NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - Sedikit Meningkat

Pagi itu langit terlihat cerah, tapi entah kenapa perasaan Giselle justru terasa berat sejak ia bangun tidur. Rumah masih sama seperti biasanya, sunyi, rapi, dan penuh tekanan yang tidak pernah benar-benar diucapkan. Atika sudah siap sejak pagi, berpakaian rapi dengan tas tangan yang digenggam erat, seolah hari itu adalah hari penting yang tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.

Di perjalanan menuju sekolah, Atika duduk di kursi depan mobil bersama Fara, ibu Libra. Obrolan mereka terdengar ringan, membahas cuaca, kemacetan, dan betapa cepatnya waktu berlalu sejak anak-anak mereka masuk SMA. Fara sesekali tersenyum, nadanya hangat dan santai, berbeda dengan Atika yang hanya menanggapi seperlunya, lebih banyak mengangguk daripada benar-benar ikut berbincang.

Giselle duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela dengan pikiran yang berlarian ke mana-mana. Tangannya saling bertaut di atas pangkuan, jemarinya dingin meski AC mobil tidak terlalu kencang. Ia tahu hari ini bukan hari biasa. Hari ini rapor akan bicara. Dan seperti biasa, rapor sering kali menjadi senjata yang paling menyakitkan.

Begitu sampai di sekolah, suasana kelas XI IPS 2 sudah cukup ramai. Beberapa orang tua berdiri di depan kelas, sebagian duduk di bangku siswa, sebagian lagi berbincang pelan sambil menunggu giliran. Giselle memilih duduk di bangku paling belakang, tepat di tempat ia biasa duduk setiap hari, seolah bangku itu satu-satunya tempat yang masih memberinya rasa aman.

Wali kelas memanggil satu per satu nama siswa. Fara dipanggil lebih dulu. Libra bangkit dari duduknya, menepuk bahu Giselle singkat sebelum ikut ibunya maju ke depan. Giselle memperhatikan dari jauh, dadanya terasa agak sesak meski ia sudah bisa menebak hasilnya.

Tak lama kemudian, Fara tersenyum lebar sambil melihat lembaran rapor di tangannya. Wali kelas terlihat berbincang cukup lama dengannya, sesekali mengangguk, sesekali menunjuk beberapa bagian nilai. Libra berdiri di samping ibunya dengan ekspresi tenang, seperti biasa.

“Peringkat tiga di kelas, Bu,” suara wali kelas terdengar cukup jelas sampai ke bangku belakang. “Nilainya konsisten bagus, dan sikapnya juga baik.”

Fara tersenyum bangga. “Alhamdulillah, Pak. Terima kasih sudah membimbing Libra.”

Giselle menunduk. Ada rasa bangga pada sahabatnya, tentu saja, tapi bersamaan dengan itu muncul perasaan kecil yang tidak bisa ia namai, campuran antara iri, sedih, dan lelah karena membandingkan diri sendiri dengan orang yang bahkan tidak pernah bermaksud untuk dibandingkan.

Nama Giselle akhirnya dipanggil.

Atika berdiri dan melangkah ke depan dengan langkah tenang, wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Giselle ikut berdiri, kakinya terasa sedikit lemas saat berjalan mendekat. Ia berdiri di samping ibunya, menatap meja guru dengan pandangan yang sulit difokuskan.

Wali kelas membuka rapor Giselle perlahan, matanya menyusuri baris demi baris nilai. Tidak ada ekspresi terkejut, tidak ada desahan kecewa, hanya wajah seorang guru yang sudah terlalu sering melihat berbagai macam hasil usaha murid-muridnya.

“Nilainya meningkat, Bu,” kata wali kelas akhirnya. “Tidak signifikan, tapi ada kemajuan dibanding semester lalu dan tahun sebelumnya.”

Atika mengangguk pelan.

“Dari peringkat dua puluh tujuh, sekarang naik ke sembilan belas,” lanjut wali kelas dengan nada netral.

Giselle menahan napas. Angka itu tidak jelek, setidaknya menurutnya. Delapan peringkat naik bukan hal kecil. Tapi ia tahu, angka itu tidak akan pernah cukup bagi Atika.

Wali kelas melanjutkan, suaranya sedikit berubah, lebih hangat. “Selain itu, saya juga ingin menyampaikan bahwa Giselle punya bakat yang cukup menonjol di bidang musik. Saya sempat melihat langsung waktu pentas seni kemarin. Cara dia bernyanyi, penguasaan panggungnya, itu tidak semua anak punya.”

