Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kencan Pertama
Maggie sudah menantikan momen ini. Ia mengenakan gaun hitam. Rambutnya disanggul rapi, duduk manis di Phoenix Gastro, restoran paling mewah di Jakarta Utara.
Di hadapannya duduk pria tinggi, berambut gelap, sungguh tampan memesona dengan setelan jas biru tua dan kancing manset berwarna keemasan. Pesonanya kuat dan smart. Pria yang sangat sukses dalam dunia bisnis.
Dan matanya?
Jelas, hanya tertuju pada Maggie.
Seharusnya ini jadi kencan pertama terbaik dalam hidupnya.
Tapi?
Perutnya terlalu besar, sampai-sampai membuatnya sulit duduk nyaman di meja. Bayi di dalam perutnya sudah menendang-nendang tak karuan, mungkin ingin ikutan makan juga.
Dan ada rasa lembap aneh yang mulai terbentuk di celana dalamnya. Tentu bukan lembap yang menyenangkan ataupun menggairahkan.
Ia sedang mengompol?
"Maggie, kamu enggak apa-apa?" Kael Brawangsa berhenti, gelas air putih tertahan di dekat bibirnya.
Ia bersikap sopan, jadi ia tidak memesan wine karena Maggie tidak bisa meminum alkohol. Matanya tertuju pada Magiie, alis tebalnya berkerut cemas.
Pandangannya turun ke tepi meja, ke arah Maggie yang membungkuk, berusaha menyembunyikan perutnya.
"Yaps ... Ini ... Sempurna!" jawabnya, menjaga suara tetap ceria sambil bertanya-tanya apakah noda basah akan muncul di gaunnya.
Ia benar-benar ingin kabur ke kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi.
Tentu saja, gaun bodoh itu terlalu ketat untuk usia kandungan di bulan ke sembilan.
Ia menggeser posisi di kursi, memastikan kakinya tertutup taplak meja. Lututnya dibuka sedikit dengan harapan, lembap itu bisa kering dengan sendirinya.
Hamil itu menyebalkan.
Kael meneguk air sambil terus mengamatinya.
Maggie tersenyum lebar, "Aku senang sekali kita bisa ketemuan di sini."
Kael mengangguk. "Aku juga. Gimana minggu pertama toko yang baru?"
Pertanyaan itu bukan basa-basi. Ia benar-benar ingin tahu. Kael dan saudaranya ... Joann Saputra, adalah seorang mentor. Merekalah yang menangani Sweety Spring, toko baru milik Maggie dan Jennie, kakaknya.
Maggie mengayun-ayunkan lutut di bawah meja, berharap ompol khas kehamilan itu cepat mengering. "Saran-saran kamu keren. Penjualan di awal grand opening kami melampaui perkiraan."
"Itu luar biasa," kata Kael. "Aku berharap bisa tinggal seminggu full, tapi masalahnya aku ada tugas."
"Kamu udah ngelakuin banyak hal. Dan kamu ada di sana pas grand opening, itu udah cukup ...." Kalimatnya terhenti ketika ekspresi Kael berubah.
Kael teringat kejadian aneh saat harus mengantar perempuan hamil ke mobil. Ia membantu mengangkat Maggie ketika ia panik tepat setelah pemotongan pita, mengira dirinya akan melahirkan.
Ternyata tidak.
Sungguh memalukan.
Setelah itu Maggie tidak melihatnya lagi karena Kael sudah berangkat ke Amerika saat urusan dengan tokonya selesai.
Namun dua hari lalu, Kael menelepon dan mengatakan ia akan singgah di PIK, di sela pertemuan bisnisnya di Jakarta. Dan mengajak Maggie makan malam.
Tiba-tiba, semburan lembap lainnya lolos.
Bagaimana bisa?
Maggie sudah buang air kecil tepat sebelum berangkat. Padahal ia sama sekali tidak terbatuk, tidak juga tertawa berlebihan, dan tidak juga bersin.
Ia menyelipkan serbet kain ke bawah taplak meja, lalu memasukkannya ke dalam gaunnya.
Pelayan pun mendekat. "Saladnya, Nona."
Si pelayan meletakkan dua piring yang tertata sempurna di hadapan dua insan itu, potongannya rapi di atas piring persegi dengan irisan tomat tersusun seperti kipas.
Begitu mencium aroma keju bleu, si Junior menendang cukup keras sampai perut Maggie melonjak. Aliran air lain pun mengalir keluar. Bayi itu pasti mengincar kandung kemihnya.
Jadi itu penyebabnya.
Maggie mengembuskan napas, lega karena akhirnya paham. Ia lalu menjepit serbet kain di antara kedua pahanya dan meraih garpu.
"Ini kelihatan luar biasa," katanya.
"Kamu yang luar biasa," balas Kael.
Tatapan mereka bertemu di atas vas mawar di tengah meja. Pria itu benar-benar menawan. Mata gelapnya berkilau. Janggutnya terawat rapi. Segalanya tentang dirinya terasa sempurna bagi Maggie. Dan dia ada di sini bersamanya.
