NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:73
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Lorong kantor cabang satu Pradikta masih sepi ketika Nadia berjalan cepat membawa tablet dan beberapa map tebal. Jam belum menunjukkan delapan, namun Zane sudah memanggilnya sejak lima belas menit lalu. Perut Nadia terasa mulas---bukan karena sakit, melainkan firasat bahwa pagi ini tidak akan berjalan baik.

Pintu ruang direktur terbuka.

Zane berdiri di dekat jendela, membelakangi Nadia. Jasnya rapi, sikapnya dingin dan berjarak, seolah seluruh ruangan itu adalah wilayah kekuasaannya.

“Kamu terlambat,” katanya tanpa menoleh.

Nadia melirik jam tangannya.

“Masih lima menit sebelum jam delapan, Pak.”

Zane berbalik perlahan. Tatapannya tajam, penuh penilaian.“Bagiku, itu sudah terlambat.”

Nadia mengatupkan bibir.“Maaf, Pak.”

Ia menyerahkan tablet itu dengan dua tangan.“Agenda rapat dan jadwal anda hari ini sudah saya susun ulang sesuai instruksi kemarin.”

Zane mengambil tablet itu, menatap layarnya sekilas, lalu mengembalikannya dengan gerakan kasar.“Salah.”

Nadia tersentak kecil.“Bagian yang mana, Pak?”

“Semuanya,” jawab Zane dingin. “Kamu benar-benar tidak punya inisiatif. Aku minta efisien, bukan sekadar rapi.”

Nadia menunduk, jemarinya gemetar memegang tablet.“Saya mengikuti arahan anda.”

“Jangan jadikan itu alasan,” potong Zane tajam. “Sebagai asisten, tugasmu membaca pikiranku, bukan sekadar paham."

Kata-kata itu menekan dadanya. Nadia menarik napas pelan, berusaha menjaga suara agar tetap stabil.“Baik, Pak. Saya akan perbaiki.”

Zane mendekat, berdiri tepat di depannya.“Kamu tahu kenapa kamu masih di sini?” tanyanya merendah namun menusuk.

Nadia terdiam sejenak, lalu menjawab pelan.“Karena saya dibutuhkan.”

Zane tertawa singkat, mengejek.

“Karena kamu tidak punya pilihan.”

Kalimat itu membuat bahu Nadia menegang.“Kamu ini pesuruh, Nadia,” lanjut Zane tanpa rasa bersalah. “Bukan partner diskusi. Jadi berhenti membuat keputusan sendiri.”

Nadia mengangguk.“Iya, Pak.”

“Aku minta kopi,” kata Zane tiba-tiba. “Tanpa gula. Jangan seperti kemarin.”

Nadia menahan napas.

“Baik.”

Ia berbalik menuju pintu, namun suara Zane menghentikannya.

“Dan satu lagi,” katanya dingin. “Kalau kamu membuat satu kesalahan lagi hari ini, aku tidak peduli apa alasanmu. Ingat posisi kamu.”

Nadia menoleh, menatap lantai.

“Saya mengerti.”

Ruang kerja Zane kembali sunyi setelah Nadia menyerahkan kopi. Ia baru saja hendak melangkah keluar ketika suara Zane menahannya.

“Kamu ikut aku sore ini,” katanya singkat.

Nadia berhenti.

“Maaf, Pak?”

“Ada pertemuan dengan beberapa kolega bisnis,” lanjut Zane sambil membuka laci mejanya. “Aku butuh asisten. Dan kamu yang ikut.”

Nadia menelan ludah.“Baik, Pak.”

Mau tidak mau Nadia harus menurut.

Zane menatap jam tangannya, lalu berdiri.“Kita berangkat satu jam lagi. Siapkan dokumen presentasi dan…,” ia melirik setelan jas yang tergantung di lemari kaca, “…gantikan jas itu.”

Nadia mengangguk, meski alisnya berkerut.“Baik.”

“Dan satu lagi,” tambah Zane datar. “Kamu juga yang pasangkan dasiku.”

Kalimat itu membuat langkah Nadia terhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat.“M-memakaikan… dasi?” ulangnya ragu.

Zane menoleh, tatapannya tajam.

“Ada masalah?”

Nadia menggeleng cepat.“Tidak, Pak. Saya hanya… belum pernah.”

Zane mendengus kecil.

“Anggap saja bagian dari pekerjaan.”

Tak ada ruang untuk menolak.

Beberapa menit kemudian, Zane berdiri di depan cermin tinggi. Jas hitam itu sudah melekat rapi di tubuhnya. Nadia berdiri di hadapannya dengan dasi di tangan, jaraknya begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum yang tipis---tidak menyengat, justru tenang.

