Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
6
Malam itu, Anjeli hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap jam, ia mengintip dari balik tirai jendela kamar yang kusam, menatap ke arah kebun belakang yang gelap. Ia merasa seolah-olah bisa mendengar suara pertumbuhan tanamannya sendiri suara dedaunan yang membentang dan batang yang mengeras. Efek dari cairan perak Ekstrak Pertumbuhan Cepat itu mulai terasa.
Pagi harinya, saat fajar baru saja menyingsing, Anjeli tertegun di ambang pintu belakang. Sepuluh batang tomat yang kemarin baru setinggi lutut, kini telah merimbun setinggi pinggangnya. Bukan hanya itu, buah-buah tomat yang kemarin tidak ada, kini bergantungan dengan warna merah yang begitu pekat, seolah-olah mereka adalah batu delima yang tumbuh dari tanah.
"Ya Tuhan..." Anjeli menutup mulutnya dengan tangan. "Ini terlalu cepat."
Buahnya sangat besar, berkilau tanpa ada cacat sedikit pun. Aromanya yang harum dan segar memenuhi udara pagi di sekitar rumahnya. Namun, kegembiraan Anjeli segera berganti dengan rasa waswas. Bagaimana ia menjelaskan ini pada orang desa?
"Kak Anjeli! Lihat!" Aris berlari ke arah kebun, matanya membelalak lebar. "Tomatnya sudah merah! Bukannya kemarin masih kecil sekali ya kak?"
Anjeli segera menarik tangan adiknya, membawanya sedikit menjauh dari pagar agar suaranya tidak terdengar tetangga. "Dek, dengarkan Kakak. Kalau ada orang tanya, bilang saja Kakak pakai pupuk rahasia dari kota yang dikasih Pak Hendra kemarin. Jangan bilang kalau ini tumbuh dalam satu malam, ya?"
Aris menatap kakaknya dengan bingung, tapi saat melihat wajah Anjeli yang begitu serius, bocah itu mengangguk patuh. "Iya, Kak. Aris janji. Tapi Kak ini tomatnya cantik sekali, seperti yang ada di buku gambar."
Anjeli tersenyum getir sambil mengusap pipi adiknya. Di saat yang sama, ia melihat sebuah kepala muncul di balik pagar bambu. Bu Sumi. Wanita itu berdiri mematung dengan mulut menganga, tangannya masih memegang sapu lidi.
"Anjeli ini, apa-apaan ini?" suara Bu Sumi bergetar antara kaget dan ngeri. "Kemarin sore aku lewat sini, tomatmu masih hijau kecil-kecil. Sekarang sudah merah begini? Ini tidak wajar! Kamu, kamu pakai pesugihan kan?!"
"Sabar bu Sumi, jangan asal nuduh saya pakai persugihan Bu Sumi," Anjeli berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Ini bibit unggul dari Pak Hendra yang saya temui di pasar kemarin. Katanya memang jenis tomat hibrida super cepat. Saya juga kaget melihat hasilnya."
"Bohong! Mana ada bibit begitu di dunia ini!" teriak Bu Sumi. Ia segera berlari menuju jalan desa, berteriak-teriak memanggil warga. "Tolong! Ada pesugihan di rumah Burhan! Lihat kebunnya!"
Kegaduhan di luar membuat Pak Burhan keluar dengan kursi rodanya. Ia menatap kebun belakangnya dengan wajah yang sulit diartikan. Ia adalah seorang mantan mandor perkebunan, ia tahu betul seluk beluk tanaman. Apa yang ia lihat di depannya benar-benar menentang logika yang ia miliki selama puluhan tahun.
"Nak,” panggil Pak Burhan pelan.
Anjeli mendekat, berlutut di samping kursi roda ayahnya. "Yah, Anjeli tahu Ayah bingung. Tapi tolong percayalah pada Anjeli. Semua ini halal. Anjeli tidak melakukan hal yang dilarang agama. Ini semua untuk Ayah dan Aris."
Pak Burhan menatap mata putrinya dalam-dalam. Ia melihat kejujuran dan beban yang begitu besar di sana. Ia menghela napas panjang, lalu meraih tangan Anjeli. "Ayah tidak butuh harta dari jalan yang salah, Njel. Ayah lebih baik mati kelaparan daripada makan dari hasil pesugihan."
"Ini bukan pesugihan, Yah. Demi Allah," air mata Anjeli menetes. "Ini rezeki yang datang karena kebaikan yang kita tanam dulu. Tolong dukung Anjeli di depan warga nanti."
