Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sial, Koper, dan Tetangga Robot
Nara Anindita percaya bahwa hidup itu seperti roda—kadang di atas, kadang di bawah. Tapi masalahnya, roda milik Nara sepertinya sedang bocor, kempes, dan terjebak di dalam lubang lumpur yang dalam.
Bayangkan saja, dalam satu minggu yang sama, Nara kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai desainer di sebuah agensi (karena bosnya yang menyebalkan itu lebih suka desain pakai AI), dan dia juga baru saja memutus hubungannya dengan sang pacar, Rio. Kenapa putus? Karena Rio ketahuan selingkuh dengan alasan, "Kamu terlalu sibuk sama deadline sampai lupa kalau aku butuh perhatian." Cih, klasik!
"Oke, Nara. Tarik napas... buang. New place, new life, new vibe," gumam Nara sambil menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya.
Di depannya sekarang berdiri sebuah bangunan apartemen bernama Skyline Residence. Mewah sih, tapi unit yang Nara sewa itu hasil dapet harga promo karena lokasinya yang paling ujung di lantai empat. Sambil menggeret dua koper raksasa dan satu tas ransel yang beratnya kayak bawa dosa masa lalu, Nara masuk ke dalam lift dengan perjuangan luar biasa.
"Ayo dong, koperrr sayang... kerja samanya ya," bisiknya pada koper merahnya yang rodanya sudah mulai macet.
Begitu pintu lift terbuka di lantai empat, suasana koridor terasa sangat sunyi dan elegan. Wangi pengharum ruangannya aroma kayu cendana, beda banget sama kos-kosan Nara yang lama yang baunya lebih sering kecium aroma mie instan tetangga.
Nara berjalan pelan, menyeret kopernya yang menimbulkan suara kerotak-kerotak yang sangat berisik di lantai marmer yang mengkilap. Dia sibuk mencari nomor unitnya, 401.
"Mana sih... 398... 399... 400... Ah! Ini dia!"
Nara berhenti tepat di depan pintu unit 401. Tapi karena tangannya penuh dan punggungnya mulai pegal, dia nggak sadar kalau koper merah besarnya itu posisinya agak miring di belakangnya.
Tiba-tiba, pintu unit tepat di depannya—nomor 402—terbuka dengan pelan.
Dari dalam sana muncul seorang pria. Tinggi, bahunya tegap, dan penampilannya rapi banget sampai-sampai Nara merasa kayak lagi liat manekin toko baju pria bermerk. Pria itu memakai kemeja putih bersih tanpa sedikit pun kerutan, celana bahan warna abu-abu gelap, dan jam tangan yang kelihatan sangat mahal melingkar di pergelangan tangannya.
Pria itu keluar sambil menunduk, matanya fokus pada layar ponsel di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang sebuah gelas plastik berisi iced Americano yang embun airnya masih segar banget.
"Aduh, dikit lagi... miring dikit..." Nara masih sibuk mengatur posisi barangnya.
Tapi, hukum gravitasi memang nggak pernah berpihak pada Nara. Koper merah raksasa yang tadi posisinya miring tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena roda macetnya selip. Koper itu meluncur jatuh tepat ke arah kaki si pria manekin.
"E-eh! AWAS!" teriak Nara refleks.
Pria itu tersentak, mencoba menghindar, tapi terlambat. Koper Nara menghantam tulang keringnya dengan telak. BRUK!
Refleks manusia saat kaget biasanya dua: diam atau lompat. Pria ini mencoba lompat kecil, tapi sialnya, gelas kopi di tangannya justru terlempar ke atas. Bak adegan slow motion di film-film, cairan hitam pekat itu tumpah dengan estetik, meluncur bebas menyiram bagian depan kemeja putih si pria, membasahi dadanya, hingga merembes ke celananya. Beberapa tetes bahkan menciprat sampai ke pipi dan rahangnya yang tegas.
Hening.
Suasana koridor yang tadinya sunyi jadi makin terasa mencekam. Nara mematung dengan mulut terbuka membentuk huruf O.
Pria itu berdiri diam. Benar-benar diam seperti robot yang konslet. Ia perlahan menurunkan ponselnya yang untungnya selamat dari maut, lalu menunduk menatap noda kopi yang sekarang menghiasi kemeja putih "suci"-nya.
"Gila... itu kemeja apa kanvas lukisan abstrak?" batin Nara malah sempat-sempatnya berkomentar dalam hati.
Nara buru-buru mendekat. "Aduuuh! Mas, maaf! Sumpah, saya nggak sengaja! Itu kopernya emang lagi pundung rodanya macet. Mas nggak apa-apa? Aduh, kemejanya..."