Tangannya sedikit gemetar.

“Cepat,” ujar Zane pelan.

“Iya,” jawab Nadia hampir berbisik.

Ia mengangkat tangannya, berusaha fokus pada kain dasi, bukan pada wajah Zane yang kini terlalu dekat. Namun tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Hanya sesaat. Nadia langsung mengalihkan tatapannya, pipinya terasa hangat.

“Maaf,” katanya cepat.

Zane tidak menjawab. Ia justru memperhatikan Nadia---alis yang sedikit berkerut karena gugup, bibir yang terkatup rapat menahan napas, jemari kecil yang berusaha rapi meski jelas canggung.

Ada sesuatu yang aneh.

Dada Zane terasa berdesir tipis. Tidak nyaman, tapi juga tidak sepenuhnya ingin dihindari. Ia menyadari betapa dekat jarak mereka---terlalu dekat untuk hubungan atasan dan pesuruh.

“Kamu gemetar,” ucap Zane pelan.

Nadia terkejut.“Maaf, Pak. Saya akan lebih hati-hati.”

Ia kembali fokus, mengatur simpul dasi sebaik mungkin. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup keras. Ia belum pernah berdiri sedekat ini dengan seorang laki-laki---apalagi dengan sorot mata setajam Zane.

Sementara itu, Zane justru tak mengalihkan pandangan. Ia memperhatikan setiap gerakan Nadia, dan entah sejak kapan, nada sinis di kepalanya menghilang, digantikan rasa asing yang sulit ia namai.

“Sudah,” ucap Nadia akhirnya, melangkah mundur cepat.

Zane menatap pantulan mereka di cermin. Dasi itu terpasang sempurna.

“Bagus,” katanya singkat.

Nadia mengangguk, berusaha menenangkan dirinya.“Kalau begitu, saya akan menyiapkan dokumen rapat.”

Ia berbalik hendak pergi.

“Nadia,” panggil Zane tiba-tiba.

Nadia menoleh.

Untuk sesaat, Zane terdiam, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya.

“Pastikan kamu tidak membuat kesalahan di depan kolega-kolegaku.”

Nadia mengangguk pelan.“Saya akan berusaha, Pak.”

Saat pintu tertutup, Zane berdiri sendirian di ruangannya. Ia menatap bayangannya di cermin---lalu entah kenapa, yang terlintas justru wajah Nadia yang gugup tadi.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa… terganggu oleh kehadiran seseorang yang selama ini ia anggap tidak lebih dari sekadar pesuruh.

********

Lampu-lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu memantulkan kilau keemasan, menyelimuti ruangan dengan kesan mewah dan penuh wibawa. Para kolega bisnis berdatangan dengan setelan terbaik mereka, obrolan tentang kontrak dan angka-angka mengisi udara.

Gibran melangkah masuk bersama Rangga. Setelan jas hitam yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuhnya, wajahnya tenang---topeng yang sudah lama ia biasakan. Rangga menepuk bahu sahabatnya, matanya sigap mengamati sekitar.

“Pertemuan malam ini bakal panjang,” gumam Rangga pelan. “Siap?”

Gibran mengangguk singkat. “Selalu.”

Namun langkahnya terhenti begitu pandangannya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Di sudut ruangan, Nadia berdiri di samping Zane.

Gibran terdiam.

Gadis itu mengenakan gaun hitam yang sangat anggun, sedikit terbuka di bagian bahu dan punggung. Rambut panjangnya tergerai rapi, berkilau di bawah cahaya lampu. Make-up tipis namun tegas menonjolkan mata dan bibirnya, membuat wajah lembut itu tampak begitu dewasa… dan memesona. Penampilan Nadia malam ini sama sekali berbeda dari gadis sederhana yang biasa ia temui---tanpa riasan, tanpa kemewahan.

Jantung Gibran berdetak tak wajar.

“Rangga…” suaranya nyaris berbisik.

Rangga mengikuti arah pandangannya, lalu menghela napas pendek. “Itu… Nadia?”

Gibran menelan ludah, tak mampu mengalihkan mata. “Iya.”

Zane berjalan lebih dulu, sementara Nadia mengikutinya setengah langkah di belakang---membawa map, sesekali menunduk hormat pada orang-orang yang menyapa. Tak ada senyum lepas di wajahnya, hanya profesionalisme yang dingin dan terlatih. Sebuah pemandangan yang entah kenapa menusuk perasaan Gibran.