"Gimana manajer keuangan yang baru?" tanya Kael.
Maggie memotong sedikit demi sedikit lembar selada, meski si Junior mendesak agar ia melahap semuanya sekaligus.
"Jennie bilang dia hebat. Aku malah lebih fokus ke branding." Ia menyelipkan suapan kecil ke dalam mulutnya.
Senyum Kael melucuti pertahanannya. "Oh maaf. Aku rasa kita sebaiknya enggak membicarakan bisnis saat kencan."
Kencan.
Kata itu kembali menghantamnya.
Ia sedang berkencan dengan seorang miliarder?
Junior menendang lagi. Bayi itu sama sekali tidak peduli pada pria itu. Yang diinginkannya hanyalah makanan.
Meski terdistraksi, Maggie memberi Kael senyum melamun. "Kalau di Amerika, apa yang kamu lakuin biasanya waktu liburan?"
Senyum lain muncul. "Aku punya koleksi mobil klasik. Aku suka modif sendiri."
Rasa lembab di celana dalam Maggie pun semakin terasa.
"Mobil apa aja?" Maggie memotong lagi sedikit, setidaknya untuk menenangkan si Junior.
"Dua Mustang. Camaro kuning tahun 1986. Jaguar 1952. Dan Porsche 1963."
"Oh. Semuanya masih bisa dipakai?"
"Aku merestorasinya, tapi mesinnya perlu perawatan." Mata Kael berbinar. Ia senang membicarakan mobil. Maggie bisa mendengarkannya seharian.
"Kamu masih pakai mobil-mobil itu buat sehari-hari?"
"Enggak sering. Soalnya aku enggak menyimpannya di kota. Aku beli properti di bagian utara Amerika khusus buat garasi, buat menyimpan semuanya." Ia memiringkan kepala. "Aku harap suatu hari kamu bisa datang untuk melihatnya. Di sana tenang."
Junior menendang-nendang, seolah mengingatkan bahwa bepergian jauh, belum akan masuk agendanya dalam waktu dekat. Namun Maggie berkata, "Itu bakal menyenangkan."
Maggie hendak mengambil lebih banyak salad, tapi piringnya sudah kosong. Ia melahapnya tanpa sadar, pipinya mengembung saat Kael berbicara.
Seorang pelayan bergegas lewat, kain putih yang terselip di ikat pinggangnya pun berkibar di belakang. Gerakannya mengusik lilin di dekat gelas air Maggie, dan kepulan asap mengenai hidungnya.
Oh tidak.
Geli kecil pun muncul dan ia berusaha menahannya.
Jangan bersin.
Jangan.
Jangan sekarang.
Jangan saat dia sudah bocor.
Tatapan Kael tertuju padanya.
Ia terpikat.
Maggie bisa melihatnya.
Namun Kael juga bisa merasakannya. Ia tidak bisa mencubit hidung atau melakukan pencegahan apa pun untuk tidak bersin. Itu tidak akan membuatnya terlihat maskulin.
Geli itu berubah jadi rasa gatal, lalu melebar menjadi dorongan kuat untuk bersin. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Tangan Kael menyusuri meja, mendekati tangannya. "Aku sering mikirin kamu, di Amerika."
Inilah momennya. Mereka terhubung. Maggie dan pria sempurna ini.
Maggie ikut meraih tangannya. Namun ia tidak bisa menahan bersin. Dorongan itu menguasai wajah, paru-paru, dan hidungnya. Ia menarik napas panjang, "Aaah ..." lalu melepaskannya, "... Haaacii!"
Lilin langsung padam.
Beberapa pelanggan pun menoleh.
Namun tangan Kael tidak bergerak. "Enggak apa-apa, itu sehat."
Ia mungkin mengatakan sesuatu lagi, tetapi Maggie tidak bisa memusatkan perhatiannya. Kakinya terasa hangat dan basah. Sangat basah. Sampai ke pergelangan kaki.
Suara guyuran aneh pun memicu kepanikan.
Apa itu?
Hujan?
Atau minumannya yang tumpah?
Tapi gelas mereka masih berada di samping piring.
Lalu kesadaran itu datang. Air menetes ke lantai di bawah meja. Tepat di bawahnya. Ia benar-benar basah. Kakinya kuyup.
Rasanya sampai ke dalam sepatu.
Ia tak bisa menahan diri untuk berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang, lalu jatuh dan terbalik.
Kael langsung bangkit. "Maggie?"
Maggie menatap kaki telanjangnya yang basah. Serbet kain yang dia himpit di pangkal pahanya tadi, sudah kuyup dan jatuh ke lantai dengan bunyi cipratan.
...CLEPEEKKK...
Tak ada lagi yang bisa disembunyikan. Ia harus mengatakannya. "Ketubanku pecaaaah!!!!!!"
...𓂃✍︎...
...Aku kalah di cerita kita. Tapi aku menang menjaga anak kita....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .