Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nego Sadis dan Resep Rahasia Abad 22
Pukul 04.00 WIB. Ayam jago Pak RT baru saja berdehem tes vokal, tapi aku sudah bangun. Mataku masih sepet, lengket kayak dilem, tapi semangat cari duit mengalahkan rasa kantuk.
Hari ini debut bisnis baruku: "Nasi Goreng Sifa: Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima".
Aku menyelinap keluar rumah seperti ninja, takut membangunkan Ibu. Dengan tas belanja anyaman di tangan dan jaket tebal (karena angin subuh Jakarta itu jahat, bisa bikin masuk angin level dewa), aku berjalan menuju jalan raya.
Angkot biru 03 jurusan Pasar Induk sudah ngetem. Di dalamnya ada ibu-ibu pedagang sayur yang tidur sambil mangap. Aku naik, duduk di pojok.
"Suhu udara 24 derajat Celsius. Kelembapan 80 persen. Waktu ideal buat belanja sayur segar sebelum layu kena matahari dan polusi," sapa Chrono di kepalaku.
"Pagi juga, Chrono. Siap jadi kalkulator berjalan?" tanyaku dalam hati.
"Gue bukan kalkulator. Gue superkomputer kuantum. Tapi oke, demi nasi goreng yang katanya bakal dimakan calon suami lo, gue bantu."
Aku tersenyum simpul, pipiku memanas sedikit mendengar kata "calon suami".
Sesampainya di Pasar Induk Kramat Jati, suasana sudah riuh rendah. Becek, bau amis, bau bawang, dan teriakan pedagang bercampur jadi satu. Ini medan perang emak-emak.
Aku melangkah masuk ke lorong sayur.
"Aktifkan Mode: Smart Bargainer (Penawar Pintar). Gue proyeksikan data harga pasar real-time dan analisis kualitas barang di lensa kacamata lo," kata Chrono.
BIP!
Kacamataku yang tadinya buram kena embun, tiba-tiba berubah jadi layar canggih ala Iron Man.
Di atas tumpukan cabai merah keriting di lapak Bu Gendut, muncul tulisan hijau melayang:
[KUALITAS: A (SEGAR BARU DATANG DARI LEMBANG)]
[HARGA WAJAR: Rp 45.000/kg]
[HARGA SCAM: Rp 60.000/kg (Pedagang ini suka naikin harga buat anak muda)]
Aku mendekat. "Bu, cabainya sekilo berapa?"
Bu Gendut menatapku dari atas sampai bawah, melihat wajah polosku. "Enam puluh ribu, Neng. Masih seger nih, baru metik."
Aku tersenyum manis. "Ah, Ibu bisa aja. Di lapak sebelah tadi empat lima, Bu. Lagian ini kan kiriman Lembang yang truknya baru dateng jam 3 tadi kan? Masa udah mahal?"
Mata Bu Gendut membelalak. "Lho? Kok Neng tau?"
"Tau dong, Bu. Saya kan anak pasar," bohongku (padahal tau dari Chrono). "Empat lima ya, Bu? Saya ambil dua kilo deh."
Bu Gendut geleng-geleng kepala, kalah mental. "Waduh, Neng ini pinter amat. Ya udah deh, empat lima. Itung-itung penglaris."
Aku tertawa dalam hati. "Yes! Hemat 30 ribu!"
Lanjut ke lapak ayam.
Di kacamata, muncul peringatan merah di atas ayam potong di lapak Pak Kumis:
[PERINGATAN: AYAM TIREN (MATI KEMAREN). KADAR BAKTERI TINGGI. JANGAN BELI!]
Aku langsung putar balik, pindah ke lapak sebelah yang indikatornya hijau: [AYAM SEGAR. BARU DIPOTONG 1 JAM LALU].
"Pak, dada ayam fillet dua kilo. Potong dadu ya," pesanku mantap.
Selama satu jam, aku bergerilya di pasar dengan bantuan Chrono. Aku menawar harga bawang, memilih telur yang kuningnya oranye pekat (Chrono bisa scan isi telur tanpa mecahin cangkangnya!), dan mendapatkan beras kualitas premium dengan harga grosir.
Para pedagang sampai bingung. "Neng Sifa hari ini lagi kesurupan roh pedagang Arab ya? Nawarnya sadis bener tapi sopan."
Setelah semua bahan terbeli, tas anyamanku penuh sesak. Berat banget.
"Chrono, uang belanja masih sisa lima puluh ribu nih. Berkat taktik nawar kamu," lapor ku senang.
"Bagus. Investasikan ke reksadana," saran Chrono.
