NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turnamen Game

Pukul satu dini hari. Kamar kos Rara terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, namun isi kepalanya justru berisik luar biasa. Pendar biru dari monitor laptopnya adalah satu-satunya sumber cahaya, memantulkan bayangan wajahnya yang nampak lelah pada kaca jendela yang berembun. Sebelum masuk ke dalam permainan, jari Rara sempat ragu di atas mousepad. Ia baru saja menutup tab peramban yang menampilkan akun Lambe Kampus. Foto mereka di kantin tadi siang saat Rara menyuapi Genta bakso, sudah menjadi viral dengan ribuan komentar yang mayoritas menganggapnya sebagai "skema licik mahasiswi jurnalis".

Rara menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya, lalu memakai headset besar kesayangannya. Dengan satu klik, ia masuk ke Voice Room pribadi di aplikasi Fantasy World.

Beep.

Ikon lingkaran hijau di samping nama 'Paladin_Z' sudah menyala. Keheningan menyambut Rara. Biasanya, mereka akan langsung melempar ejekan konyol, tapi malam ini, setelah semua kejadian fisik di dunia nyata, gudang berdebu, getaran tangan di balik panggung, dan insiden "Sayang" di kantin, udara virtual di antara mereka terasa sangat berbeda.

"Ra?" Suara Genta memecah keheningan.

Suara itu tidak lagi terdengar seperti frekuensi anonim bagi Rara. Sekarang, setiap kali Genta bicara, bayangan wajah kaku sang Presiden Mahasiswa, aroma parfum citrus-nya, dan sorot mata ketakutannya langsung terproyeksi jelas di benak Rara.

"Iya, Paladin. Masih hidup ternyata," sahut Rara, berusaha menjaga nada suaranya tetap santai meski jantungnya berdebar sedikit lebih kencang.

"Maaf," ucap Genta lagi. Suaranya terdengar sangat lelah. "Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa selain maaf. Gara-gara tantangan 'terapi eksposur' darimu di kantin tadi, kamu sekarang jadi musuh nomor satu para penggemarku di kampus."

"Sudahlah, Genta. Darahku tebal, ingat?" Rara terkekeh, meski suaranya sedikit getir. "Lagipula, sekarang kita tidak perlu pura-pura lagi, kan? Rasanya aneh bicara dengan 'Paladin' tapi di kepalaku isinya cuma wajah merah padammu pas tersedak es teh tadi siang."

***

Di layar, dua karakter mereka berdiri di depan gerbang Eternal Sanctuary. Malam ini adalah jadwal mereka mengikuti misi khusus "Lover’s Trial" untuk mendapatkan poin turnamen tahunan. Dulu, misi ini terasa seperti lelucon, hanya cara cepat untuk mendapatkan item legendaris. Namun sekarang, dengan identitas asli yang sudah terbuka, judul misi itu terasa sangat provokatif.

"Ayo masuk," ajak Genta. Karakter Paladin-nya yang gagah dengan armor perak melangkah maju, namun gerakannya terasa sedikit kaku, seolah Genta sendiri sedang ragu di balik keyboard-nya.

Misi dimulai. Mereka harus melewati koridor yang penuh dengan jebakan api. Di satu titik, karakter mereka harus berdiri sangat dekat agar perisai sihir pelindung bisa aktif. Jika jarak mereka menjauh sedikit saja, nyawa keduanya akan terkuras habis.

Dulu, Rara akan tertawa dan berteriak, "Ayo mendekat, Paladin! Jangan malu-malu!" Tapi malam ini, ia hanya terdiam. Ia teringat saat ia harus memasangkan clip-on mic ke kerah kemeja Genta, merasakan panas tubuh pria itu yang bergetar hebat.

"Ra, kenapa diam saja?" tanya Genta. "Monster di belakangmu hampir mengurangi HP-mu."

"Ah, iya! Maaf." Rara segera menekan tombol heal. "Pikiranku agak... terbang ke mana-mana."

"Ke kantin?" tebak Genta pendek.

Rara menggigit bibir bawahnya. "Mungkin. Atau mungkin ke foto di Lambe Kampus itu. Kamu tahu tidak, ada yang komentar kalau aku pakai pelet supaya bisa sedekat itu sama kamu?"