Untuk sesaat, ruangan terasa hening.

Giselle menoleh sedikit ke arah ibunya. Atika masih tersenyum tipis, sopan, seolah mendengarkan pujian biasa. Tapi Giselle bisa merasakannya, amarah yang ditahan rapat, kekecewaan yang disimpan dalam-dalam, dan pikiran yang sudah mulai menyusun kalimat-kalimat panjang untuk nanti.

“Bakat itu bisa jadi potensi besar kalau diarahkan dengan baik,” tambah wali kelas.

“Iya, Pak,” jawab Atika singkat. Suaranya terdengar tenang, terlalu tenang.

Setelah rapor diserahkan, Atika mengucapkan terima kasih, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa pun pada Giselle. Langkahnya cepat, tegas. Giselle mengikuti di belakang, menjaga jarak satu langkah, seperti sudah terbiasa.

Di luar kelas, Fara menyapa mereka dengan senyum ramah. “Gimana, Tik?”

“Ya… biasa,” jawab Atika sambil tersenyum tipis. “Masih harus banyak ditingkatkan.”

Fara mengangguk, lalu melirik Giselle. “Yang penting ada progres, ya, Giselle.”

Giselle tersenyum kecil. “Iya, Tante.”

Dalam perjalanan pulang, mobil terasa jauh lebih sunyi daripada saat berangkat. Atika menatap lurus ke depan, tangannya mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya. Giselle duduk di belakang, punggungnya bersandar, matanya menatap langit yang sama cerahnya seperti pagi tadi, tapi kini terasa menyilaukan.

Ia tahu, percakapan sebenarnya belum dimulai.

Dan seperti biasa, rapor bukan akhir dari segalanya—melainkan awal dari tekanan yang lain.

Siang itu sekolah belum sepenuhnya sepi, meskipun sebagian besar orang tua sudah mulai meninggalkan area parkiran. Beberapa siswa masih berkeliaran di koridor, ada yang menunggu dijemput, ada juga yang sekadar berdiri sambil membuka rapor masing-masing. Suasana terasa campur aduk, lega, canggung, dan sedikit tegang.

...***...

Libra melangkah keluar gerbang sekolah bersama Danu dan Farhan. Helm sudah di tangan, tas disampirkan seadanya di bahu. Panas matahari masih menyengat, tapi tidak seterik siang-siang sebelumnya.

“Langsung pulang?” tanya Danu sambil menurunkan standar motornya.

Libra menggeleng. “Laper banget gue.”

Farhan melirik cepat, lalu tersenyum kecil. “Peringkat tiga kelas gak mungkin langsung pulang, kan?”

Libra mendecak pelan. “Apaan?”

“Yang naik peringkat harus berbagi kebahagiaan,” celetuk Farhan dengan santai.

“Berbagi traktiran maksud lo,” timpal Danu.

Libra menarik napas, ia mengangguk saja, lalu mengenakan helmnya.

Mereka bertiga akhirnya melaju keluar gerbang sekolah hampir bersamaan. Motor berjalan beriringan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Tujuan mereka satu, kafe kecil yang sering menjadi tempat singgah sepulang sekolah.

Tidak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di kafe. Matahari masih tinggi, terlihat bayangan kursi jatuh pendek di atas paving.

Mereka memilih meja di sudut luar, tepat di bawah kanopi. Motor diparkir berjejer tak jauh dari sana. Danu langsung menjatuhkan badan ke kursi, Farhan meregangkan bahu, sementara Libra duduk sambil melepas helmnya pelan, seolah baru benar-benar berhenti dari hari yang panjang.

Pesanan datang tak lama kemudian. Meja itu penuh dengan minuman dingin, camilan, dan tawa yang tidak terlalu keras, tapi cukup mengisi ruang di antara mereka.

“Giselle ga ikut?” tanya Farhan di sela obrolan.

Libra menggeleng pelan. “Dia langsung pulang sama nyokapnya dan nyokap gue.”

“Oh,” Farhan mengangguk. Tidak bertanya lagi.

Mereka melanjutkan obrolan. Tentang nilai, tentang kelas yang akhirnya selesai, tentang hal-hal ringan yang biasanya muncul setelah hari panjang. Tapi di tengah itu semua, ada satu hal yang sama-sama mereka sadari, meski tidak diucapkan.

Hari itu berat untuk sebagian orang.

Dan perayaan kecil ini, sesederhana apa pun, tetap menyisakan ruang kosong yang tidak terisi.

...***...

27 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!