"Nggak ah. Aku mau beliin martabak manis mini buat Ibu. Ibu suka banget yang rasa cokelat keju."
Aku mampir ke gerobak martabak mini di pintu keluar pasar. Membeli satu kotak isi enam. Masih hangat. Membayangkan senyum Ibu nanti saat sarapan martabak, rasa lelah di kakiku hilang seketika.
Sampai di rumah, Ibu sudah bangun, sedang menyapu halaman.
"Assalamualaikum, Bu! Sifa pulang bawa harta karun!" seruku ceria.
"Waalaikumsalam. Ya ampun, Nduk, belanjaanmu banyak banget? Kamu mau hajatan?" tanya Ibu kaget melihatku keberatan bawa tas.
"Mau jualan, Bu. Sifa buka katering kecil-kecilan di kantor. Doain laris ya."
"Amin... Ibu bantuin kupas bawang ya?"
"Nggak usah, Bu. Ibu makan martabak ini aja sambil nonton TV. Biar Sifa yang masak. Ini resep rahasia, nggak boleh diintip," candaku sambil mendorong Ibu duduk santai.
Aku masuk ke dapur sempit kami. Mengeluarkan wajan besi tua peninggalan Nenek yang pantatnya sudah hitam legam.
"Oke, Chrono. Sekarang bagian paling penting. Resepnya," kataku sambil mengikat celemek kumal.
"Siap. Mengakses database kuliner masa depan. Resep terpilih: 'Galactic Fried Rice'. Ini resep nasi goreng favorit di kantin Stasiun Luar Angkasa ISS tahun 2150. Rasanya gurih, smoky, dan bikin ketagihan karena keseimbangan umami yang sempurna."
"Bumbunya aneh-aneh nggak? Aku cuma punya bawang, cabe, kecap, sama terasi."
"Tenang. Bahannya sederhana, tapi tekniknya yang penting. Ikuti instruksi gue detil per detil. Jangan meleng."
Aku mulai memasak.
"Panaskan minyak sampai suhu 180 derajat. Tunggu sampe asepnya tipis. Masukkan bawang putih geprek. Tumis selama 30 detik. Jangan lebih! Kalau gosong dikit, paitnya ngerusak rasa," instruksi Chrono presisi seperti chef Gordon Ramsay versi robot.
Sreng!
Aroma bawang putih tumis yang harum langsung memenuhi dapur.
"Sekarang masukkan telur. Orak-arik cepet! Jangan sampe kering! Masukin nasi perak (nasi dingin). Aduk rata. Besarkan api kompor sampe maksimal. Kita butuh 'Wok Hei' (aroma gosong wajan)!"
Tanganku bergerak cepat mengaduk nasi di wajan yang berasap. Keringat bercucuran di dahiku. Panas. Capek. Tapi aku menikmati setiap detiknya.
"Masukkan bumbu halus: cabe, bawang merah, terasi bakar, dan... nah ini kuncinya: sejumput gula aren dan kecap ikan. Takarannya harus pas 5 mililiter. Pake sendok takar bayi kalau perlu."
Aku mencampur semua bumbu sesuai arahan Chrono.
Begitu bumbu tercampur rata dengan nasi...
WUUUSH!
Aroma yang keluar... ya ampun. Ini bukan aroma nasi goreng biasa. Ini aroma surga. Gurih, pedas, sedikit manis karamel, dan aroma asap yang khas. Air liurku langsung menetes.
"Deteksi reaksi kimia Maillard sukses. Karamelisasi sempurna. Matikan api. Taburi bawang goreng. Selesai."
Aku mencicipi sesendok.
Mataku membelalak.
"Enak banget..." gumamku tak percaya. "Ini nasi goreng paling enak yang pernah aku makan seumur hidup! Gurihnya nampol, tapi nggak bikin eneg. Pedesnya sopan, tapi nendang."
"Tentu saja. Itu resep yang menang penghargaan Michelin Star intergalaksi. Mas Adi bakal sujud syukur abis makan ini," kata Chrono sombong.
Aku segera membungkus nasi goreng itu ke dalam 10 kotak bekal plastik Tupperware (KW) yang sudah kusiapkan. Satu kotak khusus yang paling besar, aku kasih telur mata sapi setengah matang dan kerupuk udang yang banyak. Itu buat Mas Adi.
"Bu! Sarapan dulu nih, nyicipin masakan Sifa!" panggilku.
Ibu masuk dapur, mencicipi sesendok.
Ibu diam sejenak. Lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Sifa..." suara Ibu bergetar. "Ini... ini rasanya persis nasi goreng buatan Nenek kamu dulu. Kok bisa? Kamu kan nggak pernah diajarin?"
