beradu. Aluna segera membuang muka dan mempercepat langkahnya masuk ke koridor utama tanpa menoleh lagi.

kring-kring-kring

Tepat pukul 07.00 WIB bel sekolah berbunyi, semua murid-murid yang berada di lingkungan sekolah bergegas masuk ke dalam kelas mereka masing-masing agar tidak mendapatkan hukuman dari sang wali kelas.

Arlan, Barra, dan Darrel berjalan pergi menuju kelas meninggalkan Lyra sendirian. Lyra berdiri mematung di dekat gerbang, menatap nanar punggung Arlan yang menjauh tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Dengan helaan napas kecewa, ia akhirnya memasukkan kembali bungkusan sandwich itu ke dalam tas dan berjalan gontai menuju kelasnya sendiri.

Tepat pukul 10.15 WIB, bel istirahat pertama memecah keheningan koridor SMA Garuda. Suasana yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi lautan seragam putih-abu yang berhamburan menuju pusat gravitasi sekolah yaitu kantin.

​Aluna berjalan santai di antara Belva dan Sesya. Rambutnya yang tadi terikat rapi kini sudah ia lepas, membiarkannya tergerai alami yang justru makin menambah pesonanya. Beberapa siswa laki-laki menepi hanya untuk memberikan jalan padanya, namun Aluna hanya membalasnya dengan tatapan lurus ke depan.

"Laper banget gua, otak gua udah berasap gara-gara soal matematika tadi" keluh Belva sambil mengibasi wajahnya dengan tangan.

"Sama. Gue butuh asupan es jeruk Mpok Siti biar adem," sahut Sesya.

Begitu sampai di kantin, pemandangan yang terlihat adalah kerumunan yang luar biasa. Semua meja panjang hampir terisi penuh. Namun, ada satu meja di pojok kanan yang tampak eksklusif. Di sana sudah ada Barra dan Darrel yang sedang asyik mengobrol tidak lupa dengan Arlan.

Arlan duduk di sana dengan posisi yang sangat tegap, kontras dengan teman-temannya yang mulai bersandar santai. Tangannya memegang sebuah berkas laporan OSIS, namun tatapannya terlihat jauh lebih fokus daripada biasanya. Sorot mata Arlan terasa lebih mengintimidasi, seolah siapa pun yang berani mengusik ketenangannya akan langsung masuk daftar hitam.

​"Duh, Al. Meja penuh semua. Cuma sisa satu tuh, di depan mejanya rombongan kak Arlan," bisik Belva sambil menunjuk meja yang hanya berjarak beberapa meter dari posisi Arlan.

Aluna menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menyipit, menatap meja kayu panjang yang hanya berjarak beberapa langkah dari meja Arlan. Benar saja, kantin yang biasanya luas itu kini terasa sangat sempit karena membeludaknya siswa.

​"Yaudah di situ aja. Meja kantin punya sekolah, bukan punya nenek moyangnya," jawab Aluna santai, meski dalam hati ia merasa malas jika harus berada dalam radius sedekat itu dengan Arlan.

1
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh dingin-dingin ternyata peduli ya 🤭🤏
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
pojok_kulon
jangan terlalu benci Aluna takutnya Arlan akan menjadi jodoh kamu dimasa depan 🤭🤭🤭
pojok_kulon
Pasti si ketua osis
ininellya
nahh loo siapa tau masa depan nya ya si tuu
Ria Irawati
Suka banget sama ceritanya.. lebih berwarna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!