(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Sekte Awan Rusak – Divisi Herbal Barat.
Langit senja berwarna jingga kusam menyinari hamparan tanah tandus yang luas. Di kejauhan, terlihat ladang-ladang milik Divisi Timur dan Selatan yang hijau subur, dipenuhi tanaman spiritual yang bersinar. Namun, tempat Ye Xing dan Lin Xiao berdiri sekarang lebih mirip kuburan daripada kebun.
Tanahnya retak-retak, berwarna abu-abu, dan keras seperti batu. Tanaman Rumput Roh Angin yang seharusnya tumbuh subur di sini terlihat layu, batangnya hitam, dan daunnya berguguran.
"Ini... tempat kerja kita?" tanya Lin Xiao, suaranya bergetar menahan tangis. Dia baru saja merasa senang lulus ujian, tapi realitas kembali menamparnya.
Seorang pria tua bungkuk dengan wajah penuh kutil, Diaken Ma, melemparkan dua cangkul berkarat ke kaki mereka.
"Selamat datang di Ladang Barat," kata Diaken Ma dengan suara serak yang tidak menyenangkan. "Tugas kalian sederhana. Hidupkan kembali satu hektar tanaman ini. Kuota setoran: 50 batang Rumput Roh Angin dewasa setiap bulan."
Ye Xing menendang tanah keras itu dengan ujung sepatunya. "Tanah ini mati, Pak Tua. Kau menyuruh kami menanam di atas batu nisan?"
Mata Diaken Ma menyipit licik. "Kalau tidak sanggup, silakan pergi. Tapi ingat, tanpa setoran, tidak ada Poin Kontribusi. Tanpa poin, tidak ada jatah makan dan tidak ada teknik kultivasi. Kalian akan mati kelaparan atau tetap jadi sampah selamanya. Pilihan di tangan kalian."
Setelah tertawa mengejek, Diaken Ma pergi, meninggalkan dua bocah itu di tengah ladang kematian.
Lin Xiao jatuh terduduk, memegang cangkulnya dengan putus asa. "Habis sudah. Senior bilang Ladang Barat ini dikutuk. Tidak ada yang pernah berhasil panen di sini selama sepuluh tahun. Kita... kita akan mati kelaparan, Xing."
Ye Xing tidak menjawab. Dia berjongkok, mengambil segenggam tanah abu-abu itu, dan meremasnya.
"Tanah ini tidak mati," gumam Ye Xing pelan.
Di mata orang biasa, tanah ini gersang. Tapi Ye Xing memejamkan mata kirinya dan membuka sedikit celah pada Mata Kanan (Bintang) miliknya.
Dunia di pandangannya berubah. Dia tidak melihat warna tanah, melainkan melihat aliran energi (Qi). Di bawah tanah itu, dia melihat urat-urat nadi bumi yang seharusnya mengalirkan nutrisi spiritual.
Namun, urat-urat itu tersumbat. Ada bintik-bintik hitam kecil yang menempel di akar tanaman Kutu Void. Hama yang sangat langka, yang biasanya hanya ada di perbatasan dimensi, entah bagaimana ada di sini.
"Pantas saja sekte ini sekarat," batin Ye Xing. "Hama dari dimensi lain memakan fondasi mereka, dan mereka terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Ye Xing berdiri, menepuk bahu Lin Xiao. "Bangun, Lin Xiao. Kita tidak butuh cangkul."
"Hah? Lalu pakai apa?"
Ye Xing berjalan ke pinggir ladang, mematahkan beberapa ranting pohon Bambu Besi yang keras. Dia meruncingkan ujungnya dengan batu.
"Kita akan melakukan ini," kata Ye Xing menyeringai misterius.
"... apa?"
Ye Xing tidak menjelaskan. Dia berjalan ke tengah ladang, matanya memindai tanah seperti elang. Dia mencari titik-titik simpul (meridian) dari aliran tanah tersebut.
Di sini. Titik pertemuan Yang dan Yin tanah.
Trak!
Ye Xing menancapkan ranting bambu itu ke tanah dengan presisi mutlak. Bukan sembarangan, tapi tepat di celah bebatuan yang menjadi pusat sumbatan.
Dia melakukan hal yang sama di tujuh titik berbeda, membentuk pola Bintang Biduk Utara.
"Lin Xiao, ambil ember sisa ujian tadi. Siramkan air tepat di ranting-ranting ini. Sekarang!" perintah Ye Xing.
Lin Xiao yang bingung hanya menurut. Dia berlari mengambil air dan menyiramkannya ke tujuh ranting itu.
Saat air menyentuh ranting yang tertanam di "titik akupunktur" bumi, keajaiban terjadi.
Wushhh...
Terdengar suara mendesis pelan dari dalam tanah. Uap hitam berbau busuk keluar dari celah-celah tanah di sekitar ranting—itu adalah hama yang mati karena aliran Qi tanah yang mendadak lancar dan panas.
Tanah yang tadinya abu-abu keras perlahan melunak. Warnanya berubah menjadi cokelat tua yang subur.
Dan yang paling ajaib, tanaman Rumput Roh Angin yang layu dan hitam itu... perlahan-lahan menegakkan batangnya. Daun-daun baru berwarna hijau muda mulai bertunas dalam hitungan menit, seolah-olah waktu dipercepat.
Mata Lin Xiao melotot sampai hampir keluar. "Xing... kau... kau Dewa Pertanian?!"
Ye Xing menyeka keringat di dahinya. Menggunakan Mata Bintang dalam kondisi tersegel sangat menguras tenaga, tapi hasilnya sepadan.
"Bukan Dewa," jawab Ye Xing angkuh sambil bersandar pada cangkul yang tidak terpakai. "Aku cuma tahu cara memijat punggung bumi yang pegal."
Malam itu, di bawah sinar bulan, Ladang Barat yang tadinya mati kini bersinar samar dengan cahaya hijau spiritual.
Di kejauhan, dari balik jendela menara pengawas, Diaken Ma yang sedang meminum arak tersedak. Dia mengucek matanya, tidak percaya melihat cahaya hijau dari ladang "terkutuk" itu.
"Mustahil..." gumam Diaken Ma, gelas araknya jatuh pecah. "Siapa bocah itu sebenarnya?"
Sementara itu, Ye Xing berbaring di rerumputan yang baru tumbuh, menatap bintang di langit.
Langkah satu Amankan sumber daya, batin Ye Xing. Langkah dua Gunakan tanaman ini untuk membuat pil pembuka segel.