“Zane membawa dia?” Rangga mengernyit. “Sebagai apa?”

“Asisten… atau pesuruh,” jawab Gibran pelan, nada suaranya mengeras tanpa ia sadari.

Ada dorongan kuat di dadanya untuk melangkah mendekat. Menyapanya. Menanyakan kabarnya. Mengatakan bahwa ia terkejut---dan… terpukau.

Namun kakinya terasa berat.

Ia tahu, satu langkah saja ke arahnya bisa membuat semua rahasia runtuh. Identitasnya, masa lalunya, dan kebohongan yang terpaksa ia jaga.

“Kenapa kau tidak menghampirinya?” tanya Rangga.

Gibran menggeleng. “Tidak sekarang.”

“Karena Zane?”

“Karena dia,” jawab Gibran jujur. “Aku belum siap jika Nadia tahu siapa aku sebenarnya.”

Rangga menatapnya lama, lalu mengangguk paham. “Tapi kau tidak bisa terus seperti ini.”

Gibran menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya kembali tertuju pada Nadia yang kini berdiri di samping Zane, sesekali menunduk patuh saat diperintah.

Ada rasa perih yang tak bisa ia jelaskan---antara cemburu, khawatir, dan kagum yang bercampur menjadi satu.

Beberapa jam kemudian.

Pandangan Gibran kembali menyisir ruangan dengan gelisah. Zane masih berada di tengah kerumunan kolega bisnis, tertawa ringan sambil menyesap minumannya. Namun sosok yang sejak tadi mengusik pikirannya telah menghilang.

Nadia sudah tidak ada di sisi Zane.

Kesempatan itu datang.

Tanpa ragu, Gibran melangkah mendekat. Setiap langkahnya mantap, sorot matanya mengeras. Ia berdiri tepat di hadapan Zane, memutus obrolan pria itu dengan dua rekannya.

“Zane,” ucap Gibran dingin.

Zane menoleh, alisnya terangkat tipis. Tatapannya menyapu Gibran dari ujung kepala hingga kaki, lalu senyum angkuh tersungging di bibirnya. “Oh? Ada apa sampai CEO bayangan repot-repot menghampiriku?”

Gibran tak menanggapi sindiran itu. “Di mana Nadia?”

Zane terkekeh kecil. “Asisten kadang harus bergerak. Kenapa? Kau mencarinya?”

“Apa hubunganmu dengan dia?” tanya Gibran tajam, langsung ke inti.

Senyum Zane semakin lebar, penuh ejekan. “Menarik. Sejak kapan kau tertarik pada urusan pribadiku?”

Gibran mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya rendah namun tegas. “Aku tidak peduli urusan pribadimu. Yang kutanyakan hanya satu---apa niatmu pada Nadia.”

Zane tertawa pelan, lalu menyesap minumannya dengan santai. “Kau lucu, Gibran. Terlalu emosional untuk urusan sepele.”

“Jangan bermain-main dengannya,” lanjut Gibran, kali ini tanpa menyembunyikan kemarahannya.

“Jangan sakiti dia. Dan jangan pernah menyentuh gadis itu.”

Hening sesaat tercipta di antara mereka.

Zane memiringkan kepala, seolah menimbang-nimbang ucapan itu, lalu tersenyum sinis.“Dan kau pikir aku peduli?” balasnya. “Kata-katamu hanya angin lalu.”

Tatapan Gibran mengeras. “Aku serius.”

Zane melangkah lebih dekat, menurunkan suara namun tetap sarat ejekan. “Katakan padaku satu hal.” Matanya menyipit. “Apa kau mengenal gadis pengantar makanan itu?”

Ucapan itu seperti tamparan halus.

“Kenapa kau begitu peduli pada gadis seperti dia?” lanjut Zane, senyumnya semakin menyebalkan. “Atau jangan-jangan… kau jatuh hati?”

Rahang Gibran mengeras. Ada gejolak yang ingin ia sembunyikan, namun sorot matanya tak mampu berbohong sepenuhnya.“Itu bukan urusanmu,” jawabnya singkat.

Zane terkekeh, puas. “Ah, jadi benar.” Ia menepuk-nepuk bahu Gibran dengan santai, tindakan yang langsung membuat tangan Gibran mengepal. “Sayang sekali. Dunia orang sepertinya terlalu kejam untuk gadis sederhana seperti dia.”

Zane berbalik pergi, meninggalkan tawa rendah yang masih terngiang.

Gibran berdiri mematung. Dadanya terasa sesak---bukan hanya karena amarah, tetapi karena ketakutan yang tak ingin ia akui.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!