Nara secara refleks merogoh tasnya, mengeluarkan tisu basah, dan tanpa pikir panjang langsung menempelkan tisu itu ke dada si pria, mencoba menggosok noda kopi itu agar hilang.
Pria itu langsung memegang pergelangan tangan Nara dengan cepat. Tenaganya kuat, bikin Nara tersentak dan berhenti menggosok.
Pria itu menatap Nara. Matanya tajam banget, dingin, dan tatapannya itu tipe yang bisa bikin orang langsung pengen minta maaf atas dosa-dosa sepuluh tahun lalu.
"Berhenti," ucap pria itu. Suaranya rendah, bariton, dan datar banget tanpa ekspresi.
"Tapi Mas, ini kopinya nanti nempel kalau nggak langsung dibersihin—"
"Kamu justru bikin nodanya makin nyebar dengan tisu basah itu," potong pria itu sambil melepaskan tangan Nara seolah-olah tangan Nara itu mengandung virus berbahaya.
Nara meringis, merasa bodoh. "Ya maaf, kan saya panik. Sini, biar saya bantu bawa ke laundry atau... atau Mas ganti baju dulu, kemejanya kasih saya biar saya yang cuci!"
Pria itu menarik napas panjang, sangat panjang, seolah sedang mencoba menahan diri agar tidak meledak saat itu juga. Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya—ya, dia tipe cowok yang masih bawa sapu tangan rapi—lalu mengusap pipinya yang terkena cipratan kopi.
"Dengar," ucapnya sambil menatap Nara lurus-lurus. "Saya ada rapat penting sepuluh menit lagi. Dan sekarang, berkat koper rusakmu itu, saya kelihatan seperti baru saja berenang di kolam kopi."
"Ya kan saya udah minta maaf, Mas..." Nara mulai merasa nggak enak, tapi juga sedikit sebal karena nada bicara cowok ini sinis banget. "Masnya juga tadi jalan sambil main HP, jadi kita sama-sama nggak liat jalan, kan?"
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkan saya karena saya keluar dari unit saya sendiri?"
Nara terdiam. Oke, poin buat si cowok manekin. Dia emang salah karena naruh barang sembarangan di koridor.
"Oke, oke, saya yang salah. Jadi gimana? Saya ganti rugi uang kopi atau gimana?" tanya Nara sambil merogoh dompetnya yang isinya juga nggak seberapa itu.
Pria itu melirik koper-koper Nara, lalu melirik pintu unit 401. "Kamu penghuni baru di unit itu?"
"Iya, baru mau pindah hari ini. Nama saya Nara," jawab Nara mencoba ramah sambil mengulurkan tangan.
Pria itu sama sekali tidak membalas uluran tangan Nara. Ia justru berbalik, kembali masuk ke unitnya tanpa pamit, lalu terdengar suara pintu ditutup dengan suara KLIK yang sangat tegas.
Nara melongo di koridor sendirian. "Hah? Apa-apaan sih? Ditinggal gitu aja?"
Nara baru saja mau menggedor pintu unit 402 untuk minta maaf (lagi), tapi pintu itu terbuka lagi sedikit. Si pria tadi melemparkan sesuatu ke arah Nara.
HAP! Nara menangkapnya. Itu adalah kartu nama minimalis dengan tinta timbul yang kelihatan mahal.
"Rian Ardiansyah. Itu nama saya," suara pria itu terdengar dari balik pintu. "Simpan permintaan maafmu. Cukup satu hal yang saya minta: jangan pernah buat keributan lagi di depan unit saya. Saya benci suara berisik, saya benci barang berantakan, dan saya sangat benci orang yang tidak bisa menjaga barangnya sendiri."
BRAKK!
Kali ini pintunya ditutup dengan sedikit lebih kencang.
Nara mengerjapkan mata berkali-kali. "Wah... gila. Tetangga baru gue ternyata robot sensorik yang galak banget."
Nara menatap kartu nama di tangannya. Rian Ardiansyah - Financial Analyst.
"Pantesan mulutnya kayak kalkulator, tajam dan penuh perhitungan," gerutu Nara. Ia menendang pelan koper merahnya. "Ini gara-gara lo ya, koper jelek! Hari pertama sudah sukses bikin musuh!"
Nara mendesah pasrah, lalu mulai memasukkan kunci ke pintunya sendiri. Dia belum tahu saja, kalau pertemuan "berdarah kopi" ini hanyalah awal dari serangkaian kejadian kacau yang akan menghubungkan unit 401 dan 402 selama berbulan-bulan ke depan.