Pak Burhan mengangguk lemah, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya besar.
Tak lama kemudian, kerumunan warga mulai berkumpul di depan pagar rumah Anjeli, dipimpin oleh Bu Sumi yang terus memprovokasi. Suasana memanas. Beberapa orang mulai berbisik-bisik tentang hal-hal mistis.
Namun, di tengah ketegangan itu, sebuah mobil double cabin berwarna putih bersih berhenti di depan rumah. Pak Hendra turun dari mobil dengan kacamata hitamnya. Ia tampak terkejut melihat kerumunan massa.
"Ada apa ini?" tanya Pak Hendra dengan suara berwibawa.
Bu Sumi langsung menyambar, "Ini Pak! Lihat kebun Anjeli! Dia pasti pakai tumbal! Mana mungkin tomat tumbuh secepat itu!"
Pak Hendra berjalan menuju kebun belakang diikuti oleh para warga yang penasaran. Saat melihat sepuluh pohon tomat itu, mata Pak Hendra berbinar. Ia tidak tampak takut atau curiga, melainkan sangat kagum. Ia mengambil satu buah tomat, menimbangnya di tangan, lalu mencium aromanya.
"Luar biasa..." gumam Pak Hendra. Ia kemudian menoleh ke arah warga. "Ibu-ibu, Bapak-bapak, tolong jangan berpikiran sempit. Saya adalah orang pertanian. Bibit yang saya berikan kepada Anjeli ini memang bibit eksperimen terbaru dari laboratorium kota. Saya sengaja meminta Anjeli untuk mengujinya di sini karena tanah di desa ini punya unsur hara yang unik."
Warga terdiam. Penjelasan ilmiah dari orang kota yang terlihat kaya dan berpendidikan biasanya lebih manjur daripada ocehan Bu Sumi.
"Jadi ini bukan sihir, Pak?" tanya salah satu warga.
"Tentu bukan. Ini teknologi," jawab Pak Hendra mantap. Ia kemudian menatap Anjeli dan berbisik sangat pelan agar hanya Anjeli yang dengar, "Saya tahu ini bukan bibit saya, tapi saya akan membantumu menutupi ini. Sebagai imbalannya, semua hasil panen ini harus kamu jual hanya kepada saya."
Anjeli tertegun. Ia menyadari bahwa Pak Hendra bukan orang bodoh, tapi pria ini melihat peluang bisnis yang besar.
"Saya beli semua tomat di sepuluh pohon ini sekarang juga," seru Pak Hendra keras-keras. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya. "Ini lima ratus ribu untuk panen hari ini. Dan ini baru permulaan."
Warga yang tadinya mencibir kini berubah menjadi iri. Bu Sumi hanya bisa bersungut-sungut lalu pergi dengan wajah merah padam.
Setelah semua orang pergi dan Pak Hendra membawa hasil panennya, Anjeli menyerahkan uang lima ratus ribu itu kepada ayahnya.
"Ayah, ini uangnya. Hari ini juga, Aris bisa beli buku gambar baru, dan kita bisa bayar cicilan bunga hutang itu supaya mereka tidak mengganggu Aris lagi," ujar Anjeli sambil terisak lega.
Pak Burhan memegang uang itu dengan tangan gemetar. Ia menarik Anjeli ke dalam pelukannya. "Maafkan Ayah Nak. Ayah yang seharusnya lebih percaya padamu."
Di pojok ruangan, Aris melompat kegirangan. "Hore! Kak Anjeli hebat! Kita makan enak hari ini, Yah"
Namun, saat Anjeli kembali ke kebun untuk membersihkan sisa panen, ia melihat tanah di bawah sepuluh pohon tomat itu. Tanah yang tadinya hitam kini berubah menjadi abu-abu pucat, kering, dan pecah-pecah. Peringatan di Ruang Ajaib itu benar ekstrak itu menguras seluruh sari pati tanah.
Anjeli menatap cincinnya. Ia berhasil melewati satu badai, tapi ia tahu, tantangan berikutnya akan lebih besar. Pak Hendra kini mengawasinya, dan tanahnya butuh pemulihan. Ia harus masuk ke Ruang Ajaib malam ini untuk mencari cara menghidupkan kembali tanah yang telah mati itu sebelum kecurigaan baru muncul.
🤣🤣🤣 si handoko nga dapat apa2..rasain looo pak handok🤣🤣🤣