Aku tertegun. Resep masa depan ternyata rasanya sama dengan resep masa lalu? Mungkin karena rasanya adalah rasa cinta yang tulus.
"Sifa belajar dari Youtube, Bu," bohongku lagi. "Enak kan?"
"Enak banget, Nduk. Ini pasti laku keras. Kamu pinter banget."
Aku memeluk Ibu sebentar, merasakan kehangatan dan dukungan yang mengalir.
Pukul 07.00. Aku berangkat ke kantor dengan membawa dua tas besar berisi bekal. Berat, tapi langkahku ringan.
Di perjalanan naik busway, aku senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi Mas Adi nanti.
"Jangan senyum-senyum terus, nanti dikira gila," tegur Chrono. "Oh ya, gue udah bikinin poster digital promosi buat jualan lo. Gue kirim ke grup WA kantor anonim. Liat aja nanti pas lo sampe."
Benar saja. Begitu aku sampai di lobi NVT, beberapa karyawan resepsionis dan satpam langsung menyapaku.
"Mbak Sifa! Bawa nasi goreng ya? Saya pesen satu dong! Liat di grup katanya enak banget!" seru Pak Satpam.
"Saya juga, Fa! Dua ya buat sarapan!" timpal resepsionis.
Dalam waktu sepuluh menit, sembilan kotak bekal ludes terjual di lobi. Kantongku penuh dengan uang tunai. Laris manis!
Tinggal satu kotak. Kotak spesial.
Aku naik ke lantai gudang, menaruh tasku, lalu menunggu jam makan siang dengan tidak sabar.
Jam 12.00.
Aku dan Adi duduk berhadapan di meja kantin (lagi). Kali ini, di meja kami bukan mangkok soto, tapi kotak bekal plastik warna hijau stabilo.
Adi menatap kotak itu dengan penasaran. "Ini dia? Menu misterius hari ini?"
"Iya, Mas. Nasi Goreng Galactic... eh, Nasi Goreng Spesial Sifa," jawabku bangga. "Cobain deh."
Adi membuka tutup kotak bekal. Uap panas masih mengepul sedikit. Aroma smoky dan terasi bakar langsung menyeruak, membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh ngiler.
Adi mengambil sendok. Menyuap suapan pertama.
Dia mengunyah. Diam. Mengunyah lagi. Diam lagi.
Jantungku deg-degan. "Gimana, Mas? Nggak enak ya? Keasinan?"
Adi meletakkan sendoknya. Dia menatapku dengan tatapan serius, sangat serius.
"Sifa," panggilnya berat.
"I-iya, Mas?"
"Kamu... kamu pake dukun masak ya?"
"Hah?"
"Ini..." Adi menggelengkan kepala tak percaya, lalu menyendok lagi dengan rakus. "Ini nasi goreng paling enak yang pernah saya makan di Jakarta! Sumpah! Rasanya kayak... kayak pelukan Ibu tapi versi makanan. Gurihnya pas, pedesnya nagih. Kamu beneran masak sendiri?"
Aku tertawa lega. "Iya dong, Mas. Bangun subuh tadi ke pasar nawar cabe sama Bu Gendut."
"Gila. Saya mau langganan seumur hidup," kata Adi sambil terus makan lahap, bahkan dia melupakan image CEO-nya yang jaim. Ada butiran nasi nempel di sudut bibirnya.
Aku mengambil tisu, lalu tanpa sadar, tanganku terulur membersihkan sudut bibir Adi.
"Pelan-pelan makannya, Mas. Belepotan tuh kayak anak kecil," kataku lembut.
Adi terpaku. Dia berhenti mengunyah, menatap tanganku yang menyentuh wajahnya. Aku juga baru sadar apa yang kulakukan. Buru-buru aku tarik tanganku, mukaku memerah lagi.
"Ma-maaf, Mas! Refleks!"
Adi tersenyum, kali ini senyumnya sangat lembut. Dia memegang tanganku yang tadi menarik tisu.
"Nggak apa-apa. Makasih, Sifa. Makasih udah ngurusin saya. Rasanya... menyenangkan."
Di tengah kantin yang ramai, kami saling bertatapan. Dunia terasa berhenti sejenak. Hanya ada aku, Adi, dan kotak bekal nasi goreng yang sudah setengah habis.
"Target Locked. Hati CEO resmi tertawan oleh Nasi Goreng. Misi sukses besar," lapor Chrono puas.
Aku tersenyum malu. Ternyata benar kata pepatah: Jalan menuju hati pria adalah melalui perutnya. Dan Chrono baru saja membangun jalan tol bebas hambatan menuju hati Adi.
semangat kakak