Genta terdengar menghela napas panjang lewat mikrofonnya. "Mereka bodoh. Harusnya aku yang dituduh pakai pelet karena bisa dibantu sama Healer hebat sepertimu. Dan jujur saja... panggilan sayang tadi siang itu... benar-benar serangan mendadak yang tidak bisa ditahan oleh perisai apa pun."

Pipi Rara memanas di kegelapan kamarnya. Genta yang asli, yang bicara lewat headset tanpa topeng Pangeran Es, ternyata jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

***

Pertempuran Bos Naga di misi ini sangat sulit. Paladin_Z harus menahan gempuran api besar, sementara Rara harus memastikan suplainya konstan.

“Paladin, kamu terlalu maju! Naganya—“

"Tenang saja," potong Genta, suaranya terdengar lebih fokus dari biasanya. "Cuma naga, kan? Masih lebih gampang daripada nahan napas di depan rektorat atau dengerin omelan Ayah soal IPK. Aku sudah ahli jadi samsak, Ra. Lanjut saja heal-nya."

Rara tertegun. Ia menyadari sesuatu yang sangat dalam. Di kampus, Genta memakai topeng es untuk melindungi dirinya dari kecemasan sosial. Di game, dia memakai armor perak untuk melindungi Rara. Keduanya adalah bentuk pertahanan diri, namun hanya di sinilah Genta bisa menunjukkan sisi manusianya tanpa harus terlihat berwibawa.

"Tadi di kantin..." Genta memulai pembicaraan lagi setelah Bos Naga itu tumbang. "Saat kamu duduk tepat di sampingku dan mengambil alih sendok dariku... aku merasa seperti semua orang sedang melihat lubang di perisaiku. Aku takut setengah mati. Tapi di saat yang sama, aku merasa... nyata."

"Nyata?"

"Iya. Biasanya orang-orang cuma lihat Genta sang Presiden Mahasiswa. Tapi kamu... kamu lihat Genta yang gemetaran dan tidak bisa memegang sendok sendiri. Dan kamu tidak pergi. Kamu malah memaksaku buat makan." Genta terkekeh pelan. "Itu perasaan paling menakutkan sekaligus paling melegakan yang pernah aku rasakan."

Rara menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap karakter Paladin_Z yang kini sedang duduk beristirahat di samping karakternya. "Itulah gunanya Healer, Genta. Bukan cuma buat nambahin HP yang kurang, tapi buat memastikan Paladin-nya tidak merasa harus bertarung sendirian."

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Karakter mereka kini duduk berdampingan di tepi tebing virtual, menatap matahari terbit yang berwarna ungu keemasan di dunia Fantasy World.

Keheningan kembali menyelimuti voice chat, namun kali ini rasanya tidak lagi canggung. Keheningan itu terasa nyaman, seperti dua orang yang baru saja menyelesaikan marathon panjang.

"Ra, jangan matikan dulu," bisik Genta. Suaranya sudah terdengar sangat berat dan mengantuk. "Aku cuma belum siap kalau besok pagi aku harus balik jadi robot lagi di depan orang-orang... dan balik jadi Presma yang nyebelin buat kamu."

Rara tersenyum di dalam gelap, sebuah senyum yang sangat tulus. "Nggak akan, Paladin. Lagian, topengmu sudah nggak mempan buatku, kan? Inget janji kelingking di gudang kemarin? Kamu nggak perlu akting kalau cuma ada aku."

"Iya... janji kelingking..." gumam Genta pelan.

Tak lama kemudian, Rara mendengar suara napas yang teratur dan tenang dari seberang sana. Genta sudah tertidur. Sang idola kampus yang nampak begitu tak tersentuh, kini tidur dengan headset terpasang, mempercayakan suaranya yang paling jujur pada seorang gadis yang baru beberapa hari lalu ia anggap sebagai pengganggu.

Rara membiarkan sambungan itu tetap menyala. Ia mulai membuka draf tugas wawancaranya di layar sebelah. Judulnya masih sama: 'The Human Behind the Power'. Jarinya mulai menari di atas keyboard, dan setiap suara ketikannya menjadi musik pengantar tidur bagi pria yang kini bukan lagi sekadar robot sempurna di matanya, melainkan seorang sahabat yang sangat ingin ia lindungi.

"Selamat tidur, Genta," bisik Rara lirih. "Sampai ketemu di medan perang kampus esok pagi. Tenang saja, heal-ku masih penuh buat kamu."

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!